100 Days

100 Days
Part 93



Ini adalah salah salah satu hari terbaik bagi Eric. Aura wajahnya tidak pernah secerah ini sebelumnya. Siapa saja yang melihatnya hari ini, pasti akan mengira jika dia baru saja memenangkan lotere jutaan dollar.


Eric menggenggam kotak beludru merah itu erat-erat. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyuman. Rasanya sudah sangat lama Eric tidak merasa sebahagia ini.


"Can't wait to hear you say 'yes, I do', Sweetheart." Gumam Eric sambil memasukkan kotak beludru itu ke dalam sakunya.


Dia setengah berlari menuju mobilnya. Dia tampak bersemangat sekali karena malam ini dia akan menjemput kekasih, eh ralat, calon istrinya untuk makan malam. Eric tertawa kecil. Merasa geli sendiri dengan panggilan baru itu untuk Isabel. Tapi dia senang mengucapkannya, 'My soon to be wife'.


Ya, malam ini Eric akan melamar Isabel. Malam ini dia akan merubah status Isabel dari kekasih menjadi calon istrinya.


Eric tertawa kecil sambil menggeleng kepalanya. Dia masih tidak percaya kalau gadis yang akan dia nikahi adalah gadis belia. Jika bukan karena usianya 22, pasti banyak yang mengira Eric menikah dengan bocah. Bagaimana tidak, dengan wajah imut dan menggemaskan seperti Isabel, gadis itu masih pantas berumur belasan. Semoga saja tidak ada yang berpikir jika Eric seorang pedofil yang memalsukan usia calon istrinya.


Mobil Eric melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan sedang. Meskipun dia sangat bersemangat dan tidak sabar untuk bertemu calon istrinya, tapi dia masih cukup waras untuk tetap memperhatikan keselamatan.


Mimpinya untuk memiliki sebelas anak dengan Isabel tidak akan bisa terwujud jika dia hanya kembali dalam bentuk jasad. Dan Eric tidak ingin seperti itu. Dia ingin semuanya berjalan sesuai apa yang dia inginkan. Menikah dengan Isabel, memiliki banyak anak yang lucu-lucu, menua bersama hingga jantung mereka tidak lagi mampu berdetak.


Tangan kanan Eric memasang bluetooth di telinga, sedang tangan kirinya tetap menjaga kemudi agar tetap stabil.


"Apa semua sudah siap ?" Tanya Eric pada orang yang dia telepon.


"Bagus. Satu jam lagi aku sampai disana. Aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun." Eric mengakhiri panggilannya.


Berkali-kali Eric membuang nafas. Mobil yang ia kendarai sudah semakin dekat dengan rumah Isabel. Jantungnya serasa memasuki club dengan suara dentuman musik yang sangat kencang. Terus menghentak seolah ingin keluar dari rongga dada.


Di usia setua Eric, apa dia salah jika merasa deg-degan seperti seorang remaja yang baru pertama kali ingin mengungkapkan cinta pada seorang gadis ? Itu wajar, kan ? Karena Eric juga manusia biasa yang bisa merasa gugup.


Dan kegugupan itu semakin menjadi kala Eric memasuki rumah mewah itu. Tidak pernah sekalipun Eric merasa sekaku ini saat bertemu dengan kedua orang tua Isabel yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya. Orang tuanya.


Hh....orang tua ? Rasanya sudah lama sekali Eric tidak memanggil seseorang dengan sebutan ayah atau ibu. Ada segumpal kerinduan dalam benak Eric dengan sosok itu. Dan sebentar lagi dia akan memilikinya. Sebentar lagi dia akan memanggil sesorang dengan sebutan itu.


"Aku akan memanggil Isabel." Kata Emma sambil memberi kode pada suaminya untuk mengikutinya meninggalkan ruang tamu. Emma memiliki keyakinan yang sangat besar jika Eric bisa dipercaya mampu menjaga Isabel dengan baik. Maka dari itu dia membantu Isabel untuk membujuk suaminya agar mengijinkan mereka makan malam diluar.


