100 Days

100 Days
S2. Wake Up



Sudah tiga minggu aku tinggal di rumah sakit bersama Eric. Aku mulai terbiasa dengan suasana disini. Aku tidak lagi menganggap rumah sakit sebagai tempat orang-orang yang sedang menderita penyakit mematikan. Sekarang aku merasa rumah sakit adalah rumahku. Ya, disinilah rumahku sekarang. Karena dimanapun Eric berada, maka disitulah rumahku.


"Sebaiknya kau istirahat dulu," kata Jordan yang sedang menemaniku menjaga Eric.


"Hm," jawabku singkat.


Aku tidak lagi memaksakan diriku untuk terus terjaga. Seperti yang pernah mama katakan padaku. Aku harus tetap sehat untuk bisa selalu menjaga Eric. Disaat ada yang menggantikanku, aku akan memanfaatkan waktu untuk mengistirahatkan tubuhku.


Aku merebahkan tubuhku diatas sofa bed merah yang sudah menjadi tempat tidurku sejak kami tiba di rumah sakit ini.


Tidak lama setelah itu aku melihat Chloe datang. Tidak seperti biasanya yang selalu ditemani Aiden, kali ini dia datang sendiri. Aku bangkit, berniat menghampiri Chloe untuk menaruh bunga yang dia bawa ke dalam vas di samping brankar Eric.


"Biar aku saja. Kau istirahatlah," kata Chloe saat aku hendak mengambil alih bunga yang dia bawa.


Aku pun menurut. Selama tiga minggu ini, aku baru benar-benar melihat seputih apa hati Chloe. Dia adalah wanita yang sangat baik. Tidak salah kalau Aiden semakin jatuh cinta padanya.


Aku menyesal dulu aku pernah memperlakukannya dengan sangat buruk. Jika saja waktu bisa diputar kembali, aku pasti tidak akan pernah melakukan hal semacam itu padanya. Aku, Alice dan Chloe mungkin sudah bisa bersahabat dengan baik saat ini.


Tapi, tanpa kelakuan burukku itu, aku tidak mungkin bertemu Eric. Laki-laki yang sangat kucintai. Laki-laki yang sekarang menjadi suamiku. Laki-laki yang hingga saat ini masih terlelap dalam tidur panjangnya.


"Hei, kenapa kau menangis?"


Aku menoleh. Chloe ternyata sedang berada di sofa sedang membuka beberapa makanan ringan yang dia bawa. Dia melihat air mataku jatuh.


Aku mengangkat tubuhku. Aku duduk diatas sofa bed dengan selimut yang menutupi kakiku. Chloe berdiri lantas berpindah duduk di sampingku.


"Kau bisa bercerita padaku," kata Chloe sambil menggenggam tanganku.


"Aku ... hanya merindukan Eric."


Kulihat mata Chloe berkaca-kaca lalu dia memelukku.


"Aku tahu kau telah melalui saat-saat yang sangat berat. Tidak ada yang salah dengan rasa rindu. Aku juga sangat merindukan Eric."


Chloe melepaskan pelukannya lantas menyeka air mataku. Dia tersenyum hangat.


"Tetaplah kuat, Isabel. Eric membutuhkan dirimu." Chloe menatapku penuh harap. Seolah tanpa diriku Eric tidak akan bisa bertahan.


Aku ingin tetap kuat, tapi terkadang aku kalah dengan rasa rindu. Aku sangat merindukannya. Rasa rindu yang kurasakan terasa seperti ribuan jarum yang menancap di hatiku. Perlahan tapi pasti, jarum-jarum itu menusuk semakin dalam hingga rasanya begitu menyakitkan. Seringkali aku menangis tengah malam sambil membelai wajah Eric. Berharap dia segera membuka mata karena mendengar jeritan hatiku.


"Isabel ...." Chloe menggeser duduknya dan menggenggam tanganku semakin erat. Aku masih diam, membiarkan air mataku terus mengalir.


