100 Days

100 Days
The Song of Memory



Aku berlari ke kamar dan menangis sejadinya disana. Aku tidak pernah mengira Eric akan mengatakan hal semacam itu. Aku ingin menjerit, aku ingin mengatakan pada Eric kalau aku memang istrinya. Tapi aku tidak sanggup. Aku terlalu lemah untuk melihat Eric kesakitan. Atau mungkin aku yang terlalu takut dengan penolakan Eric.


Aku mengusap perutku dengan sayang. "Bantu mommy, Sayang. Bantu mommy," ucapku disela isak tangis.


Aku memeluk erat bingkai foto pernikahanku dan Eric. Air mataku tidak juga berhenti meski aku sudah mencoba memikirkan hal positif. Lalu sayup-sayup aku mendengar suara petikan gitar mengalun indah.


"Gitar?" gumamku.


Aku bangkit dari posisi rebahanku lalu mengusap air mata dengan punggung tangan. Kubuka pintu kamarku dan suara petikan gitar itu terdengar semakin jelas.


"Eric?"


Aku keluar dari kamarku. Aku berjalan menuju taman belakang untuk memastikan apakah Eric yang sedang bermain gitar. Mengingat aku belum memindahkan gitar itu dari balkon kamar Eric.


Kedua mataku awas menatap ke arah balkon. Kulihat Eric sedang duduk memangku gitar dan memainkannya. Aku duduk di sebuah bangku, terkesima dengan permainan gitar Eric yang begitu indah dan penuh rasa.


Come up to meet you


Tell you I'm sorry


You don't know how lovely you are


I had to find you


Tell you I need you


Tell you I set you apart


Tell me your secrets


And ask me your questions


Oh, let's go back to the start


Running in circles, coming up tails


Heads on a science apart


Nobody said it was easy


It's such a shame for us to part


Nobody said it was easy


No one ever said it would be this hard


Oh, take me back to the start


I was just guessing at numbers and figures


Pulling your puzzles apart


Questions of science, science and progress


Do not speak as loud as my heart


Tell me you love me


Come back and haunt me


Oh, and I rush to the start


Running in circles, chasing our tails


Coming back as we are


Nobody said it was easy


Oh, it's such a shame for us to part


Nobody said it was easy


No one ever said it would be so hard


I'm going back to the start


Tanpa sadar bibirku bergerak ikut menggumamkan The Scientist milik Coldplay yang dimainkan Eric hingga lagu itu selesai. Aku berharap bisa berada di samping Eric dan ikut bernyanyi bersamanya tanpa harus sembunyi-sembunyi seperti ini.


Lalu kudengar Eric memainkan sebuah lagu lagi. Aku menajamkan pendengaranku saat menangkap petikan gitar itu terangkai menjadi intro sebuah lagu yang penuh kenangan untukku dan juga untuk Eric.


Ya, Eric sedang memainkan lagu milik 3 Doors Down. Jantungku berdegup dengan cepat, apa kali ini Eric mengingatnya?


Tapi ...,


Baru sampai reff pertama Eric sudah menghentikan permainannya. Aku menatap ke atas. Eric meletakkan gitar itu dengan kasar lalu dia memegang kepalanya sambil meringis. Dari bawah sini aku bisa mendengar dia mengerang kesakitan. Apa ingatannya datang lagi hingga membuatnya tersiksa seperti itu?


Ya Tuhan! Aku ingin sekali berlari kesana dan memeluknya. Inilah sebabnya kenapa aku takut untuk memancing ingatan Eric. Aku tidak tega melihatnya seperti itu. Aku ikut merasakan sakit saat melihatnya tersiksa karena kepingan memori masa lalunya.


Setelah beberapa saat, Eric masuk ke dalam kamar. Aku pun beranjak dari tempatku duduk dan masuk ke dalam rumah.


Waktu aku sampai di dekat tangga, aku berhenti. Kedua mataku tidak bisa lepas dari pintu kamar Eric yang tertutup rapat. Apa dia baik-baik saja?


Lalu aku melanjutkan langkahku menuju dapur untuk membuat susu. Sekaligus membuatkan minum untuk Eric. Aku tahu disaat dia seperti ini, teh herbal adalah yang paling dia sukai karena memberikan efek yang menenangkan.


Tidak butuh waktu lama untukku membuat dua minuman itu. Begitu selesai, aku menaruh teh herbal Eric diatas nampan. Langkahku maju mundur untuk membawanya ke kamar Eric. Hatiku masih terasa sakit saat mengingat kata-kata Eric tadi.


Eric berjalan pelan ke arahku. Melihat raut wajahnya saat ini, jujur aku takut. Eric terlihat seperti seorang psikopat yang sedang memindai korbannya. Tanganku gemetar saat jarak diantara kami semakin terkikis.


Eric berhenti di depanku. Kedua matanya masih menyorot tajam padaku. Aku menelan ludah saat Eric memiringkan kepalanya lalu melihat ke belakangku. Aku mengikuti arah pandang Eric dengan ekor mataku. Susu. Dia melihat gelas susuku yang masih penuh. Samar aku menghela nafas lega karena aku telah menyimpan kotak kemasan susu itu di kabinet.


Tanpa berkata apapun, Eric mengambil cangkir berisi teh herbal dari atas nampan lalu menggeser kursi untuk duduk.


Sementara aku masih berdiri sambil memegang nampan kosong seperti orang bodoh. Tiba-tiba saja kakiku terasa sulit sekali digerakkan.


"Apa kau akan berdiri saja disitu?" tanya Eric tanpa melihatku. "Duduklah," lanjutnya.


