
Langkah kaki Isabel terseok-seok seiring dengan kuatnya tarikan tangan Mike sejak turun dari mobil.
Ini pertama kalinya Isabel menginjakkan kaki di rumah keluarga Bennings sejak dua bulan lalu dia meninggalkannya.
Iris biru Isabel bergerak liar memindai setiap sudut bangunan mewah itu. Masih sama seperti terakhir kali dia melihatnya.
Dengan langkah lebar Mike menyeret Isabel ke lantai dua dimana kamarnya berada.
"Duduk !" Perintah Mike dengan wajah merah padam menahan amarah yang rasanya sudah hampir meledak.
Mike menyentak tubuh Isabel agar duduk di tepi ranjang. Dia berjalan kembali ke arah pintu lalu menguncinya dari dalam.
Masih berdiri menghadap pintu, Mike menunduk dengan tangan terlipat di pinggang. Beberapa kali dia harus menghela nafas agar emosinya tidak meledak.
Mike tidak habis pikir, bagaimana adiknya bisa tinggal dengan seorang pria asing dalam satu atap selama ini ? Adiknya benar-benar bodoh ! Kedua orang tua mereka pasti akan sangat kecewa jika mengetahuinya.
Bayangan hal yang tidak-tidak terus membayangi pikiran Mike. Selama ini dia dan papanya selalu berusaha menjaga dan melindungi Isabel dari laki-laki yang ingin mengambil keuntungan dari adiknya. Tapi, dua bulan terakhir adiknya malah hidup satu atap dengan seorang pria. Apa saja bisa terjadi diantara mereka, bukan ?!
Selama ini dia selalu membatasi hubungan adiknya dengan Aiden agar tidak melewati batas. Lepas dari Aiden, adiknya malah berani bertindak senekat itu.
Mike menggeleng kepalanya lemah. Dia merasa gagal melindungi adiknya.
Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Mike. Dia memijit pangkal hidung untuk meredakan pening di kepalanya sebelum berbalik menghadap Isabel yang duduk menunduk dengan wajah pucat.
Di telinga Isabel, langkah pelan Mike saat mendekatinya terdengar seperti langkah seorang psikopat yang akan memulai eksekusi terhadap korbannya.
Isabel menggigit bibir. Dia takut. Untuk mengangkat wajah saja terasa sangat berat.
Pikirannya diingatkan kembali dengan adegan beberapa waktu lalu. Mike menghadiahkan satu bogem mentah di wajah Eric. Satu pukulan saja mungkin tidak akan terasa bagi Eric. Tapi melihat Eric meringis menahan sakit saat lengannya yang terluka membentur meja akibat pukulan Mike membuat Isabel khawatir.
Isabel ingin membantu Eric, setidaknya melindungi Eric dari amarah kakaknya. Tapi teriakan Mike membuat nyalinya menciut. Dan dia hanya bisa berdiri kaku sambil menangis melihat Mike mengancam Eric yang masih meringis dengan wajah merah sambil memegangi lengannya.
Dan sekarang giliran dirinya yang harus menghadapi amarah Mike. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain diam dan menunduk. Tidak ada yang bisa melindunginya kali ini. Wajah Mike terlihat sepertu hulk yang siap mengamuk.
Langkah Mike berhenti tepat di depan Isabel. Isabel benci jantungnya yang terus menghentak rongga dadanya dengan kuat. Rasanya sangat sakit.
"Katakan ! Apa yang dia janjikan sehingga kau bersedia tinggal berdua dengannya ?!" Mike mendesis dengan nada rendah tapi sangat mengintimidasi.
Pandangan Isabel buram. Air matanya tumpah saat dia mengerjap. Bibirnya yang bergetar terasa kaku untuk digerakkan. Dan akhirnya hanya gelengan kepala yang bisa dia lakukan.
Mike menghela nafas lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Kali ini adiknya sudah sangat keterlaluan.
"Katakan padaku, sudah sejauh mana hubungan kalian !" Bentak Mike.
Isabel semakin sesenggukan. Dia belum pernah melihat Mike semarah ini padanya.
Bukan. Mike bukan marah, tapi kecewa. Kecewa dengan sikap Isabel. Kecewa dengan dirinya sendiri yang gagal mendidik Isabel.
Mike menyugar rambutnya dengan kasar. Haruskah dia mengatakan semua ini pada papanya ? Isabel sudah terlalu jauh keluar batas.
"Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu." Mike menelan ludah, nada bicaranya melemah. "Apa kau sudah menyerahkan dirimu padanya ?" Tanya Mike putus asa.
Pertanyaan itu menohok relung hati Isabel. Wajah sembabnya dia angkat, melihat kakaknya yang tampak sangat kecewa terhadapnya.
Isabel menggeleng dengan yakin. "Aku tidak serendah itu." Suaranya terdengar parau. "Aku tahu aku salah. Tapi aku masih memegang prinsip keluarga kita." Sangkal Isabel.
Mike menggeleng lemah. "Dua orang berbeda gender tinggal satu atap selama dua bulan, dengan kondisimu yang sedang labil ? Bells, apapun bisa terjadi."
Isabel bangkit. Dia mengusap air matanya dan menatap nanar pada Mike. "Kami hanya berteman dan tidak ada apapun yang terjadi diantara kami." Jelas Isabel. "Dia tidak seperti yang kau pikirkan. Saat aku merasa tidak ada orang yang peduli padaku, dia memberiku tempat untuk menenangkan diri." Isabel menelan ludah kasar. Dia harus meluruskan permasalahan. Tapi bagi Mike, dia terdengar sedang membela Eric.
Meskipun awal perkenalannya dengan Eric sangat buruk, tapi apa yang dikatakan Isabel adalah benar. Eric membiarkannya tinggal disana untuk menenangkan diri.
