100 Days

100 Days
3 Day (Semakin Dekat)



Sepanjang jalan pedesaan, hingga masuk keperkotaan. Aku sesekali melirik ke arah Shita. Dia terlihat jelas berusaha keras menahan air matanya.


"Udah, Ta. Kalau mau nangis, nangis aja. Jaim banget sih sama aku. Biasanya juga kentut di muka." ucapku.


"Sialan Lo, Tre. Tapi iya, ya Tre. Keinget waktu di kos-kosan ha haha ha. Tapi kalau di mobil, mantep kali ya kentut wkwkwk." timpal Shita.


"Kamu berani kentut di mobil. Hirup-hiruplah tu aroma ****** lo." hardikku.


"Cie udah pakai lo gue." goda Shita.


"Ketularan kamu nih. Tapi enak juga ya. Berasa kaya anak gaul aku." timpalku.


"Tapi Ta. Ngomong-ngomong soal gaul. Lo jujur deh. Kenapa Lo sekarang kurus gitu sih Ta. Lo gak lagi sakit kan." tanyaku.


"Enggak lah Tre." jawab Shita.


Terlihat seperti Shita ragu mencaritakannya kepadaku. Aku tetap menunggu Shita membuka suara. Hingga dia dengan sendu membuka suaranya.


"Sebenarnya Tre. Aku nyesel banget kenal sama Ega. Dia hancurin hidup aku Tre." ucap Shita dengan Sendu.


"Maksud kamu apa Ta? Hancurin gimana?!" tanyaku penasaran.


Aku menghentikan mobilku. Memaksa Shita untuk menceritakan semuanya. Aku tak mau melajukan mobilku jika Shita tak mau menceritakan masalah hidupnya kepadaku.


Berlahan Shita menceritakan semua apa yang Ega lakukan padanya. Biadabnya Ega, selama ini hanya memanfaatkan Shita. Bahkan mengambil mahkota Shita hanya untuk memuaskan nafsu sesaatnya.


Shita bingung saat Ega ketahuan berselingkuh dengan wanita yang lebih cantik darinya. Sebenarnya bukan Shita yang di selingkuhi. Melainkan, Shita lah yang jadi selingkuhannya Ega.


"Tapi tapi, Lo Lo gak hamil kan. Lo baik, baik aja kan Ta?!" tanyaku penuh dengan kepanikan.


"Enggak Ta. Lo tenang aja. Aku aman kok. Hanya saja aku sudah tak.." sahut Shita tak meneruskan ucapannya.


"Aku takut Tre. Suamiku nanti tak mau menerimaku yang udah tak perawan ini." ucapnya lirih dengan sendu.


"Ta. Kamu percaya sama aku. Cinta itu mau menerima segala keburukan orang yang dia cintai." tuturku.


"Lihat tu ibu-ibu gendut. Bokongnya menuhin jog. Tapi kelihatannya bapaknya cinta dan sabar. Lihat tuh lihat. Pelukannya Ya Allah, mesra banget." imbuhku.


"Jiwa jomblo Lo meronta ya." sahut Shita.


"Ho oh." ceketuku.


"Ha haha haha!!" tawa kami yang pecah seketika.


"Tre, lo beneran masih mau temenan sama gua. Pumpung belum jauh Tre." tanya Shita.


"Ta, kalau aku gak mau temenan sama kamu. Udah dari dulu saat kamu berak gak kamu siram!" sergahku.


"Ya ampun Tre. Lo emang sahabat gue. Gue beruntung Lo ada dalam hidup gua Tre." sahut Shita.


"Aduh udah deh. Jalan gak ini?! Kita mau kemana ini?!" tanyaku.


"Ke Bali yo Tre. Eh Tre, lo udah mengabari orang tua lo Tre?" tanya Shita.


"Udah. Kata Papa dia setuju aku pakai uangnya buat jalan-jalan keliling Indonesia." jawabku.


"Dia tau Tre. Kalau lo.." ucap Shita tak lanjutkan ucapannya.


"Enggak Ta. Biar waktu yang memberi tahu mereka. Yang jelas, AKU DAPAT UANG JAJAN TAMBAHAN!!" jelasku.


"Gile Lo Tre!! Gua bahagia lo ada dalam hidup gua Tre. Akhirnya gua akan ke sampean juga makan Steak. Ya Ampun. Beruntung banget hidup gua!!" seru Shita.


"Lo mau makan Steak Ta?!" tanyaku.


"Makannya di mana Ta?! Pergi kemana nih?!" tanyaku.


"Bali Tre. Di bali aja." sahutnya.


"Kenapa harus di Bali?! Lo mau makan Steak **** Ta?!" tanyaku.


"Gile lo! Daging sapi lah! Di Bali restoran mahal banyak." sergah Shita.


"Ya udah di pulau seribu aja ya." ucapku.


"Emang ada restoran jual Steak di sana?!" tanya Shita.


"Ada.Steak Komedo." celetukku


"Kodomo keles!!" sergahnya.


"Enak lho." sahutku.


"KOMODO!! AH LU MAH!!" serunya.


"Kok aku sih?! Ha ha ha ha!!" sahutku.


"Jadi kita ke Bali dulu nih?!" tanyaku.


"Ho o." sahut Shita.


"Okay lewat mana nih?!" tanyaku.


Kita terdiam tak bergeming.


"Lo gak tau jalannya?!" tanya Shita.


Aku menggelengkan kepalaku untuk menjawab pertanyaan Shita.


"Gile lo!! Berlagak mau keliling Indonesia!! Ke Bali aja kagak tau." sergah Shita.


"Gugel lah gugel." jawabku.


"Tre. Lo pernah lihat gak di drakor-drakor?!" tanya Shita.


"Apa emang?!" jawabku.


"Gua pernah lihat di sini bisa buat buka gugel. Di mana ya?!" jelas Shita.


"Coba lihat." sahutku.


Lumayan lama kita berhenti di pinggir jalan untuk mempelajari fitur-fitur yang berada di dalam mobil itu. Sampai kita membuka buku panduan agar dengan mudah mengerti semua fitur di dalamnya.


"Jadi butuh jaringan internet juga ni?!" tanya Shita.


"Harus gitu beli tower?!" tanyaku.


"Gile lu!! Kita ke Mall yuk. Balik ke penjual kemaren." ucap Shita.


"Buat apa?!" tanyaku.


"Buat tanya alatnya lah! Masa iya beli tower! Sekalian gue mau bales dendam sama tu bencong." sergahnya dengan kesal.


"O-ka-y." sahutku.


...****************...