100 Days

100 Days
Part 17



Diluar sana Mike kelimpungan mencari keberadaan Isabel. Sampai saat ini Mike belum memberitahu kedua orang tuanya kalau Isabel menghilang. Pertimbangan Mike hanya satu, yaitu tidak ingin membuat mereka khawatir. Biarlah mereka tetap menganggap Isabel berada di apartemen Alice. Setidaknya itu lebih baik, daripada orang-orang Jhon mengobrak-abrik seluruh kota untuk mencari putrinya.


Mike menyuruh beberapa orang kepercayaannya untuk bergerak secara diam-diam tanpa sepengetahuan Jhon. Namun hingga tiga hari ini mereka belum juga mendapatkan hasil.


Kepulangan Aiden dari luar kota ternyata di percepat, karena dia masih harus mengurus perihal pernikahannya. Pernikahan yang di rencanakan dalam waktu singkat memang sedikit membuatnya kelabakan karena harus menyiapkan segala sesuatunya dengan cepat.


Rencananya esok hari Aiden dan Chloe akan fitting baju pengantin. Itulah alasannya mempercepat kepulangan dari luar kota.


Begitu mendapat kabar bahwa Mike mencarinya, Aiden segera menghubungi pria itu. Mike tidak akan mencarinya jika tidak ada hal penting. Dan Aiden yakin ini ada hubungannya dengan Isabel.


Dalam pikiran Aiden, Mike bisa saja akan melakukan hal buruk padanya. Apapun yang akan terjadi nanti, Aiden akan tetap menemui Mike, meskipun harus menghadapi kemarahan pria itu karena telah menyakiti adiknya. Aiden rasa itu pantas untuk dia dapatkan.


So, Mike mengatakan kalau dia yang akan menemui Aiden di kantornya.


Keesokan harinya Mike datang ke Muller Corp. Dia masuk ke ruangan Aiden di lantai 20.


Pintu ruangan itu dibukakan oleh sekretaris Aiden. Dengan langkah lebar Mike berjalan mendekat ke meja kerja Aiden karena di sanalah pria yang ingin dia temui berada. Wajahnya tampak sangat tenang.


Aiden berdiri dan berjalan berlawanan arah dengan Mike untuk menyambut tamunya itu. Lalu Aiden menjulurkan tangannya untuk Mike.


Bug!


Bukan jabat tangan yang Aiden dapat, melainkan satu bogem mentah dari kepalan tangan Mike. Alasannya simple, Mike tidak suka adiknya dipermainkan.


Aiden terhuyung ke belakang hingga membentur sisi meja karena tidak siap mendapat serangan dadakan dari Mike. Sudut bibirnya membiru, tapi tidak sampai berdarah.


Aiden menegakkan tubuhnya sambil memegang pipinya yang terasa panas dan nyeri.


"Senang bertemu denganmu, Mike," ucap Aiden yang sama sekali tidak berniat untuk membalas pukulan itu, karena dia sendiri merasa pantas mendapatkannya.


Mike menatap tajam pada Aiden sebelum menghela napas berusaha mengendalikan emosinya.


"Dimana adikku?" tanya Mike langsung pada intinya. Dia tidak ingin bertele-tele.


Aiden mengernyit, tidak mengerti maksud Mike. Lalu dia mengisyaratkan pada Mike untuk mengikutinya ke sofa.


Mike mengikutinya. Dia harus menjaga kepalanya tetap dingin untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan Isabel. Dia tidak ingin membuat keributan meskipun saat ini dia sangat ingin menghajar mantan kekasih adiknya itu.


Keduanya duduk di sofa saling berhadapan.


"Katakan, dimana adikku?" Mike mengulangi pertanyaannya.


"Aku tidak tahu." Aiden menyandarkan punggungnya di sofa. " Apa yang terjadi?" tanyanya.


Mike memutar mata malas. Sumpah, saat ini dikepalanya sudah mulai tumbuh sungut tak kasat mata. Ingin rasanya memberi pukulan susulan pada orang di hadapannya ini.


"Dia menghilang." Mata Mike melirik tajam pada Aiden. "Dan aku yakin ini ada hubungannya denganmu, dengan pernikahanmu," kata Mike sinis. Dia sangat yakin Aiden tahu dimana Isabel.


Rasa khawatir langsung menyergap hati Aiden. Walau bagaimanapun dia masih sangat mencintai Isabel.


"Sejak kapan?" Aiden tidak bisa menutupi kekhawatirannya.


"Jangan berpura-pura bodoh, Aiden! Aku yakin kau tahu dimana adikku." Nada bicara Mike masih ketus.