Eric mengangguk canggung begitu Emma dan Jhon beranjak. Dia menggosokkan kedua telapak tangannya yang terasa sedingin es untuk mengusir perasaan gugup yang sejak tadi tidak mau pergi.


Berulang kali Eric melihat ke arah ruang keluarga menunggu kemunculan calon istrinya yang sudah dia tunggu-tunggu.


"Come on, Eric ! Ini tidak seburuk yang kau pikirkan." Eric berusaha menenangkan diri. Dia meniup-niup telapak tangannya yang menangkup agar tidak terasa dingin.


Saat seseorang yang dia tunggu muncul, Eric langsung berdiri saking gugupnya.


Kedua mata Eric memindai Isabel dari atas sampai bawah. Sederhana, tapi terlihat sangat cantik dimata Eric. Dress merah setengah paha dengan tali-tali di bagian dada yang berpotongan rendah.


Tidak ada riasan berlebihan. Kecantikannya terlihat sangat natural dengan polesan lipstik berwarna nude.



Isabel mengulum senyum saat melihat kekasih hatinya terlihat salah tingkah. Dia tahu Eric sedang sangat gugup. Eric yang biasanya terlihat santai dan tenang, kali ini terlihat salah tingkah seperti orang yang kebingungan tidak tahu mesti berbuat apa.


"Aku sudah siap." Ujar Isabel lembut. Dia berjalan menghampiri Eric yang terlihat sangat kikuk. Lalu dia menggamit lengan Eric dan menuntunnya keluar rumah.


Sungguh, Isabel ingin tertawa melihat sikap Eric. Apalagi saat dia merasakan telapak tangan Eric yang sangat dingin. Tapi dia tidak ingin merusak momen bahagia ini dengan melakukannya. Eric yang sekarang terlihat sangat penurut. Bahkan dia tidak mengucapkan sepatah katapun sampai mereka masuk ke dalam mobil.


"Are you okay ?" Tanya Isabel. Dia memiringkan wajah hingga rambutnya yang tergerai ikut bergerak mengikuti kepalanya.


Eric membuang nafas kasar lewat mulutnya. Kedua tangannya mencengkeram erat kemudi. "Absolutely not." Eric melirik sekilas pada Isabel yang terlihat sedang mengulum senyum. "Aku tidak pernah segugup ini dalam hidupku." Jawab Eric.


"Ini hanya makan malam, Eric. Kenapa harus gugup ?" Alis Isabel berkerut. Tapi dia senang bisa melihat Eric yang seperti ini. Bukan Eric yang selalu terlihat santai dan terkadang menyebalkan.


Eric mengangkat bahu. "Mungkin karena kau terlihat sangat cantik malam ini." Kilah Eric.


Isabel mengibaskan tangan sambil memutar bola mata. "Bukankah setiap hari aku terlihat cantik ?!"


Eric menjilat bibirnya yang terasa kering. Dia membuang pandangan ke samping sebentar sambil tersenyum lalu fokus lagi ke depan. "Kau cantik setiap saat, Bells. Tapi malam ini kau sungguh cantik. Dan....." Eric melirik nakal pada dress Isabel, tepatnya pada bagian dada. "Seksi." lanjutnya sambil mengedipkan mata.


Spontan Isabel memukul lengan Eric. "Pervert !" Hardiknya. Isabel membuang muka ke samping. Dia menggigit bibir, merasakan wajahnya memanas.


"Don't bite your lips like that." Eric mencondongkan tubuhnya ke kanan sambil berbisik. "You make me wanna bite you." Bisiknya yang membuat pipi Isabel semakin merona.


Eric terbahak-bahak melihat ekspresi Isabel. Lalu dia mengusap puncak kepala gadis yang sedang cemberut itu dengan gemas.


