100 Days

100 Days
With No Condition



~Isabel~


Aku terbangun saat merasakan sesuatu menindih perutku. Dan saat aku bergerak, kepalaku membentur sesuatu. Kedua mataku langsung membelalak saat aku berpaling ke belakang. Hal pertama yang aku lihat adalah dada telanjang seseorang. Dan ketika aku mengangkat wajahku, aku melihat Eric yang masih terlelap sambil memeluku. Ingatan tentang apa yang kami lakukan semalam langsung menyergap kepalaku.


Aku tersenyum kecil lalu mencari kenyamanan dalam dada Eric. Aku memeluk pinggangnya dengan posesif. Aku tidak ingin kehilangan dia. Sekeras apapun aku membentengi diri untuk menahan cintaku padanya, nyatanya aku tidak pernah bisa menghilangkan perasaan itu dari dalam hatiku. Aku masih sangat mencintainya.


"Mencari kehangatan, hm?" Suara serak khas orang bangun tidur membutku mengangkat wajah. Rupanya dia terbangun karena gerakanku. Hal itu tidak dia sia-siakan untuk meraih bibirku dan mengecupnya singkat.


"Maafkan aku, Bells. Aku tidak bisa menahan diri. Aku sangat merindukanmu," katanya.


Aku kembali menyerukkan wajahku di dadanya sambil mengeratkan pelukanku. "Aku juga sangat merindukanmu." Kupejamkan mataku dan menghirup sisa feromon dari tubuh Eric. Ini sangat memabukkan, masih sama seperti dulu. Dan aku menyukainya.


Dia menciumi kepalaku dengan sayang. Lalu dia semakin menarik tubuhku mendekat padanya. "Tidurlah, aku tahu kau lelah," bisiknya.


Aku tertawa kecil lalu memukul punggungnya pelan. Memangnya siapa yang membuatku kelelahan? Dan aku pun kembali menyamankan diriku dalam pelukannya.


Aku kembali terlelap hingga berjam-jam kemudian. Aroma makanan yang sedap menyeruduk hidungku hingga membuatku terbangun. Dengan mata masih terpejam, aku meregangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku. Sudah lama aku tidak melakukan olahraga malam, dan kini tubuhku rasanya seperti diikat dengan tali tambang. Kuambil bantal yang bisa kugapai lalu memeluknya sambil tersenyum mengingat malam panas kami. Dia masih setangguh dulu. Kupeluk bantalku semakin erat dan aku tidak bisa berhenti tersenyum. Rasanya aku enggan meninggalkan tempat tidur karena aku takut dengan kenyataan bahwa kami tidak akan bisa bersama lagi. Tapi aroma makanan itu semakin menusuk hidung, membuat lambungku menggeliat dan bersuara gaduh. Kupaksa mataku untuk terbuka. Aku terkejut saat melihat Eric duduk di tepi ranjang sambil memperhatikanku.


"Kau sudah puas tersenyum sendirian tanpa mengajakku?" Eric menyeringai jahil.


Aku mendudukkan tubuhku. Ah, sial! Aku lupa kalau tubuhku masih polos tanpa apapun. Segera kutarik selimut untuk menutupi tubuhku hingga dada. "Jangan melihatku seperti itu!" sergahku saat melihat Eric tersenyum penuh maksud. Dia hanya melipat bibir menahan senyum sambil mengarahkan pandangannya ke bawah dimana dia memangku sebuah nampan berisi makanan.


"Sejak kapan kau disini?" tanyaku ketus.


"Sejak semalam saat kita--"


"Stop!" potongku. Aku tahu apa yang ingin dia katakan. "Maksudku, sejak kapan kau duduk disini saat aku masih tertidur?"


Dia tertawa kecil. "Sejak kau menggeliat lalu memeluk bantal sambil tersenyum membayangkan apa yang telah kita lakukan semalam," jawabnya dengan senyum menjengkelkan yang sangat kurindukan. Seolah dia tahu apa yang kupikirkan, meski kenyataannya memang seperti itu yang ada di kepalaku.


"Kau menyebalkan!" Aku melilitkan selimut ke tubuhku lantas beringsut mendekat pada Eric.


"Makanlah. Kau bisa memelukku lagi nanti. Tapi sekarang kau harus mengisi perutmu untuk memulihkan tenaga," katanya.


"Sebenarnya aku ingin menghajarmu, tapi perutku sangat lapar." Aku mau mengambil alih nampan itu, tapi Eric menjauhkannya. Aku mengernyit. Bukankah makanan itu untukku?


