100 Days

100 Days
S2. Welcome Home!



"Kau yakin akan melakukan ini?" tanya Aiden padaku.


Kami sedang ada di rumah. Aku memintanya membantuku memindahkan semua barang-barang milikku dari kamar Eric sebelum kepulangan suamiku dari rumah sakit.


"Hm. Aku yakin, aku akan melakukannya," jawabku.


Aku akan menempati kamar tamu yang ada di lantai bawah. Selain memindahkan barang-barangku kesana, aku juga memindahkan foto pernikahan kami ke kamar yang akan kutempati. Aku ingin semua yang berhubungan denganku dan pernikahan kami disingkirkan dari penglihatan Eric. Dan satu-satunya tempat yang paling aman adalah kamar yang akan kutempati. Karena Eric tidak akan mungkin masuk ke kamar asistennya.


Aku bahkan meminta pada Jordan untuk menghilangkan semua pemberitaan tentang pernikahan kami dari media. Termasuk semua foto dan video kebersamaan kami di ponsel dan laptop Eric. Jordan menghapus semua itu setelah memindahkan semua datanya pada sebuah flashdisk. Dia yakin suatu saat nanti Eric menginginkan semua itu kembali.


Aku memandangi cincin pernikahan Eric yang sudah dilepas sejak dirinya mengalami kecelakaan. Aku mencium cincin itu sebelum memasukkannya ke dalam kotak beludru berwarna hitam dan menyimpannya di laci nakas. Hanya cincin Eric, karena aku tetap akan memakai milikku.


"Dengar, Bells. Aku merasa keputusanmu ini salah. Harusnya kau mengatakan pada Eric bahwa kau adalah istrinya. Aku yakin dia akan mengingatmu," kata Aiden.


Aku tahu dia peduli padaku. Tapi dia tidak tahu seberapa sakitnya saat mendengar nama wanita lain yang yang dicari pertama kali oleh orang yang dicintai setelah tidur panjangnya. Aiden tidak pernah tahu, tapi aku tahu.


"Ini sudah menjadi keputusanku, Aiden. Doakan saja aku bisa menjalani semua ini dengan baik hingga Eric mendapatkan ingatannya kembali."


"Bagaimana kalau Eric menyakitimu?" tanya Aiden.


Aku menarik salah satu sudut bibirku kesamping. "Dia pernah melakukannya. Dan jika dia melakukannya lagi, itu akan mengingatkannya pada diriku."


Aku tidak tahu dari mana aku bisa membuat hipotesa semacam itu. Aku juga tidak yakin jika Eric menyakitiku akan membuatnya teringat padaku. Aku hanya ingin melakukannya. Aku ingin merawat Eric dengan tanganku sendiri meski harus berperan menjadi orang asing di hadapan Eric.


"Bells," Aiden menatapku tidak yakin, "berjanjilah padaku kalau kau akan menjaga dirimu dengan baik. Jika Eric menyakitimu, katakan padaku atau pada Chloe. Aku tidak ingin kau berkorban terlalu banyak, Bells. Eric berhak tahu siapa dirimu."


"Tidak ada yang namanya berkorban untuk suami, Aiden. Aku melakukannya untuk melengkapi kekurangan dalam diri Eric. Terima kasih untuk semua perhatianmu."


Aiden memelukku. Aku bisa merasakan kekhawatirannya padaku. Meski dia sudah memberikan hatinya pada Chloe, tapi dia tetap menyayangiku. Aku tidak pernah menyangka kalau kami bisa jadi sahabat baik seperti ini setelah semua yang kami lewati.


"Berjanjilah padaku kau tidak akan menyimpan lukamu sendirian." Aiden melepaskan pelukannya lalu menatapku dalam. Aku mengangguk tanda mengiyakan.


Dering ponsel Aiden membuat pembicaraan kami terputus. Aku kembali membereskan barang-barangku ke dalam lemari sedang Aiden menerima panggilan di ponselnya.


"Mereka sudah dalam perjalanan pulang," kata Aiden setelah selesai dengan panggilan telepon.


Aku melihat sekeliling, dan tinggal beberapa barang lagi yang harus kumasukkan ke dalam lemari. "Sebentar lagi aku selesai."


Aiden keluar dari kamarku. Aku membereskan sisa barang dan setelah itu aku pun keluar menyusul Aiden yang sedang bermain dengan baby Anna.


