
Perjalanan ke Amytville harus disiasati dengan berangkat saat hari masih gelap. Pagi-pagi sekali Eric sudah datang ke safe house untuk menjemput Isabel.
Tidak seperti yang diharapkan Eric. Saat dirinya sampai di safe house, Isabel masih larut dalam alam mimpi di balik selimut tebal.
Eric berdecak sambil menggeleng kepalanya melihat Isabel yang terlihat sangat pulas.
"Hei, bangun!" Eric menggoyang tubuh Isabel yang terbalut selimut. "Ayo bangun, pemalas!" guncangan ditubuh Isabel semakin kencang. Tapi itu hanya berhasil membuat Isabel menggeliat tanpa membuka mata.
Eric menghela nafas kasar. "Dasar tukang tidur. Susah sekali dibangunkan," gumamnya. Eric mengangkat tangan melirik arlojinya. Kalau tidak segera berangkat, bisa-bisa mereka terjebak macet saat perjalanan nanti.
Eric berjongkok disamping ranjang. Dia menepuk-nepuk pelan pipi Isabel. "Bangun putri tidur! Atau aku akan meninggalkanmu."
Isabel menggeliat, meregangkan ototnya yang terasa kaku. Dia mengerjap pelan mencoba membuka matanya yang terasa berat.
"Aaa....!!" pekik Isabel saat membuka mata dan hal pertama yang dia lihat adalah wajah seorang pria.
Refleks dia mendudukkan tubuhnya sambil beringsut mundur. Membuat Eric langsung berdiri.
"Hei, ini aku," ucap Eric.
Isabel menghela nafas lega saat Eric mengeluarkan suaranya. "Kenapa tidak kau nyalakan lampunya?! Aku pikir kau pencuri," sembur Isabel.
Eric memutar mata malas. "Cepat bangun atau aku akan berangkat sendiri!" perintah Eric tanpa menghiraukan ucapan Isabel.
"Apa?" Isabel menautkan alis, mencoba mencerna ucapan Eric.
Eric malas menanggapi. Tanpa aba-aba, dia menarik tangan Isabel turun dari ranjang hingga membuat gadis itu hampir terjerembab ke lantai.
"Apa yang kau lakukan?" Isabel berusaha menyeimbangkan tubuhnya saat Eric menyeretnya ke kamar mandi.
"Memandikanmu." Isabel membulatkan mata mendengar jawaban Eric.
"Apa?"
Eric mendorong pelan tubuh Isabel masuk ke kamar mandi. "Cepatlah atau aku akan meninggalkanmu," ucapnya sebelum menutup pintu kamar mandi.
Isabel menggerutu di dalam sana. Bisa-bisanya Eric tiba-tiba muncul dan menyeretnya ke kamar mandi?
"Tunggu." Isabel berhenti di depan wastafel. Dahinya berkerut memikirkan sesuatu. "Oh my God! Eric, kenapa tidak bilang dari tadi?!" Isabel berteriak merutuki Eric, saat mengingat rencana mereka hari ini.
Gadis itu segera mandi secepat kilat. Hanya lima menit dan dia sudah selesai. Dia melilitkan handuk ke tubuhnya lantas keluar dari kamar mandi.
"Aaa....!!!" Lengkingan suara Isabel kembali menggelegar. Dia masuk ke walk in closet bersamaan dengan Eric yang keluar dari sana membawa sebuah mantel hitam di tangannya.
Eric pun tak kalah terkejut melihat Isabel yang tiba-tiba muncul hanya menggunakan handuk. Dia menahan nafas melihat Isabel nyaris telanjang. Beruntung Isabel mencengkeram kuat lilitan handuknya hingga saat dia berjingkat, handuk itu tidak terlepas.
"Kenapa kau masih disini?" cecar Isabel.
"Kenapa kau cepat sekali?" Eric balik bertanya. Niatnya, dia hanya ingin mengambil mantel lalu keluar dari kamar.
Eric menggeleng malas lalu berjalan melewati Isabel begitu saja. "Bodoh! Kenapa tidak pakai bathrobe?" Gumam Eric. Untung saja Eric cukup pintar membentengi pikirannya. Pria itu segera keluar dari kamar.
Isabel memutar badan mengikuti langkah Eric. Menatap heran pada pria itu. Setelah Eric keluar dari kamar, Isabel membalikkan badan. Dan saat dia menyadari sesuatu, gadis itu berteriak lagi.
"Aaahh...ya Tuhan! Aku malu sekali." Isabel menutup wajah dengan telapak tangan, menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena malu. "Kau benar-benar bodoh, Isabel." Gadis itu merutuki diri sendiri.
Eric berjalan keluar dengan langkah cepat. Pemandangan yang dia lihat pagi ini cukup mempengaruhinya. Gadis bodoh itu sungguh membuat kesabarannya menipis.
Senyum tipis tercetak di wajah Eric saat mendengar suara teriakan dari dalam kamar. "Dasar bodoh !" Gumam Eric. Dia tahu, pasti gadis itu baru menyadari apa yang terjadi di dalam tadi.
Sepuluh menit kemudian Isabel keluar dari kamar. Gadis itu menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu.
"Aku sudah siap," ucap Isabel dengan suara lirih.
Sebenarnya Eric ingin tertawa melihat ekspresi Isabel seperti itu. Gadis itu terlihat seperti sedang menahan buang angin.
Eric meneliti penampilan gadis itu. Seperti ada yang kurang. Ah, Eric tahu, "Kau tidak membawa apapun?"
