100 Days

100 Days
Part 81



Isabel tersenyum melambaikan tangan pada Elena yang baru saja melajukan mobilnya keluar dari carport. Setelah mobil Elena menghilang dibalik gerbang, Isabel berbalik dengan raut wajah merah padam.


"Aku tidak suka dengan wanita itu !" Isabel menjerit saat menutup pintu dengan sedikit membantingnya.


Eric muncul dari arah ruang keluarga dengan senyum mengejek. Membuat Isabel semakin meradang.


"Dia adalah wanita paling menyebalkan yang pernah aku temui seumur hidupku !" Pekik Isabel lagi. Dia berjalan sambil menghentakkan kaki melewati Eric yang masih memasang wajah mengejeknya.


"Aku sudah memperingatkanmu." Ejek Eric. Akhirnya Isabel melihat sendiri seberapa menyebalkannya Elena. Wanita itu memang tidak pantas disebut tamu di rumah ini.


Eric berjalan menghampiri Isabel yang duduk dengan wajah ditekuk sambil menyilangkan tangan di depan dada. Dia duduk di sebelah Isabel lalu menarik gadis itu dalam dekapannya.


"Jika bertemu dengannya lagi, pergi saja. Tidak perlu mendengarkan apapun yang dia ucapkan." Eric mencium puncak kepala Isabel. "Lidahnya seperti ular."


"Harusnya tadi kubiarkan saja kau mengusirnya." Isabel mengerucutkan bibir. Menyesal telah membela wanita itu daripada mendengarkan ucapan Eric. Isabel yakin, Elena memiliki maksud tertentu dengan segala apa yang diucapkannya tadi.


Dering ponsel Eric terdengar. Pria itu meraih ponsel dari atas meja, melihat siapa yang menelpon. Dan ternyata itu Jose. Eric menepuk dahinya. Dia lupa jika hari ini dia ada janji dengan supplier seafood yang selalu memasok bahan makanan laut di Willow Spring. Dia melirik Isabel sebentar lalu mengangkat panggilan dari Jose.


Eric melepaskan dekapannya pada Isabel lalu memberi isyarat untuk menerima panggilan itu di ruangan lain. Rasanya tidak enak jika Isabel mendengar pembicaraannya dengan Jose. Eric melupakan pertemuan penting itu untuk Isabel. Dia tidak ingin kekasihnya merasa bersalah.


Isabel mengerti. Dia mengangguk membiarkan Eric menghilang dibalik pintu.


Kedua mata Isabel berkeliling. Dia belum sempat berkeliling rumah gara-gara kehadiran wanita sialan itu. Untuk menghilangkan kekesalannya pada Elena, Isabel memutuskan untuk berkeliling.


Dia penasaran dengan halaman belakang yang katanya ada paviliun tempat para maid tinggal. Dia berjalan melewati lorong yang berada di dekat dapur. Lorong itu menghubungkan dapur dengan halaman belakang.


Hanya cukup berbelok satu kali dan Isabel sampai di serambi belakang. Dari kejauhan dia bisa melihat sebuah bangunan yang bergaya Tionghoa. Lucu juga, rumah utama yang bergaya minimalis dihiasi dengan unsur etnis dibagian belakang. Tiga orang wanita--kemungkinan para maid--terlihat sedang melakukan perawatan pada taman bunga. Lalu seorang pria datang dari arah kanan dengan memanggul karung. Pria itu menjatuhkan karung di dekat para wanita. Sepertinya karung itu berisi pupuk.


Tempat tinggal Eric selalu saja ada taman bunganya. Di Amytville juga ada taman bunga. Pasti Chloe yang menanam bunga-bunga itu.


Puas memperhatikan kegiatan di halaman belakang, Isabel kembali masuk ke dalam rumah. Dia tidak melihat Eric dimanapun, mungkin dia belum selesai dengan panggilan teleponnya.


"Yang mana kamar Eric ?" Gumam Isabel. Dia mengarahkan pandangannya ke lantai atas. Dia tersenyum lantas melangkah menaiki anak tangga ke lantai dua sambil bersenandung.


Ada tiga pintu kamar disana. Satu kamar yang  dipintunya ada tulisan 'CHLOE'S ROOM' terbuat dari kayu, pasti milik Chloe. Isabel tidak berniat melihatnya.


Lalu dia melangkah lagi menuju kamar di sebelahnya. Tidak ada tulisan apapun di pintu itu. Perlahan Isabel memutar kenop pintu. Tidak terkunci. Isabel membuka pintu dengan hati-hati.


Iris biru Isabel berkeliling ke penjuru ruangan. Ada foto Jordan muda berukuran besar bersama orang tua kandungnya yang menggantung di dinding. "Ini pasti kamar Jordan." Gumam Isabel.


Kamar ini terlihat rapi dan bersih. Pasti karena Jordan jarang menempatinya dan para maid yang rajin membersihkannya. Isabel duduk di tepi ranjang. Mengambil bingkai foto dari atas nakas, memperhatikannya dengan seksama. Foto Jordan kecil yang memakai pakaian coboy duduk diatas kuda poni dengan kedua orang tua kandungnya di sisi kanan dan kiri kuda. Mereka tersenyum lebar, tampak sangat bahagia.


"Aku tidak tahu seberat apa beban yang kau tanggung di usia semuda itu. Tapi aku percaya kau adalah orang hebat dengan jiwa yang sangat tangguh."


Isabel mengusap bingkai foto itu dan tersenyum. Ditinggalkan kedua orang tua di usia 10 tahun, menjadikannya anak sebatang kara. Dan di usia 17 tahun harus merasakan kesakitan yang sama karena ditinggal kedua orang tua angkatnya, tetap waras saja itu sudah hebat. Apalagi harus mengasuh dua adik angkat sekaligus, karena mereka adalah satu-satunya keluarga yang tersisa. Bukan orang biasa yang mampu menjalani hidup seperti itu.


