
"Beraninya kau menyentuh barang-barang pribadiku!"
Eric berjalan cepat ke arahku. Aku tidak bisa bergerak. Tubuhku seolah membeku. Ya Tuhan, apa yang akan dia lakukan padaku?
Eric berhenti tepat di hadapanku. Jika kau pernah melihat seekor harimau yang siap menerkam seekor kelinci di Discovery Channel, maka kau akan tahu bagaimana sorot mata Eric saat menatapku.
Tanpa mengalihkan sorot tajam matanya dariku, Eric merampas kertas memo yang masih berada ditanganku.
"Ini terakhir kalinya kau menyentuh barang pribadiku. Sekali lagi kau berani melakukannya, maka aku tidak akan segan membuatmu menderita." Eric mendesis penuh peringatan padaku.
Aku hanya bisa menelan ludah. Okay, aku salah. Tidak seharusnya aku lancang membuka laci Eric. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?
"Get out of my room," desis Eric.
Aku mendengarnya, tapi kakiku masih kaku. Aku masih berdiri di tempatku sampai saat Eric berteriak lagi.
"I SAID GET OUT OF MY CAR!"
Seperti tersengat arus listrik bertegangan tinggi. Aku dan Eric saling mengunci pandangan. Nafas Eric terlihat memburu. Dia menatapku begitu dalam. Aku balik menatapnya nanar. Kalimat itu pernah dia teriakkan padaku. Dulu, di awal kami bertemu.
Masih dengan nafas berat yang memburu dan tatapan mengunci padaku, Eric bergerak perlahan menjauh dariku. Sesaat aku melihat Eric-ku dalam tatapan itu. Ya, aku tidak salah lihat. Aku bisa merasakannya.
Tanpa sadar tanganku terjulur kedepan seolah ingin menggapai Eric. Namun Eric semakin menjauh, membuat tanganku mengepal lemah dan turun secara perlahan bersamaan dengan air mataku yang menetes di pipi.
Beberapa saat kemudian aku melihat Eric menjambak rambutnya sambil mengerang kesakitan. Tubuhnya gontai, dia bergerak tidak terkontrol hingga membentur nakas disamping ranjang dan menjatuhkan lampu tidur yang ada diatasnya.
Aku berlari mendekat. Pikiranku kacau. Aku panik. Aku berusaha membantunya mendapatkan keseimbangan tapi dia terus mengerang kesakitan sambil menjambaki rambutnya.
Aku semakin sakit saat mendengar lolongan kesakitannya yang menyayat hati. Dia hampir jatuh saat aku menangkap tubuhnya dan membantunya duduk di ranjang.
Dengan sisa kesadaranku, aku membuka laci nakas dan memberikannya pain killer untuk meredakan sakit di kepalanya.
Tanganku gemetar saat meraih gelas dari atas nakas dan memberikannya pada Eric untuk meminum pain killer itu. Setelah pil itu tertelan, perlahan-lahan Eric mulai tenang. Rasa sakit yang dia rasakan berangsur hilang. Lalu aku membantunya berbaring.
Aku menangkap sorot itu lagi sesaat setelah aku membaringkan tubuh Eric diatas ranjang. Kulihat kelopak matanya mengerjap pelan. Dia masih memandangku lekat untuk beberapa saat.
Lalu sebuah suara keluar dari bibir Eric yang membuat hatiku terpukul begitu keras. Lirih, tapi aku bisa menangkap dengan jelas suara itu sesaat sebelum Eric menutup mata dan kehilangan kesadarannya.
"Bells," Itulah yang terucap dari bibir Eric. Ya, aku sangat yakin Eric memanggil namaku. Secercah harapan tumbuh dalam hatiku saat mendengar itu.
Air mataku semakin deras. Kuperhatikan wajah Eric yang terlelap. Aku mencium keningnya. Aku mencium bibirnya. Aku sangat merindukan kekasih hatiku.
"Ingatlah semua kenangan indah yang pernah kita lewati, Sayang. Aku sangat mencintaimu."
Aku mengangkat tangan Eric lalu kuletakkan diperutku. "Di dalam sini, di dalam rahimku ada anak kita, Sayang. Buah cinta kita. Ingatlah bahwa kau akan membuatkanku sebelas anak yang lucu-lucu. Anak-anak yang akan selalu membuat rumah kita berantakan
Anak-anak yang akan membuatku menjerit untuk membuat mereka berhenti membuat keributan. Anak-anak yang akan membuatku mengadu padamu karena mereka tidak mendengarkanku. Ingatlah semua itu, Sayang. Ingatlah semua cita-cita kita untuk menua bersama. Ingatlah kalau kau akan membuatkanku rumah di tepi pantai supaya aku bisa berjemur setiap hari. Ingat semua kenangan indah kita, Baby. I miss you so bad. Aku sangat mencintaimu, Baby."
Aku mencium bibir Eric lalu mencium keningnya dengan penuh sayang. "Kembalilah pada kami. Anak kita menunggumu, Sayang," bisikku di depan telinga Eric, berharap alam bawah sadarnya menerima sugesti lewat bisikanku.
Aku menyelimuti tubuh Eric sebelum aku beranjak kelur dari kamarnya.
Aku sangat berharap Eric segera mendapatkan ingatannya kembali. Aku ingin kembali bersamanya.
Malam harinya, Jordan datang berkunjung. Tepat saat aku akan mengantarkan makanan untuk Eric. Kami masuk ke kamar Eric bersama.