Aku membersihkan tanganku di wastafel lantas ikut bergabung dengan Aiden. Aku merindukan gadis kecil itu.


"Apa Eric juga tidak akan mengenaliku?" tanya Aiden tiba-tiba.


Aku berpaling padanya. Sejak Eric siuman beberapa hari lalu memang Aiden belum sempat menjenguk Eric karena dia sedang berada di luar kota. Baru semalam dia pulang dan dia harus membantuku beres-beres.


"Entahlah. Aku tidak tahu," jawabku. Aku juga tidak tahu apakah Aiden termasuk dalam memori yang hilang dari ingatan Eric.


Eric mengingat Elena, tapi dia tidak ingat tentang kematian Elena. Apa dia juga tidak ingat bahwa Elena pernah menghianatinya?


Kata-kata Dr. Zeta semakin masuk akal di otakku. Sebagian memori yang hilang dari ingatan Eric adalah memori yang memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan Eric. Mungkin dia merasa penghianatan dan kematian Elena adalah sesuatu yang sangat menyakitkan sehingga alam bawah sadar Eric tidak ingin mengingatnya. Sementara aku ... aku tidak yakin keterikatan emosional seperti apa yang membuat Eric melupakanku. Mengingat hal ini membuat sayatan luka di dalam hatiku terasa semakin perih.


Tidak sampai tiga puluh menit, aku mendengar deru mobil memasuki halaman rumah. Jantungku berpacu semakin cepat. Aku takut Eric akan memberikan reaksi yang membuatku sakit.


Aku menyerahkan baby Anna pada Nanny. Lalu aku ada Aiden menuju pintu utama, menunggu kedatangan Jordan, Chloe dan ... Eric.


Jordan dan Chloe turun lebih dulu. Jordan berjalan ke bagian belakang mobil untuk mengambil sebuah kursi roda. Setelah membukanya, Jordan mendorong kursi roda itu ke sisi mobil yang pintunya telah dibuka oleh Chloe.


Jordan membantu Eric turun dari mobil dan duduk di kursi roda. Setelah posisi duduknya nyaman, Jordan mendorong perlahan kursi roda itu ke arah kami.


Aku memegangi dadaku yang terasa nyeri akibat dentuman detak jantungku sendiri. Aiden menguatkanku dengan meremas bahuku. Aku menarik nafas dalam-dalam saat Eric mulai mendekat.


Eric melihat sekeliling. Kurasa dia tidak lupa kalau rumah ini adalah rumahnya. Dia hanya sedang memindai seluruh sudut bangunan yang mungkin terlewatkan oleh ingatannya.


"Welcome home!" seru Chloe saat roda kursi Eric mulai menapaki teras rumah.


Jujur aku ingin sekali memeluknya. Aku ingin menciumnya. Tapi yang bisa kulakukan saat ini hanya berdiri mematung sambil menahan semua gejolak itu dalam dadaku.


"Kau!"


Aku tersentak. Eric memanggilku untuk mendekat. Dengan langakah hati-hati aku pun bergerak mendekat padanya. Semua mata tertuju padaku. Aku bisa melihat rasa iba dalam tatapan mereka. Tapi aku tidak menginginkannya. Aku tidak ingin dikasihani. Aku ingin menjalani peran ini dengan ikhlas. Aku ingin menjerit pada mereka untuk berhenti menatapku seolah aku sangat menyedihkan.


"Aku membayarmu bukan untuk berdiam diri seperti patung. Bawa aku ke kamarku!"


Boleh aku menyesal telah merindukan mulut tajam Eric?


"Tidak apa-apa. Biar aku saja." Aku segera mengambil alih kursi roda Eric dari tangan Jordan dan mulai mendorongnya masuk ke dalam rumah dengan perlahan dan hati-hati.


Saat melewati Aiden, aku bisa melihat Eric menatapnya dengan tajam. Aku tidak tahu apakah Eric mengingat Aiden atau tidak. Karena memang biasanya Eric selalu memberi Aiden tatapan tajam seperti itu.


Jordan berjalan di belakangku sambil memegang bahuku. Dia pasti mencemaskanku. Aku baik-baik saja. Tidak perlu mencemaskanku. Aku ingin mengatakan itu pada semua mata yang memandangku dengan rasa iba.


