
"Ini tidak bisa dibiarkan. Bedebah itu sudah sangat keterlaluan." Mike menyesap red wine dalam gelas kristal yang baru saja diberikan oleh Joe.
Bibir Joe berkedut menahan tawa. Malam ini, sahabatnya itu tiba-tiba muncul di rumahnya dengan membawa segala macam gerutuan tentang kejadian yang terjadi di rumahnya tadi siang.
Joe meletakkan botol red wine diatas meja, lalu dia duduk di sofa, berseberangan dengan Mike. Menyesap cairan merah dalam gelas kristal secara perlahan. Dia menahan diri untuk tidak menimpali ucapan Mike.
"Aku tidak habis pikir. Kedua orang tuaku sama sekali tidak mau mendengarkanku. Mereka lebih percaya pada bedebah Michaels itu. Bahkan anakku sendiri sudah berani melawanku karena si berengsek itu." Mike meneguk kasar minumannya hingga tandas. Meraih botol di tengah meja lalu mengisi lagi gelasnya.
Joe menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa. Menyangga kepalanya dengan tangan kanan yang sikunya bertumpu pada punggung sofa.
Pemandangan di hadapannya ini sangat langka. Mike sangat jarang menunjukkan kegusarannya seperti ini. Apalagi pemicunya adalah asmara adiknya. Mungkin karena dia merasa tidak ada yang sejalan dengan pikirannya.
"Apa yang harus kulakukan ?" Mike mengusap rambutnya kasar.
Kalimat yang ditunggu-tunggu oleh Joe. Sebisa mungkin Joe menahan untuk tidak terbahak-bahak. Namun usahanya hanya berhasil sampai senyum lebar dan suara kekehan yang keluar dari mulutnya.
"Apa yang kau tertawakan ?" Hardik Mike.
Joe menyesap minumannya sedikit, lalu dia tertawa kecil. "Lihat sisi baiknya, Buddy." Joe ingin Mike melihat sisi positif dari kejadian ini. Adiknya tidak lagi meratapi mantan kekasihnya yang telah menikah. Adiknya berhasil menyelesaikan pendidikannya yang sempat mandeg dengan baik. Adiknya tidak lagi tersesat pada cinta yang salah. Lagipula, menurut Joe, Eric adalah orang baik. Jadi, hubungan Eric dan Isabel pantas di coba.
"Tidak ada sisi baik dalam hal ini." Geram Mike.
Gelas ditangan Joe sudah berpindah keatas meja. Pria itu menegakkan posisi duduknya. Menatap lurus pada Mike. "Aku tahu kau lebih pintar dari ini." Joe kembali tersenyum lebar. Teringat satu hal yang menurutnya sangat menarik. "Bahkan bocah empat tahun saja bisa melihat kebaikan dari seorang Eric Michaels."
Mike mendelik geram. Setelah seluruh anggota keluarganya, kini sahabatnya juga lebih berpihak pada Eric. Bagus sekali !
"Hah...!" Mike membuang nafas kasar. Kembali menyesap wine dari gelasnya. "Kau juga membelanya ?" Sarkas Mike, membuat Joe terkekeh.
Malas membicarakan hal yang membuatnya seperti hanya sebatang kara di dunia ini, Mike merebahkan tubuhnya di sofa. Dia menghela nafas panjang. Lalu dia memejamkan mata, mencari ketenangan.
"How's she ?" Dalam keadaan mata terpejam, suara Mike terdengar lirih dan begitu dalam. Kekesalannya yang menggebu-gebu tadi seolah menguap begitu saja. Berubah menjadi kehampaan dan kesedihan.
Joe berdiri, lalu dia berjalan ke sebuah meja yang ada di sudut ruangan. Mengambil sebuah tablet dari sana dan kembali mendekat pada Mike. Melakukan sedikit hal pada tablet itu lalu meletakkannya di atas meja, sisi paling dekat dengan Mike.
"She's sleeping." Jawab Joe.
Mike membuka mata, meraih tablet dari atas meja lalu menatapnya dengan tatapan rindu dan sedih.