"Aku harap kau segera menemukan kebahagiaanmu, Jordan. Seperti aku yang telah menemukan kebahagiaanku bersama Eric. Aku akan selalu bahagia untukmu." Isabel menelan ludah, matanya berkaca-kaca. Dia mencium bingkai foto itu sebelum meletakkannya kembali diatas nakas.


Kini Isabel berada di depan pintu ketiga. Isabel tersenyum kecil. Ini pasti kamar Eric. Dengan hati-hati gadis itu membuka pintu. Senyumnya semakin lebar kala aroma khas Eric menusuk indra penciumannya. Aroma yang selalu membuatnya tenang.


Isabel berlari kecil lantas membanting tubuhnya diatas kasur Eric. Menggerakkan tangan dan kakinya seperti sedang mengepakkan sayap. Memejamkan mata, menghirup dalam-dalam aroma khas Eric yang tertinggal disana.


"Aroma tubuhmu selalu membuatku tenang." Gumam Isabel.


Kelopak mata Isabel terbuka. Dia beringsut duduk, kedua irisnya memindai setiap sudut ruangan. Kamar ini terasa 'Eric' sekali. Nuansa maskulin yang sangat kental dengan dominasi warna putih dan hitam.


Senyum jahil tercetak diwajah cantik Isabel. Iseng dia membuka setiap laci nakas di kanan dan kiri kasur Eric.


Tangan kecilnya menyusuri permukaan pintu lemari berwarna putih itu.


"Eh ?" Isabel menghentikan gerakan tangannya saat salah satu pintu tak sengaja terbuka karena tangannya yang menekan pintu itu sedikit kuat.


"Bahkan lemari juga harus pakai kunci digital." Isabel menggeleng-geleng kepala dengan tingkah kekasihnya yang selalu mengandalkan teknologi untuk design tempat tinggalnya.


Rupanya itu adalah lemari sepatu, tas, topi dan beberapa barang koleksi Eric lainnya. Isabel terkekeh dengan apa yang baru saja melintas di otaknya. Pikiran tentang membuka pintu lemari yang ternyata berisi pakaian dalam Eric. Oh, sangat menggelikan !


Di dalam lemari itu ada kaca berukuran sekitar 30x40 cm. Disudut kaca itu menempel sebuah foto. Tiga anak kecil berusia sekitar 5 tahunan. Dua anak laki-laki dan satu anak perempuan.


Isabel mengambil foto itu dan memperhatikannya baik-baik. Dia yakin dua bocah laki-laki itu adalah Eric dan Jordan. Dan bocah perempuan menggemaskan dengan rambut di kepang itu.....Elena.


Isabel memejamkan mata, mengingat Elena membuat moodnya turun. Dia hendak menempel foto itu lagi ke sudut kaca saat tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.


"Memeriksa isi lemari orang tanpa ijin adalah salah satu tindakan kriminal." Eric berbisik lalu mencium pipi Isabel.


Isabel membalik tubuhnya, wajah gadis itu terlihat kusut. Tidak seperti biasa saat Eric melakukan hal manis padanya.


Lalu kedua mata Eric fokus pada foto masa kecilnya bersama dua sahabat--ralat : satu sahabat dan satu mantan sahabat--kecilnya.


"Oh, God !" Eric mengusap wajah kasar. "Aku lupa jika masih ada foto itu di rumahku." Kata Eric berusaha menjelaskan pada Isabel kenapa masih ada foto Elena kecil di rumahnya. Bahkan di dalam lemarinya. Dia takut Isabel akan salah paham.


Isabel mendesah pelan, membuka telapak tangan Eric dan meletakkan foto itu disana. Lalu dia melepaskan satu tangan Eric yang masih ada di pinggangnya, berjalan melewati Eric yang tampak gusar.


"Aku ingin mendengar cerita tentang Elena." Kata Isabel sambil mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Cerita tentang Elena versi Jordan dan versi Eric membuatnya penasaran. Akankah cerita mereka sama ? Atau mungkin akan ada bagian yang membuatnya kecewa ?


Eric menghela nafas berat, meremas foto ditangannya lalu membuangnya ke lantai. Lalu dia melipat tangannya dipinggang dengan tangan kanan terangkat untuk mengusap wajah.


Dia melangkahkan kakinya perlahan ke sisi ranjang lalu duduk di sebelah Isabel. Eric membasahi bibirnya yang kering, menelan ludah lalu menggenggam kedua tangan Isabel. Dia tahu saat ini akan tiba. Dia tidak bisa terus menutupi masa lalunya dengan Elena.


Eric menjilat bibir lagi lalu melipat bibirnya. Jakunnya bergerak naik turun seiring nafasnya yang terdengar berat.


"Tell me everything. I know there's something about her." Isabel balas menggenggam jari-jari kokoh Eric. Perasaannya sebagai seorang perempuan mengatakan kalau ada sesuatu diantara mereka yang belum dia ketahui.


Mungkin ini saatnya Eric berterus terang. Akan lebih baik jika Isabel tahu cerita ini dari dirinya daripada dari orang lain.


Eric menunduk, memejamkan kedua matanya, mencoba mencari kalimat yang tepat untuk memulai cerita. Tidak mudah baginya untuk menceritakan kembali kisah menyakitkan yang entah kenapa setiap mengingatnya, Eric masih merasakan benci yang terlalu besar pada Elena.


Perlahan Eric mengangkat wajah, menatap lekat pada kedua manik biru Isabel. "She's my ex."


*


*


*


*


*


*


*


tbc.