100 Days

100 Days
Part 111



Meski telah menyadari kehadiran Isabel disana, Eric tidak berhenti menyanyi. Dia tetap melanjutkan lagunya hingga selesai.


Tepuk tangan riuh terdengar begitu Eric selesai menyanyikan lagu keduanya. Para pengunjung cafe bersorak, mereka belum puas dan menginginkan satu lagu lagi dari Eric.


Namun Eric terdiam. Perhatiannya terfokus pada gadis yang perlahan berjalan memasuki cafe. Eric memejamkan matanya sejenak. Dia pikir dia sedang berhalusinasi seperti yang sering dia alami waktu di Lighthill.


Gemuruh kebahagiaan menyeruak dalam dada Eric saat dia membuka mata dan dia mendapati Isabel masih berdiri disana.


Ini nyata. Dia tidak sedang berhalusinasi. Isabel benar-benar datang.


"Satu lagu lagi !" Teriakan salah seorang pengunjung manyadarkan Eric bahwa dia masih berada diatas panggung saat ini.


Eric menarik nafas dalam. Perlahan dia menggerakkan jari-jarinya pada senar gitar. Kedua matanya terpejam saat dia mulai memainkan intro lagu selanjutnya.Here Without You milik 3 Doors Down menjadi pilihan Eric.


A hundred days have made me older


Since the last time that I saw your pretty face.


Eric membuka matanya, menatap dalam pada Isabel.


A thousand lies have made me colder


And I don't think I can look at this the same.


All the miles that separate


Disappear now when I'm dreamin' of your face.


Isabel berjalan mendekati kerumunan beberapa pengunjung yang berdiri di depan panggung.


I'm here without you baby


But you're still on my lonely mind.


I think about you baby and I dream about you all the time.


I'm here without you baby


But you're still with me in my dreams


And tonight girl, it's only you and me.


Sesekali Eric memejamkan matanya, menjiwai lagu yang dia nyanyikan.


The miles just keep rollin'


As the people leave their way to say hello


I've heard this life is overrated


But I hope that it gets better as we go.


Isabel ikut berdiri di depan panggung. Air matanya luruh, merasakan dalamnya lirik lagu itu bagi dirinya dan Eric.


I'm here without you baby


But you're still on my lonely mind.


I think about you baby and I dream about you all the time.


I'm here without you baby


But you're still with me in my dreams


And tonight, it's only you and me.


Eric mengunci tatapannya pada Isabel. Dia terus memetik dawai gitar dengan penuh rasa.


Everything I know, and anywhere I go,


It gets hard but it won't take away my love.


And when the last one falls, when its all said and done.


It gets hard but it won't take away my love.


I'm here without you baby


But you're still on my lonely mind.


I think about you baby and I dream about you all the time.


I'm here without you baby


But you're still with me in my dreams


And tonight, it's only you and me.


Eric mengakhiri lagunya. Dia meletakkan gitarnya lantas berdiri, disambut tepuk tangan dan sorakan riuh dari para pengunjung yang menikmati permainannya.


Para pengunjung yang menyadari perhatian Eric terfokus pada sesuatu, dengan cepat mengikuti arah pandang Eric. Mereka bergerak minggir, memberi ruang pada gadis yang berderai air mata itu untuk berjalan maju.


Seketika suasana menjadi hening. Eric turun dari panggung dan menghampiri Isabel. Di berdiri tepat di depan gadis itu.


Tatapan keduanya saling beradu. Tatapan penuh cinta dan kerinduan. Eric mengangkat tangannya, mengusap air mata di pipi Isabel dengan ibu jarinya.


"I miss you, Bells." Ucap Eric. "I miss you like I'm crazy." Ulangnya.


"I miss you more." Balas Isabel parau.


Isabel maju selangkah lalu dia mencium Eric. Ya, dia mencium Eric di depan semua orang yang ada disana. Sorakan pengunjung menjadi backsound saat Eric membalas ciuman Isabel.


Ada yang menangis haru, ada yang bersiul. Keramaian di Willow Spring sama sekali tidak dirasakan oleh kedua sejoli yang sedang meluapkan rasa rindunya itu.


"I love you." Bisik Eric di sela ciumannya.


Cukup lama mereka berciuman. Rasanya mereka tidak pernah puas. Ciuman itu tidak pernah cukup untuk mengungkapkan betapa besar cinta dan kerinduan yang mereka rasakan. Hingga mereka mengakhiri ciuman dengan saling berpelukan.


"Tunggu sebentar !" Kata Eric sambil menjauhkan tubuhnya dari Isabel.


Isabel menatap bingung waktu Eric pergi meninggalkannya dan berjalan ke arah belakang cafe. Eric masuk ke dalam ruang kerjanya. Sesaat kemudian, Eric keluar. Dia setengah berlari kembali pada Isabel.


Eric berdiri di depan Isabel, menatap dalam pada kedua mata gadis itu. Dia meraih tangan Isabel dan menggenggamnya.


