100 Days

100 Days
Part 58



Suara burung berkicau saling bersahutan. Gemericik air mengalir menjadi musik pengiring nyanyian burung yang sangat merdu.


Seorang gadis terlihat sangat nyaman, membiarkan tubuhnya yang terbaring santai di atas rumput hijau di bawah pohon maple merasakan belaian lembut angin yang berhembus.


Kedua matanya terpejam, wajahnya tampak begitu damai. Seolah tidak ada beban sama sekali.


Gadis itu menggeliat saat merasakan tangan besar membelai wajahnya dengan lembut.


"Tetap pejamkan matamu, aku suka melihat wajah damaimu." Suara itu terdengar seperti bisikan angin yang sangat halus.


Gadis itu tidak jadi membuka matanya. Dia biarkan tangan itu terus membelainya. Merasakan setiap sentuhan yang membuatnya nyaman.


Tangan itu menyibak anak rambut yang menghalangi wajah cantik gadis itu, lalu bergerak membelai pelipis, turun ke pipi lalu rahang. Merasai halusnya kulit cantik itu.


Perlahan jemarinya bergerak menyentuh bibir ranum yang terasa sangat lembut di kulitnya. Mengusapnya perlahan, diiringi hembusan nafas hangat beraroma mint yang begitu terasa di wajah gadis itu.


"Bolehkah ?" Bisikan itu terdengar lagi. Tanpa berpikir panjang, gadis itu mengangguk pelan. Dan sesaat kemudian gadis itu merasakan manisnya bibir yang menyecap bibirnya dengan sangat lembut. Dia bisa merasakan cinta dan ketulusan dalam ciuman itu. Ciuman yang sangat lembut dan tidak menuntut.


Hingga saat gadis itu penasaran dengan sosok yang tengah menciumnya. Tanpa melepaskan pagutannya, gadis itu membuka mata. Hal pertama yang dia lihat adalah sebuah senyum di sela pagutannya. Senyum yang sangat dia kenal. Lalu ciuman itu terlepas, dengan menyisakan kening yang masih menempel. Hembusan nafas hangat saling menerpa wajah mereka. Gadis itu melihat wajah di depannya tersenyum. Senyum yang sangat familiar, hingga gadis itu mengingat siapa pemilik senyum itu.


"Eric...."


Isabel membuka mata dengan nafas terengah-engah. Dia segera duduk dan menyandarkan tubuhnya pada headboard. Buru-buru dia meraih gelas berisi air putih diatas nakas dan meminumnya dengan tegukan kasar.


Apa itu ? Mimpi ? Isabel memegangi dada, dimana jantungnya sedang berdisko dengan tidak tahu diri.


"Aku pasti sudah gila." Gumam Isabel sambil terus memegangi dadanya.


Satu hal yang tidak pernah terlintas di pikirannya. Bagaimana bisa dia memimpikan berciuman dengan Eric ? Isabel menggeleng cepat.


"Tidak. Ini pasti karena aku terlalu khawatir dengan lukanya. Aku merasa bersalah padanya. Ya, pasti karena itu." Isabel meyakinkan dirinya sendiri.


Mengusir segala pemikiran konyol dalam otaknya, Isabel segera turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk mengguyur kepalanya dengan air dingin. Sepertinya kucuran air yang sedikit keras bisa mengembalikan kewarasannya.


Isabel menuruni anak tangga sambil berlari kecil. Gegara terlalu lama mengguyur kepalanya dengan air dingin, Isabel jadi sedikit terlambat untuk ikut sarapan.


"Morning." Isabel mencium pipi Emma dan Jhon bergantian lalu duduk di kursi kosong di sebelah kiri Emma.


"Kesiangan, hm ?" Tanya Emma sambil terus mengoleskan selai kacang pada roti untuk anak gadisnya.


Isabel menerima roti lapis yang diberikan Emma. "Nightmare." Jawabnya sebelum menggigit roti ditangannya. Dia makan dengan cepat karena takut terlambat. Akibatnya, dia tersedak hingga terbatuk-batuk.


"Pelan-pelan, Sayang." Emma menyodorkan jus jeruk untuk Isabel.


"Kau makan seperti orang kesetanan." Timpal Jhon.


"Aku hampir terlambat, Dad." Ucap Isabel setelah meminum hampir setengah gelas jus jeruknya.


