
Hari masih gelap. Matahari belum menampakkan dirinya. Isabel mengikat simpul tali sepatunya dengan mantap. Dia menyambar hoodie hitamnya yang menggantung di balik pintu.
Menghirup udara pagi yang masih bersih menjadi pilihannya setelah semalaman tidak bisa memejamkan mata.
Dingin udara yang memeluk tubuhnya pun tidak dia rasakan. Satu-satunya cara untuk mengenyahkan dengung suara dalam pikirannya adalah dengan menggerakkan tubuh.
Isabel keluar menuju halaman depan. Dia mengernyit melihat sekitar yang hanya diterangi cahaya bulan pagi hari.
Tangannya merogoh ponsel dalam saku hoodie, memasang earphone pada telinganya dan mulai memainkan music player.
Isabel melakukan warm up sebentar lalu mulai mengayunkan kakinya berlari mengitari halaman depan beberapa kali.
Langit di sebelah timur mulai berwarna jingga, dan bulan semakin pucat, meskipun sang mentari masih malu untuk keluar.
Isabel melihat ke sekeliling, bukan lagi warna gelap yang mendominasi. Isabel pun mulai mengayunkan kaki menapaki jalan beraspal ke arah utara.
Suara music player di ponsel sengaja dia putar kencang dengan musik yang menghentak. Dia berlari kecil tanpa tahu arah. Dia hanya mengikuti jalan beraspal dan akan kembali dengan jalur yang sama.
Rumah disini jaraknya berjauhan, dengan jarak sekitar 100 meter tiap rumah. Banyaknya pepohonan membuat udara disini sangat bersih dan sejuk. Sungguh, ini adalah kenikmatan luar biasa di pagi hari.
Tak terasa Isabel sudah berlari cukup jauh. Kakinya mulai terasa pegal. Dia berhenti untuk beristirahat dan minum air mineral yang dia bawa dari rumah.
Dia duduk berselonjor di aspal jalan yang masih lengang. Hanya satu atau dua kendaraan saja yang melintas.
Setelah tenaganya kembali pulih, dia segera berlari kembali ke rumah. Ditengah jalan, tiba-tiba ada sebuah mobil yang menepi tidak jauh di depan Isabel. Sebuah chevy classic berwarna coklat elegan.
Isabel berhenti berlari, rasa was-was menghinggapi hatinya. Dia harus siaga.
Lalu pintu mobil itu terbuka. Seseorang turun dari mobil. Seorang wanita. Dia sangat cantik. Rambut tembaganya bergelombang begitu indah. Hidungnya mancung. Iris coklat terangnya tampak berkilau karena sinar matahari. Bulu mata lentiknya sangat menawan. Bibirnya berisi, sangat sexy. Tubuhnya....
Hhh....Isabel mendesah, semua pria pasti akan bertekuk lutut dihadapannya. Mini dress ketat berwarna hitam melekat indah di tubuhnya. Kecantikan latin yang sangat.....sempurna.
Lalu dia melihat dirinya sendiri. Dia tertawa kecil, lalu bergumam, "I am nothing." Dia menggeleng sambil tersenyum geli.
Wanita itu terlihat sedang menelpon seseorang dengan ekspresi serius. Oh tidak, bukan serius, tapi sedang marah-marah dengan gaya latinnya yang khas.
Isabel bisa bernafas lega. Setidaknya itu bukan penjahat yang sengaja memotong jalan untuk mencelakai dirinya.
Isabel pun segera melanjutkan aktivitasnya. Jogging.
Saat Isabel melewati wanita itu, dia melirik dan mendapati mata wanita itu memandangnya dengan tatapan menyelidik dari atas sampai bawah, tapi mulutnya terus berbicara dengan orang di seberang telpon.
Siapa yang peduli ?! Toh Isabel tidak mengenalnya. Dia tidak terganggu dan terus berlari hingga memasuki halaman rumah.
Isabel berhenti di halaman dan menghabiskan sisa air mineral yang tadi dia minum sebelum membuang botolnya ke tempat sampah.
Setelah itu dia masuk ke dalam rumah. Rasa dahaganya belum terpuaskan, jadi dia berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum lagi.
Namun langkahnya terhenti di ruang keluarga saat dia melihat dan mendengar secara langsung bagaimana Aiden dan Chloe berinteraksi di dapur.