Inilah yang dia sukai dari Isabel. Gadis itu sangat natural. Dia merespon segala sesuatu dengan alami. Dan dia sangat polos. Terkadang Eric merasa dirinya terlalu buruk jika dibandingkan dengan Isabel. Dia pernah berpikir, apakah dirinya pantas bersama Isabel yang masih sepolos itu ? Rasanya tidak adil bagi Isabel. Kepolosannya harus bersanding dengan kelamnya Eric. Tapi sekarang, Eric ingin memperbaiki semuanya. Masa lalu, biarlah menjadi pelajaran untuknya. Selama Isabel mau menerima dia dengan segala masa lalunya, tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan gadis itu.


"Willow Spring ?" Isabel mengernyit. Kenapa ke Willow Spring ? Kenapa bukan makan malam di restauran bintang lima atau di tepi pantai yang romantis ? Dasar pelit !


"Keuanganku sedangĀ  buruk. Aku tidak akan sanggup membayar makanan di restauran bintang lima." Jawab Eric sambil memarkirkan mobilnya. Biarlah Isabel berpikir dia tidak bermodal. Asalkan nanti sebanding dengan apa yang akan dia dapatkan.


Mereka berjalan bersisian memasuki pintu Willow Spring.


Isabel melihat sekeliling. Dia sedikit terkejut saat melihat hampir semua meja disana kosong. Terlihat hanya dua meja yang terisi pengunjung. Sepi sekali. Batinnya.


"Sudah kubilang keuanganku sedang buruk. Tidak perlu terkejut seperti itu." Terang Eric seolah tahu apa yang dipikirkan Isabel. Dia menggandeng tangan gadis itu, mengajaknya untuk duduk di salah satu kursi di dekat panggung.


"Kita akan berpura-pura menjadi tamu VVIP disini. Anggap saja ini restauran bintang lima dengan pelayanan khusus." Kata Eric sambil menarik kursi, mempersilahkan Isabel duduk dengan nyaman. Lalu dia berjalan ke sisi lain meja dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Isabel.


"Apa keadaan seperti ini sudah lama terjadi ?" Tanya Isabel. Dia tahu Eric masih bisa membayar jika hanya sekedar makan di restauran bintang lima. Hanya saja, melihat Willow Spring yang sepi pengunjung seperti ini membuatnya ikut sedih.


Tempat ini biasanya selalu ramai. Bahkan sering kali harus reservasi dulu untuk mendapatkan meja yang diinginkan. Tapi ini ? Para pegawainya juga terlihat kurang bersemangat. Mungkin mereka takut akan di PHK jika keadaan cafe seperti ini terus.


Eh, pegawai ? Isabel mengedarkan pandangan. Dia membatin, kenapa pegawai disini hanya sedikit ? Ketiga teman cerewetnya juga sama sekali tidak terlihat. Apa yang terjadi sebenarnya ?


Eric mengangkat bahu. "Ini hal biasa dalam dunia bisnis." Jawabnya santai.


Lalu dia menjentikkan jari, memanggil seorang pelayan. Tapi yang datang justru Jose.


Jose menghampiri meja mereka dengan membawa buku menu. Dia menyerahkan buku menu pada Eric lalu tersenyum ramah pada Isabel.


"Apa yang terjadi, Jose ?" Isabel bertanya dengan bahasa bibir pada Jose yang sedang tersenyum ramah padanya. Dia tidak ingin Eric mendengarnya.


Namun tidak sempat menjawab, Eric mengalihkan perhatian Isabel dengan menanyainya tentang menu yang akan dia pilih.


Jose meninggalkan meja mereka setelah menerima pesanan menu.


"Kenapa Jose yang mengantar buku menu ? Dimana pegawai yang lain ?" Cecar Isabel yang mulai khawatir dengan kondisi cafe.


Eric menghela nafas lelah. Dia menatap malas pada Isabel yang malam ini jadi lebih cerewet dari biasanya. "Aku harus melakukan pemangkasan biaya. Dan jalan satu-satunya aku harus mengurangi pegawai disini."


"Apa ?" Isabel menganga tidak percaya. "Grace, Leah, Claire ?"


Eric mengangguk. Isabel mendesah kecewa.


