100 Days

100 Days
Part 113



Suara Eric tercekat di tenggorokan. Dia berdehem supaya suaranya tidak terdengar bergetar.


"Saya datang kesini ingin meminta maaf, Mr. Bennings." Kalimat pembuka Eric masih didengarkan dengan khidmat oleh Jhon. Suasana ruangan yang hening membuat Eric merinding. Ini seperti sesi pembelaan untuknya. Dia harus menyampaikan maksudnya dengan kata-kata yang tepat agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Saya tahu, tidak mudah bagi keluarga Anda untuk memaafkan apa yang telah saya lakukan. Saya telah menghancurkan kepercayaan kalian dengan menyakiti Isabel. Saya salah dan saya menyesal. Untuk itu saya datang untuk menebus kesalahan yang telah saya lakukan." Perlahan tekad Eric menguat. Suaranya semakin terdengar tegas dan bersungguh-sungguh.


Hening beberapa detik. Eric menunggu reaksi Jhon dengan degup jantung yang bertalu-talu.


Lalu Jhon bergerak menegakkan punggungnya. Gesturnya menunjukkan kewibawaan yang telah mengakar dalam dirinya. Hingga menghembuskan nafas saja sangat terlihat berwibawa.


"Apa kau bersungguh-sungguh dengan penyesalanmu ?"


Pertanyaan sederhana, namun bagi Eric terasa seperti seribu mata panah yang mengarah tepat ke jantungnya.


"Dengan segenap hati, Mr. Bennings." Jawab Eric sangat yakin.


Jhon melarikan pandangan pada Emma yang ada di sampingnya lalu pada Mike yang duduk di sisi kirinya. Pria yang rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban itu tampak berpikir.


"Aku menerima permintaan maafmu." Ucap Jhon yang membuat hati Eric lega. Sebuah beban baru saja terangkat dari dalam hatinya. "Tapi...." Rasa lega dalam hati Eric berubah menjadi rasa cemas ketika Jhon melanjutkan ucapannya. Perasaan tidak enak mulai dirasakan Eric. Firasatnya mengatakan kalimat lanjutan Jhon bukanlah hal baik untuknya.


"Jika kau sungguh menyesali perbuatanmu, maka jauhi putriku !"


Satu kalimat yang disampaikan dengan lugas tanpa penekanan namun mampu membuat dunia Eric runtuh dalam sekejap mata.


"Jika kau ingin menebus kesalahanmu, maka biarkan putriku bahagia dengan orang lain yang bisa menjaga hatinya dengan baik."


Satu kalimat lagi dari Jhon, setara dengan ribuan mata pisau yang menancap ke jantung Eric. Seluruh oksigen dalam ruangan itu seolah terhisap ke dalam lubang hitam hingga membuat Eric merasa dunianya hampa. Dia tidak bisa bernafas dengan benar. Dia menatap Jhon dan Emma dengan tatapan tidak percaya. Sorot kekecewaan terlihat jelas dalam mata Eric.


Bukan hanya Eric, Isabel yang mendengar ucapan sang ayah dari dalam kamarnya pun tidak kalah terkejut. Dalam diamnya dia menangis. Tubuhnya lemas. Dia bergeser, menyandarkan punggung lemahnya pada dinding yang dingin dengan kaki terlipat. Dia menenggelamkan wajah pada lututnya dan menangis semakin pilu. Ucapan sang ayah telah memporak porandakan hatinya dan mencabik-cabik jiwanya.


Dengan sisa-sisa harapannya, Eric berdiri. Pandangannya jatuh ke bawah, menyembunyikan kedua matanya yang memerah.


Perlahan Eric menekuk lutut, menumpukan beban tubuh pada kedua lututnya. Dia berlutut di hadapan orang tua Isabel.


"Beri saya satu kesempatan lagi, Mr. Bennings." Ucap Eric dengan suara bergetar.


"Bangunlah ! Kau tidak perlu melakukan itu." Kata Jhon yang mendadak merasa tidak nyaman melihat Eric berlutut di hadapannya.


"Tidak, Mr. Bennings. Saya akan melakukan apapun untuk mendapatkan satu kesempatan lagi. Saya akan membuktikan bahwa saya bisa membahagiakan putri Anda. Saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya."


Jhon tidak menjawab. Dia menatap Eric dengan tatapan prihatin. Sejujurnya, dia bisa melihat kesungguhan dari Eric, namun dia tidak bisa membiarkan putrinya kembali terluka karena pria itu.