Isabel diam. Chloe sedang memasak bersama Gloria dan Aiden duduk di meja makan. Interaksi Aiden dan Chloe benar-benar alami. Mereka tampak begitu dekat. Senyum dan tawa mereka juga begitu lepas. Mereka benar-benar 'berteman dengan baik'.
Isabel menarik nafas dalam-dalam. Mengisi paru-parunya dengan oksigen sebanyak yang dia bisa. Lalu perlahan dia hembuskan nafas untuk menetralisir sesak dalam dadanya.
Rasa dahaga yang tadi masih dia rasakan mendadak sirna. Dia urungkan niat untuk ke dapur.
Dia memilih untuk memutar tubuh kembali ke dalam kamar dengan perasaan kacau.
Isabel membanting tubuhnya di ranjang. Kelopak matanya terpejam rapat. Dari sudut matanya, sebulir air mengalir. Isabel merasa tidak punya hak untuk cemburu, tapi dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, apa yang dia lihat tadi menyakiti hatinya.
Melihat kedekatan Aiden dan Chloe membuat Isabel berpikir, mereka mulai bisa menerima satu sama lain. Lantas bagaimana dengan dirinya ? Tersisih dalam kesendirian dan keterpurukan serta kesakitan.
Isabel bangkit, dia duduk di tepi ranjang lalu mengusap air matanya dengan kasar. Dia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Dia menelan ludah, lalu menatap mantap ke depan.
"Bodoh ! Aku tidak boleh seperti ini."
*****
Seharian Isabel malas untuk keluar kamar. Dia juga melewatkan sarapan dan makan siang bersama. Dia butuh waktu sendiri. Tepatnya, mengurung diri dalam kamar.
Isabel butuh waktu untuk mengendalikan perasaannya. Dia tidak bisa bertemu dengan Aiden saat hatinya terbakar cemburu. Itu akan sangat berbahaya, Isabel bisa melakukan apa yang tidak diinginkan semua orang.
Duduk di jendela menikmati pemandangan di belakang rumah cukup menghibur. Di taman belakang ada kebun bunga yang sangat terawat. Disana Gloria sedang menyiram bunga-bunga itu.
Keindahan yang diciptakan oleh warna warni bunga itu setidaknya bisa membuat suasana hati Isabel membaik.
Sedikit cerita tentang Gloria. Gloria adalah wanita paruh baya yang tidak bisa bicara karena pita suaranya yang tidak bisa berfungsi lagi. Dia hanya bicara dengan bahasa bibir dan isyarat tangan. Tapi dia adalah wanita yang sangat baik. Wanita itu sudah mengabdi pada keluarga ini selama hampir tiga puluh tahun. Namun sejak orang tua Eric meninggal, dia tidak lagi bekerja. Dan pada saat Jordan dan Eric kembali mendapatkan hidupnya yang layak, mereka memanggil Gloria untuk bekerja pada mereka lagi.
Suara pintu yang terbuka dengan keras membuat Isabel menoleh.
"Maaf. Tanganku tidak bisa mengetuk pintu."
Eric melenggang masuk begitu saja dengan nampan berisi makanan dan sebotol air mineral di tangan kirinya.
Isabel turun dari jendela dan berjalan mendekat pada Eric untuk membantu membawa nampan. "Apa yang kau lakukan disini ?"
"Seseorang melupakan pasiennya." Eric menyerahkan nampan pada Isabel lalu dia duduk di tepi ranjang.
Isabel melirik jam di dinding. "Aku lupa." Dia ikut duduk di tepi ranjang berhadapan dengan Eric.
"Aku pikir adikmu akan merawatmu. Aku....merasa tidak enak." Isabel mengernyit melihat isi piring yang dibawa Eric. "Kau kelaparan ?" Tanyanya dengan polos saat melihat porsi makanan yang cukup besar. "Dan kenapa kau bawa dua sendok ?"
"Berisik. Aku sudah lapar."
"Apa tanganmu belum bisa digerakkan ?" Tanya Isabel sambil menyuapi Eric.
"Maksudmu untuk makan ? Tadi pagi aku makan sendiri, dan rasanya...menyakitkan."
"Harusnya aku tidak melupakannya. Kau begini karenaku." Isabel menunduk.
