100 Days

100 Days
Part 86



Pintu ruang rawat Isabel diketuk. Lalu seseorang menyembulkan kepalanya dari balik pintu itu.


"Selamat sore." Jordan tersenyum lebar diikuti tangannya yang menyibak pintu lebih lebar lagi untuk masuk ke dalam.


"Hai, Jordan !" Sapa Isabel dengan senyum tak kalah lebar. Dia senang Jordan menyempatkan diri menjenguknya.


"Aku dengar kau sedang malas bekerja." Celetuk Jordan begitu dirinya sudah dekat dengan ranjang Isabel, dimana Eric juga duduk di tepinya. Isabel menutar mata malas lalu dia tersenyum, mengulurkan tangan ingin memeluk Jordan.


"Aku sangat mengkhawatirkanmu, Princess." Kata Jordan, menyerahkan sebucket bunga lalu memeluk Isabel.


Isabel menghirup aroma wangi bunga yang dibawa Jordan setelah melepas pelukannya.


"Apa yang kau rasakan sekarang ?" Tanya Jordan sambil memasukkan tangannya ke saku celana.


"Wajahku masih nyeri. Tapi selebihnya aku baik-baik saja." Jawab Isabel. "Pasti wajahku saat ini mengerikan sekali." Isabel mengerucutkan bibir.


"Kau tetap cantik, Princess." Kata Jordan sambil tertawa kecil. Lebam di wajah Isabel memang menyisakan bekas biru sedikit kemerahan, tapi itu malah membuat wajahnya semakin lucu.


"Aku tahu kau hanya menghiburku." Cibir Isabel.


"Bukankah kau selalu menyukai hiburanku ?"


Isabel mencebik, dia memukul lengan Jordan dengan bucket bunga.


"Apa pekerjaan disana sudah beres ?" Tanya Eric.


"Aku sudah menyelesaikannya." Jawab Jordan.


"Baguslah. Karena kita punya pekerjaan baru." Sahut Eric dengan wajah misterius yang langsung dimengerti oleh Jordan.


"Apa aku sangat merepotkan kalian ?" Sela Isabel. Dia merasa tidak enak jika pekerjaan kedua orang itu terganggu karena dirinya.


Eric dan Jordan serempak menoleh, lalu serempak juga tersenyum.


"Kau tidak merepotkan siapapun, Bells." Jawab Eric yang di timpali anggukan kepala oleh Jordan.


Isabel senang mendapat perhatian yang begitu besar dari orang-orang di sekitarnya.


"Aku ingin bicara denganmu." Eric memberi kode pada Jordan untuk mengikutinya keluar dari ruangan Isabel. Jordan mengangguk lantas tersenyum pada Isabel seolah meminta ijin untuk keluar sebentar.


Sebenarnya Isabel sangat penasaran dengan apa yang ingin mereka bicarakan, tapi kalau Eric sampai harus mengajak Jordan keluar dari ruangannya, itu berarti Eric tidak ingin Isabel mendengar pembicaraan mereka. Bisa jadi itu hal rahasia tentang pekerjaan baru mereka seperti yang dibilang Eric tadi. Mungkin.


Eric duduk di kursi tunggu yang sedikit jauh dari ruangan Isabel karena tempat itu sepi, namun dia masih tetap bisa mengawasi ruang perawatan Isabel. Jadi tidak perlu khawatir jika ada seseorang tidak dikenal yang ingin masuk dan mencelakai Isabel.


"Kau tahu, ini bukan sekedar kecelakaan biasa." Kata Eric langsung ke pokok permasalahan. "Seseorang merencanakan ini dengan baik." Jordan mengangguk mengerti.


"Tadi aku dan Mike sudah memeriksa rekaman cctv di basement tempat kejadian itu berlangsung. Tapi nihil. Aku hanya bisa menemukan setengah wajah seorang pria dalam mobil suv yang menyerempet Isabel." Jordan masih diam mendengarkan penjelasan Eric.


"Suv itu menghilang sekitar dua kilometer dari area gedung. Aku yakin orang itu tidak sendiri. Tidak mungkin mobil itu hilang begitu saja, bukan ?!" Terang Eric.


