100 Days

100 Days
Part 64



"Pergilah !" Perintah Isabel sambil menyerahkan Grey pada Eric.


"Tidak." Jawab Eric, kedua tangannya menerima Grey yang menggeliat saat Isabel melepaskannya. Tapi pandangannya tak lepas dari Mike.


Isabel memberi tatapan tajam penuh peringatan pada Eric. "Kakakku bisa menghajarmu lagi. Pergilah !" Katanya. Gadis itu mendorong tubuh Eric supaya  segera meninggalkan tempat itu.


"I can handle this." Eric bersikukuh tidak mau pergi.


Bukan. Eric bukan takut akan beradu jotos dengan Mike, karena dia juga menguasai tehnik beladiri. Tapi dia hanya tidak ingin menambah masalah untuk hal ini.


"JUST GO !" Kata Isabel setengah berteriak karena kesal Eric tak juga bergerak dari tempatnya.


"ISABEL JOSEPHINE BENNINGS !!!" Panggil Mike pada adiknya dengan penuh penekanan.


Terlambat bagi Isabel untuk menyuruh Eric pergi. Mike kini sudah berdiri dua langkah di depannya dengan wajah merah padam. Gemelutuk giginya yang beradu membuat rahangnya mengeras.


Ini betul-betul penghinaan bagi Mike. Adik kandungnya sendiri tidak mendengarkan perintahnya. Harus dengan cara apalagi dia menasehati adik semata wayangnya itu agar menjauhi pria yang hanya ingin memanfaatkan dirinya ?


Dengan satu tarikan, Isabel sudah berada di belakang tubuh Mike. Mike menatap tajam pada Isabel lalu mengalihkan pandangannya pada pria yang sedang menggendong seekor kucing dengan wajah datar.


"Kau !" Mike menunjuk wajah Eric yang hanya berjarak dua langkah darinya. "Berani sekali kau menemui adikku lagi." Desisnya penuh amarah.


Isabel hanya bisa menggigit bibir cemas. Dia takut Mike akan menghajar Eric lagi. Oh, tidak ! Ini tidak boleh terjadi. Lalu dengan cepat Isabel bergerak ke depan Mike, melindungi Eric yang masih bergeming di tempatnya.


"Kami tidak sengaja bertemu disini. Jangan salah paham, Kak." Terang Isabel dengan mata berkaca-kaca.


Mike menatap tajam pada Isabel yang rela memohon untuk pria di balik tubuhnya itu. Lalu dia beralih menatap tajam pada Eric. Dan terakhir dia menoleh sedikit ke belakang pada seorang pria dengan pakaian serba hitam yang sedang berdiri dengan gusar dan wajah pias. Taylor.


"Kau !" Mike menunjuk Taylor. "Dipecat !" Kata Mike yang berhasil membuat Taylor terbelalak. Wajahnya sudah seputih kertas saat ini. Sudah lebih dari lima tahun dia mengabdi pada Mike dan sekarang harus dipecat karena kelalaiannya yang membiarkan adik tuannya itu bertemu dengan seorang pria. Bagaimana nasib istri dan ketiga anaknya kelak ?!


Begitupun Isabel, dia terkejut saat Mike memecat Taylor. Tidak adil rasanya jika Taylor dipecat. Walau bagaimanapun ini bukan salah Taylor. Bahkan Taylor sudah berusaha mengingatkannya tadi.


Raut bersalah langsung terlihat di wajah cantik Isabel. Dia menatap penuh penyesalan pada Taylor yang berdiri dengan tatapan sedih karena baru saja kehilangan pekerjaannya.


"Taylor tidak bersalah. Jangan memecatnya. Apa kau tidak kasihan dengan istri dan ketiga anaknya ?" Sebisa mungkin Isabel membujuk Mike agar dia tidak jadi memecat Taylor.


"Itu semua karenamu. Dia kehilangan pekerjaan karena dirimu, Bells." Jawab Mike dengan geram.


