
Keesokan harinya, ruang rawat Isabel sudah ramai. Seluruh anggota keluarganya berkumpul disana. Kedua orang tuanya, Mike bahkan Liam. Eric yang semalaman menjaga Isabel juga masih berada disana.
"Sebaiknya kau pulang dulu. Kau butuh istirahat, Nak." Saran Jhon pada Eric. Melihat penampilan Eric yang berantakan, membuat Jhon tidak tega. Semalam dia sudah meminta Eric untuk pulang. Tapi kekasih putrinya itu menolak dan bersikeras menjaga Isabel semalaman.
"Ayahku benar. Kau pulang saja dulu. Aku ingin melihat wajah tampanmu, bukan wajah kusut seperti itu." Tambah Isabel yang mendapat deheman keras dari Mike. Isabel mendelik sebal, tapi dia tetap tidak peduli.
Eric tersenyum kecil. Dia sadar tampilannya saat ini benar-benar mengerikan. "Aku akan segera kembali." Katanya. Mendekat pada Isabel lalu mencium kening gadis itu sebelum berpamitan pada yang lain.
"Aku akan meminta rekaman cctv basement. Aku curiga pelakunya sengaja ingin mencelakai Isabel." Kata Mike sepeninggal Eric.
"Tapi....siapa yang ingin mencelakai putriku ?" Emma tampak cemas. Tidak habis pikir, orang macam apa yang ingin mencelakai putri kesayangannya dan untuk apa dia melakukannya.
"Entahlah. Aku akan mencari tahu." Mike beralih menatap Isabel. "Apa kau punya petunjuk ?" Tanyanya.
Isabel menggeleng. Dia sama sekali tidak tahu siapa yang melakukannya. Selama ini dia tidak merasa membuat masalah dengan siapapun. Kecuali Chloe. Tapi...Chloe terlalu baik untuk dijadikan tersangka.
"Apa kau sedang terlibat masalah dengan seseorang ?" Kali ini Jhon yang bertanya. Namun sekali lagi Isabel menggeleng.
Jhon menghela nafas. Setahu dia, putrinya memang tidak pernah terlibat masalah. Tapi, siapa yang tega melakukan ini pada putrinya ?
"Aku harus segera pergi." Mike mengangkat tangan kirinya, melihat arloji di pergelangan tangan. Sudah saatnya dia berangkat bekerja. Lagipula dia harus segera memeriksa rekaman cctv itu, untuk mencari tahu siapa pelakunya. Lalu dia menurunkan Liam dari gendongannya di tepi ranjang Isabel.
"Jadi anak baik, okay ! I love you." Pesan Mike pada Liam lalu mencium kening putranya yang dibalas anggukan oleh Liam.
"Hati-hati, Daddy." Pesan Liam. Mike tersenyum lantas mengusap kepala putranya.
Setelah itu, Mike mencium kening Isabel. "Cepat sembuh, Big girl !" Isabel tersenyum mengangguk.
Lalu Mike mencium pipi Emma sebelum pergi dari ruangan itu.
*****
"Tunjukkan padaku rekaman cctv itu." Pinta Eric pada Mike. Mereka sedang berada di ruang kerja Mike. Eric tidak bisa tinggal diam. Dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Mike membuka rekaman cctv itu di laptopnya, lalu dia memutar laptop ke arah Eric yang duduk di depan meja kerjanya. "Aku sudah memeriksanya, wajah pengemudinya sama sekali tidak terlihat." Kata Mike.
Eric tidak menanggapi, dia masih fokus memperhatikan rekaman cctv mulai dari saat mobil itu memasuki area gedung hingga ke basement. Dia mengerutkan alis guna mempertajam penglihatannya.
Sesekali Eric berdecak dan menggeleng saat tidak bisa menemukan rekaman yang memperlihatkan wajah pengemudi suv itu.
"Dia memasuki area gedung setengah jam sebelum jam pulang karyawan. Dia juga tidak terlihat keluar dari dalam mobil. Itu berarti dia sengaja menunggu Isabel keluar." Terang Eric dengan pandangan yang masih fokus pada rekaman cctv.
Mike mengusap dagunya dengan jari. "Setahuku, Isabel tidak pernah mempunyai masalah dengan siapapun." Mike mengingat-ingat kemungkinan yang bisa membuat Isabel terlibat masalah.
Jari-jari Eric begitu lincah bermain diatas keyboard mencoba mendapatkan petunjuk. Beberapa waktu kemudian dia berseru, "Got it !" Eric mem-pause rekaman cctv basement lalu memperbesar gambarnya.
Mike beranjak dari duduknya, dia berjalan memutari meja lalu berdiri disamping Eric menopang tubuhnya dengan sebelah tangan di atas meja. Dia menggeser layar laptop itu kearahnya.
