100 Days

100 Days
Part 83



Isabel menggeliat pelan, namun tubuhnya terasa sulit digerakkan seperti ada sesuatu yang menahan. Isabel menatap ke bagian bawah tubuhnya yang terbungkus selimut. Dan dia melihat lengan kokoh Eric melingkar di perutnya. Lalu perlahan Isabel menoleh pada pria yang tertidur lelap sambil memeluk dirinya itu.


Senyum tipis terukir di wajah Isabel. Lalu dia berbalik, agar bisa leluasa menelusuri wajah Eric yang ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitar rahangnya dengan jari. Mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu indah.


Eric membuka kelopak matanya, perlahan dia mengerjap saat merasakan seseorang membelai wajahnya.


"Kau sudah bangun, hm ?" Gumam Eric, memejamkan mata lagi sambil mengeratkan pelukannya. Sentuhan tangan Isabel terlalu nikmat untuk di lewatkan.


"Hm." Jawab Isabel tanpa berhenti membelai wajah Eric. Gerakan tangannya terhenti kala Eric menangkap tangan Isabel lalu menciumnya dengan sayang.


"Maafkan aku, Bells." Bisik Eric. Pria itu membuka mata, menyibakkan rambut Isabel yang menutupi sebagian wajahnya ke belakang telinga.


"Aku mengerti." Isabel tersenyum manis. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri." Bisik Isabel. Dia menghembuskan nafas berat. Sesal. Rasa itu memenuhi hatinya.


Eric memejamkan mata. Dia menelan ludah, rasa bersalah yang bersarang di hatinya kian membesar. Menciptakan lubang menganga yang dalam. "Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa mengendalikan diriku." Ucap Eric lirih. Hari ini hampir saja dia menghancurkan semuanya. Hampir saja dia melanggar janjinya pada kedua orang tua Isabel.


Dia menggeram marah pada dirinya sendiri ketika Isabel mengangguk, mengiyakan keinginannya. Beruntung sedikit akal sehatnya masih bekerja. Dengan segala umpatan dan sumpah serapah, akhirnya Eric bisa menjauhkan diri dari Isabel. Mengangkat tubuhnya yang menindih Isabel untuk turun dari ranjang. Menahan gejolak yang sudah membuncah hingga ke ubun-ubun. Bahkan dia yakin, dia telah membuat Isabel merasa ketakutan saat dia berteriak meminta Isabel menutupi tubuhnya dengan selimut sementara dia membanting pintu di kamar mandi dan mengunci diri disana.


Begitu Eric keluar dari kamar mandi, dia mendapati kekasihnya sudah terlelap dalam balutan selimut seperti kepompong. Wajah polos Isabel membuatnya kian merasa bersalah. Eric tidak bisa menyamakan Isabel dengan wanita-wanita yang pernah dekat dengannya. Isabel adalah gadis yang spesial. Isabel adalah sesuatu yang harus dia jaga dengan baik. Gadis itu layak diperlakukan istimewa.


Lalu dia ikut naik keatas ranjang dan merebahkan diri, memeluk tubuh kekasihnya dari belakang. Menciumi kepala gadis itu sambil merapalkan begitu banyak kata maaf.


"Itulah mengapa aku selalu mengajakmu bertemu di tempat ramai."  Eric menatap lekat kedua iris biru Isabel. "Karena berdua denganmu membuatku selalu menginginkan dirimu. Kau tidak tahu betapa memabukkannya dirimu bagiku. Aku takut akan menghianati kepercayaan keluargamu padaku. Aku takut aku akan merusak dirimu."


Isabel mengulas sebuah senyuman tulus. Pasti sulit bagi Eric untuk tetap menjaga jarak dengannya. Eric adalah pria dewasa, dan dia juga mempunyai kebutuhannya sendiri.


Isabel memeluk Eric, merangsek dalam dekapan hangat pria itu. "Aku janji tidak akan membuatmu kesulitan lagi." Bisiknya.


Eric mencium puncak kepala Isabel. "Terima kasih."


Diam dengan posisi saling berpelukan dalam beberapa waktu, merasakan kenyamanan bersama.


"Aku lapar." Isabel mendongak, menatap Eric sambil mengerucutkan bibir. Tak terasa mereka tertidur cukup lama. Hari sudah sore. Waktu makan siang sudah terlalu lama terlewatkan.


"Kau bersihkan dirimu. Aku akan menunggu di luar." Kata Eric. Dia mengecup sekilas kening Isabel lalu bangkit dan keluar dari kamar.


Isabel membenamkan wajahnya dalam selimut yang membungkus tubuhnya. Bodoh ! Isabel tak henti memaki dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia bertindak sebodoh itu ?! Bagaimana kalau Eric kalap. Bagaimana kalau dia tidak bisa mengendalikan diri ? Isabel tidak bisa membayangkan betapa frustsinya Eric saat berada di puncak keinginannya, dan dia harus menghentikan keinginan itu.