"Tidak ada petunjuk lain ? Stiker atau apapun yang bisa membawa kita pada seseorang ?" Tanya Jordan. Eric menggeleng. Dia sudah memeriksa secara detil penampakan luar mobil itu. Benar-benar hitam polos. Plat nomor ? Sudah pasti itu palsu.


"Dengar." Eric mendekatkan wajahnya pada Jordan. "Aku ingin kau membantuku." Eric menatap penuh harap.


"Apa yang bisa kubantu ?" Tanya Jordan.


"Aku akan menunjukkannya padamu nanti. Mike sudah melaporkan kejadian ini pada polisi. Aku tidak ingin polisi mendahului kita, jadi kita harus cepat bergerak." Jelas Eric. Jordan mengangguk mengerti. Setelah itu mereka kembali ke ruangan Isabel.


*****


Setelah dari Rumah Sakit, Eric dan Jordan pergi ke sebuah cafe yang terletak sekitar 5 kilometer dari Rumah sakit. Tangan Eric sudah gatal ingin segera mengungkap siapa dalang dibalik semua ini. Hanya butuh selangkah lagi, Eric yakin dia akan menemukan petunjuk baru dari rekaman cctv Startech.


"Aku butuh pengalihan. Sibukkan mereka." Pinta Eric.


Kini Eric dan Jordan tengah bermesraan dengan 'kekasih' mereka masing-masing. Jari dan mata mereka bergerak seirama menembus barisan angka-angka dan kode yang bergerak dengan cepat di layar laptop mereka.


Awal mereka masuk, tidak begitu sulit untuk memecahkan algoritma dalam sistem Startech. Tapi begitu Startech menyadari ada yang bermain dengan sistem mereka, perang pun tak dapat dihindari lagi.


Butuh kecepatan dan ketepatan untuk berkelit dari kejaran Startech. Jordan sibuk meretas sistem keamanan gedung-gedung yang menggunakan jasa mereka, karena otomatis sistem keamanan gedung itu akan mengirim signal bahaya palsu ke Startech dan harus segera mereka tangani. Dari satu gedung beralih ke gedung yang lain. Jordan bergerak begitu lincah untuk memberi akses pada Eric.


Sementara Jordan menyibukkan mereka, Eric mulai masuk dan memeriksa rekaman cctv yang mengarah ke sekeliling jalan di sebelah Startech dimana terakhir kali suv itu terlihat.


Berkali-kali Eric mengumpat. Nihil. Tidak ada petunjuk sama sekali.


"Tidak, pasti ada yang terlewatkan disini." Gumam Eric.


"Cepat selesaikan, Keparat ! Mereka mulai menyusulku." Hardik Jordan.


"Just shut your f*cking mouth !" Eric ikut geram. Kedua matanya masih meneliti rekaman yang dia putar berulang-ulang.


"F*ck !!" Umpat Jordan cukup keras hingga mengundang perhatian dari beberapa pengunjung cafe. Tapi dia tidak peduli. Dia tetap menggerakkan jari-jarinya dengan cepat agar bisa berkelit dari blokade Startech.


"GOT IT !!!" Eric berseru tak kalah keras. Beberapa pengunjung cafe sampai memelototinya karena merasa terganggu. Dua orang yang saling mengeluarkan umpatan dan makian cukup keras selama beberapa waktu, pastilah sangat mengganggu kenyamanan pengunjung lain.


Eric menyeringai saat mendapatkan petunjuk baru. "Kita pindah tempat." Kata Eric menyudahi pekerjaannya. Jordan pun segera menyelesaikan 'permainannya' dengan Startech.


Mereka memasukkan laptop ke dalam ransel masing-masing dan bergegas meninggalkan cafe itu setelah meletakkan selembar uang dollar dibawah cup kopi. Mereka harus bergerak cepat sebelum Startech mengambil alih cctv cafe dan mengetahui keberadaan mereka.


