
Kami menaruh peralatan elektronik di bagian tengah jog mobil. Sedangkan di bagian belakang. Kami gunakan untuk menaruh makanan. Sedangkan Shita duduk di sampingku.
"Ta, sabuknya jangan lupa, Ta." ingatku.
Shita kurang lancar membawa mobil. Dia pun juga belum memiliki sebuah SIM. Jadi aku menyuruh Shita untuk menggantikanku menyetir. Jika situasi aman dari razia dan jalanan lancar.
"Ta, ntar malam kamu gantiin ya." pintaku.
"Iya Tre, tenang aja. Sorry ya, gua gak bisa bantu banyak. Harusnya gua yang nyetir." sahutnya.
"Iye, gak apa-apa." balasku.
Sore itu, kami menikmati makanan yang di bekalkan oleh Ibu Shita. Makanan itu sangat lezat di lidahku.
Karna aku sedang menyetir mobil. Jadi Shita berinisiatif untuk menyuapiku.
"Emm Shit. Jangan banyak-banyak dong." protesku dengan mulut penuh dengan makanan.
"Ehh lo tu harus makan banyak tauk! Emang nyetir gak butuh tenaga? Udah nih hagkk!" seru Shita.
"Eh krupuk krupuk krupuk. Ada yang jual krupuk. Belidong, beli." titahku.
"Mas krupuk!! Sini cepetan." teriak Shita.
"Krupuk Mba?!" sapa seorang lelaki mendekat ke arah kami.
"Beli Pak. 2." ucapku.
"10.RB Mbak." jawab lelaki itu.
Aku meraih dompetku dan memberikan uang biru kepada pedagang itu. Lelaki itu menolak dan meminta uang yang lebih kecil. Karna ia tidak memiliki kembalian.
"Udah Mas. Ambil aja." pintaku.
"Aduh Mbak. Kebanyakan," sahut lelaki itu merasa tak enak. "Saya tukarin dulu ya Mbak?!"
"Gak apa-apa. Saya Ikhlas. Makasih ya Mas." seruku segera menjalankan mobilku karna sudah lampu hijau.
"Ta, mau dong bukain." pintaku.
"Anjay gile lu. Beneran sultan nih?!" sahut Shita.
"Kan lu yang ngajarin. Lagian dia lebih butuh dari pada pemilik toko elektronik itu." timpalku.
"Ya Sultan." sahut Shita.
Kami berjalan cukup lama. Kaki dan tanganku sudah begitu sangat pegal. Sebentar lagi juga sudah masuk waktu Maghrib.
"Hagg, lama ya, Ta. Kapan sampai di Bali." keluhku.
"Iss perasaan kita baru aja berangkat deh. Sampai mana sih?!" tanya Shita.
Shita melihat layar monitor Maps. Dia melihat titik lokasi kita berada.
"Jirr seriusan nih?! Nyasar gak sih. Masa iya kita di Klaten." serunya.
"Yah baru sampai Klaten, ya. Capek banget aku." sahutku.
"Tapi beneran gak salah?!" tanya Shita mulai cemas.
"Iya. Coba lihat Mapsnya. Klaten kan masuk jalurnya." ucapku.
Shita melihat dengan detail jalur yang kita lalui. Terpampang jelas sebuah Maps dari layar monitor mobil kita.
...
...Jogja – Klaten – Solo – Sragen – Ngawi – Caruban – Nganjuk – Kertosono – Jombang – Mojosari – Kejapanan – Gempol – Bangil – Pasuruan – Tongas – Probolinggo – Paiton – Situbondo – Ketapang – Gilimanuk – Denpasar.......
...(rute perjalanan)...
"Ta. Coba cari Masjid dulu Ta. Capek aku." titahku.
"Hemm okay. Sebentar." sahut Shita.
Dengan cepat jari jelari Shita mengetik di layar yang berukuran 9inci itu. Terpampang jelas rute yang tidak jauh dari lokasi kami. Hanya sekitar 10 menit waktu yang kami butuhkan untuk menuju tempat itu.
Sesampai di tempat itu. Kami di kagumkan dengan Masjid yang megah dengan tempat parkir yang cukup luas.
"Alhamdulillah ada parkiran luas. Jadi aku gak perlu susah payah parkir si Edan." seruku.
