
~ERIC~
Satu tahun yang kuhabiskan untuk belajar menerima kenyataan bahwa rumah tanggaku telah berakhir terasa sia-sia hanya karena aku melihat seseorang yang mirip dengannya. Seseorang yang bahkan tidak kuketahui nyata atau tidak. Mungkin yang aku lihat itu hanyalah refleksi dari kumpulan rasa rindu yang terlalu besar. Tapi aku berani bersumpah, demi Tuhan, dia terlihat sangat nyata.
Ucapan Jordan waktu itu terasa seperti pukulan telak untukku. Kini semuanya masuk akal. Segala upaya yang pernah kulakukan untuk menemukannya berakhir sia-sia. Aku sama sekali tidak mendapatkan hasil apapun. Aku putus asa, aku merasa hidupku tidak ada gunanya lagi. Hingga aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Namun Tuhan memiliki rencana lain untukku. Tuhan mengirim Naomi untuk mengajarkanku banyak hal. Salah satunya adalah belajar menerima takdir yang tidak sesuai dengan keinginanku.
Aku menukar semua aset yang kumiliki dengan kesederhanaan. Rumah, Willow Spring, mobil mewah. Aku merelakan itu semua. Aku belajar menerima takdirku dengan melepaskan semua kenangan yang pernah kumiliki bersamanya, kecuali cincin yang masih melingkar di jariku hingga detik ini. Aku tidak akan pernah melepaskannya hingga aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa dia telah menemukan kebahagian dengan orang lain.
Aku mempertahankan sahamku di Skytech karena aku masih mempunyai mimpi yang ingin kuwujudkan. Salah satunya adalah memberikan fasilitas pendidikan yang layak untuk Naomi dan teman-temannya di Axella Foundation. Semakin aku mengenal anak-anak itu, semakin banyak pelajaran yang aku dapatkan.
Ada perasaan senang dan tenang saat aku bersama mereka. Entahlah, mungkin ini adalah salah satu bentuk penebusan dosa atas apa yang pernah kulakukan di masa lalu. Tapi aku sungguh-sungguh menyayangi mereka.
Tidak jarang aku diundang di acara-acara yang diselenggarakan oleh yayasan untuk mengiringi anak-anak itu menyanyi atau menari. Aku tidak pernah keberatan. Dengan senang hati aku akan melakukannya.
Dan hari minggu nanti, aku mendapat kehormatan untuk berduet dengan Naomi di acara bazar amal tahunan yang diselenggarakan oleh yayasan itu.
Naomi sangat bersemangat untuk berlatih. Dia sampai merengek pada Sally supaya diantar ke apartemenku sepulang sekolah untuk berlatih. Setelah melancarkan seribu satu rayuan, akhirnya Sally mengalah. Namun karena Sally harus bekerja di siang hari, maka akulah yang menjemput Naomi. Dan Sally akan menjemputnya setelah selesai bekerja.
"Apa aku sudah cukup bagus untuk tampil besok pagi?" tanya Naomi saat kami telah selesai latihan untuk yang terakhir kali.
"Kau yang terbaik, Little Angel. Kau mau kue?" Aku menawarinya kue wortel yang kubuat pagi tadi.
"Apa kue buatanmu enak?"
"Coba saja," jawabku.
Naomi mengambil sepotong kue lalu melahapnya. Dia mengunyah kue itu pelan-pelan. Aku tertawa. Gayanya merasai kue seperti seorang juri kontes memasak.
"Bagaimana? Apa kau menyukainya?"
"Enak," jawabnya dengan ekspresi yang membuatku penasaran. Aku melipat tangan di dada lantas menyandarkan punggungku menunggu kalimat apa lagi yang akan bocah ini keluarkan dari bibir mungilnya. "Tapi lebih enak kue buatan Josephine," lanjutnya.
Aku mengangkat kedua alisku. Josephine lagi? Ya, kuakui cupcake buatanya tempo hari memang lezat. Apalagi kombinasi yang dia buat sama seperti yang pernah ingin dibuat oleh ....
Pikiranku teralihkan dengan suara ketukan pintu. "Kurasa itu ibumu, Little Angel," kataku pada Naomi.
Aku berjalan ke pintu dan membukanya. Sally berdiri di depan pintuku sambil membawa dua kotak berwarna coklat polos seperti kotak kue yang dia berikan padaku tempo hari. Kue Josephine. Aku heran, kalau dia berniat membuka toko kue, kenapa dia tidak memberikan logo atau apapun di kotak yang dia gunakan? Logo itu bisa sekalian untuk promosi, bukan?
