100 Days

100 Days
Part 68



Ragu-ragu Isabel menggerakkan tangannya menerima kotak persegi panjang berwarna hitam itu dari Eric.


Berat. Apa isinya ? Perhiasan ? Gelang, kalung ? Ah, tidak. Ini terlalu berat untuk bobot sebuah perhiasan. Jam tangan ? Ukuran kotaknya terlalu besar.


Tidak ada yang masuk akal dalam otak Isabel tentang isi kotak itu.


"Bukalah." Titah Eric dengan lembut.


"Bukan bom ?" Tanya Isabel.


Eric tertawa, "Aku akan ikut meledak bersamamu."


"Serangga atau hewan lainnya ?"


"Mereka akan terus begerak di dalam sana."


Isabel mengedikkan bahu, dengan gerakan ragu-ragu dia membuka kotak itu.


"Hah ?!" Isabel melongo melihat isinya. Terkejut ? Kecewa ? tapi....ah sudahlah ! Dalam hati, Isabel merutuki otaknya yang sudah berpikir kalau Eric adalah pria romantis.


"Jangan memasang wajah seperti itu. Aku sudah bilang kalau itu milikmu." Kata Eric yang bisa membaca ekspresi terkejut sekaligus kecewa di wajah Isabel.


Raut wajah Isabel cemberut lagi. Dia menutup kotak berisi ponsel dan movie player itu dengan sedikit kasar. Ya, itu adalah ponsel pemberian Eric dan movie player pemberian Jordan.


"Kau berharap aku memberimu hadiah ?" Tanya Eric dengan senyum jahil


Dan itu terdengar sangat menjengkelkan di telinga Isabel. Tapi, apa Isabel mengharapkan hadiah dari Eric ? Hh....yang benar saja ! Bahkan pria itu tidak mau mengakui kalau dia sedang mengajak Isabel kencan. Mana mungkin Eric sebaik itu menyiapkan hadiah untuknya. Bodoh !


Isabel meletakkan kotak itu di dashboard lalu melipat tangannya di dada dengan pandangan lurus ke depan. Sama sekali tidak berminat membalas candaan Eric.


"Jadi...sekarang kita berkencan ?" Eric memancing pembicaraan.


"In your dream !" Jawab Isabel ketus.


"Kalau begitu kita disini saja. Aku ingin tidur sebentar supaya aku bisa berkencan denganmu dalam mimpiku." Eric menurunkan sandaran kursinya untuk mencari posisi berbaring yang nyaman.


"Astaga ! Apa yang kau lakukan ?!" Pekik Isabel. Eric serius memejamkan matanya. Dia menautkan jemarinya dan meletakkannya diatas perut.


"Jangan menggangguku. Biarkan aku bermimpi sebentar." Katanya tanpa membuka mata.


"Aw !" Eric membuka mata dan langsung menegakkan tubuhnya saat merasakan cubitan keras di pinggangnya.


"Jalankan mobilnya, J*rk !" Isabel melotot.


Eric menahan senyum melihat Isabel yang terlihat kesal. Dia mengembalikan kursinya ke posisi semula dan duduk dengan nyaman dibalik kemudi.


"Jadi...kita berkencan ?" Tanya Eric lagi sambil menahan bibirnya yang ingin tersenyum lebar.


Isabel menghela nafas kasar. Percuma merajuk. "Baiklah. Sekali ini saja !" Tegas Isabel. Meskipun batinnya berharap ada kencan selanjutnya.


Apa ? Kencan selanjutnya ? Benarkah itu yang diinginkan Isabel ?


"Deal. Sekali ini saja dan kita lihat apakah nanti kau ingin mengulang kencan denganku." Kata Eric dengan percaya diri.


Isabel mendengus. Rupanya Eric mempunyai tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi.


Eric kembali melajukan mobilnya perlahan mengikuti arus kendaraan. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hari masih terang, dan untuk makan malam dia masih punya waktu sekitar dua jam lagi.


Sebenarnya ide makan malam itu muncul dadakan. Karena tujuan awalnya adalah untuk mengembalikan dua benda dalam kotak hitam itu.


Dan tentang apa yang dia bicarakan dengan Emma, itu juga tidak ada dalam rencana. Semua mengalir begitu saja. Bicara dengan Emma terasa sangat nyaman. Dan tentang apa yang mereka bicarakan....biarkan hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu.


Eric berpikir keras, kemana dia akan membawa Isabel sekarang setelah mereka menyatakan 'berkencan'.


Nonton ? Terlalu biasa. Mau nonton apa lagi coba, Isabel bisa nonton film apapun yang dia inginkan di movie player dari Jordan.


