
Aku bergegas melajukan mobilku pergi ke Mall, tempatku membeli mobil ini. Di tengah perjalanan. Dengan pikiran jahatnya. Shinta, sudah siap membalas dendam kepada kedua SPG yang meremehkan kita tempo hari. Beberapa kali, aku di buat terbahak dengan rencana Shita.
"Ha ha ha! Buset sombong banget kamu, Ta." sahutku.
"Biarlah, biar tau rasa mereka." tekad Shita dengan muka mmasamnya.
Sampai kami di Mall. Kita langsung menuju ke satu tempat. Ya, mana lagi jika bukan pameran mobil itu. Aku melihat, ada beberapa orang, yang sedang memperhatikanku dan Shita. Mereka seakan sedang membicarakan sesuatu tentang kita berdua. Ada juga yang terlihat seolah mengambil gambar kita.
"Ta, kamu ngerasa aneh gak sih?!" tanyaku merasa tak enak.
"Udah cuek aja. Paling mereka terheran ada sultan masuk Mall," jawab Shita.
Bak artis yang sedang berada di keramaian. Kita menjadi pusat perhatian orang di sana. Shita pun, berlenggak-lenggok dengan sombongnya. Aku di buat tertawa oleh sikap konyol Shita itu.
"Ta, kamu tu ngapain sih?" bisikku mendekat kepada Shita.
"Udeh lo diem. Orang kaya tu gini. Biar ****** mereka." bisik Shita dengan nada yang sinis.
"Hai Mas." sapa Shita duduk di sebuah kursi tanpa di persilahkan.
"Ehh kakaknya. Ada yang bisa saya bantu Kak?! Gimana, gimana ada masalah?!" sambut seorang lelaki yang melayani kami tempo hari.
Lelaki itu, menyambut kami dengan sopan dan ramah.
"Mas kita butuh alat. Buat koneksi di mobil. Masa iya tipi gak berguna kalau gak ada koneksi." ucap Shita.
"Oh maaf sekali. Kalau itu kami tidak sedia Kak. Memang monitor dalam mobil hanya untuk akses mobil saja Kak. Kalau untuk keperluan internet, harus ada jaringannya Kak." jelasnya.
"Iya kita butuh itu. Di mana jualnya? Berapa harganya? Kita beli tanpa nawar." ujar Shita dengan sombongnya.
"Aduh maaf kakak. Kalau itu kami tidak jual. Mungkin kaka bisa naik di lantai 3. Di sana jual elektronik semacamnya kak." jelas lelaki itu.
"Aduh gimana sih. Masa gak jual. Ya udah kita pergi. Yuk Tre, kita cari toko yang mahal." keluh Shita bangkit dari duduknya meninggalkan tempat itu.
Aku tersenyum lebar mendengar ucapan Shita. Seakan lelaki itu tau maksud dan tujuanku. Aku melirik ke arah kedua SPG itu. Terlihat mereka seakan malu melihat kami.
"Ta, tunggu! Mari Mas," seruku.
Aku berlari menyusul Shita yang tanpa pamit beranjak dari tempat itu. Tak menyangka jika Shita benar-benar akting bertingkah seperti yang dia bilang. Ya, walau dia tak bisa melempar uang di depan kedua SPG itu. Karna memang mereka tak menjual alat yang kami perlukan.
"Gile Lo Ta. Sombong banget sumpah." cemohku.
"Namanya juga orang kaya baru. Ya walau pun elo yang kaya ha ha ha.." timpal Shita dengan puasnya.
"Sae lo, ha ha ha." sahutku.
Sampai di lantai 3. Kami masuk ke sebuah alat elektronik bermerek. Kami di sambut ramah oleh pegawai di sana. Tanpa ragu, kami membeli sebuah modem berikut dengan *****-bengeknya.
"Beneran ya, Mas. Ini yang paling bagus?!" tegasku.
"Di jamin Kak. Ada garansinya juga nanti." jelas Karyawan itu.
Shita meminta sebuah Laptop dan Kamera untuk mengabadikan kebersamaan kami. Dia juga meminta sebuah CCTV untuk di pasang di mobil kami.
"Tre, pokoknya Lo harus beli itu buat kebutuhan kita nanti di jalan. Okay!" titahnya.
"Butuh banget kah, Ta?!" tanyaku.
Petugas di sana begitu sangat ramah melayani kami. Ya bagaimana tidak. Kami membeli barang hanya asal tunjuk, tanpa menanyakan berapa harga barang itu.
"Ya ampun gilak!! Kesampean halu gue. Punya laptop mahal dan kamera DSLR kece. Harus gue upload di sosmed. Biar kejang tu jempol tetangga." gumam Shinta.
Kami memutuskan untuk kembali ke mobil. Kami pun membawa sebuah troli yang berisi barang-barang elektronik yang kami beli. Dengan santainya Shinta memotong jalan melewati pameran mobil yang berada di depan pintu masuk. Sempat aku melarangnya, tapi Shita menolak dengan sengitnya.
"Ogah, lo lewat aja situ. Gue mau pamer." usir Shita.
Aku dan seorang karyawan elektronik itu di hanya dapat tertawa geli melihat tingkah Shita. Ya, aku meminta seorang karyawan di toko elektronik itu. Untuk sekalian memasangkan barang yang kami beli di mobil kami.
"Jangan kaget ya Mas. Temen saya lagi kesurupan," timpalku.
"Oh, gak apa-apa Mbak," sahutnya.
Setelah semua alat itu terpasang rapi di mobil kami. Berkali-kali kami mencoba menguji semua alat itu. Benar-benar tak mengecewakan buatku.
"Gilak bener. Soo jong Ki keren banget." cakap Shita.
"Ta! Malah drakor lagi." cibirku. "Kayaknya udah okay deh Mas. Makasih ya. Oh ya ini ada tip buat Masnya. Maaf cuman sedikit."
"Aduh gak apa-apa Mbak. Terimakasih banget. Nanti kalau ada apa-apa bisa langsung hubungi kami aja Mbak." sahut lelaki itu.
"Emm boleh minta nomornya gak Mas? Ya siapa tau di perjalanan ada problem." tanyaku.
"Oh ya Mbak, silahkan." sahut lelaki itu.
"Ta, minta Hp nya dong." pintaku.
"Duh plis! Lagi seru nih. Nih nih nih." gerutunya.
"Yee." protesku.
"Ini Mba silahkan." ucap lelaki itu.
"Iya mas. Namanya siapa?!" tanyaku.
"Arif, Mbak." jawabnya.
"Okay Mas Arif. Makasih ya." ucapku.
"Baik mbak. Mari." sahutnya pergi meninggalkan kami.
Aku langsung bergegas masuk kedalam mobilku. Aku mengecek segala sisi.
Gila, begini ya rasanya punya mobil bagus dengan fasilitas sekeren ini. Batinku.
"Ta, udah sore nih. Laper." ucapku.
"Idhihh kamu nangis!!" ungkapku.
"Sedih tau gak sih." rajuk Shita yang duduk di jog tengah.
...****************...