"Masuklah, Sally." Aku menggerakkan kepalaku ke arah dalam lalu memberi ruang pada Sally untuk masuk. Sally masuk lalu meletakkan kotak kue itu di atas meja di samping piring kueku.
"Kau juga bisa membuat kue?" tanya Sally saat melihat kueku.
"Aku bisa apa saja, Sally. Tidak perlu memujiku," kataku sedikit sombong.
"Jangan dengarkan dia, Naomi! Sombong bisa memperpendek umurmu," kata Sally pada putrinya.
Aku tertawa mendengarnya. Apalagi saat melihat Naomi mengerjapkan mata bulatnya pada Sally sambil terus mengunyah kue wortel. Anak itu sungguh lucu.
"Ayolah, aku tidak seburuk itu," kataku.
Sally tersenyum. "Aku tahu, Mr. Michaels. Kau memang serba bisa."
"See? Kau mengakuinya sekarang." Aku menatap jenaka pada Sally, membuat wanita itu memutar mata jengah.
"Ayo kita pulang, Naomi. Sebelum pria satu ini menjadi semakin sombong," kata Sally seraya berdiri.
"Boleh aku tinggal sebentar lagi?" Naomi merengek.
"Kau harus banyak istirahat supaya besok kau bisa tampil bagus, Sayang," bujuk Sally.
Naomi mengerucutkan bibirnya lantas berdiri dengan malas.
"Sampai jumpa besok pagi, Little Angel," kataku.
Sally menoleh lagi padaku saat sampai di ambang pintu. "Kue itu untukmu, Eric."
"Thank you, Sally."
Apartemenku kembali sepi setelah mereka pergi. Aku senang beberapa hari ini Naomi ada disini untuk berlatih, membuat apartemenku terasa hidup.
Esok paginya saat aku sampai di tempat bazar, Naomi sudah menungguku di depan panggung. Dia menyambutku dengan senyum lebar. Dia memang selalu antusias untuk melakukan hal semacam ini.
"Giliran kita?" tanyaku. Naomi mengangguk.
"Menyanyilah dari hati, Sayang," kata Sally sambil merapikan ikatan rambut Naomi.
Aku dan Naomi segera naik ke atas panggung. Ini adalah pertama kalinya aku tampil di depan publik. Dan ini berhasil membuatku gugup. Tidak seperti Naomi yang terlihat lebih santai. Anak itu memang memiliki mental yang kuat.
Jika tahun sebelumnya Naomi tampil bersama seorang pianis, kali ini Naomi memilih untuk tampil bersamaku. Sebenarnya aku tidak begitu suka tampil seperti ini, tapi aku tidak bisa menolak keinginan malaikat kecilku. Percayalah, tampil di depan beberapa anak difabel jauh lebih menyenangkan daripada tampil di depan umum seperti ini.
Aku dan Naomi berlatih beberapa lagu. Dan kami berhasil membawakannya dengan apik. Tidak sedikit orang yang mengapresiasi penampilan kami dengan memberikan banyak sumbangan untuk Axella Foundation.
Begitu selesai menyanyikan lagu itu, Naomi langsung menghambur dalam pelukanku. Dia menangis. Dan dia mengatakan sesuatu yang menyentuh hatiku.
"Aku menyayangimu, Eric. Hanya kau dan Mom yang menganggapku malaikat meski aku hanya memiliki satu tangan."
Aku memeluk Naomi kecilku erat. Dia tidak tahu kalau kehadirannya adalah berkah untukku. Tanpa dirinya, aku tidak akan bisa berada disini saat ini.
"Aku juga menyayangimu, Naomi. Suatu saat nanti kau akan tahu kalau kau benar-benar malaikat yang dikirim Tuhan untukku. Aku menyayangimu."
Kulihat Sally ikut naik ke atas panggung dan memeluk kami. Mungkin orang akan mengira kalau kami adalah keluarga kecil yang bahagia. Aku tidak mempermasalahkannya. Karena diluar ikatan tertulis, kami memang keluarga.
Selesai tampil, kami bertiga duduk menikmati es krim yang kubeli dari food truck salah satu partisipan bazar.
"Ini untuk Naomi yang luar biasa," kataku sambil memberikan es krim ukuran jumbo pada gadis kecil itu.
Naomi bersorak, dia sangat senang mendapat es krim yang hampir seukuran dengan wajah mungilnya.
"Kau mau meracuni putriku?" protes Sally. Sekarang aku baru tahu, ternyata rasanya sangat menyebalkan saat orang lain melarang kita memakan apa yang sangat kita sukai.
Aku tertawa. "Biarkan saja, Sally. Biarkan Naomi menjadi The Royal Princess hari ini," belaku.
