
~Isabel~
Sejak hari itu, aku merasa hari-hariku semakin baik. Aku jadi sering mengunjungi anak-anak di Axella Foundation. Setiap akhir pekan aku juga selalu datang ke Bill's Park dengan membawa sekeranjang kue untuk anak-anak. Hubunganku dan Eric tidak kaku lagi. Kami jadi sering mengobrol dan tertawa bersama. Aku tidak pernah menyangka kalau akhirnya akan seperti ini. Aku bisa duduk bersebelahan dengan Eric dan membicarakan hal-hal konyol yang bisa membuat kami terbahak-bahak.
Aku, Eric dan Naomi. Kami bertiga duduk di depan sebuah kedai es krim sambil memakan es krim dengan lahap. Rasanya aku sudah lupa caranya tertawa lepas selama dua tahun terakhir. Tapi belakangan ini, aku sering melakukannya. Aku merasa semua beban yang ada di dalam hatiku terangkat. Dan aku bahagia.
"Kurasa setelah ini Sally akan mencincangku hidup-hidup," keluh Eric sambil menyuap es krim ke mulut Naomi.
"Karena es krim ini?" Aku mengangkat sebelah alisku dan tersenyum mengejek.
Dia menggerakkan kepalanya. "Lihat saja kalau sampai dia tahu, dia akan menceramahiku dari A sampai Z."
"Aku akan membelamu, Eric," kata Naomi seperti seorang teman yang siap pasang badan untuk temannya jika ada kesulitan. Semakin mengenal Naomi, aku merasa semakin gemas. Apalagi saat dia berbicara dan bergaya seperti orang dewasa.
"Aku juga akan berdiri di belakangmu," kataku menimpali sambil menahan tawa saat melihat Sally berjalan ke arah kami. Aku yakin sebentar lagi Eric akan mendapat muntahan peluru kata dari Sally.
Eric menarik bibirnya ke samping dan membuat ekspresi tidak yakin. "Aku merasa kalau Sally tidak akan mendengarkan kalian," katanya.
"What the--! Apa yang kau lakukan pada putriku, Mr. Michaels?"
Ah, pas sekali. Eric menoleh ke belakang dan tersenyum bodoh. Aku ingin tertawa melihat ekspresinya. Dulu Eric tidak akan seperti ini. Dia termasuk orang yang bersikap superior meski tidak begitu terlihat. Namun dia tidak pernah menunjukkan sisi lemahnya di hadapan orang lain. Tapi yang kulihat beberapa minggu ini, dia memang Eric yang berbeda.
"Aku hanya memberinya apresiasi, Sally. Dia berhasil menyanyi dengan baik," kilah Eric sambil menggaruk kepalanya.
Sally menatap tegas pada Naomi. "Ayo, Naomi, kita pulang. Aku tidak ingin kau di cekoki es krim seperti itu oleh pria sinting ini," kata Sally.
"Mom, itu tidak sopan." Lagi-lagi aku tertawa saat melihat Naomi menegur ibunya seperti orang dewasa yang sedang menasehati anak kecil. Sally memutar mata malas.
"Kita pulang, Sayang. Tinggalkan es krim itu bersama love birds ini disini. Aku tidak ingin kau sakit," kata Sally lagi.
"Oh, that's a good idea!" seru Eric. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Sally. Dan aku tahu, Sally tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Sampai jumpa, Eric. Sampai jumpa, Josephine," kata Naomi sambil berdiri dengan malas. Dia melambaikan tangan kecilnya.
"Sampai jumpa, Little Angel," balas Eric. Aku juga menimpalinya dengan ucapan yang sama.
"Terima kasih sudah menjaga putriku, nikmati sisa hari kalian." Sally mengedipkan sebelah mata pada kami. Setelah itu dia pergi bersama Naomi.
"Aku menyayangi mereka," kata Eric tiba-tiba dengan tatapan masih terarah pada Sally dan Naomi yang kian menjauh. Aku menoleh ke arahnya. Menunggu apa lagi yang akan diucapkan Eric.
"Mereka adalah alasanku terlibat di Axella Foundation. Mereka adalah orang-orang spesial yang dikirim Tuhan untukku."