Giliran Aiden yang menghela napas dengan kasar. Mike mencurigainya. Padahal Aiden sendiri akhir-akhir ini kesulitan menghubungi Isabel. Dan sekarang Mike datang lalu mengatakan kalau Isabel menghilang.


"Aku benar-benar tidak tahu dimana Isabel. Bahkan akhir-akhir ini aku tidak bisa menghubunginya," jelas Aiden.


"Jangan bohong, Aiden! Kau tahu saat ini aku sedang menekan amarahku. Apa kau ingin mengadu wajahmu dengan kepalan tanganku lagi?" ucap Mike sarat ancaman.


Aiden memejamkan mata sekejap sebelum berkata, "Aku benar-benar tidak tahu dimana Isabel. Kalau kau ingin menghajarku, silakan! Aku tidak akan membalas. Aku pantas mendapatkan pukulanmu. Karena aku sudah menyakiti Isabel." Aiden menatap Mike dengan perasaan bersalah.


Mike mendengkus mendengar penuturan Aiden. Dia tersenyum sinis tanpa menanggapi.


"Aku minta maaf, karena aku tidak bisa menjaga Isabel dengan baik seperti janjiku."


"Simpan permintaan maafmu. Kau tahu seperti apa Isabel mencintaimu? Dia rela menghancurkan dirinya sendiri hanya untuk mencegah pernikahanmu," ketus Mike.


Aiden terkesiap, sampai kehilangan kata-kata. Dia tidak mengira Isabel akan senekat itu.


"Aku tidak peduli alasanmu meninggalkan adikku. Kalau sampai terjadi hal buruk padanya, orang pertama yang akan aku cari adalah kau!" Telunjuk Mike mengarah pada Aiden dibarengi tatapan tajam.


Mike beranjak meninggalkan Aiden. Percuma juga dia berlama-lama di sana. Sepertinya Aiden benar-benar tidak tahu keberadaan adiknya.


Aiden hanya bisa menatap kepergian Mike yang menyisakan tanda tanya besar dalam hatinya. Dimana Isabel? Tidak dipungkiri, Aiden takut hal buruk terjadi pada gadis itu. Dia masih peduli, bahkan masih sangat mencintainya.


Dering ponsel mengalihkan perhatian Aiden.


"Shit!" umpat Aiden.


Begitu melihat nama Chloe di layar ponsel, Aiden baru ingat kalau hari ini dia dan Chloe harus fitting baju pengantin.


Setelah berbicara dengan Chloe di telepon, Aiden cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Kemudian dia ke butik tempatnya memesan baju pengantin.


Begitu sampai di butik, Chloe sudah menunggunya disana.


Chloe tersenyum saat Aiden datang. Bukan senyum manis penuh kebahagiaan, melainkan senyum kikuk dan sebatas formalitas.


"Maaf, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan dulu." Aiden terlambat setengah jam dari waktu yang sudah dijanjikan.


"It's okay."


Gaun pengantin berwarna putih sederhana menjadi pilihan Chloe. Gadis itu tidak suka terlihat mencolok. Sedangkan Aiden akan memakai tuxedo yang juga berwarna putih saat pernikahan nanti.


Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk fitting. Karena memang keduanya menginginkan semua ini cepat selesai.


"Aku akan mengantarmu pulang." Aiden memimpin langkah menuju mobilnya. Chloe mengangguk mengikuti langkah Aiden.


"Isabel menghilang," celetuk Aiden saat di dalam mobil.


Chloe tersentak mendengar ucapan Aiden. Bukan karena dia cemburu dengan perhatian Aiden pada Isabel, karena faktanya rasa cinta untuk Aiden belum ada dalam hatinya. Ini lebih seperti rasa bersalah. Isabel tidak menghilang. Chloe tahu Isabel berada dimana. Dia sendiri yang memastikan keadaan Isabel meskipun tidak bisa bertatap muka langsung.


"Keluarganya sedang mencari ke mana-mana. Apa kau pernah melihatnya akhir-akhir ini?" Aiden menoleh pada Chloe.


"Mh ...." Chloe bingung harus menjawab apa. Jika dia jujur, kemungkinan Aiden dan Eric adu otot sangatlah besar. Tapi dia juga merasa bersalah kalau harus berbohong.


"Chloe?" Aiden masih menantikan jawaban.


"Mh... aku ... tidak. Aku tidak pernah bertemu dengannya." Maksud Chloe selama empat hari ini dia belum bertemu. Ini belum saatnya Chloe bicara, dia merasa harus menemui Eric dulu dan membujuknya agar mau melepaskan Isabel.


Melihat perubahan mimik wajah Chloe, Aiden merasa bersalah. Dia pikir Chloe tersinggung Aiden membicarakan tentang Isabel dengannya. " Maaf, aku tidak bermaksud--"


"Tidak apa-apa, aku mengerti," potong Chloe.