"Bagaimana kabarmu, Brother?" tanya Jordan sembari menyeret kursi ke dekat ranjang dan duduk disana. Aku meletakkan makanan Eric diatas nakas lalu menyiapkan meja kecil untuk Eric.
"Buruk," jawab Eric singkat sembari mengangkat tubuhnya untuk duduk.
Jordan mengernyit. "Apa yang terjadi?"
Sekilas aku melirik Eric. Aku belum masuk ke kamar Eric lagi sejak kejadian tadi sore. Jujur aku harap-harap cemas. Apakah Eric sadar dengan apa yang dia ucapkan sesaat sebelum tidak sadarkan diri? Aku harap dia sadar.
Ternyata Eric tidak ingat. Aku meletakkan makanan Eric diatas meja kecil itu dengan lesu.
Kecewa? Ya, aku kecewa. Siapa yang tidak kecewa saat secercah harapan mulai mengisi hati tapi pada akhirnya semua terhempas oleh kenyataan pahit.
"Suapi aku!" perintah Eric dengan tatapan datar padaku.
Aku yang semula berniat meninggalkan mereka, harus mendudukkan diriku di tepi ranjang untuk menyuapi Eric.
Dalam hati aku tersenyum, saat Eric memintaku melakukan sesuatu untuknya, itu berarti dia masih membutuhkanku di sisinya.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu, Brother. Dokter pernah mengatakan jika kau terlalu memaksakan diri untuk mengingat masa lalumu yang hilang, itu bisa merusak sel otakmu. Ingat, lukamu belum benar-benar sembuh," kata Jordan khawatir.
"Aku tidak memaksakan diri!" Emosi Eric sedikit terpancing. Sejak Eric sadar memang ada yang berubah dari dirinya. Aku merasa sikap Eric menjadi kaku. Emosinya juga sering tersulut hanya karena masalah sepele. Mungkin benar yang dikatakan Jordan. Dulu Eric memiliki anger management yang sangat buruk. "Bayangan-bayangan itu selalu datang saat aku menutup mata," tambah Eric.
"Apa yang kau lihat?" Jordan mengerutkan alis penasaran.
"Aku tidak tahu. Semua seperti potongan-potongan puzzle yang membuat kepalaku sakit."
Aku tahu Eric juga sedang berusaha mnegingat masa lalunya. Terbukti dengan catatan-catatan kecil yang aku temukan di laci meja kerjanya. Dia sedang berusaha mengurai petunjuk-petunjuk itu untuk kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan memori yang utuh. Itu pasti berat dan menyakitkan untuk Eric.
"Lakukan perlahan. Aku yakin suatu saat nanti apapun yang hilang dari ingatanmu akan kembali lagi," ujar Jordan.
Aku meninggalkan mereka setelah makanan Eric habis. Topik pembicaraan tentang Elena membuatku tidak tertarik untuk mendengarnya. Sampai sekarang Eric masih bertanya-tanya dimana Elena berada. Karena sampai sekarang Jordan juga masih mengulur waktu untuk menahan informasi apapun tentang Elena. Termasuk pemberitaan kematiannya yang cukup menghebohkan media.
Saat aku sedang menikmati susu hamil di mini bar, Jordan menghampiriku. Dia duduk di sebelahku. Dia diam sejenak sambil mengamati susu yang sedang kuminum dan kemasan susu hamil yang masih berada di dekatku.
Jordan mengernyit. "Susu hamil? Princess ... apa kau ...?" Jordan menggantung ucapannya sambil menatapku penuh selidik.
Aku tersenyum lalu mengangguk. Aku bisa melihat raut bahagia di wajah Jordan. Dia tersenyum lebar, seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak bisa.
"Selamat, Princess!" Jordan memelukku sebentar lalu memegang kedua bahuku sambil menatapku dalam. "Eric tahu?"
Aku menggeleng. "Tidak. Aku juga baru mengetahuinya hari ini." Aku menelan ludah sambil memegang gelas susu yang terasa hangat dengan kedua tangan. "Aku takut Eric akan mengusirku dari rumah jika dia tahu aku hamil," kataku getir.
Jordan menghembuskan nafas pelan. "Harusnya dia tahu kabar bahagia ini."
"Tidak, Jordan. Eric sudah cukup tersiksa dengan kepingan masa lalu yang tiba-tiba muncul dalam ingatannya. Aku tidak ingin membuatnya menderita lebih banyak lagi."
Tentu aku masih ingat dengan kejadian tadi. Disaat emosinya tersulut dan potongan masa lalunya melintas, Eric tidak bisa mengendalikan diri. Dia sangat tersiksa dengan itu semua. Aku tidak akan sanggup melihatnya kesakitan.
Jordan menghela nafas. Dia menunduk lalu kembali menatapku. "Kau tidak harus menderita seperti ini, Princess."
"Ya, aku memang merasa sakit dengan sikap dingin Eric, tapi rasa sakit itu tidak lebih besar dari rasa bahagia saat aku bisa dekat dengannya dan merawatnya."
"Aku salut padamu, Princess." Jordan tersenyum tipis yang lebih terlihat seperti senyum kasihan padaku.
Jujur aku tidak suka dikasihani. Hidupku tidak semenyedihkan itu. Dengan kehadiran janin di dalam rahimku, aku merasa semakin kuat. Aku dan calon anak kami akan sama-sama berjuang untuk mendapatkan tempat di hati Eric lagi.
*
*
*
*
*
tbc.
See you next part, Love.