"Aku akan menyuapimu," katanya. Lagi-lagi dia membuatku tersipu. Aku merasa seperti remaja yang sedang jatuh cinta saat ini.


Aku menurut. Dia menyuapiku dengan telaten. Aku suka caranya memperlakukanku seperti ini. Membuatku merasa sangat dicintai.


"Kau sudah makan?" tanyaku.


"Tentu sudah. Aku bisa mati kelaparan jika tidak makan lebih dulu. Kau menguras habis tenagaku, Bells."


Aku menyesal telah menanyakannya. Aku memutar mata, membuat ekspresi bosan.


Dia tertawa. "Lihatlah sekarang jam berapa. Kau tidur terlalu pulas, aku tidak tega membangunkanmu," katanya lagi.


Aku melihat jam dinding yang ada di kamarku. Oh my God! Aku menggeleng sambil menutup wajahku dengan tangan. Dia menertawakanku lagi. Aku membuka tanganku dan menatapnya melas. "Kenapa tidak membangunkanku? Ini sudah sore, Eric," keluhku.


"Aku suka melihatmu tertidur. Wajahmu terlihat begitu damai. Dan aku sangat merindukan wajah itu. Kau tahu, Bells? Dulu aku hanya bisa memandang dan mengusap wajahmu di dalam layar. Disaat ada kesempatan untuk melakukannya secara langsung, aku tidak ingin berhenti melakukannya. Memandangi dan mengelus wajahmu."


Mataku terasa panas. Aku membayangkan betapa menderitanya dia dulu. Dan rasanya aku tidak sanggup menghabiskan makananku. Dadaku terasa sesak, aku tidak akan bisa menelan makanan. Aku bergerak maju dan memeluknya. "Maafkan aku, Eric. Harusnya aku jujur padamu sejak awal," kataku. Dia meletakkan nampan diatas nakas dan balas memelukku.


Setelah beberapa saat, dia menjauhkan tubuhku darinya. Dia menangkup kedua sisi wajahku dengan tangannya. Kedua matanya menatap lekat padaku. "Semua sakit itu sudah berakhir, Bells. Kita sudah memulai semua dari awal. Jangan menyalahkan dirimu sendiri."


"Ya, memulai semua dari awal. Sebagai teman," timpalku. Aku menunduk. Tiba-tiba perasaan getir memenuhi hatiku. Kami tidak akan bisa seperti dulu lagi. Sekarang semua sudah berbeda. Meski kami saling mencintai, tapi aku sadar jurang pemisah diantara kami terlalu dalam.


Dia menarikku ke dalam pelukannya. Mengusap lembut punggungku dan sesekali mencium kepalaku.


"Aku sangat mencintaimu, Bells. Meski kita tidak bisa bersama, aku akan selalu mencintaimu," bisiknya.


"So do I," balasku lirih. Air mataku kembali menetes mengingat hubungan kami yang menemui jalan buntu. Keluargaku tidak akan memberi kesempatan pada Eric lagi setelah semua yang terjadi.


"Bagaimana kalau kau segera membersihkan dirimu dan kita pergi menonton?" usul Eric.


Dia terkekeh. "Baiklah. Lagipula aku tidak punya uang untuk mengajakmu kencan di tempat mewah. Aku hanya bisa mentraktirmu popcorn dan soda."


"Aku suka popcorn dan soda," balasku. Aku sudah tahu kalau dia menjual semua aset yang dia miliki, yang mengingatkannya padaku. Aku tidak pernah menyangka bahwa dia akan melakukan hal seekstrim itu hanya untuk bisa melanjutkan hidup. Disini aku merasa penderitaanku sama sekali tidak sebanding dengannya. Dia jauh lebih sakit dariku. Dan itu membuatku semakin mencintainya. Aku ingin memberikan cinta dan kasih sayangku padanya selama aku masih bisa melakukannya. Sebelum keluargaku mengetahui hubungan kami.


Saat aku keluar dari kamar mandi, aku tidak menemukan Eric di kamarku. Sambil melilitkan handuk di kepala, aku berjalan keluar. Aku tidak tahu kenapa aku merasa takut kalau dia akan pergi dari apartemenku. Ada perasaan was-was dalam hatiku. Aku takut kehilangan dia lagi.


Kuhembuskan nafas lega saat melihatnya sedang duduk di sofa. Lalu aku memutar badan untuk kembali ke kamar dan bersiap-siap.


Aku kembali berbalik saat mendengar bel pintu berbunyi. "Biar aku saja," kataku saat Eric memalingkan wajah ke arahku. Dia mengangguk lantas kembali sibuk dengan ponselnya.


