
Tiga hari semenjak kepergian Jordan. Dan hingga saat ini Eric juga belum menunjukkan batang hidungnya di safe house. Isabel mulai bosan karena tidak ada manusia lain yang dia lihat.
Di tengah rasa bosannya, Isabel mulai merasakan rindu pada gombalan Jordan. Rindu dengan wajahnya yang selalu tersenyum. Tapi anehnya, ia juga merasa rindu dengan kalimat tajam Eric. Eric?
Isabel pasti sudah gila. Jordan memang orang yang pantas dirindukan, tapi Eric? Pertemuan mereka selalu dihiasi adu mulut, bagaimana bisa Isabel merindukan orang seperti itu?
Dengan langkah malas Isabel berjalan ke dapur. Dia membuka lemari es dan hanya menemukan telur dan juga sosis yang bisa dia olah.
"Great! Mereka meninggalkanku yang tidak bisa ke mana pun ini hanya dengan telur dan sosis." Isabel menggeleng malas lalu mengambil dua butir telur, tiga sosis dan susu dari dalam lemari es. Pagi ini dia akan membuat scramble egg dan sosis bakar untuk sarapan. Mungkin brunch lebih tepat, karena sekarang sudah pukul 10 pagi.
Terbiasa membuatkan sarapan untuk orang lain, tiga hari ini Isabel merasa hampa karena hanya sarapan sendiri. Meskipun Eric hanya akan sarapan dalam diam, tapi Isabel cukup senang karena masih ada manusia lain disekitarnya.
Isabel sedang memakan sarapannya ketika ia mendengar suara pintu terbuka. Dia mengangkat wajah dan melihat Eric datang dengan tiga kantung belanjaan yang penuh. Di tangannya juga menggantung sebuah paperbag bertuliskan nama sebuah restoran Italia terkenal dengan logo yang khas.
"Butuh bantuan?" Isabel menggeser kursinya, hendak berdiri untuk membantu Eric.
Eric menelengkan kepala agar bisa melihat Isabel. Dan arah pandangnya jatuh pada sepiring scramble egg dan sosis bakar yang masih tersisa banyak. "Lanjutkan saja sarapanmu," katanya sambil berjalan menuju lemari es.
Isabel mengangkat bahu lalu kembali membenarkan posisi kursinya dan duduk untuk melanjutkan sarapannya.
Gadis itu terus menyuap hasil olahan telurnya ke mulut dengan mata yang terus melihat Eric. Eric berjongkok di depan lemari es, menata bahan makanan yang dia beli.
Isabel selesai sarapan saat masih ada satu kantung belanjaan lagi yang belum ditata. Selesai membereskan alat makannya Isabel membantu Eric. Dia ikut berjongkok di samping Eric. Dengan cekatan ia menarik satu kantung belanjaan dan mulai menatanya di dalam kulkas.
"Kupikir kau tidak akan kembali," celetuk Isabel sambil terus menata bahan makanan.
Gerakan tangan Eric terhenti sesaat. Dia menoleh pada Isabel dengan satu alisnya terangkat. "Ini rumahku, jika kau lupa," ucapnya, kemudian melanjutkan kegiatannya.
Isabel tersenyum. "Sudah hampir seminggu kau tidak ke sini."
"So?" tanya Eric tanpa menghentikan kegiatannya.
Isabel memasukkan kaleng kornet yang terakhir lalu berdiri disusul Eric yang juga ikut berdiri.
"So, apa pekerjaan untukku sudah terpikirkan?" tanya Isabel sambil menutup pintu lemari es lalu bersandar di sana.
"Belum," jawab Eric. Dia berjalan ke meja makan membawa paperbag berlogo restoran Italia. Isabel mengekorinya di belakang.
"Sayang sekali kau sudah sarapan. Aku membelikannya untukmu," kata Eric yang sedang mengeluarkan paper box berisi lasagna.
"Brunch." Isabel mengoreksi. "But, thank you."
Eric melahap lasagna itu dengan lahap seperti orang yang belum makan berhari-hari. Isabel melihat itu lantas tersenyum kecil.
"Kau makan seperti keponakanku," kata Isabel. "Sudah berapa hari kau tidak makan?" ledek Isabel. Dia menggeser kotak tissue ke dekat Eric. Dan pria itu sama sekali tidak peduli.
Selesai makan, Eric mengelap bibirnya dengan tissue. Benar saja, dia makan seperti anak kecil, belepotan.
"Kau tidak makan?" tanya Eric setelah menghabiskan segelas air putih.
Isabel mengangkat sebelah alisnya. "Tidak." Dia menggeleng. "Nanti saja."
"Eric," Isabel menjeda sebentar. "Berikan aku pekerjaan," pintanya.
Eric menatap Isabel beberapa saat, seperti sedang meneliti sesuatu. "Kenapa kau tidak pulang dan melanjutkan kuliahmu?"
Isabel menunduk. Wajahnya menjadi muram. "Aku belum siap." Dia diam sebentar. "Apa itu artinya kau mengusirku?" selidik Isabel.
Eric mengangkat bahu. "I did not say that."
Mereka diam beberapa saat. Eric terlihat sibuk dengan tabletnya. Sementara Isabel sibuk memerhatikan Eric.