"Serius lo. Kasih nama ni mobil Edan?!" tanya Shita.
"Ya kan kamu yang ngusulin. Lagian Edan keren juga tauk." timpalku.
"Fix. Otak lo bermasalah." sergah Shita.
"Udah yuk ah masuk." seruku.
"Tapi, Tre. Tunggu, Tre." sahut Shita menyusulku keluar dari mobil. "Tre. Gak apa kalau Edan kit tinggal. Nanti gimana kalau ada yang nyolong. Ni Edan keren Tre, pasti buat mata sertiap maling bening di buatnya."
"Apa'an sih Shit. Kalau ilang tinggal beli lagi. Lagian ini Masjid. Kita harus yakin dan percaya sama Allah. Ingat tubuh kita aja cuman pinjaman dari Allah." tuturku.
"Ye elah. Lu malah ceramah lagi! Maling mana bisa mikir gitu." sahut Shita.
"Ihh kamu. Ribet amat. Lupa ya. Edan tu keren. Alatnya komplit. Buat apa kita pasang CCTV dan alarm mobil tingkat dewa." tuturku. "Udah keluar bajed malah buat beli alat. Tapi kalau gak guna. Buat apa coba?! Mau kita sewa Evengers buat obrak-abrik tu pabrik."
"Idih sok Sultan lu. Baru aja dapat uang jajan segitu. Pakai berlagak nyewa evengers." timpal Shita.
"Kan yang ngajarin.." seruku.
"Ngajarin siapa?! Jangan ngelak lu ya.." sahutnya.
"Udahlah yuk kita masuk. Bentar lagi azan nih" titahku.
"Kunci, kunci. Mobil kunci." sahut Shita.
Kami masuk ke dalam Masjid untuk beribadah dan beristirahat. Selesai kami dengan urusan kami. Kami meminta izin untuk memakai kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Ta, aku duluan. Nanti baru kamu ya." pintaku.
"Iye, dah sonoh," sahut Shinta.
Aku dan Shita bergantian untuk mandi. Aku mandi, Shita yang menjaga di luar. Kami begitu kompak satu sama lain. Selesai membersihkan diri. Kami keluar untuk beristirahat.
"Ta, keliling yuk." ajakku.
"Tidur ya, gua mau tidur sebentar." ucap Shita.
Aku dan Shita berkeliling Masjid untuk melihat-lihat. Kami mencoba masuk ke dalam untuk melihat ke lantai atas. Begitu megahnya Masjid ini, dengan kubah yang sangat besar.
"Gilak. Bagus banget Ya Tre." seru Shita.
"He em." sahutku.
Kami keluar dari Masjid itu untuk menuju ke dalam mobil. Kami beristirahat di dalam mobil sembari menikmati camilan yang kami bawa.
"Tre. Kamu gak minum obat?!" tanya Shita.
"Enggak. Kata Dokter, obatnya di minum kalau sakit kepala aja." jawabku.
"Tre, Tre, coba lihat. Gile bapak koment Tre." seru Shita memunjukan sebuah postingan Instagram kepadaku.
"Seriusan Ta ini Pak Rojak?!" tanyaku.
"Ho o. Kan gua bilang. Hp gua, gua kasih bapak sama ibu buat komumikasi kita." jelasnya.
"Coba sini aku lihat." seruku.
Kami tertawa bersama melihat komentar Pak Rojak dalam postingan yang di buat oleh Shita. Ya, aku memyuruh Shita untuk memegang ponselku. Karna pasti aku tak dapat memgakses ponselku sendirian.
"Ta, kalau gitu kita upload perjalanan kita terus yuk." ajakku.
"Tenang, gua yang jadi moderator lu dah." timpal Shita.
Aku begitu merasa bahagia hari ini. Aku menjalani hari pertama perjalananku dengan Shita. Aku berharap. Perjalanan kami seterusnya akan lebih lancar lagi setelah ini.
"Ta, aku beneran bahagia. Thanks ya, Ta. Pokoknya kita harus bersama kaya kata Pak Rojak." tuturku.
"Iye, iya. Dah lah, masuk mobil yuk. Ngantuk nih." sahut Shita.
Kami masuk ke dalam mobil dan meneruskan perjalanan kami menuju Surakarta. Rencananya, di sana lah kami akan bermalam malam ini.
...****************...