100 Days

100 Days
Part 106



Hari-hari Eric terasa hampa tanpa Isabel. Mau marah juga tidak akan menyelesaikan masalah. Eric hanya bisa pasrah. Dia harus sabar menunggu hingga Isabel mau memaafkannya.


Setiap hari Eric mengirimkan bunga pada Isabel sebagai permintaan maaf. Entah bunga itu sampai ke tangannya atau hanya berakhir di tempat sampah, Eric tidak akan berhenti berusaha.


Bunga-bunga itu tidak datang sendirian. Eric membuat kue-kue manis kesukaan Isabel untuk dikirim bersama bunga-bunga itu.


Bahkan Eric sampai merasa mual saat berhadapan dengan bahan-bahan pembuat kue itu. Memang dasarnya dia tidak terlalu suka manis, jadi tidak heran jika dia sampai merasa mual.


Hingga pada suatu pagi, Eric merasakan mual parah. Dia segera berlari ke toilet sesaat setelah membuka bungkus vanila bubuk, salah satu bahan pembuat kue yang akan dia buat khusus untuk Isabel.


Eric berjongkok di depan closet. Dia memuntahkan seluruh isi perutnya ke dalam lubang closet hingga tubuhnya terasa lemas sekali. Saking lemasnya, Eric seperti tidak mampu berdiri. Dia menyandarkan tubuhnya pada closet sambil memijit pelipisnya karena rasa pening yang menyerang kepalanya.


"Aku tidak akan menyerah, Bells. Akan kubuktikan bahwa aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku akan membuatmu kembali padaku." Gumam Eric dengan suara lemah.


Setelah dirasa tubuhnya cukup kuat untuk berdiri, Eric segera menegakkan tubuhnya. Dia berpegangan pada dinding kamar mandi, berjalan merambat untuk menjaga keseimbangan.


Tertatih-tatih dia berjalan hingga bisa mencapai ranjang dan langsung menjatuhkan tubuhnya disana.


Tenaga Eric seolah ikut terkuras habis saat memuntahkan isi perutnya tadi. Kini dia hanya bisa terkulai lemah diatas ranjang.


"Aku butuh sup panas." Eric merogoh ponselnya di saku celana. Dia menghubungi Jose agar membawakannya sup daging yang kaya rempah supaya tenaganya cepat pulih. Dia tidak boleh tumbang. Dia harus tetap membuatkan kue untuk Isabel.


Tidak sampai setengah jam kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Eric memaksakan tubuh lemahnya untuk bangkit dan membuka pintu.


"Ya Tuhan !" Seru Jose. Dia terkejut saat melihat wajah Eric yang begitu pucat saat membuka pintu. "Wajahmu pucat sekali, Bos. Apa kau sedang sakit ?" Tanya Jose khawatir. Pria latin itu langsung menerobos masuk lalu meletakkan nampan berisi sup daging diatas meja. Dia kembali menghampiri Eric yang masih berdiri di depan pintu sambil berpegangan pada dinding.


"Ganjal pakai itu !" Eric meminta Jose mengganjal pintu dengan keset agar pintu itu tidak terkunci. Jose pun menggeser keset di depan pintu ke celah diantara bingkai dan daun pintu yang terbuka.


"Harusnya kau gunakan kunci manual saja, Bos. Kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu di dalam sini, pasti akan sangat merepotkan dan memakan banyak waktu jika harus memanggil Jordan hanya untuk membobol pintu itu. Bisa-bisa kau lebih dulu mati sebelum kami sempat menolongmu." Gerutu Jose yang dibalas pukulan pelan di belakang kepalanya oleh Eric.


"Kau mendoakanku celaka di dalam rumahku sendiri ?" Hardik Eric.


Jose mengaduh, meski sebenarnya kepalanya tidak sakit. Pukulan Eric sama sekali tidak bertenaga, mana mungkin bisa menyakitinya.


"Aku hanya berusaha jujur, Bos." Jose meringis. Lalu dia membantu Eric berjalan ke sofa.


"Hati-hati, Bos." Kata Jose. Dia ikut duduk di sebelah Eric.


Eric mengambil mangkok berisi sup panas itu dan mulai menyantapnya.


"Apa yang terjadi padamu ? Kau tampak tidak sehat. Apa aku perlu memanggil dokter ?" Jose memperhatikan wajah pucat Bosnya itu.


"Panggil Isabel kesini dan aku akan sembuh." Jawab Eric sekenanya.


Jose melipat bibir sambil menahan tawa. Hampir 5 tahun dia bekerja dengan Eric dan baru kali ini dia melihat Bosnya begitu kacau hanya karena seorang wanita. Ini lebih parah dibandingkan dulu saat hubungan Eric dan Elena kandas.


"Isabel benar-benar mematahkan hatimu, Bos." Balas Jose sambil menyemburkan tawa yang sejak tadi dia tahan.


Tatapan Eric menyalak pada Jose. Berani sekali dia mentertawakan Bosnya ! Tapi memang hubungan mereka seperti itu. Jose senang bercanda dengan Eric tanpa mengurangi rasa hormatnya pada orang yang telah mempekerjakannya sejak bertahun-tahun lalu itu.


