
"Anu Ta, anu. Sebenarnya aku malu ngomonginnya." sahutku tertunduk malu.
"Udeh sih kaya siapa aja!! Lo telanjang di depan gua kagak malu!! Kenapa sekarang berlagak sok malu Lo?!" sergah Shinta.
"Itu beda Ta!! Pokoknya kamu janji jangan hate aku ya." titahku.
"IYE IYE AMPUN DAH!! Tinggal ngomong aja!! Bikin penasaran gua aja!!" sergah Shita mulai kesal.
...----------------...
Aku memandang Shita dengan ragu. Shita terlihat serius ingin mendengarkanku.
"Anu Ta. Di mobil aja yuk. Gak enak di dengerin orang." ucapku.
"Mba. Notanya Mba." seruku memanggil seorang pelayan.
Terlihat seorang pelayan sedang mengambil sebuah buku. Dia lalu bergegas menghampiri kami.
"Berapa Mba??" tanyaku.
"Sebentar Mba." sahut pelayan itu.
Terlihat pelayan itu sedang sibuk menghitung dengan kalkulator dan mencatatnya di nota pesanan. Aku dan Shita pun menunggu dengan sabar. Sesekali kami melempar pandangan karna terlihat sangat bosan. Tak lama, pelayan itu menyobek kertas di tangannya dan memberikannya kepada kami.
"Silahkan Mba bonnya." ucap pelayan itu.
Aku mengambil selembaran yang tergeletak di atas meja itu. Aku tersentak kaget saat melihat nominal yang harus aku bayar.
"Innalillahi!" seruku.
"Apa?! Apa?!! Coba lihat." seru Shita merebut selembaran bon di tanganku. "Anjay gile!! Apa ini?! Seriusan nih?!"
Nominal yang tak masuk akal buat kami. Bagaimana bisa, semangkok timlo bisa seharga 50.RB satu porsinya. Sempat kami tak percaya dengan apa yang harus kami bayar.
"Mba, lo salah hitung kalik. Coba tanya bos kamu atau siapa. Masa iya timlo porsi dikit gitu harga 50 rebu." sergah Shita.
"Maaf mba, emang harganya segitu." sahut pelayan itu.
"Udah Ta. Bayar aja udah. Aku ke ATM dulu ya bentar." selaku.
"Seriusan lo mau bayar?!" seru Shita.
"Iye, percaya lu sultan. Bisa beli ni warung. Tapi yang bener aja ni harga. Masak mahal banget! Coba hitung lagi deh mba!!" sergah Shita masih tak percaya dengan harga yang di berikan.
Aku hanya menghela nafas dan membuangnya berlahan. Aku masuk ke sebuah center atm yang tak jauh dari tempat itu. Aku sengaja mengambil uang lebih agar bisa aku gunakan di perjalanan nanti. Setelah selesai aku menghampiri Shita yang masih terlihat mengomel dengan pelayan itu.
"Belum selesai juga, Ta?" tanyaku menghampiri Shita.
Aku melihat ke arah pelayan itu. Terlihat ekspresi ketakutan di wajahnya. Sedangkan Shita masih terus mengoceh membahas A-Z kekurangan tempat makan ini.
"Maaf ya mba, sodaraku satu ini emang tipe gas kenceng rem blong kalau udah kenyang." ucapku memegang pundak pelayan itu.
Aku membuka tas selempangku dan mengeluarkan dompetku. Aku mengeluarkan 3 lembar uang merah dan memberikannya kepada pelayan itu.
"Kembaliannya ambil aja, maaf ya." ucapku kepada pelayan itu.
Shita tetiba bangkit dari duduknya, untuk meraih dompetku. Dia mengambil selembar uang merah dan memberikannya kepada pelayan itu.
"Nih gua tambahin! Banyak duit kita. Lihat dompet aja sampai gak muat. Gak cuman lembaran, tapi gepokan!" ujar Shita.
Pelayan itu terlihat gemetar di hadapan Shita. Terlihat dari tangannya yang sedang memegang buku nota, kalkulator, dan beberapa lembar uang kertas yang kami berikan. Dengan tertunduk, pelayan itu berkali-kali meminta maaf dengan suara yang lirih.
"Maaf, Mba." ucap pelayan itu.
"Bilang sama bos lo ya. Jangan meres pelanggan. Kalau minta minta aja. Jangan nindas dengan harga makanan yang di hidangkan. Okay! Kita kaya sultan, kios lo ini aja mampu kami beli. Tapi gimana sama yang lain?! Mereka kelaperan dari perjalanan jauh. Uang saku pas-pasan, tapi kalian rampok dengan semangkok timlo yang 4 kali suap aja abis. Heloooww!! Hati lo kemana?!" hardik Shita.
Aku mulai kasihan kepada pelayan itu. Aku berusaha menarik Shita untuk beranjak meninggalkan tempat itu.
"Ta udah Ta. Yuk balik, aku ngantuk." ucapku menarik tangan Shita.
"Minimal!! Minimal ni ya. Kalian taroh harga menu di depan kios kalian atau di pajang di dinding kios kalian. Biar pelanggan ancang-ancang sama bajed mereka. Masak kalah sama penjual cilok keliling. Mereka aja kasih harga di gerobak mereka, walau cuman pakai sepidol!" cerocos Shita tak berhenti mengomplain tempat makan itu.
Cukup lumayan jauh kami melangkah dari tempat itu. Tapi Shita tak hentinya mengomentari tempat makan itu. Saking gemasnya aku kepada Shita. Aku sampai menutup mulut Shita dengan telapak tanganku. Walau Shita singkirkan tanganku dan tetap terus berbicara.
"Kak mampir Kak, harga murah Kak." sela seseorang pedagang yang tak jauh dari tempat tadi.
"Apa lo. Kagak usah tipu pakai harga murah. Mana daftar harga nya. Kagak punya kan lo!! Orang udah kenyang di tawarin makan." sergah Shita tak henti berbicara.
Walau aku tertawa dengan sikap Shita. Tapi aku juga malu dengan sikapnya. Bagaimana tidak, kita langsung jadi pusat perhatian oleh orang-orang yang ada di sana. Ada di antara mereka yang berbisik satu sama lain, setuju dengan apa yang Shita ucapkan. Tapi ada juga di antara mereka yang menganggap kami orang kaya yang berjiwa miskin. Mengaku kaya, tapi tak rela membayar harga yang bagi mereka itu wajar.
...****************...