"Kau adalah cahaya dalam hidup Eric. Aku bisa melihat dia menjadi orang yang jauh lebih baik semenjak bersamamu. Percayalah padaku.  Tanpamu, dia akan kehilangan cahayanya. Tanpamu, dia akan kehilangan hidupnya."


Benarkah aku seberharga itu untuk Eric? Lantas kenapa sampai sekarang dia tidak juga mendengar jeritanku? Haruskah aku menjerit memanggil namanya seperti waktu di Malibu supaya dia mendengarku dan kembali padaku?


"Sepertinya aku tidak cukup menerangi hatinya," kataku sambil memejamkan mata menahan perih dalam hatiku.


"Kau salah, Princess."


Aku membuka mata, melihat pada Jordan yang berjalan mendekat pada kami.


"Kami mengenal Eric dengan sangat baik. Aku sudah pernah mengatakan padamu kalau dia memiliki anger management yang sangat buruk. Tapi bersamamu, dia dapat mengontrol dirinya. Bahkan saat kakakmu mengintimidasinya, dia tetap bisa mengendalikan dirinya dengan baik. Selain itu ... kurasa kau sudah tahu apa yang mampu dia lakukan tapi tidak dia lakukan selama bersamamu."


Ya, aku tahu itu. Selama bersamaku Eric banyak menahan dirinya. Dia berperang dengan dirinya sendiri. Tapi apakah itu cukup untuk membuatku sangat berarti untuk Eric?


"Jangan pernah meragukan kakakku, Isabel. Sekali dia mencintai seseorang, dia akan memberikan seluruh jiwa dan raganya," tambah Chloe.


Chloe memelukku lagi. Hanya sebentar dan setelah itu dia menyeka air mataku sambil tersenyum. "Istirahatlah, biar aku yang membersihkan tubuh Eric," kata Chloe kemudian.


Aku mengangguk. Biasanya aku yang menyeka tubuh Eric. Biarpun Eric belum sadarkan diri, tapi aku rajin membersihkan tubuhnya supaya dia nyaman. Aku ingin yang terbaik untuk suamiku.


Baru saja aku merebahkan tubuhku saat Chloe menjerit memanggilku dan Jordan dengan suara panik. Aku segera melompat turun dari sofa bed dan berlari ke brankar.


Saat aku sampai disana, aku melihat kelopak mata Eric terbuka dan tubuhnya mengejang. Aku panik, aku tidak tahu harus berbuat apa. Chloe terus memanggil nama Eric dan Jordan segera memanggil perawat dengan Nurse Call.


"Eric ... Eric ...." Aku sedikit mengguncang lengan Eric. Aku takut. Apa yang terjadi pada Eric? Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.


Tidak lama kemudian dua orang perawat datang. Aku mundur, memberi ruang pada perawat untuk memeriksa Eric.


"Panggil Dr. Zeta!" seru salah seorang perawat yang dibalas anggukan oleh rekannya.


"Apa yang terjadi?" tanyaku.


"Saya belum bisa memastikan, Nyonya. Kita tunggu Dr. Zeta memeriksanya," jawab perawat itu.


Melihat tubuh Eric yang mengejang seperti itu, jantungku serasa di remas-remas. Aku takut, aku sangat takut hal buruk yang melintas dalam pikiranku menjadi kenyataan. Chloe mendekat padaku. Kami bertiga saling berpelukan. Aku dan Chloe tidak bisa menahan air mata lagi. Kami ... ketakutan.


Tidak butuh waktu lama Dr. Zeta pun datang.


"Silahkan tunggu di luar," kata Dr. Zeta sambil menutup tirai yang mengelilingi brankar Eric.


Kami bertiga segera keluar dari ruang rawat Eric. Kami duduk di kursi tunggu berwarna silver dan saling berpelukan. Kembali lagi kami harus dihadapkan pada situasi yang mencekam.


"Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku tidak akan sanggup," kataku.


Aku sangat takut. Aku tidak sanggup membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Ini mimpi buruk. Ya, ini hanya mimpi buruk. Aku ingin segera terbangun agar mimpi ini berakhir. Aku ingin segera terbangun dan menemukan senyum Eric di hadapanku.


Aku dan Chloe tidak bisa berhenti menangis. Kurasa dia juga merasakan ketakutan yang sama.


Sekitar 20 menit kemudian pintu ruang rawat Eric dibuka dari dalam. Kami segera berlari mendekat.


"Bagaimana suamiku?" tanyaku tidak sabar.


"Silahkan masuk, Dr. Zeta akan menjelaskannya," jawab perawat itu. Tanpa menunggu lagi, kami bertiga segera masuk ke dalam.


Langkah kami tergesa-gesa untuk segera mengetahui kondisi Eric. Namun, begitu kami masuk, tiba-tiba waktu seolah berhenti. Apakah ini mimpi? Langkahku melambat, begitu juga Chloe. Kami saling memandang lantas mengarahkan pandangan pada objek yang sama.


Satu pemandangan yang telah lama kunantikan. Eric telah terbangun. Dia telah membuka matanya. Mata itu, mata yang selalu menatapku penuh cinta. Iris kelabu yang sangat kurindukan, akhirnya balas mentapku.


Air mataku jatuh lagi. Kuharap ini bukan mimpi. Perlahan aku mendekat dan berhenti disamping tempatnya berbaring. Dia menatapku, memperhatikan gerakanku dengan seksama meski tanpa sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya.


"Bisa kita bicara sebentar?" Dr. Zeta membuka tangannya ke arah sofa. Kami bertiga lantas mengikuti langkah Dr. Zeta.


Sejenak aku menoleh lagi pada Eric. Aku ingin memeluknya. Aku ingin menangis di dadanya.


"Mr. Michaels baru saja siuman setelah cukup lama koma." Suara Dr. Zeta menarik perhatianku dari Eric. "Mohon jangan mengajukan banyak pertanyaan padanya. Biarkan Mr. Michaels menyesuaikan diri dengan kondisi tubuhnya terlebih dulu," terang Dr. Zeta.


"Apa ada yang perlu dikhawatirkan dengan kondisi Eric, Dokter?" tanya Jordan.


Dr. Zeta tersenyum. "Kondisi alat vital Mr. Michaels dalam keadan baik. Tidak perlu khawatir."


Syukurlah. Aku merasa sangat lega. Aku dan Chloe saling berpelukan. Setelah itu kami berempat menemui Eric. Aku berdiri di samping Jordan di sisi kanan brankar.


Chloe dan Dr. Zeta berdiri di sisi kiri brankar.


"Merasa lebih baik, Mr. Michaels?" tanya Dr. Zeta.


Eric mengangguk. Lalu dia memperhatikan kami satu persatu. Aku melihat ada sedikit keanehan saat Eric melakukannya. Dia seperti sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu. Dan saat tatapannya berhenti padaku, I see something different in his eyes. Cukup lama dia menatapku, tapi aku merasa asing dengan tatapan itu.


Setelah beberapa waktu menatapku, Eric beralih menatap Jordan lalu pada Chloe.


"Apa yang kau rasakan, Brother?" tanya Jordan.


Eric tidak menjawab. Dia kembali mengedarkan pandangannya pada kami satu persatu.


Lalu dua buah pertanyaan keluar dari bibirnya dengan suara lemah. Dua pertanyaan yang meremukkan hatiku dalam satu waktu.


Eric menatapku dengan mata sayunya. "Siapa dia?" Tatapan Eric beralih pada Jordan dan Chloe secara bergantian. "Dimana Elena?"


*


*


*


*


*


tbc.


Nah lo! Ngapain bang nyariin orang yang udah mati? Nyariin aku aja, wkwkwkwk


See you next part, Love.