"Bisa antar aku ke Willow Spring?" tanya Chloe pada Aiden. Ada hal yang harus Chloe lakukan disana.


Aiden mengangguk mengiyakan lalu melajukan mobilnya ke arah cafe milik Eric itu.


Setelah menurunkan Chloe di Willow Spring, Aiden bergegas kembali ke kantor karena pekerjaannya masih menumpuk.


Chloe masuk ke Willow Spring dengan senyum yang terus mengembang saat berpapasan dengan para pegawai. Dia gadis yang sangat ramah, maka dari itu para pegawai disana sangat menyukai Chloe.


Langkahnya berhenti pada ruangan berdinding kaca gelap di bagian belakang cafe.


Suara ketukan dibarengi dorongan pelan sebuah pintu membuat orang dalam ruangan itu melihat ke arah datangnya suara.


"Masuklah, Chloe!" Eric menutup map file yang dia pegang lalu beranjak dari kursi kerjanya.


Chloe melangkah masuk. Dia duduk di sofa diikuti oleh Eric.


"Bukankah hari ini kau fitting baju?" tanya Eric.


"Sudah selesai," jawab Chloe.


Wajah Chloe menunjukkan sebuah kecemasan. Dia menghela napas pelan, mengarahkan pandangan matanya ke bawah.


"Ada apa denganmu?" Eric mengangkat satu alisnya. Dia merasa adiknya sedang memikirkan sesuatu.


"Lepaskan Isabel, Eric." Chloe menatap penuh pengharapan pada kakaknya. Rasa bersalah dalam hatinya semakin besar. Apalagi sekarang ini keluarga Isabel sudah mulai kebingungan mencari keberadaan gadis itu.


Eric berdecih, memutar mata lalu menyandarkan punggungnya dengan kasar.


"Keluarganya mulai kebingungan mencari. Kumohon, Eric. Lepaskan dia." Yang bisa dilakukan Chloe hanyalah memohon pada kakaknya, karena yang punya akses masuk ke lantai 4 hanya Eric. Eric yang mendesign tempat itu. Kecerdasannya dalam bidang IT memang tidak diragukan lagi. Bahkan sebagian besar bisnisnya berhubungan dengan teknologi internet. Dalang dibalik terputusnya komunikasi antara Aiden dan Isabel juga dia. Eric meretas ponsel dan semua akun email Aiden agar tidak bisa berhubungan lagi dengan Isabel. Begitulah Eric, dia hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk adiknya.


Mendengar permohonan Chloe sama sekali tidak membuat Eric goyah. Dia menulikan telinganya, tidak mau menjawab Chloe.


"Please, Eric. Bayangkan kalau aku yang ada diposisi Isabel. Kau pasti juga akan kebingungan mencariku, bukan?"


"Tidak! Dia akan tetap di sini sampai pernikahanmu berlangsung," tolak Eric dengan tegas. Dalam pikiran Eric, melepaskan Isabel sama dengan membatalkan pernikahan Chloe dan Aiden. Tentu Eric tidak akan mengambil resiko.


"Eric ...." Chloe dalam mode paling melas.


"Aku bilang tidak! Dia hanya akan membawa masalah. Tidakkah kau ingat bagaimana perlakuannya padamu?"


"Aku sudah memaafkannya, Eric. Dia gadis yang baik. Dia hanya terlalu mencintai Aiden dan merasa tersakiti karena pernikahan ini. Biarkan dia pulang pada keluarganya."


"Lalu dia akan mengacaukan pernikahanmu?" Eric berdiri. "Pikirkan saja dirimu, gadis itu urusanku," kata Eric.


"Kalau aku tidak ingin melanjutkan pernikahan ini, apa kau akan melepaskannya?" Chloe ikut berdiri. Menurutnya Eric sudah keterlaluan.


Eric menatap tajam pada Chloe, tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.


"Pernikahan ini akan tetap berlanjut," desis Eric menahan geram karena ucapan Chloe.


"Eric ...."


"Sekarang pulanglah dan jangan pernah berpikir untuk membatalkan pernikahan ini."


Eric berlalu, meninggalkan Chloe yang masih merasa kesal karena sikap Eric. Percuma bicara baik-baik dengan Eric, pendiriannya terlalu kuat. Chloe tahu Eric melakukan semua ini tak lain karena rasa sayang pada dirinya. Tapi kali ini Eric sudah keterlaluan. Chloe harus mencari cara lain untuk membuat Eric melepaskan Isabel tanpa mengorbankan siapapun.


***


tbc.


Bagaimana cara Chloe membebaskan Isabel ?


Akankah dia jadi penghianat kakaknya sendiri ?


Tunggu part selanjutnya genkz !


See you, love !