Eric mengunyah makanannya tanpa bersuara. Dia datang ke kamar Isabel bukan semata karena ingin menagih janji Isabel untuk merawatnya. Karena Chloe akan dengan senang hati melakukannya, tapi ditolak. Dia datang dengan maksud tertentu. Dia ingin memastikan sesuatu.
"Makanlah." Perintah Eric. Isabel menatap bingung pada Eric. "Aku tidak akan bisa menghabiskannya sendirian." Kata Eric kemudian. Eric tahu Isabel melewatkan sarapannya. Dia sengaja meminta porsi makan untuk dua orang pada Chloe.
Isabel tersenyum getir. Disaat seperti ini, justru orang seperti Eric peduli padanya.
"Aku....tidak lapar." Jawab Isabel. Dia jujur. Perasaan yang kacau membuat selera makannya lenyap.
"Apa perlu aku menyuapimu dengan tangan kiriku ?" Ucap Eric dengan wajah datarnya yang menyebalkan.
Isabel mendengus sambil tersenyum. "Aku sungguh tidak lapar, Eric."
Eric meraih sendok dengan tangan kirinya, berniat menyuapi Isabel.
"Aku saja." Akhirnya Isabel merebut sendok di tangan Eric. Kenapa Eric jadi cerewet seperti ini ? Dan sekarang mereka makan sepiring berdua.
"Terima kasih." Ucap Eric tiba-tiba.
Isabel menatap heran, Eric berterima kasih ? Pencapaian yang bagus. Tapi untuk apa ?
"Kau sudah merawatku." Lanjut Eric.
Isabel tersenyum, "Aku sudah bilang, kau terluka karena diriku. Aku hanya ingin mempertanggungjawabkannya."
Pertanyaan Eric membuat Isabel tergelak. "Kau mendengarnya ?" Padahal waktu itu jarak mereka cukup jauh. Bagaimana bisa Eric mendengarnya ?
"Kau mengucapkannya cukup keras."
"Kau marah ?"
"Aku ingin menembakmu."
Isabel memasang wajah terluka. Lalu mereka tertawa.
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Isabel berhenti tertawa dan memasang wajah serius. Ada hal yang masih mengganjal di hatinya.
Eric mengangkat alis. Isabel mengartikannya 'iya'.
"Kau masih membenciku ?" Tanya Isabel. Awal pertemuan mereka adalah dengan saling membenci. Sangat benci. Hingga sekarang sikap keduanya melunak. Tapi terkadang Eric masih bersikap dingin dan seenaknya. Isabel penasaran, apa Eric masih membencinya seperti dulu ?
Eric menunduk lalu menatap dalam pada Isabel. "Bagaimana denganmu ? Kau masih membenciku ?" Tanyanya serius.
"Kadang." Jawab Isabel jujur. Eric terlihat kecewa dengan jawaban Isabel. Dia mengangkat alis dan sedikit melotot tidak terima.
"Oh, come on ! Kau itu menyebalkan, Eric. Aku membencimu saat kau bersikap menyebalkan." Isabel menegakkan tubuh, lalu menurunkan bahunya.
"Aku sudah bersikap baik padamu dan kau masih membenciku ?" Eric tidak terima.
"Besikap baik ? Ya, sedikit. Tapi kau lebih sering membuatku kesal."
"Karena kau manja dan keras kepala."
Isabel meletakkan nampan diatas ranjang. Dia mengerutkan alis mendengar penuturan Eric.
"Dan kau baru saja bersikap menyebalkan." Katanya sambil melipat tangan di dada.
"Aku hanya mengatakan fakta." Sanggah Eric.
Isabel mencebikkan bibir. Eric tetaplah Eric. "Dan saat ini aku ingin menghajarmu."
Isabel menyambar guling di dekatnya dan menimpuk Eric dengan guling itu.
"Aargh..." Eric mengerang kesakitan. Dia memegang bahunya, memejamkan mata sambil mengeratkan giginya menahan sakit karena guling itu mengenai lengannya yang terluka.
Isabel melempar gulingnya lalu mendekat dan memegang tangan Eric dengan panik, "Aku tidak sengaja. Apa sangat sakit ?"
"Mau mencobanya ?" Eric merasa lukanya seperti disiram air jeruk.
