
~Isabel~
Sejak 4 hari lalu aku resmi menyandang nama Michaels di belakang namaku. Dan hari ini aku resmi tinggal bersama dengan suamiku. Aku tidak membawa banyak barang dari rumah orang tuaku. Karena disini aku sudah mendapatkan semua yang aku butuhkan.
Foto pernikahanku dan Eric terpasang rapi di ruang keluarga, menggantikan posisi foto pernikahan Aiden dan Chloe yang telah mereka pindahkan ke rumah baru mereka.
"Kau sangat cantik di foto itu." Kata Eric yang tiba-tiba memeluk pinggangku dan mencium pipiku, saat aku sedang berdiri memandangi foto pernikahan kami.
"Kau juga sangat tampan." Aku balas memujinya.
Kami saling diam dan hanya memandangi foto itu untuk beberapa saat. Sulit dipercaya rasanya kalau sekarang kami sudah menjadi suami istri. Aku tidak pernah menyangka akan menikah di usia semuda ini.
Keesokan harinya aku sudah mulai bekerja lagi. Mike memang kakak yang kejam. Belum genap satu minggu aku menikah, dia sudah menyuruhku masuk kerja.
Eric mengantarku berangkat kerja. Sepanjang jalan menuju Global B Company, mulutku tidak berhenti menggerutu. Aku kesal sekali dengan Mike. Aku yakin dia memiliki maksud terselubung dibalik semua ini.
"Dia hanya terlalu menyayangimu. Dia tidak bisa jauh darimu, Bells." Kata Eric saat mendengarku terus menggerutu.
Omong kosong ! Ya, aku tahu dia sangat menyayangiku. Tapi ini tidak adil ! Dulu waktu dia menikah, dia mengambil cuti satu minggu penuh dan dua minggu untuk bulan madu. Kenapa aku tidak bisa seperti itu ?
"Tapi ini tidak adil !" Aku protes. Aku tidak setuju dengan apa yang dikatakan Eric.
Eric terkekeh sambil mengusap kepalaku. "Selesaikan saja pekerjaanmu dengan cepat dan aku akan menjemputmu."
Eric benar. Aku hanya perlu menyelesaikan pekerjaanku dan pulang cepat.
Hari ini aku juga akan mengajukan cuti untuk bulan madu. Karena aku juga ingin seperti pengantin baru yang lainnya. Menikmati bulan madu di tempat yang romantis.
Aku dan Eric sudah merencanakan untuk bulan madu ke Malibu. Aku suka pantai. Dan Malibu adalah surga bagi para pecinta pantai. Aku sudah tidak sabar untuk menghabiskan waktu berdua bersama Eric disana. Bermain jetski, diving, berselancar, dan bermain pasir.
Di dalam otakku sudah tersusun rapi kegiatan apa yang akan kami lakukan di Malibu nanti. Dan aku sudah menyusun daftar tempat yang akan kukunjungi selama disana.
Namun semua daftar rencana yang aku buat itu seolah diremas dan dilempar ke wajahku saat pengajuan cutiku ditolak.
Aku tidak bisa menerima perlakuan seperti ini. Dengan emosi yang siap meledak di dalam dadaku, aku datang ke lantai tertinggi gedung ini.
Aku tidak peduli pada Jane yang mengatakan padaku kalau Bos-nya sedang ada tamu penting. Ini adalah sebuah ketidak adilan. Di perusahaan ini, setiap karyawan mempunyai hak untuk cuti menikah, bulan madu dan melahirkan. Kenapa pengajuan cuti bulan maduku di tolak ? Aku yakin, kakakku yang super menyebalkan adalah biang keladinya.
Jane terus memanggil namaku saat aku merangsek masuk ke dalam ruang kerja Mike tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Nafasku semakin cepat saat aku melihat wajah Mike yang sedang berbicara dengan tamunya.
Begitu melihat kehadiranku, yang kuakui memang tidak sopan, Mike langsung menyuruh Jane untuk mengantar tamunya keluar.
Persetan dengan tamu penting itu ! Bagiku, urusanku jauh lebih penting dari urusan tamu itu.
"Apa kau tidak tahu cara mengetuk pintu ?"
Aku semakin muak melihat wajah kakakku yang seakan tanpa dosa. Aku berdiri di depan meja kerjanya lalu meletakkan dengan kasar surat pengajuan cutiku yang ditolak di hadapannya.
"Apa maksud semua ini ?"
Mike melihat sekilas kertas itu. Dia tidak tampak terkejut sama sekali. Dan itu semakin membuatku yakin kalau ini adalah ulahnya.
"Duduklah !"
Aku bergeming di tempatku. Aku tidak datang untuk bersantai dan minum kopi. Aku datang untuk menuntut keadilan.