Eric menumpukan sikunya pada pintu mobil, menggigit telunjuknya yang menekuk sambil terus berpikir.


"Menurutmu tempat apa yang menarik ?" Akhirnya Eric memutuskan untuk bertanya. Mungkin Isabel memiliki ide yang bagus untuk kencan mereka.


"Entah. Kau yang mengajakku berkencan." Jawabnya acuh.


"Ayolah ! Beri beberapa ide. Aku tidak tahu tempat seperti apa yang kau sukai."


"Aku sedang malas berpikir. Pikir saja sendiri." Isabel masih menunjukkan wajah juteknya.


Eric menggeleng lemah. Ternyata seperti ini rasanya berkencan dengan anak kecil. Batin Eric terkekeh dengan dirinya sendiri yang akhirnya takhluk dengan seorang gadis belia.


Tidak bertanya lagi, Eric terus melajukan mobilnya kian menjauh dari pusat kota. Dia telah menentukan destinasi pilihannya. Pantai.


Mengejar waktu untuk melihat sunset, Eric menambah laju mobilnya. Dia tahu jalan pintas ke tempat yang dia tuju. Tapi tidak dengan Isabel. Gadis itu sama sekali tidak tahu kalau jalan yang di lalui akan membawa mereka menuju pantai.


"Tempat apa ini ?" Tanya Isabel saat mobil itu melintasi jalan tak beraspal yang sempit dan kanan kirinya tumbuh pohon palem yang menjulang tinggi.


Eric menjawabnya dengan senyuman.


"Kau tidak bermaksud memutilasi lalu membuangku disini, kan ?!" Tanya Isabel was-was. Baru saja mereka membahas saat dimana Eric meninggalkannya di tepi jembatan. Dan ini, Isabel sama sekali tidak tahu dimana dia berada sekarang.


"Nope." Jawab Eric singkat.


"Kalau begitu, beritahu aku dimana kita sekarang." Desak Isabel.


"Nanti kau akan tahu." Eric sengaja membuat gadis itu penasaran.


Bukan hanya penasaran, Isabel sedikit merinding saat mobil mereka melintasi jalan yang sedikit lebih gelap karena lebatnya pepohonan--yang sebagian besar adalah pohon dengan daun yang sangat lebat--disana yang menghalangi cahaya matahari untuk menembus jalanan itu.


Bebatuan dan pohon di kanan kirinya terlihat berwarna kehijauan ditumbuhi lumut, menambah kesan menakutkan di tempat itu.


Tanpa sadar Isabel bergerak gelisah. Menggenggam erat clutch yang ada di pangkuannya.


"Kau takut ?" Tanya Eric yang menyadari gadis itu gelisah.


Isabel mengangguk.


"Maaf. Aku memilih jalan ini karena kalau kita lewat jalur biasa waktu kita tidak akan cukup." Terang Eric. Hari ini dia sudah terlalu banyak minta maaf. Tidak terdengar seperti Eric.


"Sebentar lagi sampai. Kau akan segera tahu."


Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Eric melambatkan laju mobilnya karena jalan yang sedikit berpasir. Sayup-sayup Isabel bisa mendengar suara deburan ombak.


"Pantai ?" Tanya Isabel antusias. Eric mengangguk.


Eric memarkir mobilnya dibalik tebing batu tidak jauh dari bibir pantai. Isabel sudah tidak sabar untuk berlari diatas pasir. Dia segera melesat keluar ketika mobil itu berhenti.


"Waktu yang sangat tepat." Gumam Eric.


Eric keluar dari mobil membawa sebuah selimut dan mini cooler box berisi beberapa kaleng bir dan makanan ringan yang memang selalu ada dalam mobilnya. Dia berjalan menyusul Isabel yang sudah lebih dulu menjejakkan kaki tanpa alasnya diatas pasir.


Pemandangan yang sangat indah. Eric tersenyum kecil melihat keindahan ciptaan Tuhan di hadapannya.


Matahari yang sudah terlihat lelah dan bersiap menarik selimut awan ditambah dengan seorang bidadari cantik yang terlihat sangat menikmati sentuhan pasir di kulit lembutnya.


Pria itu menggelar selimut diatas pasir dan meletakkan mini cooler box nya tepat di tengah-tengah.


Sadar dirinya tidak membawa pakaian ganti, Isabel segera kembali menghampiri Eric yang sudah duduk menekuk lutut sambil menghisap bir langsung dari kalengnya.


Gadis itu menenteng sepatu kets dan memgayun-ayunkannya sambil terus melangkah mendekat pada Eric.


"Kau menyiapkan semua ini ?" Isabel menjatuhkan dirinya disamping Eric. Meraih tortila chips dan satu kaleng bir dari cooler box.