"Aku tahu," balasku. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Aku tidak ingin Eric mengingat rasa sakitnya lagi.
"Baiklah," kata Eric. "Kemana kau ingin pergi?"
Aku mengangkat bahu. "Kita berjalan saja, mengikuti kemana langkah kaki kita."
Dia tersenyum lantas mengangguk. "Okay. Ide yang bagus," katanya.
Kami berdiri, lantas mulai berjalan tanpa tujuan yang pasti. Kami benar-benar hanya mengikuti kemana kaki kami melangkah sambil mengobrol. Saat ada penjual makanan kami akan mampir membeli beberapa makanan dan memakannya sambil berjalan. Ini sangat menyenangkan. Sampai saat rintik hujan mulai turun. Kami berteduh di sebuah halte. Beruntung kami sempat membeli kopi panas beberapa waktu lalu. Jadi kami tidak terlalu kedinginan meski hujan mengguyur semakin deras.
Setengah jam lebih kami menunggu hujan reda. Kopi di dalam cup milikku telah dingin. Sedangkan milik Eric sudah tidak bersisa lagi. Eric mendongak, memperhatikan hujan yang mulai reda, menyisakan gerimis yang masih turun membasahi bumi.
"Sepertinya akan lama berhenti," katanya. Biasanya gerimis seperti ini memang akan lama berhenti. Lalu Eric melihat jam yang ada di tangannya. "Kita harus pulang sekarang, sebentar lagi gelap," katanya lagi.
Aku memperhatikan sekitar. Hari memang semakin gelap. Ditambah lagi mendung kelabu yang membuat suasana lebih redup dari seharusnya.
"Ayo, aku akan mengantarmu pulang." Dia berdiri lantas mengulurkan tangannya padaku.
Aku meraih tangannya lalu berdiri. Kami mulai melangkah sambil berusaha menghindari rintik hujan dengan berjalan di pinggiran toko. Beberapa meter dari halte, dia melepaskan pautan tangannya padaku sambil berhenti melangkah. Aku ikut berhenti. Lalu dia melepas jaket hoodie yang dia kenakan dan memakaikannya padaku. Dia menarik tudung hoodie untuk menutupi kepalaku.
"Ini akan sedikit membantu," katanya sambil tersenyum. Aku tertegun. Hatiku menghangat mendapat perlakuan seperti ini. Kurasa pipiku sudah semerah tomat sekarang. Aku menunduk untuk menyembunyikan wajahku.
"Ayo." Eric meraih tanganku lagi sambil menggerakkan kepalanya. Tanpa kata aku mengikuti setiap langkah Eric membelah rintik hujan yang entah kenapa terasa sangat romantis sekarang. Apalagi Eric sama sekali tidak melepaskan tanganku. Sesekali dia akan menyudutkanku ke dinding bangunan dan dia berdiri di depanku untuk melindungiku ketika ada pejalan kaki yang berjalan dengan serampangan. Kugigit bibirku kuat-kuat untuk menahan senyum. Hatiku meleleh dengan sikap protektif Eric.
Dari halte menuju apartemenku membutuhkan waktu sekitar 20 menit dengan berjalan kaki. Tapi aku sama sekali tidak merasa lelah. Padahal dari Bill's Park ke halte, kami sudah berjalan cukup lama. Entah berapa lama aku sampai tidak menyadarinya karena yang aku rasakan hanya bahagia bisa menghabiskan waktu dengan Eric.
Dia mengantarku sampai di depan pintu apartemen.
"Terima kasih sudah mengantarku," kataku tulus.
"Aku senang melakukannya." Dia menjawab ringan sambil tersenyum. Tapi ada yang mengganjal saat aku melihat bagian dari wajahnya. Kulihat bibirnya membiru. Dia juga sesekali menggosokkan kedua tangannya. Kurasa dia kedinginan.
"Mampirlah sebentar. Aku akan membuatkan hot mocca untukmu," tawarku. Aku tidak tega membiarkan dia pulang dengan kondisi kedinginan seperti itu. Setidaknya hot mocca bisa membuat tubuhnya sedikit hangat. Namun dia terlihat ragu. Ini adalah pertama kalinya dia datang kesini. Aku meraih satu tangannya lalu membuka pintu dan membawanya masuk ke apartemenku.
