100 Days

100 Days
Part 70



Audi hitam itu memasuki gerbang bercat hitam yang menjulang tinggi. Dengan kecepatan rendah mobil itu memasuki carport dimana sebuah chevy classic sudah bertengger manis di sana.


Eric memarkirkan mobilnya tepat di sisi chevy itu. Mematikan mesin mobilnya, dia lantas turun lalu membanting pintu mobil dengan keras.


Langkahnya begitu tergesa, dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Mata kelabunya berkilat penuh amarah, rahangnya mengeras dengan bunyi gigi yang saling beradu.


Brak !!


Eric membuka pintu rumahnya dengan kasar. Kedua mata tajamnya memindai seluruh ruangan yang bisa dia jangkau. Dia mendongak, melihat pintu kamarnya yang terbuka padahal dia selalu meninggalkannnya dalam keadaan tertutup.


Nafasnya memburu, seiring dengan langkah lebarnya menaiki anak tangga. Kamar itu adalah tujuannya.


Tiga anak tangga telah dia tapaki sebelum akhirnya langkah itu berhenti karena sebuah panggilan.


"Oh, kau sudah pulang." Suara merdu itu berasal dari arah dapur dengan jalan penghubung di sisi tangga.


Mengurungkan niat menuju lantai atas, Eric memutar tubuhnya menuju dapur dimana seorang wanita cantik dengan iris coklat sedang menatapnya sambil tersenyum manis. Elena Dianne Alejandro.



"Moqueca !" Elena mengangkat sebuah pinggan berisi oalahan udang dan santan dengan taburan daun bawang diatasnya.


Dulu, Eric akan langsung melahap  apapun yang dimasak Elena untuknya. Tapi sekarang, Eric ingin menyiram apapun itu yang dimasak Elena ke wajah memuakkan yang sedang tersenyum sangat manis di hadapannya itu.


"Agak larut." Elena melirik jam yang menempel di dinding yang menunjukkan hampir pukul 10 malam. "It's okay. Kita makan malam sekarang." Elena tersenyum penuh semangat, membawa masakannya ke meja makan.


Makan malam ? Eric sama sekali tidak tertarik.


Begitu Elena meletakkan masakannya di atas meja, Eric melangkah cepat mendekat. Dengan satu tangan, Eric mengapit kasar wajah Elena dengan telapak tangannya.


"Keluar dari rumahku !" Desis Eric. Matanya menyorot tajam memberi ancaman.


Elena tersenyum, tidak peduli rasa sakit akibat tangan Eric di wajahnya. "Kita makan malam dulu." Katanya tanpa rasa takut sedikitpun.


"Dengar, b*tch ! Pergilah dari hadapanku atau aku akan mengusirmu jauh lebih kasar dari ini." Setiap kata yang diucapkan Eric penuh penekanan. Dia sangat serius dengan ancamannya.


Eric melepaskan apitannya dengan kasar hingga Elena terhuyung ke belakang. Lalu dia berbalik, meninggalkan Elena yang masih berdiri di tempatnya.


"Kau tidak mau makan malam dulu denganku ?" Elena setengah berteriak pada Eric yang sudah sampai di pertengahan tangga pura-pura tidak mendengar suara Elena.


Elena tersenyum sinis, dia memilin ujung rambutnya sambil terus menatap punggung Eric yang kian menghilang.


"Aku pastikan kau akan merangkak kembali padaku, Eric Joseph Michaels." Gumamnya.


Di dalam kamar, Eric melihat tas jinjing Elena tergeletak diatas kasurnya. Wanita itu benar-benar sudah keterlaluan.


Eric berjalan mendekat ke arah kasur, mengambil tas kulit buaya berwarna tosca dari sana.


Salah kalau kalian mengira Eric penasaran dengan isi di dalamnya. Karena setelah tas itu ada di tangannya, Eric keluar kamar dan melempar tas itu dari lantai dua.