"Not really. Ini memang selalu ada dalam mobilku." Jawab Eric.


Isabel membuka kaleng bir dan menyesapnya sedikit. "Ini sangat indah." Katanya. Dia membuka bungkus tortila chips dan mulai memakan cemilan renyah itu.


"Kita sampai tepat waktu." Kata Eric dengan pandangan ke arah barat dimana langit sudah berwarna jingga dan matahari yang mulai tenggelam dibalik awan.


Isabel menyipitkan mata, menatap kagum dengan keindahan alam yang tersuguh dihadapannya.


Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Hening tercipta beberapa saat. Deburan ombak menjadi satu-satunya pengisi suara diantara mereka.


Tempat mereka duduk sekarang memang agak jauh dari area pantai yang ramai pengunjung, sehingga disana hanya ada mereka berdua.


"Bells ?" Eric menoleh ke kiri, ke arah Isabel. "Boleh aku memanggilmu seperti itu ?" Tanya Eric. Rasanya lebih enak di dengar dengan panggilan itu.


"Sure." Jawab Isabel. Dia tersenyum, tapi tiba-tiba saja jantungnya ingin melompat keluar melihat Eric yang terlihat semakin tampan saat wajahnya tersorot sinar jingga yang semakin redup. Lehernya terasa kaku dan tidak bisa digerakkan. Membuat dia harus terus menatap lekat wajah Eric yang semakin tampak berkilau.


Kedua mata Eric memantulkan cahaya jingga yang begitu indah. Seolah cahaya itu memang berasal dari sana.


"Berkedip, Bells. Matamu bisa kering."


Ah...Eric memang perusak suasana. Lihatlah senyum bangganya itu ! Dia pasti besar kepala sekarang.


Gelagapan Isabel mengedipkan mata. Baru sadar ternyata matanya perih karena kering. Sambil mendengus dia memalingkan wajah. Menatap langit jingga yang sebentar lagi berganti kelabu.


"Kemarilah." Eric mengangkat tangannya meminta Isabel mendekat.


Seperti terhipnotis dengan suara Eric, Isabel beringsut menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan Eric.


Tangan Eric bergerak keatas kepala Isabel. Dia membuka ikatan rambut gadis itu dengan hati-hati.


"Apa yang kau lakukan ?" Protes Isabel saat merasakan ikatan rambutnya mengendur.


"Diamlah."


Setelah berhasil, Eric meletakkan ikat rambut diatas selimut. Lalu kedua tangannya mengurai rambut pirang itu, menyisir dengan jari-jarinya.


Remasan jari-jari Eric di rambutnya membuat Isabel merasa kulit kepalanya meremang. Tapi dia pasrah, membiarkan Eric berbuat semaunya dengan surai itu.


"Sudah." Kata Eric. Isabel menoleh dengan tatapan heran. "Kau lebih cantik dengan rambut tergerai." Kata Eric lagi yang sukses membuat Isabel merasakan hawa panas menjalari seluruh tubuhnya. Beruntung cahaya jingga langit sore itu menyamarkan wajahnya yang memerah.


Isabel terpaku menatap Eric yang tersenyum tulus padanya. Keduanya terdiam, membiarkan mata mereka saling bicara.


Wajah Isabel yang tampak bersinar--mungkin efek langit senja--membuat Eric tak dapat membohongi hatinya. Gadis itu terlihat semakin cantik dengan sorot mata yang memancarkan kedamaian.


Pandangan Eric turun ke bibir ranum Isabel yang tampak begitu menggoda. Oh, come on ! Eric pria dewasa. Godaan seperti itu tentu saja membuat jiwanya bergejolak. Apalagi dia sudah pernah merasainya. Dan dia sangat menyukai rasa itu.


Isabel menahan nafas saat Eric terus memandangi bibirnya. Dengan jarak sedekat ini. Suasana romantis ditepi pantai saat sunset. Ini momen yang sangat bagus. Setan kecil dalam hati Isabel terus berteriak. Kiss me, kiss me, kiss me, please !


Eric menghela nafas kasar, memejamkan matanya sebentar lalu berkata, "Orang akan mengira aku berkencan dengan anak dibawah umur jika dandananmu seperti tadi." Katanya sambil tersenyum menyeringai jahat.


"ERIIIC....!!!!"


Dorongan keras menghantam tubuh Eric. Ugh....!! Sungguh Eric benar-benar merusak momen !


*


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Hahahhaa......seneng deh rasanya ngegagalin keromantisan mereka.


Betewe, kotak hitam itu ternyata bukan hadiah. Kecewa deh...Huuuuu...!!!


Jangan pada sewot ya.


See you next part, Love.