Okay, Isabel tahu ini kesalahannya yang tidak mendengarkan nasehat Taylor. Tapi apakah ketidak sengajaan juga termasuk kesalahan ? Coba diingat kembali, siapa yang menyuruh Isabel datang ke RCT ? Bukankah Mike yang menyuruhnya ?! Bukankah Mike yang memintanya datang ke RCT agar bisa pulang bersama karena mobil Mike yang sudah masuk jadwal service rutin ? Lantas kenapa jadi salah Isabel ?!


Isabel menggeleng lemah. Kelopak matanya sudah digenangi air mata yang siap terjatuh dalam satu kedipan. Dia harus mencari cara agar Taylor tidak kehilangan pekerjaannya. Tapi mungkin tidak sekarang. Mike terlalu sulit dibujuk untuk saat ini.


"Sudah cukup, Mr. Bennings." Eric angkat bicara. "Ini adalah urusan kita bertiga. Tidak ada sangkut pautnya dengan Mr. Bodyguard itu." Tunjuk Eric pada Taylor. "Kurasa kau sudah salah paham terlalu jauh. Karena memang aku tidak sengaja bertemu dengan adikmu disini."


Eric menegakkan telunjuknya ke arah Mike, mengisyaratkannya untuk tidak menyela saat kakak dari Isabel itu hendak membuka mulut.


"Aku kesini untuk bekerja, dan adikmu..." Eric nelirik Isabel sebelum kembali menatap datar Mike, "Aku tidak tahu apa kepentingannya disini. Yang jelas kami tidak sengaja bertemu. Jadi kau tidak perlu bersikap berlebihan seperti itu." Eric menjeda sebentar.


Dia menatap Isabel dan Mike bergantian. "Aku tahu bagaimana rasanya menjadi dirimu, karena akupun memiliki adik perempuan. Masalah aku dan adikmu, tidak pernah terjadi sesuatu diantara kami selama dia tinggal ditempatku. Jadi kau tidak perlu khawatir."


Mike mendengus kasar, ucapan Eric sama sekali tidak merubah pikirannya tentang pria itu. Di mata Mike, Eric tetaplah pria kurang ajar yang memanfaatkan adiknya disaat adiknya sedang labil. "Apa kau pikir aku percaya dengan ucapanmu ?!" Ketus Mike.


"Jika kau tidak percaya padaku, itu artinya kau juga tidak percaya dengan adikmu sendiri." Balas Eric tegas. Sudah cukup dia membiarkan Mike menuduhnya sembarangan.


Ya, Eric sangat menghormati prinsip keluarga Bennings itu. Justru itu sangat bagus. Biarpun Eric bukan penganut prinsip seperti itu, tapi dia tahu bagaimana cara menghargai perempuan. Well, mungkin khilaf satu atau dua kali tidak termasuk dalam hitungan. Selama tidak ada pihak yang merasa dirugikan.


"Jaga ucapanmu ! Kau sama sekali tidak tahu apa-apa tentang diriku !" Geram Mike.


"Kak, sudah !" Mohon Isabel yang masih berdiri di hadapan Eric, berusaha melindungi pria itu dari amukan kakaknya.


"Lantas apa yang kau inginkan ? Kami sudah bicara jujur, tapi kau masih tidak mempercayai kami." Tantang Eric dengan nada santai. Kedua matanya masih menatap datar pada Mike, rasanya percuma mendebat pria dihadapannya itu dengan urat.


"Kau..." Mike menggeram marah. Pria itu sudah menginjak-injak harga dirinya.


"Apa kau ingin aku menikahinya karena sudah pernah tinggal bersama meskipun tidak terjadi apa-apa diantara kami ?" Tantang Eric lagi dengan santai.


Bukan cuma Isabel, Mike juga memberikan tatapan membunuhnya pada Eric akibat ucapannya itu.


Menikah ? Seenaknya saja dia bilang begitu. Setelah semua penghinaan ini ? Jangan harap !


"Kau sama sekali tidak pantas untuk adikku." Desis Mike sambil menunjuk wajah Eric.


Kemarahan Mike hanya mendapat senyum miring dari Eric. "Oya ? Bagaimana kalau ternyata kami memang saling mencintai ?" Tanya Eric sambil menaikkan sebelah alisnya, penuh provokasi. Sudah kepalang tanggung. Percuma menyangkal, Eric ingin mencoba sedikit bermain-main dengan emosi Mike.


