
Sebuah pesan baru saja masuk ke ponsel Alice. Pesan dari Aiden yang mengajaknya bertemu sepulang kuliah.
Aiden menunggu Alice di coffee shop di seberang Willow Spring. Berkali-kali Aiden melihat jam di layar ponselnya. Alice terlambat 15 menit dari waktu yang dijanjikan.
Dari arah pintu masuk, Alice berjalan dengan langkah lebar dan wajah yang tidak ramah.
"Kau memang brengsek!" Alice mengarahkan telunjuk ke wajah Aiden sebelum mendaratkan pantatnya di kursi.
Aiden membuka mulutnya tanpa bersuara. Kedua tangannya terangkat diatas meja seolah ingin protes dengan ucapan Alice, tapi urung. Karena ucapan Alice memang benar. Diam sepertinya lebih baik.
"Hal penting apa yang ingin kau sampaikan?" Alice bertanya dengan ketus, membuat Aiden yang sudah membuka mulut ingin berbicara jadi terdiam.
Mata Aiden terpejam sebentar. Helaan napas untuk membuatnya bersabar samar terdengar. Dia menatap tajam pada Alice yang masih memasang wajah algojo padanya. "Aku tahu dimana Isabel."
Kedua alis Alice bertaut dengan posisi duduk tegak. "Dimana dia? Mike mencarinya ke seluruh kota. Dia sudah hampir gila melakukan pencarian diam-diam tanpa sepengetahuan keluarganya. Cepat katakan dimana dia!" desak Alice.
"Berjanjilah padaku kau tidak akan mengatakannya pada Mike."
"Apa? Kau gila, hah?" Alice mengangkat tangan kanannya lalu menghentakkannya diatas meja. "Apa kau tahu betapa khawatirnya dia? Jangan gila, Aiden!"
"Dengarkan aku! Biarkan Isabel sendiri untuk sementara waktu. Aku dan Chloe berjanji akan memastikan dia baik-baik saja," kata Aiden.
"Chloe?" Alice menghela napas kasar dari mulutnya lalu dia menggeleng pelan. "Dia tahu dimana Isabel? Atau jangan-jangan memang dia yang menyembunyikan Isabel?" tuduh Alice dengan nada tajam.
Aiden menatap tajam pada Alice. "Bukan." Lagi-lagi Aiden menghela napas berusaha untuk tetap bersabar. "Aku akan mengatakan dimana Isabel kalau kau berjanji untuk tidak mengatakannya pada Mike."
Alice tampak berpikir. Jemarinya yang mengetuk-ngetuk meja pun tampak memikirkan hal yang sama. "Baiklah." Akhirnya Alice mengalah. Yang penting dia tahu dimana keberadaan sahabatnya itu. "Bisakah kita menemuinya sekarang?" Alice tidak sabar.
Aiden tahu Alice sangat mengkhawatirkan Isabel, tapi Eric tidak akan membiarkan sembarang orang masuk ke dalam properti pribadinya. Tempat itu sudah seperti safe house buat Eric. Tempat dimana dia bisa mendapat ketenangan dan kenyamanan tanpa gangguan orang lain.
"Tidak, Alice." Wajah kecewa Alice muncul mendengar jawaban Aiden. Tapi Aiden memang tidak bisa membawanya ke sana.
"Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja. Dia hanya butuh waktu untuk sendiri." Hati Aiden sedikit ragu saat mengatakannya. Memercayakan Isabel pada Eric?
"Baiklah, katakan dimana dia."
"Dia di sana." Mata Alice mengikuti arah telunjuk Aiden. Pandangannya jatuh pada bangunan di seberang coffee shop tempat mereka bertemu.
Alice menatap Aiden tidak percaya. "Kau serius? Willow Spring? Kau tidak akan bilang kalau dia bekerja disana, bukan?" Mata Alice memicing menuntut penjelasan.