"Benarkah ? Sekarang kau takut terlambat ?" Jhon tersenyum miring sambil menaikkan sebelah alisnya. Sudah lama dia tidak menggoda anak gadisnya itu.


Isabel menghela nafas lelah, menatap malas pada papanya. "Apa itu harus dibahas sekarang ?"


"Lanjutkan makanmu, Sayang." Kata Emma sambil tersenyum hangat.


"Dan makan dengan benar." Timpal Jhon sambil tersenyum puas bisa membuat anaknya kesal.


Isabel menghabiskan dua potong roti lapis dengan cepat, karena dia harus mengejar waktu. Bahkan mobil Mike sudah tidak ada di garasi lagi. Yang berarti dia sudah sangat kesiangan.


*****


Red Crown Tower at 10 am.


Eric dan Jordan memasuki lobi bangunan pencakar langit itu dengan langkah lebar. Hari ini mereka akan mempresentasikan rancangan sistem keamanan yang akan digunakan oleh RCT.


Kabarnya, sang pemilik tidak puas dengan sistem keamanan sebelumnya yang dinilai kurang aman. Beberapa kali ada yang berusaha membobol bangunan itu. Dan yang terakhir hampir saja berhasil. Hal itu tentu menimbulkan ketidaknyamanan untuk semua pihak.


Eric dan Jordan diarahkan ke lantai 23  dimana tempat pertemuannya akan berlangsung.


Seorang wanita berpakaian formal meminta mereka untuk menunggu di sebuah ruangan yang sangat luas untuk ukuran sebuah ruang meeting.


Mereka duduk di sofa panjang di bagian kanan ruangan yang terlihat lebih santai. Di bagian kiri ada meja panjang dan deretan kursi serta sebuah layar monitor besar yang menempel di dinding yang terkesan lebih serius.


"Kau mengenal pemiliknya ?" Tanya Eric.


"Tidak begitu. Aku pernah bertemu dengannya dua atau tiga kali saat event nasional." Jawab Jordan.


Eric menyandarkan punggungnya di sofa. Melihat sekeliling ruangan. "Kurasa pemiliknya gemar mengoleksi barang-barang mewah." Celetuk Eric saat melihat beberapa pajangan yang dia tahu memiliki harga fantastis. Dan itu sedikit berlebihan untuk ukuran ruang meeting.


Jordan tersenyum kecil. "Kau salah. Pemiliknya justru sangat menyukai kesederhanaan." Sanggah Jordan.


Eric mengernyit, dengan pajangan seperti itu, lantas seperti apa yang disebut mewah ?


"Kudengar barang-barang mewah disini sebagian besar adalah hadiah dari kolega-kolega bisnisnya." Jordan menunjuk beberapa barang seperti guci dan lukisan. "Sebagian orang kaya lebih suka menghamburkan uang untuk hal seperti itu."


Eric tersenyum miring, "Apa kita juga perlu memberi hadiah mewah untuknya ?"


Obrolan mereka harus terhenti saat wanita berpakaian formal tadi kembali masuk ke dalam ruangan. Dibelakangnya ada dua orang pria dengan pakaian formal juga. Salah satunya adalah Jonathan Thompson si pemilik RCT.


"Selamat siang, Mr. Deckinson, Mr. Michaels." Sapa salah satu pria itu. Wajahnya terlihat sangat ramah dengan senyum yang mengembang sempurna.


Pria itu mengulurkan tangan yang di sambut oleh Jordan dan Eric secara bergantian.


"Selamat siang, Mr. Thompson." Balas Jordan yang juga ikut tersenyum.


"Maaf membuat kalian lama menunggu."


"Tidak. Kami belum lama disini, Mr. Thompson." Balas Eric ramah.


"Bisa kita bicara dengan santai saja ? Sepertinya kita seumuran. Kalian bisa memanggilku Joe." Joe memang lebih suka bicara santai dengan kolega bisnisnya yang dia rasa seumuran dengannya. Menurutnya itu terasa lebih  nyaman.


Jordan dan Eric tersenyum ramah. Memang orang-orang yang mempercayakan sistem keamanan pada mereka tidak selalu orang tua. Tapi dengan Jonathan Thompson, mereka bisa merasakan aura yang berbeda. Lebih bersahabat.


"Baiklah, kalau begitu panggil saja aku Jordan dan dia Eric."