"Meskipun tidak begitu jelas, tapi itu bisa memberi petunjuk." Kata Eric.
Rekaman saat mobil itu berhenti sebentar setelah menyerempet Isabel dan si pengemudi menurunkan kaca mobil, wajah si pengemudi itu tertangkap kamera.
Pengemudi itu memakai topi yang menutupi setengah wajahnya. Memang tidak terlalu jelas, tapi wajah yang ditumbuhi bulu halus di sekitar rahang, bisa dipastikan kalau pemgemudi itu seorang laki-laki.
Mike mengernyit, mencoba mengenali separuh wajah itu. Tapi nihil ! Dia menggeleng sambil menghela nafas. "Aku tidak bisa mengenalinya." Sesalnya sambil mengurut pangkal hidung. Sejak pagi melotot di depan layar membuat matanya terasa lelah.
Eric menyipitkan mata, seberapa keras dia mengingat tapi tidak juga menemukan kira-kira wajah siapa itu.
Berpikir sejenak, Eric lalu berkata, "Aku akan memeriksa cctv jalan raya di sekitar gedung."
"Aku akan memintanya pada pihak berwajib." Mike bersiap mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja untuk menghubungi kapten polisi setempat. Tapi gerakannya terhenti saat Eric melarangnya melakukan itu.
"Itu hanya akan menghabiskan waktu." Kata Eric sambil mengeluarkan laptop dari dalam ranselnya.
Mike mengernyit bingung. Namun sesaat kemudian dia mulai paham. Untuk apa juga Mike meminta dari pihak berwajib dan melewati banyak prosedur jika orang di hadapannya ini bisa meretasnya semudah membalikkan telapak tangan saat ini juga.
Mengurungkan niatnya, Mike memilih duduk di kursi sebelah Eric dan memeperhatikan gerakan lincah pria itu dalam mengeluarkan kemampuannya.
Tidak butuh waktu lama Eric sudah terhubung dengan kamera cctv disekitar gedung. Eric meneliti setiap rekaman yang menampilkan penampakan mobil suv hitam yang menyerempet Isabel. Mulai dari sebelum memasuki gedung hingga setelah keluar.
"Sial !" Umpat Eric saat tidak menemukan titik terang apapun. Pengemudi itu tidak keluar dari mobil di sepanjang dua kilometer sekitar gedung. Dan setelahnya Eric sudah kehilangan jejak. Mobil itu seolah menghilang begitu saja.
"Pasti semua ini sudah terencana." Tebak Mike. "Tidak mungkin kejadiannya serapi ini kalau tidak direncanakan." Mike menghentak meja dengan telapak tangan.
"Aku tidak habis pikir, kenapa ada orang yang berniat mencelakai gadis sebaik Isabel." Alih-alih bertanya, Mike lebih terdengar bermonolog.
"Menurutku pelakunya hanya berniat menggertak. Jika dia ingin melenyapkan Isabel, situasi saat itu sangat memungkinkan untuk melakukannya. Tapi dia tidak memilih opsi itu." Eric menganalisa. Dan dari analisanya itu, kecurigaannya terhadap seseorang semakin kuat. Seseorang yang mempunyai motif operandi untuk menggertak Isabel. Memberi peringatan pada Isabel.
Mike menyilangkan kakinya. "Kau benar. Tapi siapa ? Apa mungkin ini tentang persaingan bisnis ?" Mike mengusap dagu, wajahnya tampak berpikir keras. "Sepertinya tidak." Mike menyanggah ucapannya sendiri. Sejak kejadian Harry beberapa tahun lalu, Mike lebih berhati-hati dalam kerjasama bisnisnya. Dia tidak sembarangan mengambil tender. "Apa kau punya ide ? Kira-kira siapa yang melakukannya ?" Mike mengalihkan pandangan pada Eric yang masih berkutat dengan laptopnya.
Sebenarnya ada satu orang yang Eric curigai. Tapi dia tidak ingin gegabah. Dia harus memastikan kebenarannya lebih dulu sebelum membagi informasi dengan Mike.
"Aku tidak tahu. Tapi aku janji akan berusaha menemukannya." Jawab Eric.
"Sebaiknya aku melaporkan ini pada polisi." Ucap Mike.
"Ya. Kurasa itu ide yang bagus." Sahut Eric. "Aku akan membantu sebisaku." Tambahnya. Setelah itu dia menyudahi pencarian dan memasukkan laptopnya kembali ke dalam ransel.
"Aku masih ada pekerjaan. Aku harus pergi." Eric berdiri, menyampirkan ranselnya di bahu.