Aku mengerjap pelan. Meski terdengar ketus, tapi nada bicara Eric kali ini terasa lebih bersahabat. Aku bergerak perlahan duduk di seberang meja. Tidak seperti biasanya, kali ini aku merasa mati kata. Aku tidak tahu apa yang harus kubicarakan dengan Eric karena kata-kata menyakitkannya tadi masih terngiang-ngiang di telingaku.


"Apa aku menyakitimu?"


Spontan aku mengangkat wajah dengan bibir setengah terbuka. Eric menatapku datar sambil menyesap tehnya. Setelah itu dia meletakkan cangkir yang dia pegang diatas meja.


"Aku minta maaf," kata Eric kemudian.


Aku hampir tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Apa ini nyata?


"Aku hanya terlalu lelah. Harusnya aku mengikuti saranmu."


Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu dengan Eric?


"Jadi ... kau memaafkanku?" Eric menaikkan sebelah alisnya.


Aku melarikan pandanganku ke kanan dan kiri. Somebody help me, please! Aku tidak bisa menggerakkan bibirku. Suaraku tidak mau keluar dari mulutku.


Eric memiringkan kepalanya, kali ini dengan dua alis terangkat.


"A-aku ... ini bukan salahmu. Seharusnya aku tahu batasanku," kataku setelah bisa menguasai diri.


Eric mengangguk-anggukkan kepala lantas menghabiskan teh herbalnya. Setelah itu dia berdiri dan berjalan meninggalkanku begitu saja di dapur.


Aku masih termangu melihat sosok Eric yang semakin jauh. Lalu perlahan bibirku melengkung membentuk sebuah senyuman. Ini pertama kalinya Eric bersikap hangat padaku sejak beberapa bulan terakhir.


"Kau dengar, Sayang? Kau bisa merasakan perubahan sikap daddy, kan?" Aku mengusap perutku. Dengan semangat aku meminum susu dalam gelasku hingga habis.


Lalu getar ponsel mengalihkan perhatianku.


"Jordan?"


Keningku berkerut, ada apa Jordan meneleponku malam-malam seperti ini? Sambil berjalan menuju kamarku, aku menerima panggilan dari Jordan.


"Kau sudah tidur, Princess?" tanya Jordan.


"Belum. Apa terjadi sesuatu?" tanyaku.


"Aku tahu kemana Eric pergi setelah dari Skytech."


Langkahku terhenti di depan pintu kamar.


"Dia pergi ke safe house," lanjut Jordan.


Perlahan kubuka pintu kamarku dan masuk ke dalam. Aku duduk di tepi ranjang dengan ponsel yang masih menempel di telingaku.


"Apa yang terjadi?" tanyaku penasaran. Semoga saja bukan hal buruk yang terjadi.


"Aku mengirimkan rekaman cctv safe house padamu. Apapun nanti yang kau lihat, jangan terlalu dipikirkan. Dengar, Princess. Aku memberitahumu hal ini, hanya karena aku tidak ingin kau berpikir macam-macam terhadap Eric. Dan maafkan aku, aku gagal melakukan permintaanmu dengan baik."


Tidak banyak lagi yang bisa kukatakan. Begitu Jordan mengakhiri panggilannya, aku segera membuka file video yang dikirimkan Jordan padaku.


Ya, Eric berada di safe house. Kulihat dia berjalan menyusuri tiap sudut ruangan. Dia berhenti di tempat tidur Grey yang sedang ditinggal penghuninya. Lalu dia pergi ke dapur. Disini, dia terlihat kebingungan. Beberapa kali dia memegang kepalanya dengan ekspresi kesakitan. Tapi langkahnya tidak berhenti. Eric beralih ke kamar tidur.


Ya Tuhan! Aku tidak tahan melihat video ini. Tubuh Eric jatuh ke lantai. Eric tampak sangat kesakitan dengan terus meringis dan memegangi kepalanya. Setelah beberapa saat, Eric bangkit lagi dan masuk ke walk in closet.


Satu hal yang baru aku sadari dari ucapan Jordan. Di akhir ucapannya, Jordan mengatakan bahwa dia gagal melakukan permintaanku dengan baik. Dan itu terjawab beberapa saat setelah Eric masuk ke walk in closet. Dia melempar beberapa helai pakaian ke lantai. Itu pakaianku. Pakaian yang sengaja aku tinggalkan di safe house.


Aku menutup mulutku dengan telapak tangan. Aku melihat Eric berteriak, dia menjambaki rambutnya sambil terduduk lesu di lantai. Eric menunduk, bahunya bergetar. Eric menangis.


Sudah cukup! Aku tidak sanggup lagi menyaksikan video itu. Aku bisa membayangkan betapa sakitnya Eric saat itu. Andai saja aku tahu, andai saja aku ada disana, aku ingin sekali memeluknya dan mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja.


Sekarang aku tahu kenapa emosi Eric melonjak saat pulang tadi. Semua sakit yang kurasakan akibat ucapan Eric seperti menguap begitu saja. Aku bisa memahami posisi Eric. Dan dengan Eric yang meminta maaf padaku, aku yakin Eric tidak bermaksud menyakitiku. Dia hanya terbawa perasaan karena apa yang telah dia alami di safe house.


Dan aku yakin sebentar lagi Eric-ku akan kembali.


*


*


*


*


*


tbc.


Eh, part sebelumnya aku nyebutin lagu yang dinyanyiin Eric punya Goo Goo Dolls ya? Yang dipikirin Iris mulu sih, hahaha. Tapi udah aku ganti jadi 3 Doors Down kok.


Hm, apa kali ini Eric beneran udah mulai ingat dengan Isabel? Udah mulai di baik-baikin tuh Isabelnya. Semoga dengan perubahan sikap Eric, Isabel bisa lebih bahagia.


See you next part, Love.