"Aku minta maaf."
"Sudahlah." Eric menurunkan tangannya. Wajahnya merah karena menahan sakit.
Eric menahan tangan Isabel yang akan menyentuh lengannya yang masih dibalut perban. "Sudah tidak apa-apa." Katanya.
Isabel merasa bersalah. Dia menunduk sambil meremas jemarinya. Sejak kedatangan Aiden, dia jadi lebih sensitif. Air matanya sering meluncur tanpa sebab.
"Aku minta maaf. Aku sudah banyak menyusahkanmu." Ucap Isabel dengan suara parau. Gadis itu menahan tangisnya.
"Kau benar. Aku manja dan keras kepala. Aku juga egois. Aku menyakiti banyak orang karena egoku."
Eric menyentuh dagu Isabel dan mengangkatnya. Membuat wajah Isabel menghadap dirinya. Wajah gadis itu sudah basah dengan mata yang memerah.
"Aku egois. Aku menyakiti adikmu. Aku menyakiti keluargaku hanya untuk mempertahankan ego. Aku salah, Eric. Aku mengakuinya. Aku harus mengakuinya. Karena aku sudah kalah." Lanjut Isabel menahan getir saat mengatakannya. Mengakui kalau dirinya sudah kalah, bukanlah hal mudah. Dia harus menelan pil pahit itu, menjilat ludahnya sendiri.
Jari Eric bergerak dengan sendirinya, menghapus air mata Isabel. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dia hanya bertindak sesuai naluri alamiahnya. Membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya.
"Aku akan minta maaf pada adikmu. Untuk semua hal buruk yang aku lakukan padanya." Ucap Isabel.
"Dia sudah memaafkanmu sejak awal." Eric mengusap punggung Isabel dan mencium puncak kepala Isabel dengan lembut. Naluri alamiah Eric sedang bekerja.
Isabel sedikit menjauhkan tubuhnya, menengadah menatap wajah Eric. Dia sedikit terkejut saat merasakan bibir Eric di puncak kepalanya.
"Dia sudah memaafkanmu." Ulang Eric.
Entah apa yang dipikirkan Eric. Dia sudah pernah melihat wajah Isabel dari jarak sedekat ini sebelumnya.
Bahkan dia pernah mencium bibir gadis itu. Tapi waktu itu yang dirasakannya hanya amarah dan benci.
Dan saat ini naluri alamiah Eric berteriak ingin merasakannya lagi.
Awalnya Eric hanya menempelkan bibirnya saja, namun hasrat Eric ingin lebih.
Eric mulai menggerakkan bibirnya. Isabel memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut bibir Eric. Hingga membalas ciuman itu tak kalah lembut.
Ini salah. Ini sangat salah. Mereka tidak seharusnya seperti ini. Eric menginginkan gadis itu bersama Jordan. Tapi dia tidak ingin berhenti. Dia ingin terus menyecap manisnya bibir itu.
Beberapa saat kemudian, Isabel menjauhkan wajahnya. Eric membiarkannya. Dia memjamkan mata. Menyesal ? Entahlah.
Kedua mata mereka terkunci dengan jarak dekat. Mereka masih bisa merasakan hangatnya hembusan nafas satu sama lain.
Salah. Harusnya tidak begini. Eric datang bukan untuk ini. Dia sudah mendapatkan jawaban atas apa yang dia cari saat Isabel mengakui kesalahannya.
Eric masih bergeming, lidahnya terasa kelu. Lalu Isabel mulai buka suara, "Kau senang bisa membuat adik iparmu melihat kita berciuman ?"
Deg !
Ya, Isabel menyadari kalau Aiden memperhatikan mereka dari luar kamar sejak Eric memeluknya. Isabel sengaja membalas ciuman Eric. Dia hanya ingin menegaskan pada Aiden jika hubungan mereka benar-benar telah usai. Tidak ada lagi kata rindu. Tidak ada lagi cemburu.
Isabel beranjak, meraih nampan diatas ranjang lalu meninggalkan Eric begitu saja dikamarnya.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Kelar deh kalau yang bergerak naluri alamiah.
Katanya pengen buat abangnya, tapi di sosor juga.
Eh, betewe cewek latin yang semlohai itu siapa yak? Hmmm.......
See you next part, Love.