100 Days

100 Days
Part 15



"Kau pikir apa? Kau akan berada disini sampai adikku menikah," jawab Eric dibarengi sebuah seringai di bibirnya.


Mata Isabel membulat mendengar jawaban Eric. Bahkan tanpa sadar bibirnya terbuka.


"Kau menyekapku, hah?!" Isabel bangkit. "Kau pikir siapa dirimu? Aku akan menghubungi polisi." Isabel merogoh sling bag-nya dan mengambil ponsel dari dalam.


Eric tersenyum miring, karena memang itu yang dia tunggu. Saat Isabel bersiap menelepon, tangan Eric dengan cepat merampas ponsel itu.


"Hei, berikan padaku!" Isabel mencoba merebutnya. Eric semakin membuatnya kesal.


"Kau tidak butuh ponsel selama disini," kata Eric yang lebih memilih fokus pada layar ponsel rampasannya. Pria itu tampak melakukan sesuatu dengan ponsel itu, meskipun Isabel terus berusaha merebutnya.


Setelah selesai, Eric memasukkan ponsel itu ke saku mantelnya.


"Kembalikan ponselku, Berengsek!"


Sementara itu di tempat lain, Alice sedang kebingungan karena Isabel belum juga kembali ke apartemennya sejak siang. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi yang semakin menambah kekhawatiran Alice. Sahabatnya itu semakin sering melakukan hal tidak terduga. Sudah hampir tengah malam, gadis bermata biru itu belum juga pulang.


"Kemana kau, Gadis Bodoh?" Alice bergumam sambil bergerak gelisah diatas ranjang. Mike memberinya tanggung jawab untuk mengawasi Isabel, tapi dia gagal. Sepulang kuliah dia sudah tidak menemukan sahabatnya itu di dalam apartemen.


"Kalau gadis bodoh itu benar-benar menghilang, apa yang harus aku katakan pada keluarganya? Bisa-bisa mereka menghabisiku karena gagal mengawasi gadis bodoh itu." Alice menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Membayangkan reaksi keluarga Isabel membuatnya takut.


"Pulang, Bells! Jangan membuatku dalam masalah," gumam Alice dibalik selimut.


Berlama-lama memikirkan Isabel hanya semakin membuat kepala Alice pusing. Hingga pagi saat Alice membuka mata, Isabel belum juga kembali. Panggilannya juga hanya di jawab oleh operator, membuat Alice menghela napas lelah.


"Apa yang harus aku katakan pada Mike?" Teriakan Alice tertahan oleh bantal yang dia bekap ke wajahnya sendiri.


Mau tidak mau Alice harus memberi tahu Mike tentang menghilangnya Isabel. Semakin ditunda akan semakin buruk pula akibatnya. Apapun yang terjadi dia harus melakukannya.


"Selamatkan aku, Tuhan! Pulangkanlah sahabatku yang bodoh itu," doanya sebelum menelepon Mike.


Kabar dari Alice cukup membuat Mike berpikir yang tidak-tidak. Ini diluar dugaannya. Pria itu berpikir Isabel hanya akan kabur ke apartemen Alice, tapi kejadian ini sungguh mengejutkannya sekaligus membuatnya khawatir.


"Aku akan coba ke Muller Corp. Mungkin Aiden tahu keberadaan Isabel," tutur pria bermata biru itu. Alice mengangguk tanda setuju.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa mengawasi Isabel dengan baik," ucap Alice penuh penyesalan. Mata coklatnya berair, berusaha keras menahan air mata itu agar tidak jatuh.


"Bukan salahmu, Alice. Pulanglah, aku akan mencari Isabel." Mike tersenyum, tidak ingin membebani Alice dengan rasa bersalah. "Dan jangan menyalahkan dirimu sendiri," tambah Mike sebelum beranjak meninggalkan Alice.


Dengan langkah lebar Mike berjalan menyusuri lobi Muller Corp menuju ke bagian resepsionis.