Seorang wanita tidur meringkuk diatas kasur kecil berukuran 1x2 meter dalam ruangan yang serba putih. Ruangan itupun tidak besar. Hanya berukuran 3x4 meter berisi satu ranjang, satu meja, wastafel dan kamar mandi. Diatas meja itu ada beberapa buku bertumpuk dan satu buku yang terbuka. Sebuah nampan berisi piring dan gelas kosong terletak di sebelah buku itu.
"I miss you." Bisik Mike, membelai wajah dengan mata terpejam yang tampak damai dalam layar.
Joe menepuk pundak Mike, dia tahu bagaimana perasaan sahabatnya itu. Bahkan kalau dirinya berada dalam posisi Mike saat ini, dia tidak yakin mampu menjalani hidupnya dengan normal. Selama tiga tahun, Mike memendam semua beban berat dalam hidupnya sendirian. Dia tidak mengijinkan satu orang pun mencampuri hidupnya. Dia bertindak sesuai hatinya. Apa yang dirasa benar, pasti akan selalu dia pertahankan.
Seperti hal yang satu ini, Joe sekalipun tidak berani mengusik. Dia hanya melakukan apa yang diminta sahabatnya. Karena hanya dengan cara itu dia bisa memantau sejauh mana tindakan Mike.
*****
Isabel mengemudikan mobilnya menuju ke apartemen Alice. Malam ini dia akan menginap disana. Bebas ! Itu yang dirasakan Isabel.
Kini dia bisa mengendarai sendiri mobilnya kemanapun dia mau. Tanpa ada lagi Taylor yang membuntuti.
Sebelum sampai di apartemen Alice, Isabel mampir ke sebuah minimarket. Dia ingin membeli banyak makanan dan minuman kaleng untuk nanti begadang bersama sahabatnya itu.
Sudah lama sekali Isabel tidak menginap disana. Dan Isabel sangat merindukan hal itu.
BMW putih itu parkir di pelataran sebuah minimarket tiga blok dari gedung apartemen Alice. Isabel turun, lalu melenggang masuk ke dalam minimarket.
Dia mengambil sebuah trolly dan mendorongnya menuju counter makanan. Disana dia mulai kalap. Berbagai macam makanan ringan dan minuman dia ambil hingga hampir memenuhi trolly.
"Hh...ini banyak sekali." Gumamnya sambil menggeleng. Tapi tangannya tidak juga berhenti menurunkan beberapa makanan lagi dari rak.
"Isabel !"
Isabel menoleh saat suara seorang perempuan memanggil namanya.
"Hai." Balas Isabel sambil memaksakan senyum saat mengenali siapa perempuan itu. Perempuan yang mengenakan dress hitam selutut dengan perut buncit. Chloe.
Sebenarnya Isabel ingin pergi. Memang dirinya sudah berbaikan dengan Chloe, tapi ini adalah kali pertama mereka bertemu setelah dari Amytville. Dan Isabel masih merasa kurang nyaman berada di dekat Chloe.
Chloe mendekat sambil tersenyum ramah. Di tangannya ada sebuah keranjang berisi 2 box susu hamil.
"Memborong, hm ?" Tanya Chloe saat melihat trolly Isabel yang hampir penuh.
Isabel mengangkat bahu. "Bekal untuk menginap di apartemen Alice." Jawabnya.
"Oh." Sahut Chloe. "Bagaimana kabar Alice ? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya." Tanya Chloe selanjutnya.
"Baik." Jawab Isabel singkat. Lalu pandangannya jatuh pada perut buncit Chloe. "Bagaimana keadaannya ?" Isabel menunjuk perut buncit Chloe dengan tatapan matanya.
"Dia sangat aktif." Chloe mengelus perutnya dengan sayang. "Baby girl." Tambahnya.
Tanpa sadar senyum Isabel merekah, tapi dia tidak menimpali lagi. Isabel yang sangat menyukai anak kecil, tidak bisa menutupi perasaannya saat membayangkan bayi perempuan mungil yang lucu.
"Mm....aku dengar kau dan Eric sekarang berkencan." Kata Chloe setelah beberapa saat mereka terdiam.
Isabel refleks menoleh. Tentu saja Chloe tahu. "Ya. Begitulah." Sahut Isabel kemudian.
"Thanks." Ucap Isabel sambil menggaruk tengkuknya, sedikit canggung.
"Kau sendirian ?" Isabel mengedarkan pandangan dan tidak mendapati orang yang dia kenal. Aiden.