"Apa yang bisa kau lakukan untuk menebus kesalahanmu ?"


Mendengar pertanyaan itu, Eric mengangkat wajahnya. Dia menatap dalam dan serius pada Jhon dan Emma lalu menarik nafas dalam. Mengumpulkan seluruh sisa energi yang dia miliki untuk menjawab pertanyaan itu.


"Saya akan menikahi Isabel." Jawab Eric dengan suara tegas.


Jhon terhenyak mendengar jawaban tidak terduga itu. Dia bergerak perlahan menyandarkan punggungnya ke sofa. Begitu pula Emma, wanita itu juga sangat terkejut. Putrinya masih terlalu muda untuk menikah.


Dan yang paling tampak tidak terima adalah Mike. Tanpa ditanya pun pasti dia adalah orang pertama yang menentang pernikahan itu.


"Tidak akan ada pernikahan !" Suara Mike terdengar tegas dan dingin.


Semua mata melihat ke arah Mike. Eric yang biasanya menatap Mike dengan sorot menantang, kali ini dia menatap si sulung Bennings dengan sorot memohon.


Lalu Eric kembali melarikan pandangannya pada kedua orang tua Isabel.


"Beri saya waktu dua minggu. Saya akan menikahi putri Anda dalam dua minggu ini."


Meski dua minggu adalah waktu yang sangat singkat, tapi Eric yakin dia bisa mempersiapkan semuanya dalam waktu sesingkat itu. Dia tidak akan mundur. Dia akan terus berjuang sampai singa berubah menjadi herbivora sekalipun.


"Putriku masih terlalu muda untuk menikah. Aku masih menggantungkan banyak harapan padanya sebelum dia menjadi hak suaminya kelak." Ucapan Jhon itu jelas adalah penolakan dengan cara halus.


"Saya akan memenuhi syarat apapun yang Anda ajukan, Mr. Bennings. Asalkan Anda memberi saya kesempatan untuk membuktikan kesungguhan saya." Tidak ada kata menyerah untuk Eric.


Jhon dan Emma saling berpandangan. Menikah bukan perkara mudah. Membutuhkan komitmen yang kuat untuk bertahan dalam biduk rumah tangga. Isabel masih terlalu muda. Timbul kekhawatiran dalam benak orang tua Isabel, apakah putri mereka mampu menjalani proses belajar seumur hidup itu ?


Dari lantai dua Isabel mendengar semuanya. Dia tidak bisa membiarkan Eric berjuang sendirian dibawah sana. Ini adalah hidupnya. Dia berhak mengutarakan pendapat.


Setelah mengusap wajahnya yang basah karena air mata, Isabel membuka pintu kamarnya. Dia melangkah keluar. Dia berjalan pelan menuruni anak tangga, menuju ke ruang keluarga dimana Eric masih berlutut di depan kedua orang tuanya, memohon restu untuk menikah dengannya.


Ketiga pasang mata disana serempak memandang ke arah yang sama. Si bungsu Bennings berjalan perlahan dan berhenti disamping Eric. Dia menoleh, tepat saat Eric juga menengadahkan wajah padanya.


Kedua mata Eric yang memerah, semakin membuat hati Isabel tersayat. Eric terlihat sangat tidak berdaya dalam keadaan seperti itu.


Perlahan dan pasti, Isabel menekuk lututnya. Dia ikut berlutut di sisi Eric. Dia meraih tangan Eric dan menggenggamnya. Kedua mata mereka saling mengunci, saling memberi kekuatan. Isabel ingin meyakinkan Eric bahwa dia tidak menjalani ini sendirian. Isabel akan ikut berjuang bersama dirinya.


"Izinkan kami menikah. Kami akan membuktikan kalau kami mampu menjalani hidup kami dengan baik. Kami akan hidup bahagia bila kami bersama." Isabel berkata dengan suaranya yang dalam. Dia berharap kedua orang tuanya mengerti dan mau merestui hubungan mereka.


"Kau masih terlalu kecil untuk menikah." Tukas Jhon.


"Usiaku memang masih terlalu muda, Dad. Tapi aku yakin Eric bisa membimbingku menjadi istri yang baik untuknya."


"Sayang, menikah bukan hanya tentang menjadi istri yang baik. Di usiamu saat ini, pikiranmu masih labil. Kau tidak tahu bagaimana permasalahan dalam rumah tangga bisa muncul, Sayang. Butuh kedewasaan untuk menjalani hidup berumah tangga." Kata Emma. Jujur saja, terkadang Isabel masih bersifat impulsif. Melakukan apapun yang dia anggap benar tanpa memikirkan resikonya. Emma khawatir kalau rumah tangga mereka kelak tidak akan mampu bertahan dengan sifat Isabel yang seperti itu.