"Aku mempunyai hak untuk cuti bulan madu seperti pegawai lainnya. Aku tahu aturan itu. Kenapa pengajuan cutiku ditolak ?"
Aku bisa melihat Mike tersenyum puas melihatku emosi. Dan aku benci melihat senyum itu.
"Kau berhak. Tapi kau tidak bisa mengajukan 2 cuti panjang dibulan yang sama."
"Aku mengajukan cuti untuk awal bulan depan, bukan bulan ini ! Apa ini bisa dijadikan alasan menolak pengajuanku ?!"
Aku tahu aturan itu. Aku memang membuat surat pengajuan itu sekarang. Tapi tanggal yang aku ambil sudah masuk di bulan berikutnya. Apa alasan itu masuk akal ? Aku yakin ini hanya akal-akalan Mike saja.
Mike menghela nafas. Dia terlihat sangat santai, padahal dia sudah melakukan ketidak adilan padaku.
"Sebaiknya kau fokus mempelajari bisnis dulu. Karena suatu saat nanti, kau akan memegang salah satu perusahaan keluarga kita."
Aku tidak habis pikir, kenapa dia melakukan ini padaku ? Karena alasan yang baru saja dia katakan ? Atau karena dia tidak menyukai pernikahanku ?
Mataku terasa panas. Aku menggertakkan gigi untuk menahan segala umpatan yang ingin keluar dari mulutku. Dia sudah sangat keterlaluan.
Aku maju selangkah, mengambil kertas pengajuan cutiku lalu meremasnya.
"Aku tidak butuh persetujuan darimu ! Aku akan tetap cuti selama satu minggu untuk berbulan madu. Jika kau tidak suka, pecat aku !" Kataku sambil melempar gumpalan kertas yang ada di tanganku ke tempat sampah, lalu aku membalik badan untuk pergi dari ruangan terkutuk itu.
"Kau tidak bisa bertindak seenaknya disini !"
Langkahku terhenti, aku menoleh ke belakang. "Pecat saja aku !" Kataku sebelum kembali melanjutkan langkahku keluar dari sana.
Aku membanting cukup keras pintu ruang CEO, sampai Jane yang duduk dibalik meja kerjanya berjengit karena terkejut. Selain terkejut, kurasa dia juga takut melihatku.
Wajar saja jika dia takut melihatku. Aku adalah satu-satunya pegawai yang berani melabrak pimpinan tertinggi di perusahaan ini. Oh, bukan. Masih ada papa sebagai komisaris. Tapi tetap saja, mempunyai seorang kakak seperti Mike adalah malapetaka tersendiri bagiku.
Aku masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan. Masa bodoh dengan jabatanku yang hanya seorang staf umum. Aku sedang marah. Dan kalau aku marah, aku bukanlah staf umum disini, tetapi putri pemilik perusahaan ini. Notice that !
Aku sendirian di dalam lift itu. Dinding lift yang setiap hari dibersihkan membuatku bisa melihat pantulan diriku disana. Betapa terkejutnya aku saat melihat penampilanku yang ... sungguh mengerikan. Pantas saja Jane melihatku seperti melihat hantu.
Aku tertawa, menertawakan diriku sendiri. Rambutku mengembang seperti Merida dalam film Brave. Di dahiku ada noda hitam, entah karena apa aku juga tidak tahu. Aku benar-benar kacau. Lengkap sudah. Perasaan dan penampilanku sama-sama kacau saat ini.
Aku lupa memberi kabar pada Eric kalau aku lembur. Hingga suamiku itu menungguku terlalu lama.
"Maaf membuatmu menunggu lama. Hari pertama aku masuk kerja, semuanya kacau." Kataku saat menghampiri Eric di lobi.
Eric berdiri lantas menyambutku dengan mencium keningku. "Aku tidak keberatan menunggumu." Katanya.
Sempat terlintas dalam pikiranku, dimana Eric yang beberapa bulan lalu ? Eric yang bermulut tajam dan menyebalkan. Eric yang selalu membuatku ingin menghajarnya. Karena Eric yang sedang menggandeng tanganku menuju ke basement saat ini adalah orang yang sangat jauh berbeda. Dia sangat menyayangiku. Aku bisa merasakannya. Terserah orang lain mengatakan aku budak cinta. Karena disini, akulah yang merasakan betapa besar cinta Eric padaku dan betapa tulus cintaku padanya.
Kami sampai dirumah sudah sangat malam. Aku lelah sekali. Rasanya aku ingin langsung merebahkan tubuhku diatas kasur yang empuk dan tidur hingga besok pagi.
Aku melakukannya. Aku merebahkan tubuh dengan pakaian kerja yang masih melekat di tubuhku. Aku memejamkan mata karena aku sudah sangat mengantuk. Namun Eric mengatakan padaku untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum tidur.