"Excuse me," ucap Mike saat melihat wanita berambut merah dengan name tag 'Susan' dibalik meja resepsionis.


"Yes, Sir. Can I help you?" tanya wanita itu sopan.


"Apa Aiden Muller ada di tempat?" tanya Mike.


"Dengan ...," ucap Susan menggantung, dilanjutkan dengan bahasa matanya yang seolah bertanya siapa pria dihadapannya itu.


"Oh, Mike Bennings. Bisa aku bertemu dengannya?" ulang Mike.


"Maaf, Mr.Bennings, Mr.Muller sedang berada di luar kota."


"Luar kota?" Mike mengerutkan kening, berpikir mungkin dia bersama Isabel. "Kapan dia kembali?"


Susan tersenyum sebelum menjawab, "Tunggu sebentar." Susan tampak melakukan panggilan dengan pesawat telepon yang ada diatas mejanya. Wanita itu mendengarkan dan mengangguk sebelum menutup telepon.


Susan kembali melihat pada Mike dengan senyum ramah. "Mr.Muller akan berada di luar kota sekitar satu minggu. Ada pesan yang ingin di sampaikan?"


Mike mengangguk-angguk pelan dengan jari yang mengetuk-ngetuk meja. Dia tampak berpikir.


"Baiklah. Jika dia sudah kembali, tolong sampaikan padanya kalau Mike Bennings mencarinya," kata Mike.


"Baik, Mr.Bennings."


Ponsel Mike berdering ketika dia hendak membuka pintu mobil.


"Ya?" jawab Mike pada orang di sambungan telepon yang ternyata adalah Joe, sahabatnya.


"Bisa kau kerumah hari ini? Ada hal penting yang ingin aku bicaraka," tanya Joe.


"Okay, aku akan ke sana nanti malam," kata Mike.


"Nanti malam? Kau sedang sibuk sekarang?" tanya Joe.


"Hm, ada hal yang harus ku selesaikan lebih dulu."


"Okay, selesaikan dulu urusanmu lalu datanglah ke rumahku."


"Okay," jawab Ben.


Mike mematikan sambungan teleponnya. Menarik napas dalam lalu memasukkan ponsel ke dalam sakuĀ  celana sebelum masuk ke dalam mobil.


"Kau dimana Isabel? Jangan membuatku khawatir," gumam Mike sambil celingukan melihat kanan kiri jalanan berharap menemukan adik semata wayangnya itu.


Semalaman tidur diatas sofa membuat tubuh Isabel terasa pegal. Manik birunya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Eric benar-benar mengurungnya di sana. Sendirian. Oh tidak, ada seekor kucing gendut berwarna abu-abu yang kerjanya hanya makan dan tidur di tempat itu. Jadi dia tidak sepenuhnya sendirian.


Bukannya tidak berusaha kabur, tapi gadis bermanik biru itu tidak menemukan cara untuk kabur. Pintu keluar satu-satunya dari "safe house" ala Eric ini membuat Isabel bingung. Pasalnya tidak ada lubang kunci ataupun papan angka untuk membuka pintu. Setidaknya itu yang dia lihat sebelum diseret masuk ke dalam. Berulang kali Isabel berusaha membuka pintu itu, tapi tidak berhasil. Bahkan pintu yang diyakini sebagai kamar tidur disitu pun sama, tidak bisa dibuka. Isabel tidak menemukan jendela di ruangan itu. Semuanya tertutup rapat tanpa celah.


"Eric sialan! Awas saja kalau dia kembali kesini," maki Isabel.


Saat ini dia sangat ingin menghajar pria gila yang sudah mengurungnya itu.


Manik biru gadis itu beralih pada kucing abu-abu yang sedang asyik tidur di salah satu sudut ruangan. Perlahan dia mendekati kucing itu. Tidurnya terlihat sangat nyaman, hingga tendangan kaki Isabel mengenai tempat tidur kucing itu dan membuatnya menggeliat. Ya, hanya menggeliat dan melanjutkan mimpi indahnya lagi.