"Dia orang baik. Dan aku berhutang nyawa padanya. Dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku." Lanjut Isabel dengan suara tergugu.
"Kau bisa melakukan tes padaku jika tidak mempercayaiku." Ucap Isabel lemah. Dia tidak tahu lagi harus dengan cara apa meyakinkan kakaknya jika dirinya masih bisa menjaga diri.
Isabel kembali duduk dengan lesu. Air matanya tak kunjung surut. Jika Mike tidak juga mempercayai ucapannya, dia bisa apa ?
Mike duduk di tepi ranjang. Dia memperhatikan Isabel dengan seksama. Gadis kecilnya sekarang sudah dewasa. Bukan maksud Mike tidak mempercayai adiknya, tapi...tinggal bersama dengan seorang pria.....Mike takut pria itu hanya ingin memanfaatkan adiknya.
Setelah diam beberapa saat, Mike menarik tubuh Isabel dalam pelukannya. Dia biarkan Isabel terisak hingga membuat kemejanya basah.
"Jangan bertemu dengannya lagi." Ucap Mike sambil mengusap punggung adiknya.
Bukan masalah bagi Isabel untuk tidak menemui Eric lagi. Hanya saja, Isabel masih tidak terima dengan pendapat buruk Mike tentang Eric. Walau bagaimanapun, Eric bukanlah pria berengsek seperti yang dituduhkan Mike.
Mike melepaskan pelukannya. Memegang bahu Isabel, menatap lekat pada adiknya. "Aku akan melakukan yang terbaik untukmu." Kata Mike.
Wajah Isabel mengkerut. Apa maksud ucapan Mike ?
"Kau salah paham. Aku dan dia tidak terikat hubungan apapun. Kami hanya berteman. Tidak masalah aku tidak bertemu dengannya lagi. Tapi tolong percayalah padaku."
Mike menghela nafas. Dia memutar tubuhnya, mengalihkan pandangan dari Isabel. Bukannya tidak ingin percaya. Tapi apa yang dilakukan Isabel tidak bisa dibenarkan. Dalam keluarganya, hal itu dianggap sangat tidak terpuji. Apalagi adiknya adalah seorang gadis.
"Bersihkan dirimu. Setelah itu temui mom di kamarnya." Mike beranjak. Dia tidak ingin mendengarkan alasan Isabel lagi. Dia tidak ingin amarahnya yang sudah mereda kembali membuncah.
"Harus dengan cara apa lagi aku menjelaskannya ?" Isabel setengah berteriak pada Mike yang sedang memutar anak kunci.
"Lanjutkan studimu. Mulai sekarang akan ada bodyguard yang mengawalmu." Mike menoleh sekilas sebelum membuka pintu dan menghilang di balik pintu itu.
"Aarggh...!!!"
Isabel melempar bantal ke lantai. Dia ingin berteriak sekeras-kerasnya. Bodyguard ? Itu mimpi buruk. Sangat sangat buruk !
"Eric..." Gumam Isabel. Bagaimana dengan kondisi Eric ? Apakah lukanya robek lagi ? Apakah dia marah ? Kenapa dia tidak membela diri ? Kenapa dia diam saja saat Mike menuduh dan mengancamnya ?
Kepala Isabel dipenuhi pertanyaan tentang Eric. Isabel khawatir dengan keadaan pria itu. Tapi dia tidak bisa apa-apa. Dia pergi dari Willow Spring hanya dengan pakaian yang melekat di tubuhnya. Ponsel dan movie player nya juga tertinggal disana.
Isabel terus memutar otak bagaimana caranya dia bisa menghubungi Eric. Dia harus meminta maaf atas perlakuan kasar Mike padanya.
Satu hal yang pasti. Bodyguard suruhan Mike pasti akan sangat merepotkan.
*****
Di ruang kerja, Eric sedang duduk di sofa dengan segelas wine ditangannya. Sudut bibirnya robek, luka di lengannya juga berdarah lagi. Tapi itu tidak seberapa. Ada hal yang lebih menyita perhatiannya saat ini.
Eric menyesap wine ditangannya sedikit. Merasakan cairan merah itu melewati tenggorokannya.
Dia tersenyum tipis mengingat kejadian yang baru saja menimpanya. Melihat Mike menatapnya dengan tatapan membunuh, mengingatkannya pada dirinya sendiri.
Eric tidak marah. Sebagai laki-laki yang mempunyai adik perempuan, dia mengerti dengan tindakan Mike. Dia pernah berada di posisi Mike sebelumnya.
Ternyata Isabel mempunyai kakak yang sangat protektif. Sekali lihat saja Eric tahu kalau kemarahan Mike adalah bentuk cintanya terhadap Isabel.
Eric mengusap sudut bibirnya yang luka. Dia masih terngiang dengan ucapan Mike setelah menjatuhkan pukulan diwajahnya.
Mike mengira Isabel dan dirinya sudah berhubungan terlalu jauh. Eric mendengus kecil, bibirnya tak henti menampilkan senyum tipis.
Eric tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan saat ini. Kenapa dia merasa senang saat Mike mengira dia mempunyai hubungan spesial dengan Isabel ?
Apa pukulan Mike membuat otaknya bergeser ?
"Aku tidak melakukan apapun padanya. Aku hanya.....menciumnya." Gumam Eric dengan seringai tipis di bibirnya.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Kena pukul juga kan akhirnya. Tapi kok bang Eric malah seneng ya. Biasanya kan dia suka gampang marah. Trus ngapain juga senyum-senyum sendiri gitu ?!
Isabel harus say goodbye pada kebebasan deh setelah ini. Kayak anak sultan dong ya kemana-mana dikawal bodyguard, hehehe
Jangan lupa like dan vomment ya dears !
See you next part, Love.