"Kemarikan tanganmu," pinta Eric.
Isabel terlihat bingung dengan permintaan Eric itu. "Untuk apa?"tanya Isabel.
Eric menatap malas pada Isabel lantas menarik tangan Isabel secara tiba-tiba hingga tubuh Isabel yang duduk di seberang meja sedikit terangkat.
"Aw!" Isabel merasa perutnya terbentur pinggiran meja.
"Apa yang kau lakukan?" Isabel tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Eric dengan jarinya.
Tidak ada jawaban dari Eric. Pria itu melepaskan tangan Isabel setelah selesai memindai. Dia terlihat mengetik sesuatu pada layar tabletnya.
Isabel kembali duduk di kursinya. Keningnya berkerut, memikirkan apa yang dilakukan pria di hadapannya itu dengan jarinya.
"Aku memasukkan sidik jarimu dalam data. You have the key now."
"What?" Isabel melongo. Eric percaya padanya? Ini sebuah kemajuan. "Thanks," katanya kemudian.
Lain halnya dengan Eric. Jordan sudah menceritakan kejadian di pesta kemarin hingga saat Isabel yang menangis tidak ingin pulang ke rumahnya.
Jordan sudah mewanti-wanti Eric untuk bersikap baik pada Isabel setelah dia pergi. Jordan juga membuat Eric berjanji padanya untuk membujuk Isabel agar bersedia pulang, dengan cara halus tentunya. Dan memberi akses pada Isabel untuk bebas keluar masuk safe house adalah salah satu cara halusnya untuk membujuk. Setidaknya menurut Eric cara seperti itu bisa disebut membujuk.
"Aku akan keluar kota beberapa hari, kalau kau bosan kau bisa ke bawah. Sedikit membantu membersihkan toilet sepertinya ide bagus," kata Eric sambil beranjak.
"Hei, apa aku tidak salah dengar?" batin gadis itu.
Isabel merasa Eric sedikit berbeda. Biasanya pria itu tidak akan mengatakan apapun. Datang dan pergi sesuka hati seolah dia tinggal sendiri di sini.
"Aku pergi." Eric melenggang keluar dari safe house tanpa menoleh sedikit pun setelah berpamitan.
Berpamitan?
Isabel menatap kepergian Eric dengan perasaan aneh. Ada yang berbeda dari Eric. Bahkan pria itu berpamitan padanya. Hal yang belum pernah dilakukan Eric sebelumnya.
"Take care," jawab Isabel setelah Eric menghilang di balik pintu. Aneh. Ini sungguh aneh. Isabel yakin pasti ada sesuatu yang terjadi.
Mengesampingkan rasa penasarannya, Isabel berjalan menuju kamar. Dia mencoba menutup pintu kamar lalu membukanya kembali.
"It works!" ucapnya girang. "Tentu saja berhasil. Bodoh!" Isabel merutuki kebodohannya sendiri.
Berhasil mencobanya di pintu kamar, Isabel mencobanya untuk membuka pintu depan. Dan dengan bodohnya dia juga berteriak kegirangan karena bisa membuka pintu yang selama ini menjadi benda terlarang untuknya.
Begitu pintu terbuka, Isabel melongokkan kepalanya ke luar. Di luar sangat sepi, tidak ada satu orang pun di sana. Tapi telinga Isabel bisa mendengar suara keramaian di lantai tiga. Saat siang hari, lantai tiga akan sangat ramai pengunjung.
Dalam hati Isabel terbesit keinginan untuk turun, namun dia mengurungkannya. Entahlah, tiba-tiba dia merasa tidak tertarik.
Perlahan Isabel menutup pintu itu kembali. Dia berjalan masuk ke dalam kamar. Merebahkan tubuhnya di kasur lantas mengambil movie player pemberian Jordan.
Isabel menghabiskan waktunya dengan menonton film dalam movie player itu.
"Hei, Grey! Kau mau menonton juga?" Isabel mengelus bulu lembut Grey yang ikut naik ke atas ranjang.
Seperti yang dikatakan Jordan, Isabel bisa menonton film apapun yang dia inginkan. Mulai dari film lawas sampai film yang baru di rilis.
Jika orang lain harus antri di bioskop untuk menonton film terbaru, Isabel bisa langsung ketik dan klik. Seketika film yang dia inginkan muncul di layar. Isabel sampai tidak habis pikir, bagaimana Jordan bisa membuatnya. Orang seperti Jordan yang kelihatannya slengekan dan suka merayu ternyata mempunyai otak yang super.
Tapi apakah itu tidak melanggar hukum? Sepertinya barang ini ilegal. Jika barang ini dipasarkan, sudah pasti tidak akan ada produser yang akan membuat film lagi karena bisa dipastikan dia akan merugi.
Isabel menggeleng-gelengkan kepala membayangkan Jordan menghancurkan industri perfilman dengan teknologi ciptaannya.
Gadis itu tersenyum tipis. "I miss you Jordan."
***
tbc.
tbc.
Waduh, ada yang rindu nih.
Titip salam pada angin atau burung saja biar disampein ke orangnya.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys ! Gratis kok, hehehe
See you next part, love.