Tapi dia lupa jika di hadapannya saat ini juga ada sosok yang menjadi objek permainan emosinya. Gadis yang diam-diam mulai memasuki hatinya. Gadis itu melongo, masih memiringkan wajah menatap Eric dengan mata bulatnya. Saling mencintai ? Darimana Eric mendapatkan kata-kata seperti itu ? Apa baru saja Eric makan kerang beracun yang membuat otaknya terganggu ? Bisa jadi.


Well, Isabel akui beberapa waktu ini memang wajah Eric sering membayanginya gara-gara ciuman singkat mereka. Tapi cinta ? Really ? Secepat itukah sebuah perasaan mampu berkembang ? Isabel tidak yakin jika apa yang dia rasakan ini cinta.


Tunggu ! Kenapa Isabel bisa berpikir seperti itu ? Bisa saja kan Eric hanya bicara sekenanya karena sudah lelah menghadapi tuduhan Mike.


Bodoh ! Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, Bells !


Mike semakin menatap bengis pada Eric. Tidak mungkin adiknya jatuh cinta secepat itu pada pria lain, sementara kekasih yang sangat dia cintai baru saja menikah dengan gadis lain. Mike tahu seperti apa Isabel mencintai Aiden.


"Jangan bermimpi ! Adikku tidak mungkin mencintaimu !" Kata Mike penuh penekanan. Tapi dia melupakan satu hal. Di depan kedua matanya, adik yang dia bilang tidak mungkin mencintai Eric itu, tengah menatap lekat pria yang dia tunjuk bahkan hampir tidak berkedip.


Sengaja ingin mempermainkan emosi Mike, Eric meletakkan satu tangannya yang bebas dari Grey di bahu Isabel. Sementara gadis itu hanya diam membeku mendapat perlakuan seperti itu dari Eric. Ini masih Eric yang sama dengan yang menyebalkan dan bermulut tajam itu, bukan ?!


"Benarkah ?!" Eric tersenyum miring dengan sebelah alisnya terangkat. Benar-benar menjengkelkan !


"Kita lihat saja nanti. See you soon, sweetheart." Kata Eric, lalu menundukkan wajahnya mencium pipi Isabel tepat di depan wajah Mike.


Isabel membeku. Dan apa ini ? Jantungnya seolah ingin berlari mengejar Eric yang baru saja berbalik meninggalkan dirinya dan Mike yang masih berdiri membatu sambil melotot seperti baru saja bertatap mata dengan medusa.


Okay, mungkin ini Eric yang berbeda. Mungkin dia punya saudara kembar. Nanti Isabel harus menanyakannya pada Jordan atau Chloe.


Begitu sadar dengan apa yang baru saja terjadi, Mike menggeram marah lalu bergerak ingin mengejar Eric yang sudah beberapa langkah menjauhi mereka. Namun dengan cepat Isabel menahan tubuh Mike agar tidak pergi. Jangan sampai kedua orang itu berkelahi di depan umum lagi hanya karena masalah seperti ini.


Eric melenggang dengan senyum penuh kemenangan sambil mendekap Grey di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya dia angkat keatas dengan jempol berdiri tanpa menoleh ke belakang.


"Kau baru saja membangunkan macan tidur, Brother." Ujar Jordan saat Eric baru saja masuk ke dalam mobil. Dia memang tidak ingin ikut campur untuk masalah ini. Dia yakin Eric bisa mengatasinya. Adiknya itu hanya butuh sedikit...motivasi.


Eric memasukkan Grey dalam pet cargo. Dia berbalik menghadap ke depan, memasang sabuk pengaman lalu berkata, "Kau salah, Brother. Dia yang sudah mengusik singa yang sedang kelaparan." Tukas Eric, tersenyum miring dengan tatapan tak lepas dari dua kakak beradik yang sedang berdebat di tempatnya tadi.


Jordan tersenyum sambil menggeleng-geleng kepalanya. Tanpa menunggu lagi, dia segera menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas perlahan meninggalkan pelataran RCT.


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Yesss.....bang Eric mulai menunjukkan taringnya.


Gimana jadinya yak kalo macan ama singa bertarung ? Siapa yang bakal menang ?


See you next part, Love.