100 Days

100 Days
Day 1 (Bangkit)



Apa? Apa yang harus aku lakukan?! Hidupku gak akan lama lagi. Gumamku dalam hati sembari terus menangis menjadi-jadi.


...----------------...


Aku terbangun dari tidurku. Aku terganggu dengan silau mentari yang menembus dari sela genteng kamarku. Aku bangkit dan duduk termanggu di atas kasurku. Mencoba mengingat kembali apa yang aku lakukan semalam.


Aku dapat mengingat semuanya dengan jelas. Aku hanya diam bergeming dalam lamunku. Tak lama, aku berdiri dan meraih ponselku yang tergeletak berserakan di lantai.


Aku duduk di kursi makan tepat di depan kamarku. Aku memasang kembali baterai dan casing ponsel merek Nokia yang usang itu.


Aku menyalakan ponsel itu untuk mencoba kembali menghubungi orang tuaku. Aku tertegun,saat melihat ada beberapa SMS dari Ibuku.


"Ada apa malam-malam tepon? Uangmu udah abis?! Kalau habis kerja. Mama hanya akan jatah Uang jajan kamu sebulan sekali. Kalau kurang minta aja sama Papamu." Pesannya.


Setelah membaca isi pesan itu. Aku melempar ponselku ke atas meja. Aku mengusap mukaku untuk mencoba menenangkan pikiranku. Aku bingung dengan biaya oprasi yang tidak bisa di bilang sedikit itu.


Ya Allah. Gimana ini?! Gumamku dalam hati.


Sebenarnya aku tak punya alasan untuk tetap hidup. Ayahku yang sudah punya keluarga baru. Begitu juga dengan Ibuku. Aku tak punya siapa-siapa untuk tetap hidup di dunia ini.


Aku teringat dengan buku tabungan tua yang Ayahku berikan dulu sebelum ia meninggalkanku di rumah Nenek ini. Dengan penasaran, aku bangkit dari dudukku. Aku bergegas mencari di mana buku itu.


Aku obrak-abrik semua barang yang aku simpan. Hingga akhirnya aku melihat kotak kayu tua yang aku simpan di atas lemari kamarku. Kotak kayu itu berada di sudut dinding.


Aku menyeret sebuah kursi untuk mengambil kotak itu. Lemari itu cukup tinggi untukku. Aku harus sedikit memanjat agar dapat meraihnya.


Aku ingat dulu saat aku menaruh kotak itu di atas lemari. Aku memanjat meja belajar dan melemparkan kotak itu begitu mudah ke atas lemari ini.


Dengan susah payah, akhirnya aku dapat mengambil kotak kayu yang usang itu. Tak ku sangka, kotak ini masih utuh walau pun tertutupi oleh debu yang tebal.


Aku bergegas membawa keluar kotak tua itu. Aku mengambil sebuah kain basah, untukku pakai membersihkan kotak tua itu. Dengan hati-hati, aku membersihkan setiap ukiran kayu itu.


Setelah aku rasa cukup. Aku membuka kotak itu dengan berlahan. Aku tersenyum tipis saat melihat isi kotak tua berwarna Coklat tua usang itu.


Pertama kali yang ku lihat dalam kotak itu. Adalah sebuah foto diriku bersama nenekku saat aku masih kecil dulu. Tak terasa, air mataku pun seketika membasahi pipiku.


Nenek. Batinku.


Aku juga menyimpan foto keluargaku. Fotoku dengan Ayah dan Ibuku saat masih bersama dulu. Di dalam kotak itu juga ada kalung Leontin hadiah ulang tahunku ke-4 dari ayah dan ibuku. Di dalam leontin itu, terdapat foto mereka berdua.


Andai kita masih bersama-sama,, Batinku.


Aku korek satu per satu lembaran-lembaran foto itu. Hingga aku melihat sebuah buku kecil yang terbungkus dengan plastik putih.


Buku Tabungannya. Ingatku dalam hati.


Aku membuka bungkusan buku tabungan itu. Aku melihat Debet yang ter-Print di dalamnya sekitar Rp.10,JT. Aku mengambil buku itu dan kembali merapikan kotak kayu itu.


Jika waktu itu 10JT. Sekarang berapa ya?! Apa cukup untukku pakai oprasi?! Gumamku dalam hati.


Aku bersiap untuk bergegas pergi ke rumah sakit. Aku berniat untuk mengambil motorku yang terparkir di sana.


Setelah aku keluar membawa motorku. Aku tancapkan gas roda duaku menuju ke salah satu center bank yang tak jauh dari tempat itu. Dengan perasaan yang penasaran. Aku masuk ke dalam central bank itu. Aku di sambut dengan ramah oleh seorang satpam.


"Selamat siang Mbak. Mau nabung atau ke Teller Mbak?!" tanya Satpam itu dengan ramah.


"Aku mau ke Teller," sahutku.


Aku di berikan sebuah struk dan arahkan untuk menuju lantai 2 gedung itu.


Cukup lama aku mengantri. Akhirnya aku di panggil oleh seorang petugas.


"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu." ucap petugas itu.


"Aku ingin mengecek saldo tabunganku. Tapi ini tabungan yang cukup lama. Apa bisa aku menarik saldoku?" tanyaku dengan ragu.


"Boleh saya minta buku tabungan dan KTP nya Bu." ucap petugas itu.


"Boleh. Tapi tabungannya ayahku yang membuatnya. Aku di berikan tabungan itu sekitar lebih 10 Tahun yang lalu. Saat itu aku masih kecil dan belum memiliki KTP." Jelasku seraya mengeluarkan buku tabungan yang masih terlihat baru itu dari dalam tasku. Aku juga mengeluarkan kartu tanda penduduk milikku.


"Boleh saya lihat." sahut petugas itu.


Petugas itu melirik ke arahku. Dia mengecek data dalam komputer di depannya. Ntah kesulitan apa yang dia temui. Dia bangkit dari duduknya, membawa buku dan KTP milikku, masuk ke ruangan dalam di belakang tempat pelayanan itu.


Aku hanya diam dengan rasa cemasku. Apa saldo itu sudah hangus?! Atau aku tak dapat mengambilnya karna beda identitas?! Tak berapa lama, petugas itu keluar dengan senyuman yang ramah.


"Mohon tunggu sebentar ya Bu." ucapnya.


"Iya." sahutku membalas senyuman ramahnya.


...****************...