"Duduklah, aku akan segera kembali dengan hot mocca untukmu." Aku berjalan masuk ke kamar untuk melepas jaket Eric yang sedikit basah karena gerimis. Lalu aku ke dapur untuk membuatkan minuman hangat untuknya.
"Disini sangat nyaman," katanya saat aku kembali membawa hot mocca dan hot chocolate ke ruang tamu.
Aku tersenyum. "Memang. Aku senang tinggal disini. Sangat tenang." Aku meletakkan dua mug diatas meja lalu aku duduk di sebelahnya. "Finn membantuku untuk mendapat izin tinggal disini," sambungku.
Dia mengerutkan kening. Mungkin dia bingung kenapa aku memilih tinggal terpisah dengan keluargaku. Aku menghela nafas lalu menggeser posisi dudukku sedikit menghadap dirinya. "Bukan hanya kau, Eric. Aku juga mengalami masa yang cukup sulit. Beruntung aku bertemu dengan Finn."
"Apa kalian memiliki hubungan khusus?"
Aku memutar cepat kepalaku saat mendengar pertanyaan yang sama sekali tidak aku duga. Aku pikir dia akan merasa tersakiti saat aku mengingatkannya tentang kejadian buruk itu. Tapi justru hal lain yang dia tanyakan.
Aku tertawa bodoh lalu aku menunduk menahan geli. Apa Eric sedang cemburu?
"Katakan, Bells. Apa kalian memiliki hubungan khusus?" Dia semakin mendesakku.
Aku tertarik untuk menggodanya. "Ya, kami memiliki hubungan khusus sejak setahun lalu," jawabku.
Tunggu, apa baru saja aku melihat ekspresi marah dari Eric sesaat sebelum dia menyandarkan punggungnya ke sofa?
"Maaf," katanya dengan nada lemah. Aku masih diam menunggu kalimat lanjutannya. Tapi hingga beberapa detik berikutnya tidak ada kalimat lanjutan yang kudengar. Dia hanya diam dan mengalihkan pandangan dariku.
Tik tok tik tok. Okay, ini sudah cukup lama dan dia tidak melanjutkan lagi kalimatnya. Dia masih sibuk mencari sasaran pandang selain diriku. Aku merasa suasana jadi canggung sekarang. Well, ini tidak baik.
"Kami memiliki hubungan khusus sebagai pasien dan psikolog," kataku memutus kebisuan sesaat diantara kami.
Dia menegakkan tubuhnya, tapi masih tidak melihat ke arahku. "It's okay. Tidak masalah jika kalian memiliki hubungan yang khusus. Kau berhak melanjutkan hidupmu, Bells." Di akhir kalimatnya dia baru melihatku. Tapi yang kulihat justru sorot mata terluka dari sana.
Kuraih tangannya saat dia hendak memalingkan wajah dariku lagi. "Hei, hubungan kami memang hanya sebatas itu. Aku depresi dan sebagai psikolog, dia membantuku bangkit. Kami tidak lebih dari pasien dan psikolog." Aku tidak tahu kenapa aku merasa perlu memberi penjelasan padanya.
"Kau berhak mendapatkan kebahagiaan, Bells. Kau bebas."
Aku tidak suka Eric mengatakan itu. Aku ingin marah. Tapi kutahan. Aku harus ingat bahwa kami hanya teman sekarang.
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Kenapa kau tidak percaya padaku? Atau mungkin kau mengatakan itu untuk dirimu sendiri? Kulihat kau sangat dekat dengan Sally dan Naomi."
Alis Eric berkerut. "Kami tidak seperti itu," kilahnya. "Ya, aku menganggap mereka adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkan hidupku. Tapi hubungan kami tidak lebih dari sekedar teman baik," bantahnya.
Aku mendengus sinis. "Teman baik? Kau melakukan apapun untuk mereka, Eric. Kau bahkan mau menjaga Naomi untuk Sally."