Isabel mendesah, "Harusnya aku bersikap lebih jual mahal pada Eric. Kasihan dia. Pasti tidak mudah menahan diri seperti itu." Isabel menatap hampa pada pintu dimana Eric menghilang disana. Dia merutuki kebodohan yang dengan mudahnya jatuh dalam gairah bersama Eric. Dan apa tadi ? Dia hampir saja menyerahkan semuanya dengan sukarela untuk Eric.


Isabel menutup wajahnya dengan telapak tangan. Rasanya malu sekali. Apa jadinya jika tadi semuanya benar-benar terjadi ?! Kedua macan di rumah pasti akan mengunyahnya tanpa ampun.


Isabel beranjak, dengan tubuh yang masih terbungkus selimut dia menyeret kakinya menuju kamar mandi. Tak lupa dia memungut kaos rajutnya yang masih tergeletak di lantai.


Sesaat dia memandangi kaos itu. "Bodoh ! Kenapa kau mudah sekali dilepaskan ?!" Makinya pada kaos rajut berwarna merah muda itu. Setelahnya, dia kembali melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dua puluh menit kemudian dia turun dari lantai dua. Dia tersenyum melihat Eric yang sudah menunggunya di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Pria itu sudah berganti pakaian dengan kaos abu-abu tua dilapisi kemeja kotak-kotak merah yang tidak dikancingkan dan masih dibalut dengan jaket jins hitam.



"Menunggu lama ?" Isabel merangkul bahu Eric yang sedang duduk di sofa.


Eric tersenyum lalu mengusap lengan Isabel. "Selama apapun aku akan menunggumu."


Isabel berjalan memutar, berdiri di hadapan Eric lalu menarik tangan pria itu agar berdiri. "Ayo aku sudah sangat lapar."


Eric beranjak. Berjalan disamping Isabel menuju pintu depan. Tapi tiba-tiba langkah kaki Eric terhenti. Kedua matanya terpaku pada leher Isabel yang terdapat kissmark hasil karyanya.


"Tunggu sebentar." Eric mengangkat telunjuk, meminta Isabel tidak bergerak dari tempatnya. Lalu dia setengah berlari masuk kembali ke bagian dalam rumah.


Beberapa saat kemudian Eric kembali dengan membawa syal berwarna putih ditangannya. "Pakai ini. Aku masih ingin hidup untuk menikahimu." Tutur Eric sambil melilitkan syal itu di leher Isabel.


Isabel diam mematung. Seperti baru saja ada godam yang menghantam kepalanya. Bukan karena Eric yang memakaikan syal untuknya, tapi karena ucapan yang keluar dari mulut Eric.


Menikah ? Isabel belum berpikir sejauh itu. Usianya masih terlalu muda untuk menikah. Rasanya baru kemarin dia lulus kuliah dan mulai bekerja. Hari ini saja dia baru menginjak usia 22. Dan...menikah ? Sama sekali belum terlintas dalam otaknya.


"Ayo." Setelah syal itu terlilit sempurna, Eric membalik tubuh Isabel lantas menuntun gadis itu keluar dari rumah.


*****


"I'm home !" Teriak Isabel saat memasuki pintu rumahnya. Malam ini keluarga Isabel mengadakan makan malam untuk merayakan ulang tahun putri satu-satunya keluarga Bennings. Tidak pernah ada perayaan besar-besaran. Mereka lebih suka menikmati momen bahagia seperti itu dengan acara keluarga sederhana.


"Hai....sweety ! Bagaimana harimu ?" Emma menyambut putrinya dengan senyum hangat. Lalu pandangannya jatuh pada sosok yang berjalan di belakang Isabel.


"Eric..." Emma tersenyum ramah. "Kau harus ikut makan malam dengan kami." Kata Emma.


Eric balas tersenyum ramah. Dan senyum itu semakin lebar saat seorang bocah meneriakkan namanya sambil berlari dan menubruknya cukup keras.


"I miss you, Uncle." Liam tersenyum lebar sambil memeluk leher Eric.


"I miss you too, young man !" Eric menoel hidung Liam. Lalu pandangannya beralih pada Emma yang menatapnya bahagia. "Tentu, Mrs. Bennings. Saya akan ikut makan malam bersama."


"Aku akan pergi ke kamar." Kata Isabel melenggang meninggalkan Eric bersama dua anggota keluarganya itu.


Acara makan malam kali ini terasa berbeda bagi Eric. Mike, yang biasanya bersikap dingin pada Eric kali ini bisa bersikap lebih hangat. Meskipun tidak sehangat kedua orang tua Isabel, tapi Eric bisa merasakan perubahan sikap Mike pada dirinya. Eric bersyukur dalam hati, hari ini dia tidak jadi menghancurkan kepercayaan mereka. Seandainya tadi dia tidak bisa mengendalikan diri, saat ini dia tidak akan berani mengangkat wajah di depan keluarga ini.


"Dia adalah istriku." Ucap Mike, dia berjalan menghampiri Eric yang berdiri di ruang keluarga di depan sebuah pigura besar yang menampilkan sebuah foto seorang wanita cantik berambut coklat dengan sweater hitam.