Kali ini mereka memilih kembali ke safe house. Tempat yang lebih aman. Selain itu juga, Eric sudah bisa menggunakan kamera jalan yang lain untuk melacak suv itu.


"Kau sudah menemukannya ?" Tanya Jordan saat di dalam mobil.


Eric tersenyum miring. Cukup terkesan dengan kecerdikan pelakunya. "Kita tidak lagi mencari suv. Kita mencari truk pengiriman paket." Jawab Eric.


Jordan mengerutkan alisnya. Tapi dia tidak menanggapi dan lebih memilih untuk kembali berkutat dengan ponselnya.


Begitu sampai di safe house, Eric langsung membuka ransel dan mengeluarkan laptopnya lagi. Dia tidak bisa jika harus menunggu, karena mereka juga adu cepat dengan polisi.


"Aku akan meminta makanan pada Jose. Aku lapar. Dan kau juga harus mengisi perutmu." Eric tidak menanggapi ucapan Jordan. Dia membiarkan Jordan melakukan apapun yang ingin dia lakukan.


Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Ternyata itu adalah Jose yang membawa sendiri makanan yang diminta Jordan.


"Terima kasih, Jose." Kata Jordan setelah menerima nampan dari Jose. Setelah Jose berbalik, Jordan menutup pintu safe house lagi lalu membawa makanan pesanannya ke sofa dimana Eric dengan wajah serius masih menekuri laptop mencari keberadaan truk pengiriman paket itu.


"Perlu aku menyuapimu, Babybear ?" Sarkas Jordan. Dia tahu Eric sering lupa makan jika sudah serius seperti itu.


Eric memutar mata malas sambil berdecak. "Sebentar lagi. Aku hampir mendapatkannya." Kata Eric.


Jordan mengangkat alis, dia mendekat pada Eric dan ikut memperhatikan layar laptop Eric.


"Ada apa dengan truk itu ?" Tanya Jordan.


Eric memutar ulang rekaman detik-detik suv itu menghilang di dekat Startech.


"See ? Suv itu tidak menghilang begitu saja. Perhitungannya sangat tepat hingga keberadaannya hampir tidak terdeteksi." Eric mem-pause gambar lalu memperbesarnya. "Lihat ! Suv itu tidak terlihat lagi setelah melewati truk pengantar paket. Dan kemungkinannya hanya satu. Suv itu tidak menghilang, tapi masuk ke dalam truk." Terang Eric.


Jordan menyipitkan mata, memperhatikan dengan seksama rekaman yang dia putar dengan slow motion.


"Kau benar." Jordan mem-pause rekaman. Dia tersenyum miring, lalu menunjuk layar. "Perhitungan yang sangat tepat." Kata Jordan sambil memperhatikan ujung body belakang mobil berwarna hitam yang tampak seperti sedang mendahului truk, tapi posisinya sedikit menanjak, padahal jalanan disana rata.


"Kurasa pelakunya adalah orang terlatih. Menyesuaikan kecepatan sambil mengatur angle kamera yang pas agar terlihat seperti menghilang, hal seperti itu dibutuhkan fokus yang sangat baik." Eric mengerutkan alis. "Apa mungkin Startech terlibat ?"


Bukan tanpa alasan Eric mengatakannya. Satu-satunya kamera yang dapat menjangkau area itu adalah milik Startech. Jika pelakunya melakukannya dengan asal, pasti kamera Startech tetap bisa menangkapnya. Tapi disini, kamera startech pun hampir kehilangan jejak.


Jordan berpikir, menimbang-nimbang ucapan Eric. "Jika Startech terlibat, bukankah dengan mematikan kamera di sana akan jauh lebih mudah ?"


Eric menghembuskan nafas kasar. Sesaat kemudian dia dan Jordan saling berpandangan, seolah mata mereka mengucapkan hal serupa. "Seseorang dalam Startech ikut terlibat."


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Hayo tebak....siapa pelaku sebenarnya !



Musuh Mike (saingan bisnisnya)


Musuh Isabel a.k.a Elena


Musuh Skytech (Jordan dan Eric) a.k.a Startech



See you next part, Love.