Isabel mengangkat wajah, menahan malu. "Memangnya aku harus membawa apa?" Tanyanya polos.
Eric menepuk dahinya. "Astaga ! Kita disana tiga hari. Kau tidak berniat terus menerus memakai pakaian itu selama disana, bukan?!"
Oh God ! Jika boleh, rasanya Eric ingin sekali menceburkan Isabel ke danau.
"Aku kira hanya satu hari." tutur Isabel sambil mengerucutkan bibir.
Eric menatap tajam pada Isabel. Membuat gadis itu segera ambil langkah seribu untuk mengemas beberapa pakaian sebelum Eric mengeluarkan kata-kata tajamnya lagi.
Untung saja dia membawa beberapa pakaiannya dari apartemen Alice. Isabel segera memasukkan beberapa pakaian dan kebutuhan lain ke dalam ransel yang dia ambil secara acak. Tidak banyak, tapi membuat ransel itu terlihat penuh.
"Hmm." Eric segera beranjak dan menggendong ranselnya sendiri. Isabel dibelakangnya mengikuti.
*****
Eric mengendarai jeep-nya dengan kecepatan sedang. Dia selalu menggunakan jeep untuk ke Amytville karena jalur yang akan dia lewati adalah medan yang cukup menantang. Jalur yang hingga saat ini menjadi favoritnya.
Awal perjalanan mereka hanya diisi dengan keheningan. Isabel masih merasa malu dengan insiden pagi ini. Eric, seperti biasa. Pria itu lebih suka diam. Tapi dalam diamnya, dia juga menyimpan sedikit rasa canggung karena insiden serupa.
Untuk memecah keheningan, Eric menyalakan radio. Memilih channel yang memutar lagu rock alternatif kesukaannya.
Setengah jam perjalanan kemudian Eric memarkirkan jeep-nya di sebuah kedai.
"Kita butuh energi yang cukup untuk menempuh perjalanan panjang ini." Eric mengajak Isabel untuk sarapan terlebih dulu. Perjalanan panjang yang dimaksud Eric benar-benar akan menjadi perjalanan yang panjang, yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh Isabel.
Isabel menurut. Gadis itu berjalan mengikuti Eric masuk ke kedai.
Seorang pelayan mendatangi meja mereka membawa catatan kecil di tangannya.
Eric memesan dua porsi omelete dan kentang tumbuk. Segelas susu untuk Isabel dan jus jeruk untuknya.
Keduanya makan dalam diam, hingga acara sarapan itu selesai dengan cepat. Setelahnya, mereka segera melanjutkan perjalanan lagi.
Tiba-tiba Isabel bergerak cepat meraih ranselnya di kabin belakang. Dia terlihat mencari sesuatu dari dalamnya. Beberapa saat kemudian dia mendesah kecewa.
"Ada apa?" tanya Eric, melirik sekilas pada Isabel.
"Movie playerku tertinggal." ucapnya penuh kekecewaan, seolah yang tertinggal adalah barang paling berharga di dunia. Benda itu adalah pengusir kebosanan favoritnya.
"Di kedai?"
"Di safe house."
Eric menaikkan sebelah alisnya. Dia tidak menanggapi lagi.
Isabel menarik resleting ransel lalu mengembalikannya ke kabin belakang. Wajahnya tertekuk, dia terlihat tidak bersemangat.
"Sesampainya disana kau akan lupa dengan benda itu." ujar Eric mencoba menghibur Isabel.
Isabel tidak menghiraukan. Sebenarnya dia membawa ponsel yang diberikan Eric kemarin. Tapi entah kenapa, sekarang dia tidak tertarik dengan benda itu. Dia lebih menikmati hidupnya tanpa media sosial. Dia merasa hidupnya lebih ringan tanpa benda itu.
"Aku bisa menurunkanmu di depan jika kau ingin kembali." kata Eric sedikit kesal karena Isabel tidak menggubrisnya dan hanya diam dengan wajah cemberut.
Isabel memutar kepala dengan cepat. "Again? Meninggalkanku di tepi jalan?" ucapnya dengan nada sedikit tinggi. Dia belum lupa bagaimana Eric dengan tega meninggalaknnya di tepi jembatan hingga dia ketakutan setengah mati.
Eric melirik tajam ke samping pada gadis yang wajahnya sudah berubah merah itu. "Mau mencobanya?" tantangnya.
"Eric!" teriak Isabel. Saking kencangnya, Eric menggosok-gosok telinga yang berdengung.
"Apa kau seorang Banshee? Suaramu bisa merusak telingaku." Sindir Eric.
Isabel menggeram, menahan emosinya. Tangannya mengepal kuat, menahan diri untuk tidak meremas mulut Eric.
Isabel sudah bersiap menyerang Eric. Namun niatnya terhenti saat tiba-tiba Eric tersenyum miring lalu berkata, "Tidurlah. Perjalanan kita masih panjang."
"Kau menyebalkan!" Isabel mengalihkan pandangannya ke depan.
"I am." Eric memamerkan senyum miringnya lagi.
Rasanya malas melihat wajah Eric saat ini. Maka dari itu Isabel memilih untuk membuang pandangannya ke luar jendela. Hingga rasa kantuk perlahan menguasainya. Kelopak matanya perlahan merapat. Dia terlelap tanpa sadar.
*
*
*
*
*
tbc.
Sepertinya perjalanan mereka akan sangat panjang kali ini. Semoga saja mereka tidak saling bunuh diperjalanan. Hihihihi.
See you next part, Love.