Akhirnya akupun bangkit dan dengan malas berjalan ke kamar mandi.
Ternyata Eric bukan hanya menyuruhku membersihkan diri, tapi dia juga sudah menyiapkan air hangat untuk aku mandi. He's so sweet, right ?! Aku jadi merasa bersalah padanya.
Sebagai seorang istri, harusnya aku yang menyiapkan semua itu untuknya. Tapi apa yang kulakukan sekarang ?
Ini semua karena kakakku yang sangat menyebalkan. Jika dia tidak merusak mood-ku, aku pasti bisa mengerjakan pekerjaanku dengan baik dan pulang tepat waktu. Jadi aku bisa melayani suamiku dengan baik.
Lagipula, kenapa aku harus melakukan semua ini ? Aku yakin Eric mampu menghidupiku dengan layak. Bukankah tanpa bekerja di perusahaan, aku juga akan tetap mendapat bagian saham ?
Aku ini wanita, suatu saat nantipun aku akan kembali ke kodratku untuk mengurus keluarga seperti mama. Kenapa mereka memaksaku menjalani hidup seperti ini ?
Bukankah dengan begini aku jadi tidak bisa belajar menjadi istri yang baik ? Yang selalu bisa melayani suaminya ? Menunggu suami pulang kerja dan menyiapkan segala kebutuhanya ? Bukankah seorang istri harusnya seperti itu ?
"Apa kau sudah selesai, sweetheart ?"
Aku membuka mataku yang terpejam saat mendengar pintu kamar mandi diketuk.
"Ya." Jawabku sambil keluar dari bathtub. Tidak terasa aku berendam cukup lama. Pantas saja Eric sampai mengetuk pintu kamar mandi.
Aku keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe. Aku duduk di depan meja riasku. Aku mulai melakukan ritual perawatan kulit ala kadarnya, karena aku bukan tipe wanita yang memasukkan salon kecantikan ke dalam daftar tempat yang wajib aku datangi secara rutin.
Aku membuka handuk yang melilit kepalaku dan mulai mengeringkannya. Lalu Eric datang. Sekarang dia memiliki hobi baru. Yaitu, membantuku mengeringkan rambut. Dia bilang dia suka mencium aroma shampo dari rambutku.
"Aku akan selalu merindukan aroma ini saat jauh darimu, Bells." Katanya sambil terus menggerakkam hairdryer diatas kepalaku.
"Dan aku akan selalu merindukan caramu mengeringkan rambutku." Kataku sambil terkekeh.
Ini hal sepele, tapi kami sangat menyukainya. Menurutku ini sangat romantis.
"Rasanya, Malibu sudah ada di depan mataku." Kataku sambil melihat pantulan wajah Eric di cermin.
"Mike tidak memberimu cuti. Kau ingat ?"
"Aku tidak peduli ! Dia bisa memecatku kapanpun dia mau."
Eric mematikan hairdryer lalu meletakkannya diatas meja rias. Dia berjongkok disampingku sambil memeluk pinggangku.
"Aku tahu kenapa dia tidak mengizinkan kita berbulan madu." Katanya.
Aku menoleh cepat sambil mengerutkan dahi.
"Dia takut kau hamil. Ingat syarat itu ?"
Aku membulatkan mataku. Eric berdiri lantas membenamkan wajahku ke dadanya.
"Tapi aku tidak hamil ! I got my period." Protesku. Karena aku memang tidak hamil. Bahkan aku sekarang sedang datang bulan.
Eric tertawa mendengar ocehanku. "Lain kali kita bisa menggunakan pengaman." Katanya.
"Pengaman ? Kita sudah menikah, Eric. Untuk apa memakai karet sialan seperti itu ?"
"Untuk memenuhi syarat yang diberikan Mr. Bennings padaku."
Aku kesal setiap kali mendengar Eric mengucapkan kalimat itu. Kenapa dia selalu lemah jika berhadapan dengan janji ?
"Aku benci syarat itu." Kataku. Jujur aku tidak peduli dengan syarat yang diberikan dad. Toh kami sudah menikah. Jika aku hamil, bilang saja kalau itu kecelakaan. Mereka tidak akan tega membunuh bayi yang tidak berdosa, bukan ?! Dan mereka tidak akan tega membiarkan darah dagingnya tumbuh tanpa ayah.
"Or, we can try another way." Eric berbisik nakal padaku.
Aku tertawa. "No ! I've told you, I got my period." Kataku.
Lalu Eric mengangkat tanganku supaya aku berdiri. Dia menatapku penuh maksud sambil menyeringai. Dan dia bertanya, "Ingin mencoba sesuatu yang baru ?"
*
*
*
*
*
tbc.