Terdengar langkah tergesa seseorang di lantai bawah.


Sesaat kemudian, "ERIIIC...!!! KAU MENGHANCURKAN ISI TASKU...!!!" Lengkingan suara Elena memenuhi seluruh bangunan berlantai dua itu.


*****


Clayton's Coffee shop


Alice menatap dengan seksama gadis yang sedang duduk di sampingnya. Ada yang tidak beres. Alice memindai dari atas sampai bawah, depan hingga belakang. Yang terakhir, Alice menempelkan punggung tangannya di dahi sahabatnya itu.


"Tidak demam." Gumam Alice.


Isabel menepis tangan Alice dari dahinya. Tapi satu tangan dan kedua matanya tetap fokus pada layar ponsel.


"Ini pertama kalinya sejak kau kembali. Kau begitu asyik dengan ponselmu." Kata Alice.


Memang ini adalah pertama kalinya Isabel membawa ponsel sejak gadis itu kembali. Sebelumnya, dia sama sekali tidak tertarik dengan benda pipih itu, karena pasti rasanya hambar. Tidak ada hal yang menarik darinya.


Kalau sebelumnya, dia akan selalu menunggu pesan dan telepon dari Aiden.


Sejak Eric menyita ponselnya saat di safe house, Isabel jadi tidak bergantung dengan benda itu.


Kalaupun dia pegang ponsel, untuk apa juga ?! Tidak ada orang yang dia tunggu untuk menghubungi.


Lain lagi dengan sekarang. Isabel senyum-senyum sendiri dengan jari yang sibuk bekerja membalas setiap pesan yang dikirimkan oleh Eric.


"BELLS...!!!" Akhirnya Alice menjeritkan nama sahabatnya itu.


"Apa ?" Sahut Isabel dengan santainya. Hanya melirik sebentar sebelum kembali fokus pada layar ponsel.


"Hallo ! Anybody here ?" Alice melambaikan tangannya di depan wajah Isabel dengan gemas.


Setelah selesai membalas pesan, Isabel memasukkan ponselnya dalam tas. Dia menoleh santai pada Alice.


"Ada apa ?" Tanyanya dengan ekspresi yang membuat Alice ingin sekali mengubur diri dalam pasir.


"Tell me !" Alice melipat tangan di perut sambil menyipitkan mata. Dia tahu ada yang tidak beres dengan Isabel.


Alice mengurai tangannya, mengerutkan kening menatap benda yang melingkar di pergelangan tangan Isabel.


"Cantik sekali." Ucap Alice jujur. Dia meraih tangan Isabel lalu menelitinya. "Dimana kau membelinya ?"


Isabel menggeleng. Tapi senyumnya tidak pudar. "Eric memberikannya padaku."


Jawaban Isabel membuat Alice membulatkan bibirnya. "Aku tahu sesuatu telah terjadi." Kedua mata Alice melengkung, meminta penjelasan.


"Kemarin kami.....berkencan." Alice berjingkat, mengerjap-ngerjapkan matanya persis seperti boneka bayi yang kelopak matanya bisa bergerak hanya karena digoyangkan.


"Apa kalian....?" Sengaja Alice menggantung kalimatnya.


"Tidak, Alice." Sahut Isabel, mengerti kemana arah ucapan sahabatnya itu. "Hanya pergi ke pantai dan makan malam."


"Aaa....." Tiba-tiba Alice berteriak yang membuat pengunjung coffee shop yang lain menoleh padanya. "Aku yakin sebentar lagi dia akan mengatakannya." Kata Alice dengan suara lantang tanpa mempedulikan tatapan aneh pengunjung lain.


"Kau membuat orang-orang disini memperhatikan kita." Isabel membungkam mulut Alice.


"Aku tidak peduli." Kata Alice setelah Isabel melepaskan bekapannya. "Aku tahu akhirnya akan seperti ini. Itu bagus, Bells. Sudah saatnya kau mengisi hatimu dengan pria lain."  Cerocos Alice.


