100 Days

100 Days
S2. Black Pearl Bracelet



Elena mengandung anak Eric?


"Apa kau tidak bisa bekerja dengan benar?" Suara tinggi Eric menarikku kembali ke alam sadar.


"Akan kubereskan," kataku dengan suara bergetar. Aku berjongkok, memunguti pecahan keramik dengan tangan kosong.


"Akh ...!" Aku mendesis menahan perih saat jariku tergores pecahan keramik.


"Biar aku saja,"


Jordan ikut berjongkok di hadapanku dan membantuku memungut serpihan keramik yang berserakan di lantai. Apa aku terlihat sangat menyedihkan?


"Pergilah, obati lukamu. Aku akan membereskan ini," ucap Jordan.


Aku menelan ludah lantas menarik nafas dalam-dalam sebelum mengangguk dan meninggalkan kamar Eric dengan hati yang hancur. Aku turun ke dapur untuk mencuci lukaku di wastafel. Kemudian aku mengambil kotak obat dan meletakkannya di mini bar yang ada disana.


Eric pernah mengatakan padaku bahwa masa lalunya kelam. Dan aku ingat, aku pernah mengatakan bahwa aku akan menerima semua masa lalu Eric. Harusnya aku tidak sakit hati. Harusnya aku bisa menerima jika Eric memiliki seorang anak dengan Elena. Aku harus menerimanya. Aku bisa menerimanya. Ya, ini adalah bagian dari masa lalu Eric yang harus aku terima.


"Hei, aku memintamu untuk mengobati lukamu, bukan menambah lukamu."


Aku mengangkat wajah dan mendapati Jordan duduk disampingku sambil memegang telapak tanganku. Lalu aku melihat pada tanganku yang terluka. Aku tidak sadar, ternyata aku menggenggam ujung gunting terlalu kuat hingga melukai telapak tanganku.


Jordan menghela nafas lalu mengambil kapas dan alkohol untuk membersihkan lukaku. Beruntung luka itu tidak dalam. Meski begitu, pasti akan tetap terasa perih saat terkena air.


Dengan hati-hati Jordan melilitkan plester di jariku yang terluka karena pecahan keramik. Lalu dia membebat telapak tanganku dengan kain kasa untuk menutup luka di telapak tanganku akibat gunting itu. Dia melakukannya dalam diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Apa yang kau dengar adalah benar," ucap Jordan tiba-tiba. Dia menatapku untuk beberapa saat. Mungkin dia memastikan bahwa aku masih bisa bernafas setelah mengetahui fakta ini.


Jordan membuang nafas kasar lantas menunduk. Setelah itu dia melihatku lagi. "Harusnya Eric yang menceritakan masalah ini." Jordan menggenggam tanganku yang tidak terluka. "Lima tahun lalu, sebelum Eric mengetahui bahwa Elena menghianatinya, Elena memang mengandung anak Eric."


Aku diam, berusaha menahan semua rasa sakit yang tiba-tiba menyerangku bagai seribu anak panah yang dilesakkan ke jantungku.


"Saat Eric mengetahui bahwa Elena telah menghianatinya, Eric melakukan tes DNA pada janin dalam kandungan Elena. Dia menunggu hingga janin itu siap untuk diambil sample DNA-nya. Hasilnya, itu memang anak Eric. Tapi mereka harus kehilangan bayi itu karena kandungan narkotika dalam darah Elena terlalu pekat. Dia pemakai."


Entah aku harus senang atau sedih. Semua ini terasa terlalu tiba-tiba untukku. Meski sakit, air mataku seperti sudah mengering.


"Kau baik-baik saja?" tanya Jordan dengan kening berkerut.


Aku mengangguk meski sebenarnya perasaanku tidak menentu. Aku tidak tahu apa ini termasuk 'baik-baik saja' seperti yang ditanyakan Jordan.


"Bersabarlah, Princess. Aku yakin Eric akan segera mengingatmu kembali."


Aku mengangguk lagi. "Kau belum memberitahunya tentang Elena?" tanyaku.


Jordan menggeleng. "Belum. Jika kondisi fisiknya sudah membaik, aku akan mengajaknya menemui Elena."


Aku mengerti. Jika Eric tahu bahwa Elena telah meninggal, bisa jadi itu akan berakibat buruk pada kesehatan Eric. Keputusan Jordan sudah tepat menurutku. Biarlah Eric ditelan rasa penasarannya, mungkin dengan begitu dia akan ingat bahwa Elena telah meninggal. Semoga saja.


"Apa Eric mengenali Aiden?"


"Tidak, Princess. Bahkan Eric mengira baby Annabeth adalah putrinya dengan Elena."


"Sayang sekali," kataku sambil menunduk.


Jadi, Eric juga tidak mengenali Aiden. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menjalani peran ini. Baru hari pertama saja aku sudah seterluka ini. Jika Eric tidak kunjung mengingat siapa diriku, mungkin aku akan mati secara perlahan.


Seperti yang dikatakan Chloe, dia tinggal di rumah ini bersamaku dan Eric. Dia menyerahkan segala urusan Eric padaku. Disini dia hanya memastikan bahwa Eric tidak berlaku kasar atau melukaiku.


Aku tersenyum getir. Eric memang tidak melukaiku secara fisik, tapi Eric menggoreskan pecahan kaca di hatiku sedikit demi sedikit dengan sikap dinginnya. Namun aku tidak akan mengeluh. Aku telah memilih jalan ini. Maka aku akan menanggung semua resikonya.


Perkembangan kesehatan Eric cukup bagus. Luka bekas operasi di kepalanya sudah mengering. Dokter menyarankan untuk membuka saja kain kasa yang selama ini membebat kepala Eric asalkan tetap menjaga kebersihan luka itu.