Aku berjalan ke pintu. Tanpa mengintip dari hole door, aku langsung membukanya. Ternyata itu Finn. Dia berdiri di depan pintu apartemenku dengan raut khawatir. Dan saat melihatku membuka pintu, dia langsung membombardirku dengan rentetan kata-kata kekhawatiran.


"Kemana saja kau? Semalam aku menghubungimu tapi tidak tersambung. Hingga hari ini kau sama sekali tidak memberi kabar. Kau lupa dengan jadwalmu hari ini? Aku harus memberikan laporan pada keluargamu secara rutin dan berkala. Ingat, yang bertanggung jawab atas dirimu selama disini adalah aku. Dan jika kau tidak bisa dihubungi seperti ini, aku yang akan--"


"Siapa yang datang, Bells?"


Ocehan Finn langsung berhenti ketika melihat Eric berjalan mendekat ke arah kami. Dia terkejut. Dia seperti melihat patung Liberty yang tiba-tiba bisa berjalan. Dia tampak ingin mengatakan sesuatu tapi dia lupa bagaimana caranya berbicara. Dia bergerak canggung yang membuatku ingin tertawa melihatnya. Dia juga melihatku dari atas sampai bawah lalu beralih pada Eric secara bergantian. Mungkin dia heran melihatku yang hanya memakai bathrobe dengan handuk yang melilit kepalaku sementara Eric juga berada di apartemenku.


"Well ... mh ... aku ...." Finn kehilangan kata-kata. Ekspresinya sangat lucu. Alis tebalnya yang berkerut mengingatkanku pada salah satu tokoh animasi favoritku waktu aku kecil.


"Aku akan datang lagi nanti." Dia menggeleng seolah melupakan sesuatu. "Maksudku ... kutunggu besok di tempat praktikku," ralatnya.


Setelah mengucapkan itu dia langsung berbalik meninggalkan apartemenku. Aku dan Eric masih berdiri di pintu memperhatikan Finn yang sesekali menoleh pada kami sambil terus berjalan dan akhirnya menghilang dibalik pintu lift.


"Apa dia akan mengadu?" tanya Eric.


"Entahlah. Jika dia mau, dia pasti sudah melakukannya sejak dulu."


"Caranya mengkhawatirkanmu ... membuatku tidak senang."


Aku berpaling cepat pada Eric. "Kau cemburu? Lagi? Setelah apa yang kita lakukan?" cecarku. Apa dia masih tidak mempercayaiku setelah apa yang kami lakukan semalam?


Dia menutup pintu lalu berdiri menghadapku dengan raut serius. "Aku serius, Bells. Aku dan dia sama-sama laki-laki. Aku bisa melihat apa yang tidak bisa kau lihat dari caranya mengkhawatirkanmu, dari caranya menatapmu."


Aku mengibaskan tanganku di depan wajahnya sambil berdecak. "Omong kosong apa lagi, Eric? Aku sudah menjelaskannya padamu. Aku dan dia tidak ada hubungan spesial." Aku lelah menjelaskan hal ini lagi.


"Aku percaya padamu, tapi tidak padanya. Dia menyukaimu, Bells."


Alisku berkerut dan mulutku setengah terbuka saat mendengar apa yang dia ucapkan. Dia menggenggam tanganku dan menatapku lekat. "Aku mungkin bisa menerima jika hubungan kita tidak akan berhasil, tapi aku belum bisa merelakan jika kau harus menjalin hubungan dengan pria lain."


Kutarik tanganku dari genggamannya lalu kuusap rahangnya yang ditumbuhi jambang tipis. "Aku tidak akan menjalin hubungan dengan siapapun selama aku masih mencintaimu, Eric. Aku tidak akan bisa."


Dia menarik tanganku yang ada di rahangnya lalu menciumnya. "Begitu pula denganku. Selama cintaku padamu belum padam, aku tidak akan bisa mencoba menjalani hubungan dengan wanita lain."


"I love you, Eric," kupeluk dia erat. Dia juga melakukan hal yang sama.


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami di masa yang akan datang. Tapi untuk saat ini, aku merasa cintaku padanya tidak akan bisa padam. Aku sudah pernah mencoba, tapi aku tidak berhasil. Meski dia pernah membuatku sekarat sekalipun, aku tidak bisa berhenti mencintainya. Hatiku selalu menjadi miliknya. Aku mencintainya tanpa syarat.


*


*


*


*


*


tbc.


Mh ... bagaimana kalau season 2 diperpanjang? Aku punya ide, bagaimana kalau aku bikin mereka ... isi sendiri lah, wkwkwk


See you at the edge of season 2.