"Tertawalah sepuasmu ! Nanti kau akan merasakannya sendiri ketika kau menemukan orang yang kau cintai." Eric memicingkan mata, menatap hina pada Jose. "Atau jangan-jangan kau memang tidak menyukai wanita." Cibirnya.


Bukannya marah di ejek Eric seperti itu, Jose justru tergelak kencang. Dia sampai harus memegangi perutnya agar tidak kram.


"Usiaku masih muda, Bos. Bulan depan usiaku baru 24. Aku masih ingin bersenang-senang." Jose tertawa lagi. "Gajiku belum cukup untuk memulai hubungan serius." Jose melirik Eric sambil menaik turunkan alisnya, tersenyum penuh makna pada Eric.


"Aku akan memotong gajimu atas kelancangan mulutmu !" Eric melirik tajam pada Jose.


Jose mengangkat tangan, menyerah. "Ampun, Bos !" Kata Jose, membuat ekspresi takut yang dibuat-buat.


Eric tidak menggubrisnya. Dia segera menghabiskan sup yang dibawakan Jose. Setelah menghabiskan sup itu, dia merasa tubuhnya lebih segar, meski wajahnya masih sangat pucat.


"Sebaiknya kau istirahat yang banyak, Bos." Kata Jose sambil meraih mangkok sup bekas Eric. "Apa kau masih membuat kue untuk Isabel ?" Tanya Jose.


Eric menghela nafas sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa. "Aku harus meluluhkan hatinya. Bisa tolong ambilkan aku air putih ?" Eric meminta tolong pada Jose untuk mengambilkannya minum.


"Mungkin sebaiknya kau beli saja kuenya, Bos. Tidak perlu repot-repot membuatnya sendiri seperti itu." Kata Jose sambil melangkah kembali pada Eric.


"Dia harus melihat kesungguhanku." Balas Eric. "Terima kasih." Dia menerima gelas dari Jose dan meminumnya hingga isinya tinggal setengah gelas.


"Aku kasihan padamu, tapi aku salut dengan upayamu, Bos." Jose menatap prihatin pada Eric. "Apa masih ada yang kau butuhkan ?"


Eric menggeleng. "Kau bisa kembali. Aku ingin istirahat sebentar." Jawabnya.


Jose mengangguk, dia segera mengambil nampan dan mangkok kosong di atas meja lantas berjalan keluar dari Safe house.


"Semoga berhasil, Bos !" Seru Jose sebelum menutup pintu.


***


Isabel mendesah lelah. Bunga dan kue dari Eric sudah menumpuk di rumahnya. Dia akui usaha Eric untuk menarik hatinya kembali cukup membuatnya tersentuh. Dan bisa saja dia memaafkan Eric sekarang. Tapi dia ingin memberi pelajaran pada Eric. Hatinya bukanlah bola baseball yang bisa dipukul dan dilempar kesana kemari. Eric harus tahu kalau dia sangat terluka dengan keputusannya waktu itu.


"Dia sangat keras kepala." Isabel melempar bunga kiriman dari Eric ke ranjang. Lalu dia menatap kotak kue yang masih dia pegang. "Aku akan benar-benar terkena diabetes kalau dia terus mengirimiku kue manis seperti ini. Huft...! Bukankah dia sendiri yang bilang kalau kue seperti ini tidak baik untuk kesehatan ?!" Isabel membuka kotak kue itu lalu menyomot sepotong kue dan memakannya.


"Bagaimana bisa aku melewatkan kue seenak ini ?" Gumam Isabel dengan mulut yang terus mengunyah kue. Dia tidak bisa menolak godaan kue buatan Eric.


"Nanti kalau aku jadi gemuk karena kue-kue ini, aku akan mengulitinya hidup-hidup." Katanya tanpa berhenti mengunyah.


Lalu tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Isabel.


"Sayang....!" Emma membuka pintu kamar Isabel dengan tidak sabar. Dia berlari kecil lalu memeluk erat putrinya.


Belum sempat Isabel menghilangkan keterkejutannya, Emma melepas pelukan lalu menangkup wajah Isabel dengan mata berkaca-kaca.


"Apa yang terjadi, Mom ?" Tanya Isabel.


Emma tersenyum haru. "Penjahat itu sudah tertangkap, Sayang. Kita bisa bernafas dengan lega sekarang." Jawab Emma.


Penjahat ? Siapa ? Jim ?


"Jim ?" Tanya Isabel, yang dijawab anggukan oleh Emma.


Isabel menutup mulutnya dengan tangan, merasa tidak percaya. Lalu dia memeluk ibunya. Dia sangat senang. Akhirnya, setelah hampir dua bulan selalu merasa was-was, dia bisa merasa lega sekarang. Dia bisa keluar rumah lagi tanpa harus merasa was-was ada orang yang akan melukainya.


Jim pantas mendapatkannya. Gara-gara dia, semua menjadi kacau. Gara-gara dia, Isabel kehilangan kekasihnya. Andai Jim tidak mengirim video itu pada Eric, hubungannya dengan Eric pasti akan baik-baik saja.


Jadi......Selamat membusuk di penjara, Jim !


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Yeeeee........akhirnya Jim ketangkep juga !


Jadi bisa hangout dan bekerja lagi deh. Bisa kencan juga.....oops ! Lupa, teman kencannya lagi didiemin.


See you next part, Love.