Eric masih sering merasakan nyeri di dada saat dia gunakan untuk bangun sendiri. Jadi aku masih harus membantunya untuk bangun, supaya tidak terlalu banyak menimbulkan gerakan pada tulang rusuknya yang patah.


Sedikit demi sedikit Eric juga mulai belajar berjalan sendiri ke kamar mandi. Rasa sakit di kepala yang sering kali muncul sangat mempengaruhi keseimbangan tubuh Eric. Dokter mengatakan itu wajar, efek dari operasi yang dijalani Eric beberapa minggu lalu. Meski begitu, aku masih merasa sangat khawatir saat tubuh Eric limbung karena rasa sakit di kepalanya yang muncul tiba-tiba.


"Kau yakin ingin melakukannya sendiri?" tanyaku saat Eric bersikeras ingin ke kamar mandi sendiri meski dia merasakan kepalanya berdenyut nyeri.


Eric tidak menjawabku. Dia menepis tanganku yang berusaha memegangi lengannya seperti biasa.


Sakit? Ya. Hatiku sakit saat Eric bersikap seperti itu padaku. Sesaat sebelum menutup pintu kamar mandi, Eric menatapku dingin. Hatiku mencelos, kupegang dadaku supaya tidak terlalu sakit. Aku ... akan tetap bertahan.


Jujur aku khawatir Eric akan terjatuh di kamar mandi. Aku berjalan mondar mandir di depan pintu kamar mandi dengan perasaan khawatir menunggu Eric selesai dengan urusannya di dalam sana.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Eric dengan alis hampir bertaut.


"A-aku menunggumu. Aku khawatir terjadi sesuatu pa ... damu," kataku sambil menatap punggung Eric yang kian menjauh. Dia bahkan tidak mendengar jawabanku sampai selesai.


Aku menghela nafas pelan lalu mengikutinya dari belakang. Aku bergerak cepat saat Eric hampir saja terjatuh di dekat ranjang.


"Akh ...." Eric mendesis sambil memegangi kepalanya.


"Hati-hati." Aku membantu Eric untuk duduk dengan benar di tepi ranjang. Dia terlihat sangat kesakitan.


"Ambilkan aku minum," kata Eric.


Aku segera mengambil gelas berisi air putih yang selalu aku sediakan di atas nakas. Aku memberikannya pada Eric dan langsung diminum olehnya.


"Apa masih sakit?" tanyaku khawatir.


Eric tidak menjawab. Dia hanya memberi kode padaku untuk membantunya berbaring. Aku menahan punggungnya dan melepasnya perlahan. Setelahnya, aku mengangkat kaki Eric keatas ranjang agar posisinya nyaman. Lalu aku menyelimuti tubuhnya sebatas perut.


"Keluarlah! Aku ingin istirahat," perintahnya padaku.


Aku mengangguk lalu membalik badanku. Namun aku tersentak saat tiba-tiba Eric menahan pegelangan tanganku. Aku menoleh. Aku melihat Eric memperhatikan gelang mutiara hitam yang melingkar di pergelangan tanganku. Jantungku mulai berpacu cepat. Apa dia mulai ingat pada gelang ini?


Eric memejamkan mata lalu melihat padaku penasaran. "Dari mana kau mendapatkan gelang ini?" tanyanya.


Aku menelan ludah. Apa aku harus jujur dari mana aku mendapatkannya?


"Aku tidak suka mengulangi pertanyaanku," ketus Eric.


Aku melihat pada gelang mutiara hitamku dengan perasaan getir. "Ini ... pemberian suamiku. Waktu kencan pertama kami," jawabku dengan suara bergetar. Mati-matian aku menahan air mataku supaya tidak jatuh.


"Kau sudah menikah?" tanya Eric tanpa melepas pergelangan tanganku. Sentuhannya di kulitku terasa hangat. Aku merindukan sentuhan itu.


"Ya," jawabku singkat. Aku tidak berani menatap wajahnya. Ini terlalu sakit.


"Dimana suamimu?"


Aku menggigit bibir dalamku. Aku tidak mampu lagi menahan air mataku. Aku buru-buru menghapusnya dengan tanganku yang bebas.


"Dia sedang sakit." Memangnya aku harus menjawab apa? Suamiku memang sedang sakit. Dan aku sedang merawatnya.


Sepertinya Eric menyadari kalau aku menangis. Dia melepaskan tangannya dari pergelangan tanganku. Aku menarik nafas dalam sambil memegangi gelang mutiara hitamku setelah Eric melepaskan tanganku.


"Ada lagi yang kau butuhkan?" Aku harus segera pergi dari kamar ini. Aku tidak sanggup lagi menahan sesak dalam dadaku.


"Pergilah," kata Eric.


Aku pun melangkah cepat keluar dari kamar Eric. Aku menutup pintu kamar itu lalu bersandar disana. Tubuhku merosot ke lantai, air mataku menderas. Ini sangat sakit. Aku sakit, Tuhan!


Disaat yang sama Chloe baru saja keluar dari kamarnya yang berada di samping kamar Eric. Dia melihatku lantas menghampiriku dengan panik.


"Isabel? Apa yang terjadi?"


Chloe membantuku berdiri. Aku memeluknya erat. Aku sakit, Chloe.


"Kita ke kamarku." Chloe mengurai pelukanku lantas membawaku masuk ke dalam kamarnya.


Ini pertama kalinya Eric bertanya padaku tentang masa lalunya. Tapi kenapa rasanya sesakit ini? Aku ingin menjerit sekencang-kencangnya. Aku ingin mengatakan pada Eric bahwa dialah yang memberikan gelang itu padaku, bahwa dialah suamiku.


*


*


*


*


*


tbc