Chloe menggeleng. "Aku bersama Aiden." Chloe menunjuk ke bagian perkakas di ujung ruangan dimana Aiden sedang berjongkok memilih barang yang dia cari.
Tepat setelah itu Aiden berdiri lalu berjalan ke tempat Chloe menunggunya tadi.
"Aku tidak menemukan yang lebih besar dari ini." Kata Aiden sambil menunjukkan sebuah obeng berukuran kecil.
Langkah Aiden terhenti sesaat, waktu dia melihat seseorang di hadapan Chloe. Dia menarik nafas dalam lalu melanjutkan langkahnya mendekat pada Chloe dan Isabel.
Isabel pun merasa sedikit canggung saat Aiden mendekat. Walau bagaimanapun Aiden adalah pria yang pernah mengisi hatinya. Dan dia pernah sangat mencintai pria itu.
"Hai." Sapa Aiden canggung.
"Hai." Balas Isabel tak kalah canggung.
"Bagaimana kabarmu ?" Tanya Aiden.
"Baik. Kau sendiri ?"
Aiden tersenyum hangat. "Baik." Jawabnya. "Kau sendirian ?"
"Ya."
Chloe berdehem. "Berikan obengnya padaku. Aku akan membawanya ke kasir." Kata Chloe, mengulurkan tangan pada Aiden.
Aiden menoleh pada Istrinya, lalu memberikan obeng yang dia bawa pada Chloe. Aiden tersenyum, lalu Chloe meninggalkan mereka berdua.
"Selamat." Kata Aiden sepeninggal Chloe.
Isabel tercenung. Dia berusaha mencerna ucapan Aiden. Selamat ? Untuk apa ?
"Selamat untuk kelulusanmu." Kata Aiden lagi.
Isabel tersenyum saat tahu maksud Aiden. "Thanks." Balasnya. Sebenarnya dia penasaran, darimana Aiden tahu kalau dia sudah lulus ? Tapi dia enggan untuk bertanya lagi.
"Mau kubantu membawa trolly ?" Tawar Aiden, melirik trolly Isabel.
Isabel tersenyum kaku, dia merasa tidak enak dengan Chloe. "Tidak perlu." Putusnya. Dia cukup tahu diri untuk tidak merepotkan suami orang lain yang kebetulan adalah mantan kekasihnya.
"Okay." Aiden memasukkan tangannya ke saku celana.
"Aku ke kasir dulu." Isabel mendorong trolly ke arah kasir dimana Chloe sedang mengantre disana.
Aiden mengikuti. Dia berjalan di sisi Isabel. "Selamat." Kata Aiden lagi yang membuat Isabel kembali menoleh padanya. Kening Isabel berkerut. Selamat untuk apa lagi ?
"Kau dan Eric." Jelas Aiden. Dia tersenyum getir. Jelas sekali terlihat kalau dia terluka dengan ucapannya sendiri.
Isabel langsung mengalihkan pandangan dengan gugup.
"Aku harap kau bahagia dengannya." Kata Aiden sebelum menghampiri Chloe yang baru saja selesai membayar belanjaannya.
Isabel masih berdiri di tempatnya. Cukup terkejut melihat reaksi Aiden. Tapi dia senang, akhirnya Aiden bisa menerima hubungannya dan Eric dengan baik. Dan dia berharap perlahan Aiden bisa membuka hati pada Chloe.
"Sampai jumpa lagi, Isabel." Kata Chloe sambil tersenyum hangat sebelum berbalik menuju pintu keluar. Aiden di belakangnya juga tersenyum pada Isabel lalu mengikuti langkah Chloe.
Isabel mendesah, melihat Aiden membukakan pintu untuk Chloe. Seperti yang sering dia lakukan pada Isabel dulu.
"Ingat Eric, Isabel !" Gadis itu menutup mata sebentar lalu menghirup udara banyak-banyak. Dia mengeluarkan nafas kasar lewat mulut dan kembali mendorong trolly mendekat ke meja kasir.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Ada yang nanyain Hannah ? Udah dapet clue setelah baca part ini ?
Tenang, misteri kemana perginya Hannah pasti akan terjawab di sini. Harap sabar.
See you next part, Love.