Mike ikut berdiri. Dia tersenyum lantas menepuk lengan Eric. "Terima kasih atas bantuanmu." Katanya dengan tulus. Hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Tapi dia juga tidak bisa memungkiri jika Eric adalah pria yang baik dan bertanggung jawab.
"Aku melakukannya untuk kekasihku." Balas Eric sambil tersenyuk miring seolah mengejek ucapan Mike. Alhasil hal itu membuat Mike berdecak dan menggelengkan kepala, memasang wajah muak.
Melihat reaksi Mike membuat Eric terkekeh. "Aku akan menghubungimu jika menemukan sesuatu." Katanya sebelum melenggang meninggalkan ruang kerja Mike.
Siapa sebenarnya yang membuat Isabel celaka ? Jika ini berhubungan dengan bisnis, aku tidak akan memaafkan siapapun pelakunya. Mike bermonolog.
Sementara Eric berjalan cepat menuju basement dimana mobilnya terparkir. Dia harus melakukan sesuatu sebelum polisi mendahuluinya.
Keluar dari area gedung, Eric memacu mobilnya ke Willow Spring. Dalam perjalanan kesana, dia menghubungi Jordan. Jika kecurigaannya benar, maka dia akan membutuhkan bantuan Jordan.
Sesampainya di Willow Spring, Eric segera naik ke safe house. Dia masuk ke safe house lantas mulai mengerjakan apa yang harus dia kerjakan. Dia belum menyerah. Tidak mungkin mobil itu menghilang begitu saja, bukan ?!
Kembali berkutat dengan laptopnya, Eric memulai peretasan terhadap beberapa kamera pengawas di sekitarĀ area gedung. Matanya sedikit menyipit, meneliti kembali apa yang telah dia lewatkan dalam rekaman itu.
"Tidak mungkin mobil itu hilang begitu saja." Gumam Eric. Dia memeriksa dengan teliti titik dimana mobil itu terakhir kali terlihat.
Berkali-kali memutar ulang rekaman dari kamera cctv, dan dia mendapat sedikit petunjuk.
"Damn it !" Umpat Eric ketika satu-satunya akses yang bisa dia retas untuk menemukan keberadaan mobil itu adalah Startech. Salah satu penyedia jasa keamanan yang mempunyai sistem keamanan sangat canggih dan merupakan salah satu pesaing tangguh Skytech--milik Eric dan Jordan.
Eric menggeram kesal lalu mengusap kasar wajahnya. Bukan karena dia tidak bisa meretas kamera cctv mereka--karena itu adalah hal kecil bagi Eric--tapi pasti akan sangat merepotkan karena mereka tidak akan tinggal diam. Mereka akan terus memblokir akses Eric ketika sudah bisa masuk kesana. Mereka bukan orang yang bisa diremehkan. Dan itu artinya perang hacker tidak bisa dihindari lagi yang ujung-ujungnya akan berimbas pada persaingan bisnis.
Disaat seperti ini dia butuh Jordan. Dia butuh pengalihan. Harus ada yang menyibukkan mereka sementara Eric melancarkan aksinya.
Tapi menunggu kedatangan Jordan pasti akan sangat lama. Jordan butuh waktu sekitar tiga jam untuk sampai disana, karena Jordan masih menghandle pekerjaan di luar kota yang ditinggalkan Eric. Eric tidak bisa berdiam diri selama itu karena itu bisa membuat dia menggila.
"Aku butuh pengalihan." Gumam Eric. Bertindak sendiri hanya akan membuatnya berada dalam masalah. Startech tidak akan membiarkannya begitu saja meretas sistem keamanan mereka. Dan untuk meminta ijin ? Bisnis adalah dunia keras, Brother ! Apalagi bagi mereka yang bersaing. Harga yang dibayar sangatlah mahal dan terkesan merugikan hanya untuk sebuah permintaan.
Dan akhirnya Eric memutuskan untuk mengunjungi Isabel di rumah sakit. Paling tidak, melihat wajah gadis itu bisa membuat pikirannya tentang segala spekulasi mengenai insiden itu menjadi teralihkan. Dia butuh menyenangkan otak. Dia membutuhkan ekstasinya.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Duh.....cowok mana tuh pelakunya. Jangan-jangan Isabel cuma jadi korban bisnis kakaknya doang. Kalo dulu istrinya jadi korban bisnis, sekarang bisa aja kan adiknya yang diserang. Untung aja nggak sampe di culik kayak Hannah dulu.
Semoga aja Si Ganteng Jordan segera datang memberi bantuan. Kasian Bang Eric kelabakan sendiri.
Jangan lupa like, vote, comment dan masukin daftar favorit. Trus share juga ke temen-temen kalian yak biar makin rame.
See you next part, Love.