"Maka biarkan aku belajar dewasa bersama Eric. Kami saling mencintai, kami akan berjuang bersama untuk membawa pernikahan kami hingga Tuhan mengambil nyawa kami."


"Kau tidak tahu apa-apa tentang pernikahan, Isabel !" Kata Mike dengan intonasi lebih tinggi. "Cinta saja tidak akan cukup untuk bertahan hingga maut memisahkan."


"Kalau begitu, aku bisa belajar dari kalian." Tukas Isabel.


Semuanya terdiam. Eric dan Isabel semakin mengeratkan genggaman tangan mereka. Seolah merapalkan doa yang sama untuk mendapatkan restu dari orang tua Isabel.


Jhon dan Emma saling bicara melalui tatapan mata mereka. Menikah selama 32 tahun membuat mereka saling memahami arti tatapan satu sama lain.


Jhon menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Lalu dia menatap dua orang yang sedang berlutut dihadapannya itu secara bergantian.


"Kalian boleh menikah, tapi dengan syarat." Putus Jhon.


Wajah Eric dan Isabel langsung sumringah. Keduanya berpandangan dan saling melempar senyum bahagia. Lalu mereka kembali memandang Jhon dengan wajah serius. Mereka siap mendengarkan syarat yang diajukan oleh Jhon. Apapun itu.


"Tidak ada anak sampai putriku berusia 25." Kata Jhon sambil menatap Eric tegas.


"Dan selama kurun waktu itu, kau harus banyak belajar dari ibumu, bagaimana menjadi istri yang kuat, karena biduk rumah tangga itu keras. Selain itu, kau juga harus tetap belajar bisnis dari kakakmu. Karena aku ingin kau mempunyai keahlian dalam hidupmu. Tidak selamanya kau bisa bergantung pada orang lain." Kata Jhon pada Isabel.


Bukan tanpa alasan Jhon mengajukan syarat itu. Pertama, selama tiga tahun diawal pernikahan mereka, Jhon ingin melihat sejauh mana putrinya bisa bertahan dengan kondisi rumah tangganya. Mengingat sifat Isabel yang kadang masih labil, jika hal terburuk terjadi dalam pernikahan mereka, paling tidak putrinya tidak akan direpotkan dengan urusan anak.


Kedua, Jhon ingin Isabel belajar bagaimana caranya bertahan disaat kondisi rumah tangganya sedang sulit. Karena pernikahan yang berlandaskan cinta tidak menjamin akan bebas dari konflik.


Ketiga, Isabel masih nol pengetahuan tentang bisnis, makanya dia ingin Isabel memperdalam pengetahuannya tentang dunia bisnis selama tiga tahun ini, karena ini sangat penting. Jika terpaksa mereka harus memilih jalan terburuk dalam rumah tangga mereka kelak, Isabel masih bisa bertahan hidup karena tidak bergantung pada suaminya.


"Terima kasih, Mr. Bennings."


"Terima kasih, Dad."


Ucap Eric dan Isabel bersamaan.


"Apapun syarat yang Anda berikan, saya akan menerimanya." Ucap Eric meyakinkan.


Dan satu-satunya wajah yang tidak bersahabat disini adalah milik Mike. Meski sebenarnya dia tidak setuju dengan keputusan sang ayah, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kalian bisa bangun sekarang." Pinta Jhon. Setelah itu, Eric dan Isabel bangun. Mereka duduk bersisian di sofa dengan perasaan bahagia. Perjuangan yang mereka lakukan akhirnya membuahkan hasil. Penolakan yang menyambut Eric diawal, akhirnya ditutup dengan restu bersyarat yang membuat senyum mereka mengembang.


"Segera persiapkan semuanya !" Perintah Jhon.


*


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Cihuy, senengnya yang mau nikah.


Rebahan dulu lah, sambil nunggu Bang Eric nyiapin pernikahannya.


Btw, untuk panggilan Isabel pada kedua orang tuanya emang aku rubah ya. Biar lebih nyaman aja bacanya, jadi jangan bingung, wkwkwk. Sebetulnya banyak banget kesalahan penulisan dalam novel ini, belum sempat revisi semuanya. Jadi mohon maaf jika tulisan ini kurang nyaman dibaca.


See you next part, Love.