
Tubuhku hampir saja rubuh. Beruntung Jordan dengan sigap menangkapku lalu membantuku berdiri dengan benar.
Eric tidak mengenaliku. Dia mencari Elena. Ya Tuhan! Cobaan apa lagi ini?
Dr. Zeta menatap kami dengan raut cemas. Lalu Dr. Zeta mendekat pada Eric untuk mengajukan beberapa pertanyaan.
"Kau ingat siapa nama lengkapmu?" tanya Dr. Zeta.
"Eric Joseph Michaels," jawab Eric lemah.
"Apa kau mengenali mereka?" Dr. Zeta menunjuk aku, Chloe dan Jordan dengan tatapannya.
Eric menatap kami satu per satu lagi lalu mengangguk. Sekali lagi tatapannya berhenti padaku. "Siapa kau?" tanya Eric padaku.
Aku menatap Jordan dan Chloe bergantian. Kenapa Eric tidak mengenaliku? Dia mengenali Jordan dan Chloe, bahkan Elena. Tapi kenapa dia tidak mengingatku? Ada apa ini? Apa dia sedang mengerjaiku?
Dr. Zeta kembali mengajukan pertanyaan pada Eric.
"Tahun berapa sekarang?"
Eric memejamkan matanya. Mungkin dia berusaha mendapatkan jawaban dari pertanyaan Dr. Zeta. Lalu Eric menggeleng lemah. "Aku tidak tahu."
Dr. Zeta menatapku dengan kerutan di dahinya. "Aku perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap Mr. Michaels," kata Dr. Zeta pada kami.
Aku ingin menangis. Dalam pikiranku masih berkecamuk pertanyaan 'kenapa Eric tidak mengenaliku?'. Padahal aku ingin sekali memeluknya. Aku ingin sekali menumpahkan rasa rinduku padanya.
Lalu aku mendengar pertanyaan itu keluar lagi dari bibir Eric.
"Siapa kau?"
"Kau tidak mengenalinya?" tanya Jordan. Eric menjawabnya dengan gelengan kepala dan tatapan yang tidak lepas dariku.
Jordan menghela nafas sambil mengusap wajahnya dengan tangan kiri, karena tangan kanannya menahan tubuhku agar tidak ambruk.
Aku tidak mampu lagi menahan air mataku yang kian menderas.
"Eric ... kau benar-benar tidak mengenalinya?" Kali ini suara Chloe yang terdengar. Lagi-lagi Eric menggeleng.
"Aku tidak percaya ini. Dia adalah ...." Jordan menghentikan ucapannya saat aku menarik lengannya. Dia menoleh padaku sambil mengernyit.
Aku menarik nafas dalam sambil memejamkan mata. Kuhembuskan nafasku lewat mulut dengan perlahan. Lalu aku menjawab pertanyaan yang dari tadi ditujukan padaku.
"Aku adalah asisten pribadimu," jawabku sambil menahan perih dan sesak dalam dada.
Kulihat reaksi Chloe dan Jordan. Mereka terkejut dengan jawabanku. Terserah jika Jordan dan Chloe menganggapku bodoh karena mengaku sebagai asisten Eric, bukan sebagai istrinya. Tapi aku sudah memikirkannya baik-baik. Eric tidak mengenaliku, namun dia mengenali Elena. Jika aku mengatakan diriku sebagai istrinya, tidak menutup kemungkinan Eric akan menolakku dan tidak ingin melihatku lagi karena berpikir aku mengada-ada. Aku tidak siap dengan semua itu. Dengan mengaku sebagai asistennya, paling tidak aku tetap bisa berada di dekatnya. Aku masih bisa merawatnya dengan tanganku sendiri. Dan aku akan membuatnya mengingatku sedikit demi sedikit.
Jordan menyeretku keluar dari ruang rawat Eric. Sepertinya dia marah. Tapi aku tidak peduli.
"Apa yang kau katakan?" Jordan bertanya sambil menahan geram padaku.
"Ini yang terbaik, Jordan," jawabku.
Jordan menyugar rambutnya dengan kasar. Dia membalik badan sambil mengusap wajahnya lalu kembali menghadap padaku. "Kau tidak bisa melakukan ini, Princess! Kau istrinya, bukan asistennya!"
Ini pertama kalinya Jordan berbicara dengan nada tinggi padaku. Tapi aku tetap tidak peduli.