"Tapi mereka teman-temanku, Eric. Tidak bisakah kau mempertahankan mereka bertiga ?" Keluh Isabel.


"Semua sudah diperhitungkan dengan matang. Hei...bisakah kita tidak membicarakan masalah ini dulu ?" Eric meraih tangan Isabel yang berada diatas meja. "Aku ingin makan malam yang spesial denganmu. Anggap saja aku sedang membooking tempat ini untuk privasi kita berdua." Eric mencoba membuat mood Isabel kembali naik.


Isabel tersenyum. Eric benar, ini adalah acara makan malam mereka. Tidak seharusnya Isabel membahas hal yang mungkin Eric sendiri sedang tidak ingin memikirkannya.


Begitu pesanan mereka datang, mereka segera menyantap makanan dengan tenang.


Saat makanan mereka telah habis, tiba-tiba lampu utama dalam cafe itu padam. Hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu-lampu kecil yang bertebaran di seluruh ruangan.


"Apa yang terjadi ?" Isabel mulai panik. Apa mereka juga menghemat biaya listrik ? Kenapa lampunya tiba-tiba padam ?


Saat Isabel sibuk memperhatikan keadaan sekitar. Dia tidak menyadari jika Eric sudah tidak ada di hadapannya lagi.


"Apa kalian juga meng..... Eric ?" Isabel kebingungan Eric sudah tidak ada di hadapannya. Dia mengarahkan pandangan ke kanan dan ke kiri. Lalu pandangannya jatuh pada pria yang sedang duduk memangku gitar diatas panggung sambil menyesuaikan letak mikrofon dengan tangan kanannya.


"Eric....." Isabel menatap penasaran. Sedikit-sedikit dia mulai bisa membaca keadaan. Eric ingin membuat makan malam mereka menjadi romantis. Isabel tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Dia menunggu apa yang akan Eric lakukan dengan gitar itu.


Eh, tunggu ! Apa Eric bisa bermain gitar ? Apa dia akan bernyanyi ?


Dan pertanyaan Isabel terjawab saat suara petikan gitar mulai terdengar.


Senyum Isabel mengembang. Suara petikan gitar itu terdengar begitu indah di telinganya. Entah karena lagunya atau karena seseorang yang memainkannya. Yang pasti nada-nada itu terdengar begitu merdu.


Lalu suara Eric mulai terdengar menyanyikan bait pertama. Suaranya enak sekali didengar. Isabel tidak menyangka Eric bisa bernyanyi. Bahkan suara Eric terdengar lebih merdu dibandingkan Ed Sheeran penyanyi aslinya. Wow ! Kelebihan Eric yang tidak pernah dia duga.


I found a love for me


Darling, just dive right in


And follow my lead


Well, I found a girl, beautiful and sweet


I never knew you were the someone waiting for me


Isabel menutup mulutnya dengan telapak tangan. Saat Eric mendendangkan bait pertama lagu itu sambil menatapnya. Rasanya hati Isabel berdesir hebat.


'*Cause we were just kids when we fell in love


Not knowing what it was


I will not give you up this time


Darling, just kiss me slow, your heart is all I own


Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms


Barefoot on the grass, we're listenin' to our favorite song


When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath


But you heard it, darling, you look perfect tonight*


Ini sangat romantis. Isabel merasa lagu yang dinyanyikan Eric membiusnya. Suara Eric merenggut seluruh jiwanya.


Well, I found a woman, stronger than anyone I know


She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home


I found a love, to carry more than just my secrets


To carry love, to carry children of our own


Isabel merasakan tenggorokannya kering. Dia menelan ludah saat air matanya jatuh. Ini.....ah....Isabel tidak tahu harus mengatakan apa. Eric benar-benar telah menggenggam hatinya dan menariknya keluar dengan lirik lagu itu.


Lalu saat satu persatu pegawai Willow Spring naik ke panggung dan menempel sebuah kertas bertuliskan sebuah huruf pada kain hitam yang membentang di belakang Eric. Isabel tahu apa yang selanjutnya akan terjadi.