Begitu sampai di ujung tangga, aku berhenti mendorong kursi roda Eric. Kamar Eric ada di lantai dua. Bagaimana aku akan membawanya ke kamar? Aku bingung.


Jordan berinisiatif untuk membantu Eric berjalan menaiki tangga. Dia maju dua langkah dan bersiap membungkukkan badannya.


"Not you. I want her," kata Eric sambil menunjukku yang masih berdiri dibelakang kursinya.


"Oh, come on, Eric! Tubuhmu berat, dia akan kesulitan membantumu naik," kata Jordan sambil menegakkan tubuhnya dan menatap lelah pada Eric, pada kelakuan Eric.


Eric diam saja. Dia tidak menanggapi ucapan Jordan. Dan itu artinya dia tidak ingin dibantah.


"Aku akan melakukannya," kataku kemudian.


Aku tidak ingin berdebat. Entah apa yang membuat Eric bersikeras memintaku mengantarkannya ke kamar. Tapi aku akan melakukannya.


Menahan bobot tubuh Eric yang tidak ringan sambil menaiki tangga bukanlah hal yang mudah. Ditambah degup jantungku yang bertalu-talu karena berada tanpa jarak dengan Eric. Percayalah, ini bukan pekerjaan mudah.


Setelah berhasil sampai di kamar, aku membantu Eric berbaring di ranjang. Ranjang yang pernah menjadi saksi cinta kami. Aku memejamkan mata saat mengingat betapa kami dimabuk cinta saat itu. Dan yang terjadi sekarang, aku hanyalah orang asing yang bekerja sebagai asisten suamiku. Miris, bukan?!


"Aku akan membuatkan teh herbal untukmu," kataku sambil menaikkan selimut hingga dada Eric


Eric tidak menjawab, kedua matanya sibuk memindai setiap sudut ruangan. Aku segera berbalik untuk turun ke bawah membuatkan teh herbal untuk Eric.


Saat aku menuruni anak tangga, aku melihat Aiden dan Chloe sedang berbincang di ujung tangga. Mereka menoleh bersamaan ke arahku.


"Maafkan Eric, Isabel," Chloe memegang lenganku saat aku sampai di ujung anak tangga. Dia menatapku penuh rasa bersalah.


"It's okay. Aku akan melakukan apapun untuk Eric," jawabku.


"Aku akan tinggal disini untuk sementara waktu. Aku ingin memastikan Eric tidak melakukan hal buruk padamu."


Aku menatap Chloe. Sebenarnya aku tidak masalah jika dia tinggal disini. Tapi aku yakin Eric tidak akan melakukan hal buruk padaku seperti yang dia khawatirkan.


Aku mengangguk. Tidak ada alasan bagiku untuk melarangnya tinggal. Walau bagaimanapun Chloe adalah adik Eric. Dia mempunyai hak tinggal disini.


"Aku akan membuatkan teh herbal untuk Eric," kataku.


"Aku akan mengajak Aiden dan Annabeth ke atas," sahut Chloe.


Aku segera melangkah ke dapur untuk melanjutkan niatku. Sementara Aiden dan Chloe naik ke lantai dua untuk bertemu Eric.


Selesai membuat teh, aku segera membawanya naik ke atas. Perlahan aku melangkahkan kakiku memasuki kamar Eric.


Langkahku terhenti tepat di ambang pintu. Aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka.


"Kenapa tidak ada yang menjawabku? Dimana Elena? Dia sedang hamil, aku butuh tahu kondisi anakku!" kata Eric setengah berteriak.


Seperti ada yang memukul kepalaku dengan sangat keras hingga dengung di kepalaku terdengar sangat nyaring. Cawan keramik berisi teh herbal di tanganku terjatuh. Semua mata menoleh padaku. Tanganku gemetar. Pecahan keramik berhamburan di lantai. Percikan teh panas yang mengenai kakiku sama sekali tidak terasa. Tubuhku membeku untuk beberapa saat, mencoba mencerna apa yang baru saja aku dengar.


Elena mengandung anak Eric?


*


*


*


*


*


tbc.


Apa lagi ini? Perlahan-lahan masa lalu Eric terkuak.


Apakah Isabel masih sanggup bertahan?


See you next part, Love.