"Aku tidak pernah merasa segila ini dalam hidupku. Aku selalu melihatmu tersenyum padaku, namun kau menghilang saat aku menyentuhmu. Aku juga mendengar suaramu memanggil namaku disaat aku sendiri. Kurasa aku sudah gila." Eric tertawa pedih. "Kau membuatku gila, Bells. Kau membuatku hilang akal."


Isabel tidak bisa berkata-kata. Dia tidak pernah mengira kalau cinta Eric begitu besar padanya.


"Aku ingin mengulang yang pernah kulakukan." Kata Eric.


Dia meraih sesuatu dari dalam sakunya lantas berlutut di depan Isabel.


"Isabel Bennings !" Eric memegang tangan kanan Isabel. "Will you marry me ?" Eric memperlihatkan cincin yang dulu dia pakai untuk melamar Isabel.


Sorakan riuh orang-orang yang masih berkerumun mengelilingi mereka seolah menjadi musik pengiring lamaran Eric.


Isabel menutup mulut dengan satu tangannya yang bebas. Dia menangis tergugu. Dia sangat terharu dengan apa yang dilakukan Eric. Eric melamar Isabel untuk kedua kalinya.


"Yes, I do." Jawab Isabel dengan suara serak diiringi tepuk tangan dan siulan dari para pengunjung.


Senyum Eric langsung mengembang. Dia berdiri lalu memakaikan cincin itu pada jari Isabel.


"I love you, Bells." Eric memeluk Isabel dengan erat seolah dia takut akan kehilangan gadis itu lagi.


"I love you more." Balas Isabel.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Isabel masih berada di Willow Spring bersama Eric. Berkali-kali Isabel memandangi cincin yang melingkar di jarinya. Dia tersenyum mengingat perjalanan cintanya dengan Eric.


"Aku masih tidak percaya kau ada disini, Bells." Kata Eric. Dia mencium kepala Isabel dengan sayang.


"Aku juga. Kau tahu, perjuanganku untuk sampai disini tidak mudah. " Kata Isabel sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang Eric.


"Oya ?" Eric menaikkan sebelah alisnya penasaran.


"Hm. Kurasa sepulang dari sini aku akan dikuliti hidup-hidup oleh kakakku."


Eric tertawa. Sudah dia duga, Mike tidak akan semudah itu membiarkan Isabel kembali padanya.


"Selain membuatnya marah karena menemuimu, dia pasti juga akan sangat marah saat tahu lampu mobilku pecah karena menabrak pintu gerbang rumahku." Tambah Isabel.


Eric mengusap lembut punggung Isabel. "Besok pagi aku akan ke rumahmu." Katanya.


Sontak Isabel melepaskan pelukannya. Dia menatap horor pada Eric. "Tidak ! Kakakku akan menghajarmu. Dan aku tidak bisa melihatmu terluka lagi." Sergah Isabel.


"Kau khawatir ?" Tanya Eric. Isabel mengangguk. "Tapi, waktu aku sakit, kenapa kau tidak datang menjengukku ?"


"Aku datang." Isabel menatap malas pada Eric. "Tapi aku hanya menemui Jordan dan Aiden."


"Ah, dua perawat gadungan itu." Gerutu Eric. Dia teringat betapa cerewetnya dua orang itu saat menjaganya.


"Dengar." Isabel menggeser posisi duduknya hingga menghadap Eric. "Aku tidak ingin siapapun terluka karena hubungan kita. Entah itu aku, kau, Jordan, Kakakku, atau bahkan orang tuaku. Aku ingin hubungan kita membawa kebahagiaan untuk semuanya." Kata Isabel serius.


"Okay. Kalau begitu, besok pagi aku akan datang ke rumahmu." Eric memberi kode untuk diam pada Isabel yang hendak membuka mulutnya. "Tidak ada bantahan. Aku harus menyelesaikan masalah ini dengan keluargamu."


"Tapi Kakakku...."


"Aku tidak akan mengalah kali ini. Jika dia ingin menghajarku, aku akan meladeninya. Kau tenang saja. Dalam keadaan waras, aku bukan lawan yang mudah dikalahkan." Sombong Eric.


Sudah saatnya Eric membicarakan masalah ini dengan kedua orang tua Isabel. Masalah Mike, itu tidak akan menjadi kendala selama orang tua kekasihnya sudah bisa dia takhlukkan.


Memang tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaan yang pernah dia rusak sebelumnya. Tapi dia akan membuktikan kalau dirinya mampu dan bersungguh-sungguh untuk memperbaiki semuanya.


Eric akan menebus kesalahannya sebagai bentuk perjuangan cintanya pada Isabel. Kesalahan yang pernah dia lakukan adalah menyerah secara sepihak. Dan kali ini dia tidak akan menyerah untuk mendapatkan kepercayaan itu kembali. Tidak ada keraguan sedikitpun dalam hati Eric, sekalipun Mike akan membunuhnya.


*


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


We e e e e......nantangin macan tidur nih si Eric. Berani datang ke kandang macan, dia harus bersiap-siap untuk bertarung dengan sengit.


Kita doakan rame-rame aja deh biar dia pulang beserta nyawanya.


See you next part, Love.