Eric menoleh ke belakang. "Sangat cantik." Komentarnya.


Mike berdiri di samping Eric. Segelas wine dia genggam di tangan kanan. Pandangannya tidak lepas dari foto yang sedang di pandangi Eric. Foto wanita yang sangat dia cintai.


"Dimana dia ?" Tanya Eric.


Mike menyesap wine dalam gelas yang dia bawa. Menelannya dengan susah payah karena rasa tercekat di tenggorokannya yang tiba-tiba mencekik.


"Di rumah keluarga Thompson." Jawab Mike tanpa mengalihkan pandangan dari foto Hannah, istrinya.


Sontak Eric menoleh, mengernyitkan keningnya. Istri Mike di rumah keluarga Thompson ? Apa yang dilakukannya disana ? Apa mereka sudah bercerai tapi Mike masih terlalu sayang padanya hingga mengalami delusi ?


"Dia mengidap skizoafektif." Mike menghela nafas, melirik sekilas pada reaksi Eric. "Delusi dan kecemasan berlebih." Tambah Mike. Kakak semata wayang Isabel itu berbalik, lalu berjalan ke arah sofa untuk duduk disana. Eric mengikutinya. Duduk di sofa yang sama dengan Mike.


"Dia mengalami baby blue saat Liam berusia 6 bulan." Mike menyandarkan punggungnya pada sofa. Kedua matanya menatap kosong. "Orang-orang b*rengsek dari masa lalunya meracuni otaknya yang sedang labil. Hingga suatu saat tanpa sadar dia hampir mencelakai Liam." Rahang Mike mengeras, mengingat mantan mertua Hannah yang memberi sugesti-sugesti menyesatkan pada saat Hannah sedang mengalami baby blue syndrome. Hingga akhirnya Hannah sering mengalami delusi jika Liam selalu terluka saat bersamanya.


"Dia berpikir dengan menjauh dari Liam akan membuat Liam aman. Dan dia memilih kembali pada keluarga angkatnya." Terang Mike.


Eric diam dan terus mendengarkan. Sama sekali tidak mengira jika Mike mempunyai kisah yang sangat menyedihkan seperti itu.


"Dia tidak mau bertemu dengan siapapun kecuali dokternya dan Joe. Hanya dua orang itu yang dia percaya tidak akan dia lukai." Mike mendesah kasar. "Padahal dengan dia mengurung diri seperti itu, malah semakin banyak orang yang merasa terluka. Terutama Liam. Dia sangat ingin bertemu ibunya. Merasakan pelukan sosok yang sangat dia rindukan."


Eric merasa prihatin dengan perjalanan hidup Mike. Ternyata dia hanyalah seorang pria rapuh yang bersembunyi dibalik topeng kemunafikan. Ya, munafik ! Dia berusaha terlihat kuat tapi ternyata di dalam dirinya jauh lebih rapuh dari selembar kaca tipis.


"Jangan memandangku dengan tatapan seperti itu !" Kata Mike galak. Dia tidak suka ditatap kasihan seperti itu.


Eric tertawa renyah untuk mencairkan suasana. "Aku hanya tidak menyangka kalau hidupmu semenyedihkan itu." Gurau Eric.


Mike tersenyum kecut. "Kau benar. Hidupku memang sangat menyedihkan. Karenanya aku tidak ingin adikku merasakan hidup yang sama menyedihkannya denganku." Mike menatap penuh makna pada Eric.


"Tidak. Dia akan hidup bahagia denganku." Balas Eric.


Mike mendengus. "Percaya diri sekali."


"Dengar. Aku sangat mencintai adikmu. Dan aku yakin aku bisa membuatnya bahagia." Bela Eric pada dirinya sendiri.


Mike mencondogkan tubuhnya sambil menatap tajam pada Eric. "Kau yang harus mendengarkanku baik-baik, Michaels ! Aturan dalam keluargaku akan terus berlaku sampai kapanpun." Kata Mike, menunjuk Eric dengan telunjuknya lalu menyandarkan punggungnya kembali pada sofa sambil menyesap wine-nya satu tegukan. Mike berdehem lantas berkata, "Kau kira memakai syal saat udara cukup panas seperti ini adalah hal yang wajar ?!" Mike menatap sarkas pada Eric.


Eric mengeratkan gigi-giginya. Tentu saja Mike bisa membaca situasi. Sepanjang makan malam Isabel tidak melepaskan syal yang melilit di lehernya, dan itu mengundang kecurigaan Mike jika diantara mereka telah terjadi sesuatu. Mike hanya berharap Eric bisa dipercaya akan memegang janji yang pernah dia ucapkan.


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


****** lo ketauan ! Untung aja nggak jadi adegan iya-iya, hahhahaa....


Eh, udah pada tau ya tu si Hannah kenapa dan kemana,,,ternyata hidup Mike menyedihkan banget yak. hiks hiks....!


Nanti deh kalo cerita Liam udah publish, bakal kuceritain lagi soal keluarganya Mike.


See you next part, Love.