"It sounds better." Joe mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum. "Jadi apa yang kalian punya untukku ?" Tanya Joe.


Jordan dan Eric mulai mempresentasikan rancangan mereka. Meskipun bahasa yang mereka gunakan terbilang santai, tapi suasana di ruangan itu cukup serius.


Jika Jordan adalah ahlinya dalam merayu client, maka Eric adalah ahlinya dalam menjabarkan detail ramcangannya. Perpaduan yang sempurna untuk bisnis mereka.


Joe memperhatikan setiap penjelasan yang di sampaikan oleh Eric dengan serius. Presentasinya sangat mudah di pahami. Bahasa yang digunakan juga terdengar ringan, tidak bertele-tele dan jelas. Beberapa kali Joe mengerutkan kening dan mengangguk.


Presentasi yang dipaparkan kedua orang di hadapannya itu terdengar sangat bagus. Rekan bisnis Joe yang merekomendasikan mereka juga mengatakan kalau kinerja mereka sangat profesional. Dia bilang mereka adalah yang terbaik di bidangnya.


"Aku suka." Joe mengangguk-angguk sambil menopang dagu dengan ibu jari dan telunjuknya. Lalu dia tersenyum yakin. "Kalian bisa memulai pekerjaan ini lusa." Ucapnya kemudian.


Senyum sumringah mengembang di wajah Jordan dan Eric. Ternyata pemilik RCT tidak sekaku perkiraan mereka. Nyatanya, mereka tidak butuh usaha keras untuk menyampaikan presentasi dan langsung diterima.


"Terima kasih, Joe. Kami tidak akan mengecewakanmu." Ucap Jordan.


"Aku percaya pada kalian." Joe menegakkan telunjuknya, merogoh ponsel yang berdering di saku jas. "Kau sudah sampai ?" Tanya Joe pada orang di seberang telpon.


"....."


"Ruang meeting. Naik saja, kebetulan aku sudah selesai."


"....."


Joe mematikan sambungan telponnya. "Maaf." Kata Joe sambil menunjukkan ponselnya lalu memasukkannya lagi ke saku jas. "Temanku sebentar lagi sampai. Dia sedang menggarap proyek pembangunan real estate. Kalian bisa berbincang dengannya." Kata Joe dengan kalimat terakhir yang sengaja diucapkan sambil berbisik. Barangkali temannya itu juga membutuhkan jasa mereka.


"Tentu saja. Dengan senang hati." Balas Jordan.


Sambil menunggu, mereka terlibat obrolan ringan tentang pekerjaan dan hal kecil lainnya. Cukup hangat untuk mereka yang baru sekali bertemu secara resmi. Ternyata tidak sulit bagi mereka untuk membuat suasana hidup. Bahkan sekretaris Joe juga tidak terlihat canggung untuk ikut berbincang.


Lalu suara pintu terbuka mengalihkan perhatian keempat orang disana.


"Selamat siang." Sapa orang yang baru saja masuk. Hanya seorang diri. Dan pakaiannya juga tidak seformal mereka. Dia hanya mengenakan kemeja berwarna biru muda dengan lengan yang dilipat hingga siku. Langkahnya begitu mantap, dengan senyum yang mengembang indah di wajahnya.


Namun senyum itu mendadak sirna saat iris birunya menangkap sosok yang dia kenali selain Joe dan sekretarisnya.


"Oh, shit !" Samar-samar terdengar umpatan dari salah satu orang yang ada di sofa.


Langkahnya semakin dekat, dia berhenti di sisi sofa, menatap tajam pada sosok yang duduk di sebelah Jordan lalu mengalihkan pandangannya pada Joe.


"What the hell he doing here ?" Tanya Mike pada Joe sambil menunjuk Eric.


*


*


*


*


*


*


tbc.


Nah kan....ketemu lagi mereka. Awas lho bang Eric, ntar kena bogem mentah lagi dari abangnya Isabel.


Atau mungkin kali ini mereka akan berdamai ? Dengan adanya Jordan dan Joe, bisa saja kan. Ada pawangnya masing-masing, hahahhaa.....


Eh, iya. Apa kabar 'nightmare'nya Isabel ? Simak episode selanjutnya yes.


Jangan lupa like dan vomment nya, dears ! Support kalian sangat berarti untukku.


See you next part, Love.