*We are still kids, but we're so in love


Fightin' against all odds


I know we'll be alright this time


Darling, just hold my hand


Be my girl, I'll be your man


I see my future in your eyes


Baby, I'm dancing in the dark, with you between my arms


Barefoot on the grass, listenin' to our favorite song


When I saw you in that dress, looking so beautiful


I don't deserve this, darling, you look perfect tonight*


Isabel bangkit, perlahan dia melangkah mendekat ke panggung dengan wajah berderai air mata.


*Oh, no, no


Mm


Baby, I'm dancing in the dark, with you between my arms


Barefoot on the grass, we're listenin' to our favorite song


I have faith in what I see


Now I know I have met an angel in person


And she looks perfect


No, I don't deserve this


You look perfect tonight*


Rangkaian huruf itu selesai ditempel seiring selesainya lagu yang dinyanyikan Eric. Rangkaian huruf yang membentuk sebuah kata. Dan rangkaian kata yang membentuk sebuah kaliamat.


WILL YOU MARRY ME ?


Lalu tiga orang lagi datang menghampiri Isabel dengan tiga bucket bunga mawar merah. Tiga orang teman cerewetnya tersenyum lebar sambil menyerahkan bucket bunga dengan sebuah kertas di masing-masing bucket. Tiga kertas bertuliskan 'PLEASE' , 'BE' , 'MY WIFE'.


Isabel tergugu, terharu dengan semua kejutan ini. Dia memeluk erat tiga bucket bunga itu sebelum meletakkannya di atas meja terdekat. Lalu dia berlari keatas panggung dimana Eric sudah merentangkan tangan menyambutnya.


Tidak ada hal yang paling membahagiakan selain mendapat lamaran dari pria yang sangat dicintainya dengan cara romantis seperti ini.


Bahagia saja rasanya tidak cukup. Air mata pun menjadi penguat rasa itu. Dan air mata Isabel semakin deras saat Eric berlutut di hadapannya. Mencium punggung tangannya. Lalu dia membuka sebuah kotak beludru merah. Tatapan Eric begitu dalam. Ada banyak sekali cinta dalam mata indah itu.


"Maukah kau menjadi istriku ?"


Isabel melipat bibir. Dia semakin tergugu dibuatnya. Jangankan mengeluarkan suara, bernfas saja dia kesulitan.


Yang bisa dia lakukan hanya mengangguk. Janjinya untuk menjawab 'yes, I do' hanya bisa dia ucapkan dalam hati.


Suara sorakan dan tepuk tangan terdengar riuh, memenuhi seluruh bangunan itu saat Eric menyematkan cincin rose gold bertahtakan berlian yang sangat cantik di jari Isabel. Diakhiri ciuman dalam Eric pada punggung tangan gadis itu.



Eric bangkit, dia memeluk erat Isabel dengan perasaan lega dan bahagia yang tidak bisa dia gambarkan lagi seperti apa rasanya. Dia mendekap semakin erat, merasakan tubuh Isabel yang bergetar menangis haru.


Sungguh ini adalah momen yang sangat dia nantikan.


"Jadilah ibu dari anak-anakku. Menualah bersamaku hingga kita tidak lagi bernafas. I love you, Bells. With all my heart." Bisik Eric sambil menciumi kepala Isabel.


Isabel tidak mampu menjawab. Dia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Pria ini, pria yang mendekapnya ini akan menjadi suaminya, ayah dari anak-anaknya, pendampingnya seumur hidup. Tidak ada lagi yang Isabel inginkan. Semua ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Bahkan kisah romantis Cinderella dan sang pangeran tidak ada apa-apanya dibandingkan kebahagiaan yang dia rasa saat ini.


Ternyata bukan hanya Isabel yang berderai air mata. Para pegawai perempuan yang ikut menyaksikan momen ini juga ikut menjatuhkan air mata mereka. Entah itu terharu karena ikut bahagia, atau justru bersedih karena patah hati Boss kesayangan mereka telah menemukan tambatan hati. Yang pasti tidak ada satupun pegawai perempuan yang tidak meneteskan air mata.


