100 Days

100 Days
Part 37



Makan siang kali ini menjadi acara makan paling hidup bagi Isabel dan Eric untuk pertama kalinya. Eric yang biasanya tidak memedulikan Isabel, kali ini sedikit banyak mulai membuka diri. Kemajuan yang bagus, bukan?


Meskipun tidak banyak percakapan yang terjadi, setidaknya wajah Eric tidak sekaku biasanya. Senyum Eric yang sangat mahal itu juga sedikit di obral hari ini.


Sebenarnya wajah Eric itu tampan, jika saja dia mau menghiasinya dengan senyum. Namun karena selama ini Eric selalu menunjukkan wajah galaknya, ketampanannya itu jadi kalah dengan aura gelap yang terpancar dari wajah itu.


Selesai makan, keduanya masih berada di meja makan. Eric melipat tangannya di atas meja. Dia melempar pandangannya pada Isabel yang sedang memasukkan alat makan ke dalam mesin pencuci piring.


Tangan kanan Eric merogoh saku celananya. Sebuah ponsel dia letakkan di atas meja sambil menunggu Isabel selesai dengan pekerjaannya.


Saat Isabel membalikkan badan, kedua matanya menangkap benda yang ada di atas meja itu.


"Oh, not again," keluhnya sambil memutar bola mata. Dia meletakkan lap yang dia pegang dengan cara sedikit membantingnya di meja pantry.


Gadis itu menarik kursi dengan sedikit kasar lalu menghentakkan pantatnya di sana. Dia menatap tajam pada Eric yang terlihat duduk bersandar dengan santai.


"Kenapa kau harus merusak mood-ku, Eric?" tanyanya dingin.


Eric mencoba mencerna ekspresi gadis itu. "Apa?" Dia balik bertanya tanpa merasa bersalah.


Isabel membuang napas kasar. "Bukankah tadi aku sudah bilang kalau aku tidak mau mengambilnya?"


Eric tersenyum miring. "Apa baru saja aku menyuruhmu mengambilnya?"


Okay, Isabel benar-benar marah sekarang. Gadis itu merapatkan giginya. Tangannya di bawah meja mengepal kuat. Ingin rasanya meninju wajah Eric.


Isabel menggeram frustasi. "Terserah!" kata gadis itu lantas beranjak meninggalkan meja makan.


Eric masih diam ditempat duduknya. Menatap ponsel berwarna hitam itu sambil melipat bibir. Jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme pelan.


"Kau yakin tidak mau mengambilnya?" Suara Eric terdengar sedikit berteriak karena sekarang Isabel sudah berada di ruang tamu.


Isabel tidak menjawab. Dia menyalakan televisi lalu mengganti channel secara acak dan terus menerus.


Eric meraih ponsel itu lalu bangkit dari duduknya. Dia menyusul Isabel ke ruang tamu.


"Katakan alasannya," kata Eric yang masih berdiri di ujung sofa.


Tatapan tajam langsung dia dapatkan dari Isabel. Gadis itu menelan ludah lalu menarik napas dalam. Tak lama setelah itu dia menaikkan satu alisnya dan memicing pada Eric. "Sejak kapan kau tertarik mengurusi masalahku?"


Eric duduk tak jauh dari Isabel. Dia menatap serius gadis itu. "Dengar. Aku melakukan ini karena--"


"Karena adikmu!" potong Isabel. Dia bosan mendengar Eric mengatakan kalau dia melakukan sesuatu karena adiknya.


"C'mon, Eric! Apa belum cukup semua rasa sakit yang aku rasakan? Aku sedang berusaha melupakan semuanya. Ini tidak mudah, Eric! Rasa sakit ini masih menyiksaku. Saat aku sendirian, orang yang pertama kali muncul di pikiranku adalah Aiden. Saat aku merasa rapuh, suara Aiden dengan semua kalimat penenangnya yang selalu memenuhi otakku. Aku masih mencintainya, Eric. Aku sangat merindukannya. Aku ingin memeluknya. Aku sangat mencintainya, Eric!" Isabel terengah-engah dengan suara parau. Tangisan Isabel pun pecah. Dia menyugar rambutnya kasar. Rasanya sudah lama dia tidak meluapkan isi hati seperti ini.


Isabel menunduk. Kedua sikunya bertumpu pada lutut dan tanganya meremas rambut dengan frustasi. Isakan tangisnya semakin terdengar pilu.


Eric mendekat lalu memeluk gadis itu. Dia diam, membiarkan air mata Isabel membasahi kemejanya. Rasa iba memenuhi hati Eric. Ini aneh, Eric tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Apa yang diutarakan Isabel tadi mampu menyentil hatinya.


Rasa bersalah mulai menghinggapi hati Eric. Dia merasa dirinya terlalu kejam pada Isabel. Kenyataannya, gadis itu memang hancur karena pernikahan adiknya dengan Aiden. Dan saat ini dia bisa melihat seberapa dalam luka yang dirasakan gadis itu.


Apa yang dikatakan Jordan memang benar. Eric harus menghargai upaya Isabel untuk merelakan semua yang terjadi padanya.


Eric merasa dibutakan oleh amarah. Kini dia tahu kenapa Chloe selalu memaafkan dan bersikap baik pada Isabel. Karena memang gadis itu hanyalah korban. Semua yang dilakukan Isabel memunyai alasan. Alasan yang membutakan gadis itu. Hampir sama dengan Eric, hanya saja yang membutakan Isabel adalah rasa sakitnya.


Tangan Eric bergerak mengelus lembut punggung Isabel yang bergetar. Dia berjanji mulai sekarang akan bersikap baik pada Isabel.


Eric tersenyum getir mengingat betapa angkuhnya dia selama ini. "Maafkan aku," batin Eric.


"Eric," Suara lirih Isabel terdengar. Isakan tangisnya pun berhenti. Gadis itu menatap lekat pria yang memeluknya saat ini.


Wajah yang basah karena air mata itu membuat rasa iba Eric semakin besar. Dia diam menunggu kalimat lanjutan dari Isabel.


"Hancurkan benda itu," kata Isabel dengan suara bindeng. Kedua matanya yang menyipit karena terlalu lama menangis menyorot penuh kesedihan.


Eric mengangkat alis. Hancurkan? Sebegitu besarkah niat Isabel untuk move on? Itu bagus. Tapi, memghancurkan ponsel itu, apa tidak berlebihan?


"Bagaimana kalau aku menghapus datanya saja?" tawar Eric. Dia pikir Isabel terlalu berlebihan.


Isabel menjauhkan tubuhnya dari Eric, membuat pria itu melepaskan pelukannya.


"Hancurkan benda sialan itu, Eric! Atau aku akan terus terjebak dalam kenanganku bersamanya," kata Isabel dengan suara meninggi. Satu detik kemudian wajahnya kembali sendu. "Ponsel itu hadiah darinya. Aku tidak bisa menyimpannya lagi," ucapnya lirih. Terdengar sebuah keputus asaan dalam suara itu.


Eric mengangguk. Dia mengerti sekarang. "Aku akan melakukannya."


"Terima kasih." Isabel menghamburkan dirinya memeluk Eric. Isabel merasa nyaman dalam pelukan pria itu. Mungkin karena dia merindukan kakaknya.


"Aku akan melakukannya," ucap Eric sekali lagi sambil membalas pelukan Isabel.


***


tbc.


Part ini sedikit banget ya ?


Biarpun sedikit, yang penting Eric udah nggak jahat lagi sama Isabel.


See you next part, Love.