Aiden berdecak. "Dia tidak bekerja disana." Tatapan Aiden seakan berkata 'kau puas?'
"Lantas, apa yang dia lakukan disana?"
"Lantai 4. Isabel di sana," jawab Aiden dengan satu alisnya terangkat.
"Apa?" Raut wajah Alice masih menuntut penjelasan. Bagaimana bisa Isabel tinggal di tempat itu?
Sekali lagi Aiden menghela napas sebelum menjelaskan. "Pemiliknya adalah ... temanku. Jadi kau tidak perlu khawatir." Aiden tidak ingin mengatakan pemiliknya adalah kakak Chloe. Dia khawatir dengan reaksi Alice.
Wajah Alice menunjukkan kelegaan. Paling tidak, Isabel berada di tangan orang yang dikenal. "Kapan aku bisa menemuinya?"
Aiden menjawab dengan tatapan mata lelah.
"Okay, aku mengerti," kata Alice.
Hening sejenak. Lalu Alice memanggil pelayan dan memesan secangkir moccachino untuknya.
"Katakan padaku, apa yang membuatmu berpaling pada gadis pirang itu?" Pertanyaan yang sangat ingin Alice tanyakan sejak lama.
Aiden masih diam dengan tatapan lelahnya. Haruskah dia menceritakan lagi aibnya? Karena itu terasa seperti memberi air jeruk pada luka yang masih basah.
"Ayolah, Aiden! Paling tidak biarkan malam ini aku tidur dengan nyenyak tanpa dihantui rasa penasaran."
Sungguh, Aiden tidak ingin membahasnya. Terlalu... menyakitkan.
"Kau meninggalkan Isabel bukan tanpa alasan, bukan? Dijodohkan sejak kecil? Pernikahan bisnis? Ayolah, pasti ada alasannya," desak Alice.
Seketika Alice bungkam. Matanya mengerjap beberapa kali memastikan dia tidak salah dengar. Bagaimana bisa?
Kedatangan pelayan yang membawa pesanan seperti tidak terlihat oleh Alice. Otaknya masih berpikir keras mengurai benang kusut yang terlontar dari bibir Aiden.
"Ha-hamil?" ulang Alice.
"Sudahlah Alice, aku tidak ingin membahasnya lagi. Kau tahu aku sangat mencintai Isabel. Tapi kekacauan ini adalah salahku. Dan aku harus memperbaikinya," tukas Aiden sebelum Alice mulai bertanya macam-macam padanya.
Sementara itu Alice masih melongo. Di otaknya masih berputar pertanyaan seperti, bagaimana bisa? Sejak kapan Aiden mengenal Chloe? Kapan dan dimana mereka melakukannya?
Tapi ucapan Aiden sepertinya akan menjadi pagar untuk semua pertanyaan Alice itu.
"Isabel tahu?" Akhirnya pertanyaan itu yang keluar dari bibirnya.
Aiden menghela napas, mengangkat satu alisnya. "Aku sudah menjelaskannya." Dalam hati Aiden sangat berharap bisa mendapatkan maaf dari Isabel. Dia tahu kesalahannya sangat besar. Dan Isabel pasti sangat membencinya saat ini. Kalimat terakhir Isabel kemarin yang mengatakan tidak ingin melihatnya lagi cukup memukul hati Aiden.
***
Isabel duduk bersandar diatas ranjang dengan tatapan kosong. Kehilangan Aiden membuatnya sangat terpukul. Sesekali matanya terpejam meneteskan air mata merasakan kehampaan dalam hatinya. Separuh jiwa Isabel seperti di tarik keluar dari raganya. Kosong. Kini hatinya terasa kosong.
Wajah kusut, bibir pucat kering, rambut berantakan, mata sembab, hidung merah. Seperti itulah penampakan Isabel saat ini.