"Apa kau tidak mendengar siapa yang dicarinya pertama kali? Dia mencari Elena. Di dalam ingatannya, Elena masih menjadi orang terpenting dalam hidupnya. Sedangkan aku? Dia tidak mengingatku sama sekali. Aku tidak bisa memaksakan diriku masuk ke dalam ingatannya. Jika aku memaksakan diri, besar kemungkinan Eric tidak akan mau lagi bertemu denganku. Aku tidak siap dengan kemungkinan itu. Dan dengan menjadi asistennya, paling tidak aku masih bisa melakukan kewajibanku sebagai seorang istri untuk selalu merawatnya. Perlahan-lahan aku akan membuatnya ingat padaku." Aku mengucapkan kalimat panjang itu diiringi air mata yang terus mengucur dari mataku.
"Tapi kita tidak tahu, Isabel. Jika kau mengatakan bahwa kau istrinya, bisa jadi dia akan mengingatmu. Cintanya sangat besar padamu, aku yakin dia akan ingat jika kau adalah istrinya.
"Tapi cinta Eric tidak cukup besar untuk mengingat siapa diriku, Jordan," tukasku lirih.
Jujur hatiku sangat sakit karena wanita yang dicarinya pertama kali setelah membuka mata adalah Elena. Apakah cinta Eric pada Elena masih sebegitu kuatnya hingga terpatri begitu dalam di hati Eric? Apakah aku boleh cemburu pada orang yang sudah meninggal?
Aku hampir saja menjerit saat rasa sesak itu kembali memenuhi rongga dadaku. Rasa sesak karena cemburu pada Elena. Ya, aku cemburu karena Eric ingat pada Elena tapi tidak padaku. Sungguh, ini rasanya sangat menyakitkan.
Dr. Zeta memanggilku ke ruangannya saat hasil pemeriksaan Eric keluar keesokan harinya. Jordan menemaniku. Sejak Eric sadarkan diri, dia juga tidak meninggalkan rumah sakit. Lebih tepatnya dia khawatir aku akan melakukan tindakan bodoh karena terlalu frustasi.
"Kerusakan limbik otak akibat benturan keras di kepalanya, membuat Mr. Michaels mengalami amnesia lakunar. Amnesia lakunar adalah kehilangan ingatan secara acak. Itulah sebabnya mengapa Mr. Michaels bisa mengingat kakak dan adiknya tapi tidak dengan istrinya. Bukan hanya Anda, Mrs. Michaels. Kemungkinan Mr. Michaels juga tidak akan mengingat beberapa hal lain. Bisa jadi hal-hal yang cukup berpengaruh terhadap kondisi emosional Mr. Michaels."
Lagi-lagi hatiku seperti ditikam belati saat mendengar penjelasan Dr. Zeta. Diantara semua ingatan Eric, kenapa harus ingatan tentangku yang hilang?
"Apa itu bisa disembuhkan?" tanyaku. Besar harapanku suatu saat nanti Eric akan kembali ingat padaku.
"Tentu bisa. Bahkan orang yang kehilangan semua ingatannya pun ada kemungkinan untuk bisa megingat semuanya kembali. Hanya saja dibutuhkan kesabaran. Kita tidak bisa memaksa pasien untuk mengingat kejadian apa yang dia lupakan, karena itu akan memperparah kerusakan sel pada otaknya. Harus dengan cara perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit munculkan kembali ingatan pasien yang hilang. Berikan stimulasi-stimulasi ringan yang mengarah pada potongan-potongan memori masa lalunya."
Aku merasakan cengkeraman tangan Jordan di bahuku menguat. Dia berusaha membuatku tegar dengan semua kejadian ini. Namun kenyataan bahwa Eric tidak mengingatku masih mengguncang jiwaku. Aku belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan ini. Apalagi aku harus membatasi diri saat berdekatan dengan Eric. Ini sakit. Ini sungguh sakit.
Aku keluar dari ruangan Dr. Zeta dengan langkah lunglai. Entahlah, aku merasa jiwaku mati. Rasa sakit saat melihat Eric menatapku seolah aku adalah orang asing, perlahan-lahan telah mencekik leherku. Membuatku kehabisan nafas dan akhirnya membuat tubuhku lemas tak berdaya.
"Kau sanggup, Princess. Aku akan selalu bersamamu." Jordan menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
Aku merasa lemah sekali saat ini. Untuk masuk ke dalam ruang rawat Eric pun rasanya aku tidak sanggup. Aku tidak sanggup ditatap sebagai orang asing oleh suamiku sendiri.