Isabel menyandarkan tubuhnya pada kursi. Wajahnya berubah muram. "Aku tidak tahu, Alice."


"Come on, Bells ! Eric itu sangat tampan, dia juga mapan. Apa lagi yang kau cari ?"


"Aku....tidak yakin dia masih sendiri. Dengan kriteria yang kau sebutkan tadi...kau pikir saja sendiri. Bahkan semua pegawai wanita di Willow Spring sangat memujanya." Isabel mengaduk kopinya tanpa niat meminum cairan pekat itu.


"Betul juga." Alice menimbang-nimbang sambil menggigit ujung telunjuknya. "Tapi kalau dia tidak menyukaimu, kenapa dia mengajakmu berkencan ?"


Isabel mengedikkan bahu. Ingatannya kembali pada saat Eric menolak mengakui kalau dia datang untuk mengajaknya berkencan lalu pada box hitam yang berisi barang miliknya.


"Dia mengembalikan ponsel dan movie playerku." Jawab Isabel lesu.


"Apa dia tidak mengatakan sesuatu tentang perasaannya ?"


Isabel mengingat-ingat lagi. Kemarin Eric memang bersikap sangat manis. Tapi dia tidak mengatakan apapun tentang perasaannya terhadap Isabel. Kecuali dia yang bilang tentang nyaman dengan keanehan kencan mereka. Apa itu termasuk dalam pernyataan cinta ? Rasanya tidak.


Jawaban akhirnya adalah gelengan kepala. Bahkan sampai pulang pun, Eric tidak mengatakan apa-apa. Mungkin pemikiran Isabel benar, bahwa Eric sudah punya kekasih.


"Tapi dia memberimu hadiah." Alice menunjuk gelang Isabel dengan matanya.


"Ini....kurasa hanya karena dia merasa bersalah aku sudah mengira box berisi ponsel dan movie playerku adalah hadiah darinya."


Alice menyesap kopinya lalu meletakkannya kembali.


"Sekarang aku tanya padamu." Alice menatap serius pada Isabel. "Apa kau menyukainya ?"


Diam sesaat, Isabel mencoba memahami hatinya. Apa benar dia menyukai Eric ? Sekedar berkencan rasanya masih masuk akal. Tapi untuk menyukai pria itu....apa tidak terlalu cepat ?


Saat mengingat bagaimana reaksi Aiden waktu dia mengatakan menyukai Eric saja masih terasa menyakitkan. Apa jadinya kalau Isabel benar-benar menyukai Eric ?


Apa iya perasaannya begeser secepat itu ? Kalau iya, itu artinya memang perasaannya terhadap Aiden tidak sekuat yang dia kira.


Tapi....


Isabel tersenyum mengingat sikap dan kata-kata manis Eric kemarin. Bahkan pria yang berkencan dengannya kemarin sama sekali tidak seperti Eric yang selama ini dia kenal.


Bagaimana jantungnya yang bertingkah berlebihan hanya karena kata-kata atau sikap Eric. Hh...bahkan hanya menatap wajah Eric yang memantulkan cahaya langit senja saja membuat jantungnya ingin melompat dari lantai 50.


Apakah itu yang dinamakan suka ? Atau cinta ?


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Up sore yes.


Untung yang dilempar bang Eric cuman tas kulit buaya, coba kalo si buaya betinanya. Habisnya masuk rumah orang tanpa ijin sih. Masak seenak jidat, pake singgah di kamar pula. Kan kurang ajar !


Apa kira-kira kata hati Isabel tentang perasaannya terhadap Eric ? Apa mereka bakal cepet jadian ? Trus apa kabar Elena yang ngotot pengen bang Eric balik sama dia ?


Untuk dua hari kedepan aku tidak bisa up part baru (banyak pekerjaan di dunia nyata yang menyita waktu 😁)


See you next part, Love.