"Kau mengenal Sally sama baiknya dengan aku mengenalnya. Apa kau tega membiarkan anak sekecil Naomi tinggal sendiri di rumah sementara ibunya bekerja untuk menghidupinya? Kau memang tidak pernah merasakan hidup dengan ekonomi lemah seperti kami, aku mengerti jika kau tidak mengerti dengan kondisi yang dialami Sally."
Aku berdiri. Kenapa dia berbicara seperti itu? Aku memang tidak pernah hidup kekurangan. Tapi bukan itu masalahnya!
"Kau benar! Aku memang bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan dengan harta orang tuaku. Tapi itu tidak berarti kau bisa merendahkanku seperti itu!" Aku menunjuk wajah Eric dengan kesal.
Dia ikut berdiri. Deru nafasnya yang cepat menandakan bahwa dia sedang emosi. "Aku tidak merendahkanmu. Aku hanya ingin kau membuka mata bahwa tidak semua orang seberuntung dirimu," desisnya.
"Kau tidak perlu mengajariku! Meski aku tidak pernah hidup kekurangan, tapi aku tidak pernah menganggap rendah mereka!" Aku menjerit. Aku bernafas keras, menahan emosi yang perlahan menguasaiku.
"Tapi secara tidak langsung kau telah melakukannya!"
Aku membuang nafas kasar ketika intonasi Eric semakin tinggi. Aku menyugar rambutku dengan kasar sambil membuang pandangan dari Eric. Lalu aku menatapnya tidak percaya. "Demi Sally, kau bahkan menuduhku serendah itu," kataku dengan nada rendah mencemooh.
Dia melipat sebelah tangan di pinggang lalu setengah memutar tubuh sambil mengusap wajah dengan tangan satunya. Setelah itu dia kembali menghadapku. Dia memandangku beberapa saat lalu menggeleng. Lalu dia menunduk sambil menghela nafas berat. "Aku tidak pernah menganggapmu rendah," katanya masih dengan posisi menunduk.
"Lalu apa? Kau mengatakan bahwa kau tidak pernah menganggapku serendah itu tapi kau tidak berani menatapku saat mengatakannya!"
"Aku akan mengatakannya padamu," kata Eric dengan tatapan tegas padaku.
Semuanya terjadi begitu cepat. Aku tidak tahu kapan ini dimulai tapi aku merasa seluruh sendi di tubuhku melemah saat dia menarik kepalaku mendekat dan menciumku. Aku tidak merasakan ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam perutku. Tapi aku merasakan getaran yang terasa hangat dari tengkuk menjalar ke telinga dan pipi, lalu turun ke tulang punggungku dan menyebar ke seluruh tubuhku. Aku merasa tidak berdaya. Andai aku tidak berpegangan di leher Eric, kurasa tubuhku sudah luruh ke lantai.
Eric menjauhkan wajahnya dariku lalu menatapku dalam. "Aku cemburu," katanya.
"Aku tahu. Tapi teman tidak mencium temannya," kataku lirih dengan tatapan yang masih bertaut dengan iris kelabunya.
Dia terkekeh sambil mengalihkan pandangan ke bawah sebentar sebelum kembali menatapku. "Aku tahu. Tapi teman ini menginginkannya lagi." Eric kembali menciumku. Aku tidak bisa menolak karena aku juga menginginkannya. Aku membiarkan diriku jatuh ke dalam rasa yang telah lama kurindukan. Aku menikmati ciuman ini. Tidak seperti ciuman yang tadi. Kali ini dia lebih menuntut, seolah meluapkan sesuatu yang selama ini dia pendam. Begitupun diriku. Aku tidak peduli lagi dengan hubungan kami yang hanya sebatas teman. Yang aku inginkan saat ini adalah menikmati kebersamaan dengannya dan meluapkan semua perasaanku yang tertahan selama ini.
*
*
*
*
*
tbc.
Jangan lupa tutup pintu!
Ish, yang manis-manis mulai muncul. Ah iya, ternyata untuk sampai akhir season 2 membutuhkan lebih dari 30 episode. Lebih dikit lah ya. Mudah-mudahan aja alurnya nggak kecepetan.
Selamat membaca,
See you next part, Love.