
"Apa'an nih?!" seru Shita.
...----------------...
"Lo seriusan tadi mesen Timlo?!" tanya Shita.
"Ho-oh." sahutku.
"Kok gak kaya di gambar?!" ucap Shita.
"Ho-oh." sahutku.
"Lu ho ah ho oh aja! Coba sini hpnya." gerutu Shita.
Aku memberikan ponsel yang aku bawa ke pada Shita. Shita dengan cepat menggerakan jari jemarinya.
"Ni lihat deh. Bedakan?!" serunya menunjukan sebuah foto di layar ponsel.
...
...[Ekspektasi Google]...
"Ini apa'a?!" seru Shita.
"Ekspektasi memang tak seindah realita." sambung Shita merasa kecewa.
"Udah Ta. Nikmati aja, namanya juga realita. Siapa tau rasanya luar biasa." ucapku mencoba menyakinkan.
"Tunggu sebentar, gua mau upload IG. Mau komplen gua." seru Shita.
"Gak usah kali Ta. Udah laper ini." sahutku.
"Udah diem lo. Kecewa aku." serunya.
Shita dengan kecewanya memotret hidangan yang ada di depan kami. Dia lalu segera memostingnya ke laman sosial media kami.
...Apa ini?! Ekspetasi tak seindah realita 😤...
...----------------...
"Udah belum Ta? Aku laper ini." tanyaku.
"Mending kita makan mie instan aja deh." usul Shita.
"Nanggung Ta. Laper." seruku.
Aku meraih mangkok makanan ku. Mengaduk makanan di hadapanku itu lalu mencicipinya.
"Eh Ta." seruku.
Aku mencicipi kembali makanan itu dengan penasarannya.
"Ta, coba Ta, coba." titahku.
Shita meraih makanannya dan menyendok makanannya ke dalam mulutnya.
"Sebentar sebentar." seru Shita.
Dia kembali menyendok makanan itu beberapa kali. Mencicipi satu per satu toping yang di sajikan ke dalam mangkok cap Ayam Jago itu.
"Gile, enak juga." puji Shita.
"Ho oh. Topingnya aku suka semua lagi. Kecuali yang gulungan ini apa?!" tanyaku.
"Ahh elah. Udah sikat aja." seru Shita.
Kami tak menyangka, makanan yang terlihat tak menarik di mata kami. Ternyata enak juga. Rasa gurih yang pekat. Membarikan cita rasa yang khas tersendiri.
"Masak baru berapa suap abis!! Nambah lah nambah!!" hardik Shita tak terima.
"Ha ha ha, ya udah sih. Tinggal nambah aja." sahutku.
Tak terasa, sekitar setengah jam lebih kami di situ. Kami menghabiskan 5 mangkok Timlo dengan beberapa jajanan lainnya. Shita dapat menghabis 3 mangkok timlo, sedangkan aku 2 mangkok timlo.
"Gile kenyang banget." seru Shita.
"Aduh perutku rasanya mau meledak." tuturku.
"Udah nikmatin aja. Kapan lagi kita kaya gini." ucap Shita.
Aku melirik ke arah Shita. "Iya, kapan lagi. Aku tak akan bisa merasakan semua ini nanti. Jangankan nanti. Esok hari saja, aku bisa saja pergi dari dunia ini." ungkapku. "Ta, aku boleh ngomong sesuatu gak?"
Aku memandang Shita yang duduk bersender di hadapanku.
"Udah sih ngomong aja. Kaya siapa aja." sahut Shita. "Tre. Lo itu bukan sahabat gua lagi. Tapi udah jadi sodara gua. Ya walau ibu gak ngelahirin elu. Tapi bapak ibu udah nganggep lo kaya anak mereka sendiri. Walau karna lo kasih duit usaha."
"Kamu tu muji atau hina sih Ta. Jujur banget." sahutku.
"Sahabat itu harus jujur. Walau buruk, jujur itu yang terbaik. Karna jika sekali kita menanam sebuah kedustaan. Maka akan terus lahir dan tumbuh kedustaan-kedustaan lain." terang Shita.
"Ya ampun Ta. Belum aku ketekin, kamu udah ketularan Mario Teguh." pujiku.
"Hag!! Eh gua sebenarnya dari dulu udah bijak. Cuman **** aja gua. Jadi bijaknya ke injak ke bawah jauh dalam diri gua." sanggahnya.
"Hahaha sae lu Ta." seruku.
Kami tertawa terbahak dengan bayolan-banyolan yang kami lempar satu sama lain.
"Jadi Tre. Apa yang lo mau katakan tadi?!" tanya Shita.
"Anu Ta, anu. Sebenarnya aku malu ngomonginnya." sahutku tertunduk malu.
"Udeh sih kaya siapa aja!! Lo telanjang di depan gua kagak malu!! Kenapa sekarang berlagak sok malu Lo?!" sergah Shinta.
"Itu beda Ta!! Pokoknya kamu janji jangan hate aku ya." titahku.
"IYE IYE AMPUN DAH!! Tinggal ngomong aja!! Bikin penasaran gua aja!!" sergah Shita mulai kesal.
...****************...
...( BONUS )...
...Beberapa unggahan kami ke sosial media. Ternyata mendapat respon positif dari beberapa orang. Rata-rata mereka adalah warga sekitar atau pengunjung lain yang sama sekali tidak kami kenal. Seperti postingan kami saat singah di Masjid Agung Klaten ini....
^^^"Wah bagus ya Masjidnya. Ini di Klaten bukan sih?" Tanya seorang netijen.^^^
...Postingan lain pun juga mendapat respon positif yang sama. Ada salah satu netijen. Yang menanggapi postingan kami....
...Begitu juga dengan postingan kami soal di rest area KM 429 di ruas jalan tol Semarang-Solo....
^^^"Ha ha ha ngakak! Ekspektasi tak seindah realita 🤣 Main lo kurang jauh sist. Baru keluar rumah ya lu?! Yang namanya Timlo itu, isinya macam-macam. Ngakak dah." Komentar salah satu netijen.^^^
...Banyak orang baru yang berdatangan di setiap postingan Istagram kami. Banyak pula yang mulai mengikuti akun kami. Mereka meninggalkan sebuah komentar, atau hanya sekedar meninggalkan like pada postingan kami....
...Ragam komentar kami dapatkan dari mereka. Walau banyak komentar positif. Ada juga yang memberikan komentar negatif. Seperti di postingan makanan timlo yang kami posting....
...Ya begitulah sosial media. Kita harus pintar-pintar menyaring, mana yang beguna bagi kita, mana yang enggak. Kita bisa tahan jempol kita mengetik sesuatu di sosial media. Tapi kita tak bisa menahan jempol orang buat berkomentar seperti yang kita inginkan....
...Apa pun komentar mereka, bijaklah. Semua komentar itu positif buat kita. Sekali pun komentar itu hal yang negatif. Semua, tergantung bagaimana cara kita menyikapinya....
...****************...