Gadis itu berjongkok. "Bangun, Kucing Gendut!" Tangannya membuka kelopak mata kucing yang masih pulas dengan mimpi indah itu, tapi sama sekali tidak mengusiknya.


Melihat kucing itu tidak terusik, Isabel duduk bersila di sebelahnya. "Hei, bangunlah! Temani aku!" Kucing itu ditarik ke pangkuan Isabel. Bulu-bulunya terasa sangat lembut, hingga membuat Isabel tertarik untuk mengelusnya.


"Siapa namamu? Apa kau sudah lama tinggal disini? Kenapa kau tidak kabur? Kalau aku jadi kau, aku pasti sudah kabur karena tuanmu itu pria gila yang sangat menyebalkan."


Rasanya nyaman sekali mengelus bulu-bulu itu. Yang punya bulu pun sepertinya sangat menikmati, karena kucing itu semakin terlelap dalam pangkuan Isabel.


"Kau tahu, aku sangat membenci tuanmu. Rasanya aku ingin sekali mencabuti rambutnya hingga botak lalu mencakar wajahnya. Tidak, tidak, aku tidak akan langsung mencabuti rambutnya, tapi aku akan menjambaknya sampai puas lebih dulu baru mencabuti rambutnya. Setelah itu aku akan menguliti kepala dan wajahnya agar tidak bisa dikenali lagi. Kalau perlu aku akan memotong-motong tubuhnya menjadi 50 bagian lalu mengumpankannya pada buaya."


Suara helaan napas terdengar sebelum dia melanjutkan ucapannya. Wajahnya berubah, dari yang berapi-api menjadi sendu. "Hei, Kitty. Kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan? Kekasihku akan menikah dengan gadis lain, tapi kami masih saling mencintai. Aku sedih, tidak ada yang mendukungku. Tidak ada yang peduli bagaimana perasaanku. Aku sangat mencintainya, kau tahu. Dia cinta pertamaku. Dia sangat menjagaku. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba dia akan menikah dengan gadis sialan itu. Tapi aku tahu, aku bisa merasakan kalau dia masih sangat mencintaiku." Manik birunya berair, mengingat wajah Aiden yang sedang tersenyum padanya.


"Aku sangat mencintainya. Tapi sekarang aku tidak tahu dimana dia, apa yang dia lakukan. Aku merindukannya. Aku sangat merindukannya, Kitty." Isabel mengusap wajahnya yang basah.


"Aku yakin semua ini ulah tuanmu." Wajah Isabel mengeras kembali. "Aku sangat membenci tuanmu. Aku ingin mencekiknya hingga kehabisan napas. Aku harap kau tidak keberatan kalau aku menghajar tuanmu. Aku ingin menenggelamkan wajahnya dalam closet. Aku ingin menjahit mulut tajamnya hingga dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata menyebalkan lagi. Aku ingin mencongkel kedua matanya. Aku ingin menendang selangkangannya. Aku ingin mencincang tubuhnya. Aku ingin menceburkannya ke kolam yang penuh dengan ikan piranha. Aku ingin membuangnya ke hutan amazon agar dia dimakan boa raksasa. Aku ingin mengunci dia dalam kandang singa kelaparan--"


"Dan semua itu termasuk dalam tindak kriminal yang bisa menjebloskanmu ke penjara," kata Eric tiba-tiba.


Entah sejak kapan Eric bersandar pada dinding di belakang Isabel dengan satu kaleng soda di tangannya.


Isabel melonjak kaget hingga menjatuhkan kucing malang itu dari pangkuannya saat dia berdiri.


***


tbc.


Eric masuk lewat pintu ajaib milik doraemon kali yak ?


Apa dia mendengar semua keluh kesah Isabel ?


Tunggu part selanjutnya !