Nampan berisi makanan di atas nakas sama sekali tidak tersentuh. Tidak ada selera sama sekali untuk menyentuh makanan itu. Isabel berharap rasa perih karena asam lambung dalam perutnya bisa mengalihkan rasa sakit dalam hatinya. Tapi sampai detik ini hati itu masih terasa jauh lebih sakit.
Suara lirih pintu terbuka memunculkan sosok Eric di balik pintu itu. Meskipun awalnya Eric tidak menyukai Isabel, tapi dalam kondisi seperti ini, Eric tidak bisa untuk tidak peduli.
Langkah kaki Eric membawanya masuk ke dalam kamar. Kedua matanya melihat nampan berisi makanan yang tidak terjamah. Lalu dilihatnya gadis diatas ranjang dengan tatapan kosong menatap keluar jendela.
Pelan Eric berjalan mendekat ke ranjang. Berdiri dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana. Memerhatikan gadis yang sedang larut dalam kehampaan.
"Sampai kapan kau akan seperti ini?" Suara Eric tidak mengalihkan pandangan Isabel dari jendela.
Eric mengambil mangkok sup lalu duduk di tepi ranjang.
"Makanlah." Eric mengarahkan mangkok itu pada Isabel.
Isabel msih bergeming, membuat Eric menghela napas dan menurunkan mangkok ke pahanya.
"Kuantar kau pulang sekarang," tegas Eric dengan tatapan tajam. Dia meletakkan mangkok di atas nakas lalu berdiri. Dia tidak ingin mengambil resiko kalau Isabel sakit. Lagipula sepertinya Isabel bukan lagi ancaman untuk pernikahan adiknya.
"Tidak!" sahut Isabel cepat. Suaranya terdengar serak karena terlalu lama menangis.
Tidak, Isabel tidak ingin pulang. Dia masih ingat betul seburuk apa sikapnya terakhir kali pada keluarganya. Malu. Mungkin itu lebih tepat untuk mengungkapkan perasaan Isabel terhadap keluarganya. Meski bisa dipastikan keluarganya akan tetap merentangkan tangan untuknya, tapi ego Isabel masih terlalu tinggi untuk di runtuhkan.
Eric mengernyit, mengusap dagunya dengan jari. Dia memerhatikan baik-baik apa yang salah dengan gadis itu.
"Lantas kemana aku harus mengantarmu?" tanya Eric masih dengan ekspresi yang sama.
Mata Isabel bergerak ke kanan dan kiri. Jelas terlihat kalau gadis itu sedang bingung. Dia menunduk menyembunyikan wajah untuk menutupi kebingungannya.
Tangan Eric terlipat di pinggang. Kepalanya menengadah mencoba mengambil keputusan yang tepat. Dia tahu gadis itu masih ingin sendirian. Eric hanya takut jika gadis itu nekat menyakiti dirinya sendiri. Dan Eric tidak ingin hal itu terjadi di tempatnya.
"Untuk sementara tinggalah disini," kata Eric kemudian. Isabel mengangkat wajahnya, setitik binar terlihat di manik biru itu. Setidaknya dia tidak perlu menghadapi keluarganya untuk sementara waktu.
"Dengan syarat," lanjut Eric. Bibir Isabel masih terkatup rapat, menunggu kelanjutan kalimat Eric, "ikuti semua aturanku!" Mata Eric menatap lekat-lekat mata Isabel. "Dan makan! Aku tidak ingin ada yang mati kelaparan di rumahku." Eric mengacungkan telunjuknya pada makanan diatas nakas, yang lebih terdengar seperti perintah.
Isabel meremas selimut yang menutupi kakinya. Tidak ada selera sama sekali untuk menyentuh makanan itu. Tapi... Demi safe house, memaksa sedikit makanan masuk ke mulut rasanya cukup sepadan.
Yang Isabel inginkan saat ini hanyalah sendiri. Dan menurutnya pria tak berhati seperti Eric adalah tipe orang yang tidak suka mencampuri masalah orang lain.
Tentang semua aturannya? Urusan nanti.
***
tbc.