"Es krim sebanyak itu bisa membuatnya sakit perut, Eric," kata Sally lagi.
"Ibumu cerewet sekali." Aku berbisik pada Naomi yang membuat gadis kecil itu mengikik geli. Sally hanya bisa menggeleng kepala. Dan akhirnya dia menyerah, membiarkan putrinya menikmati es krim jumbo.
Kulihat Sally memandang ke sekiling seperti sedang mencari seseorang.
"Apa kau menunggu seseorang?" tanyaku.
"Hm. Temanku harusnya sudah datang." Sally kembali melarikan pandangannya ke sekeliling. "Aku akan meneleponnya." Sally mengambil ponsel dan menelepon temannya.
"Josephine!" Panggilan Sally sebelum panggilannya tersambung. Dia melambai pada seseorang di belakangku.
Aku memutar kepalaku untuk melihat teman Sally. Kedua mataku terbuka lebar saat melihat siapa yang berjalan ke arah kami dengan tergesa-gesa.
"Sally! Maaf aku ter--"
Itu dia. Dia berhenti melangkah beberapa meter dari kami. Dia tak kalah terkejut denganku.
"Bells," ucapku nyaris tanpa suara. Itu Isabel-ku. Aku meyakinkan diriku jika aku tidak sedang berhalusinasi. Itu benar-benar dia.
Tidak! Dia menggeleng dan melangkah mundur. Tidak, aku tidak akan membiarkannya pergi. Aku berdiri lantas berlari mengejarnya saat dia membalik badan dan lari dariku.
"Isabel!" Kutarik tangannya hingga dia berhenti berlari dan menubruk dadaku.
"Ini benar dirimu? Aku tidak percaya aku benar-benar bertemu denganmu." Aku menyentuh wajahnya. Ini nyata. Ini benar-benar Isabel-ku. Kurasakan mataku basah. Aku tidak dapat menahan perasaanku.
Dia balas menatapku dengan mata basah. Mata itu, aku sangat merindukannya. Perlahan air matanya menetes. Aku menariknya ke dalam pelukanku. Aku tidak ingin melepaskannya lagi. "Maafkan aku, Bells. Maafkan aku. Aku sangat merindukanmu," kataku parau.
"Tidak. Ini tidak benar," gumamnya. Lalu dia mendorongku menjauh. Aku menatapnya bingung.
"Ini tidak seharusnya terjadi." Dia bergerak mundur. Aku mencoba mendekat tapi dia menggeleng. "Jangan mendekat! Jangan mengejarku!"
Hanya itu hal terakhir yang kudengar dari bibirnya. Dia berbalik dan berlari menjauh dariku. Aku berdiri mematung menatap nanar kepergiannya. Aku ingin mengejarnya lagi, tapi dia tidak menginginkanku. Mungkin yang diucapkan Jordan itu memang benar. Dia tidak ingin bertemu denganku lagi.
*
*
*
*
*
tbc.
Nah ketemu juga akhirnya.
Eh aku tuh gemes baca komen kalian. Sumpah pengen tak cium tak uyel-uyel, hehehe.
Dalam sebuah cerita itu kan paling tidak ada 5 tahapan alur. Pertama pengenalan. Karena ini season 2, jadi untuk pengenalan tokoh dan lain sebagainya aku anggap sudah ada di season 1.Kedua rising action, itu adalah awal konflik dimana kemarin dimulai saat Eric kecelakaan. Ketiga klimaks atau puncak konflik, nah klimaks season 2 ini adalah saat Eric dan Isabel harus berpisah. Keempat antiklimaks, cerita ini baru sampai disini, dimana karakter utamanya mulai menemukan titik terang dari klimaks yang dihadapi. Kemarin kan Eric bilang selama setahun ini dia sudah mulai bisa berdamai dengan takdirnya, itu adalah salah satu antiklimaks dari Eric. Dan nanti Isabel juga akan menceritakan antiklimaksnya sendiri (belum sampai ya). Dan yang kelima adalah Ending atau penyelesaian. Entah nanti happy ending atau sad ending, semua sudah tertata rapi. Jadi kalau karakter utamanya hepi-hepi aja, jadi kurang greget dong. Tahu-tahu udah tamat aja karena nggak ada konflik, wkwkwk.
Beda dengan season 1 kemarin yang alurnya cukup panjang. Pengenalan-rising action-klimaks-antiklimaks-rising action-klimaks-antiklimaks-ending.
Tapi makasih banyak loh untuk komennya. Aku jadi makin greget buat nulis.
Love you all,
See you next part, Love.