Begitu momen mengharukan itu berakhir, para pegawai menyulap Willow Spring itu menjadi tempat pesta yang sangat meriah. Beberapa meja ditata memanjang di tengah ruangan. Begitu banyak makanan dan minuman disajikan diatas meja itu.


Lampu yang tadi dipadamkan kini sudah kembali menyala. Malahan ada tambahan lampu led warna warni yang menghiasi hampir di seluruh ruangan.


Di bagian depan pintu Willow Spring juga di pasang papan besar bertuliskan :


PLEASE COME JOIN US !


Mereka mengajak siapapun untuk bergabung merayakan kebahagiaan mereka. Siapa saja boleh ikut. Siapa saja boleh merasakan bahagia bersama mereka.


Dan kini, Isabel duduk ditengah-tengah para pegawai perempuan yang mengerubunginya seperti semut. Mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan tentang hubungannya dengan Eric.


Setelah kenyang dicecar pertanyaan dan ejekan oleh teman-temannya, Isabel kembali bersama Eric. Dia berjalan menuju meja bar dimana Eric sedang mengobrol bersama Jose.


Jose yang tahu diri pun segera menyingkir, memberi ruang untuk kedua orang itu duduk bersama.


"Kepalaku pusing mendengar ocehan mereka." Keluh Isabel sambil mengurut pangkal hidungnya.


Eric tertawa. "Mereka hanya ikut berbahagia untuk kita, Bells." Eric mencubit hidung Isabel. "Lihatlah, banyak sekali yang mau bergabung merayakan kebahagiaan kita." Eric menunjuk orang-orang yang kebetulan lewat dan mau bergabung dengan mereka.


Isabel mengikuti arah pandang Eric, lantas dia tersenyum. "Kau benar." Katanya. Lalu dia mengangkat jarinya, memperhatikan cincin cantik yang melingkar disana. "Jadi....kau bangkrut karena membeli cincin ini ?" Canda Isabel.


Eric terbahak-bahak. Pertanyaan macam apa itu ? "Aku tidak semiskin itu, Bells." Jawabnya. "Aku sengaja menyiapkan tempat ini untuk kita." Eric menyesap wine dalam gelasnya. "Jangan takut, aku tidak akan pernah bangkrut. Lagipula, aku bisa merampok bank kalau uangku sudah menipis." Gurau Eric.


"Aku tidak akan mau memakan uang haram itu !" Balas Isabel.


Eric meletakkan gelasnya diatas meja bar. Dia bergeser mendekat pada Isabel lalu merangkulnya. "Oya ? Bagaimana kau tahu kalau cincin itu tidak kubeli dengan uang hasil rampokan ?"


"Karena aku tahu kau tidak semiskin itu !" Jawab Isabel sambil memukul dada Eric.


Disaat mereka sedang asyik bersenda gurau, seseorang muncul dari balik pintu. Dia berjalan mendekat ke arah Eric dan Isabel. Tangan kanannya menggandeng tangan seseorang.


Eric dan Isabel turun dari kursi bersamaan. Ekspresi bahagia mereka langsung lenyap. Wajah mereka menjadi tegang saat melihat siapa yang datang. Jordan dan Elena.


"Kalian mengadakan pesta tanpa mengundangku ?" Tanya Jordan sambil tersenyum tanpa menghentikan langkah kakinya yang semakin dekat dengan Eric dan Isabel.


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


akhirnya dilamar juga !


sori kalo part ini terasa hambar dan gag dapet feelnya. jadi waktu ngetik ini tuh tiba-tiba gag sengaja kehapus. padahal udah sampe di tengah-tengah cerita. kesel banget gag sih ?! kalo udah gini, mau ngetik ulang juga feelnya udah beda banget. padahal yang kehapus itu aku ngetiknya sepenuh hati, jiwa dan raga.


semoga tetep suka dan jangan lupa mulai hitung mundur untuk kejutan selanjutnya. siapkan hati kalian !


See you next part, Love.