"Ayo masuk, Eric sendirian di dalam," ajak Jordan.
Dengan mengesampingkan segala rasa sakit dalam dadaku, aku pun mengayun langkah masuk ke dalam ruang rawat Eric dengan bertumpu pada Jordan.
"Bawa aku pulang!"
Begitu kami masuk, Eric langsung menodong kami dengan perintah itu. Aku dan Jordan mendekat pada Eric yang sudah berada dalam posisi duduk dengan kaki menggantung.
"Kau belum pulih, Brother. Kau masih butuh perawatan disini," tukas Jordan.
Lalu Eric menatapku yang berdiri di samping Jordan.
"Kau!" Eric menyuruhku mendekat dengan bahasa matanya. Aku menoleh pada Jordan sekilas lantas menuruti perintah Eric untuk mendekat padanya.
Tanpa kuduga, Eric melepas jarum infus yang menancap di tangannya dengan kasar lantas melingkarkan tangannya di pundakku. Tidak peduli darah yang menetes dari bekas tusukan jarum infus.
"Apa yang kau lakukan, Bodoh? Darahmu sulit sekali didapatkan. Jangan membuang darah seperti itu!" hardik Jordan.
"Kau asistenku, bukan?! Sekarang bawa aku pulang!" kata Eric padaku sembari turun dari brankar. Aku yang tidak siap menerima bobot tubuh Eric pun terhuyung, namun aku berusaha menahannya agar tidak jatuh.
Seperti dejavu, aku pernah berada dalam posisi seperti ini. Eric pernah melakukan hal seperti ini padaku.
"Berhenti, Keparat!"
Aku tersentak saat Jordan menarik paksa tubuh Eric. Aku baru sadar ternyata aku sudah berada beberapa langkah lagi dari pintu.
"Kau belum bisa pulang sekarang," kata Jordan seraya memapah tubuh Eric kembali ke pembaringannya.
Tubuh Eric masih lemah. Dia baru dua hari sadarkan diri, tentu dia belum bisa mengimbangi kekuatan Jordan. Akhirnya, Jordan berhasil memaksa Eric untuk kembali merebahkan tubuhnya di brankar.
Seorang perawat datang, dia segera memasangkan kembali infus di punggung tangan Eric dengan jarum infus yang baru.
"Aku tidak tahan berada disini, B*rengsek. Aku ingin pulang," keluh Eric saat perawat sudah pergi.
"Bersabarlah. Lukamu kali ini sangat parah. Aku tidak tahu bagaimana caranya kau mengelabuhi malaikat maut." Jordan mencoba berkelakar.
"Bawa aku pulang atau malaikat maut akan membalas dendam padaku." Eric bersikeras.
"Tidak, Brother!" tegas Jordan. Dia berjalan mendekat padaku lantas merangkul bahuku. "Aku tidak akan membiarkan asistenmu bekerja terlalu keras untuk mengurus bayi besar sepertimu," kata Jordan sambil melihat padaku.
Aku tahu Jordan sedang berusaha membuatku terlihat di mata Eric. Dia sedang berusaha memasukkan peranku dalam hidup Eric.
"Apa gunanya aku membayar gadis ini jika dia tidak bekerja untukku?"
Aku memejamkan mata. Sungguh rasanya sesak sekali mendengar ucapan Eric. Ya Tuhan, ini benar-benar Eric-ku.
"Tiga hari. Setelah tiga hari jika kondisimu sudah lebih baik lagi, aku akan meminta dokter untuk memulangkanmu."
"Satu hari!" tawar Eric.
"Dua hari." Jordan mengangkat telunjuknya saat Eric terlihat ingin protes. Akhirnya Eric pun menyerah pada keputusan Jordan.
"Siapkan dirimu, Princess," bisik Jordan padaku.
Aku memang harus mempersiapkan diriku ketika Eric memutuskan untuk pulang. Karena selanjutnya aku yang harus merawatnya dengan tanganku sendiri.
Apakah aku mampu melakukannya? Berpura-pura menjadi orang lain di hadapan suamiku sendiri?
*
*
*
*
*
tbc.
Punya Bos dengan mulut setajam silet? Sanggup nggak ya Isabel berperan sebagai asisten Eric?
See you next part, Love.