
Hari yang tak pernah terbayangkan sebelumnya untuk gadis pirang bermata biru yang kini tengah duduk di depan cermin sedang memandangi pantulan dirinya. Hari dimana dia akan melepas kekasihnya untuk menikah dengan gadis selain dirinya.
Tarikan napas dalam yang terdengar begitu berat beberapa kali terdengar. Kedua matanya terpejam rapat saat dia berusaha memenuhi rongga dadanya dengan oksigen sebanyak yang dia bisa.
Mata birunya berkaca-kaca setiap kali bayangan Aiden dan Chloe yang mengucap janji suci di hadapan Tuhan berkelebat dalam pikirannya.
"Kau sudah siap?"
Pertanyaan itu membuat Isabel mengalihkan pandangan pada pria yang melongokkan kepalanya di pintu walk in closet dari pantulan cermin di depannya.
Pria itu masuk dengan langkah pelan. Begitu sampai di belakang Isabel, dia meletakkan tangannya di bahu gadis yang sedang berperang dengan batinnya itu.
"Belum terlambat untuk berubah pikiran," ucap Jordan yang seakan bisa membaca pikiran Isabel.
Isabel menarik napasnya dalam lalu berdiri. Dia membalik tubuh hingga bisa berhadapan dengan Jordan. "Aku sudah siap," katanya dengan tatapan penuh kesedihan.
Setelah mengatakan itu, Isabel berjalan keluar dari walk in closet. Jordan segera menyusulnya.
"Hei." Jordan menarik tangan Isabel yang sudah sampai di depan pintu. Isabel menoleh dengan tatapan sendu.
"Tersenyumlah. Kau terlihat sangat cantik saat tersenyum," kata Jordan. Pria itu lantas membuka pintu dan memberi ruang untuk Isabel keluar dari safe house.
Selama dalam perjalanan ke hotel tempat resepsi pernikahan digelar, hanya keheningan yang menemani mereka. Isabel mengarahkan pandangannya keluar jendela. Gadis itu sibuk dengan segala skenario di dalam otaknya yang mungkin nanti akan terjadi di sana. Berkali-kali dia memejamkan mata dan menarik napas dalam untuk menguatkan hatinya.
Isabel dan Jordan berjalan beriringan menuju ballroom hotel. Jantung Isabel berpacu hebat saat indera pendengarannya menangkap suara musik mengalun dengan merdu dari ballroom. Gadis itu meremas jemarinya mengusir segala keraguan yang semakin besar saat kakinya melangkah semakin dekat dengan pintu ballroom.
Gadis itu menengadah menatap Jordan saat merasakan sentuhan hangat di tangannya. Jordan tersenyum hangat sambil terus menggenggam tangan Isabel yang terasa sangat dingin dan berkeringat.
Pria itu tidak mengatakan apapun. Dia terus melangkah hingga akhirnya mereka sampai di depan pintu ballroom.
"Ingat, kau disini sebagai pasanganku. Tersenyumlah, Cantik," bisik Jordan sambil merengkuh pinggang Isabel saat memasuki ballroom.
Gadis itu menurut. Tanpa Jordan, dia tidak akan sampai di tempat ini. Jordan menyapa beberapa tamu yang dikenalnya tanpa melepaskan tangannya dari pinggang Isabel. Gadis itu hanya menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya dari beberapa orang yang memang dia kenal. Sesekali dia menyembunyikan wajahnya di dada Jordan saat melewati orang yang dia kenal. Jordan yang tanggap langsung mengangkat tangannya ke bahu Isabel saat gadis itu membutuhkan perlindungannya. Hingga akhirnya Jordan mengajaknya ke salah satu sudut ballroom yang terlihat sepi.
"Kau baik-baik saja?" tanya Jordan. Pria itu khawatir saat melihat Isabel yang terlihat tidak nyaman berada di tempat itu.
Isabel mengangguk. Dia sudah membulatkan tekad.
"Tunggu disini. Aku akan bawa Aiden kemari," ucap Jordan sambil mengusap bahu Isabel.
Isabel menahan tangan Jordan saat pria itu hendak pergi. Jordan menoleh dengan wajah bingung saat Isabel terdiam beberapa saat.
"Terima kasih," ucap Isabel lalu melepas tangan Jordan. Pria itu tersenyum dan mengangguk lantas meninggalkan Isabel seorang diri di sana.
Pesta itu sangat meriah. Tamu undangan yang datang sangat banyak. Kebanyakan mereka adalah orang-orang penting di kota ini. Siapa yang tidak kenal Harold Muller? Meskipun usianya sudah hampir 80 tahun, tapi pria yang rambutnya sudah dipenuhi uban itu tetap terlihat bugar.
Dan ini adalah pernikahan cucu tunggal Harold Muller, tentu saja orang-orang itu tidak akan melewatkannya. Hanya satu yang Isabel takutkan. Dia takut akan bertemu kedua orang tuanya di sini.
Dari kejauhan Isabel bisa melihat sahabat-sahabat Aiden yang tentu juga mengenalnya. Seperti Ethan, Jeff, Rodney dan Boyd. Keempat orang itu adalah sahabat Aiden dan Isabel mengenal mereka cukup baik. Maka dari itu Isabel sangat menghindari bertemu dengan mereka.
Dari tempat Isabel berdiri saat ini, dia tidak bisa melihat kedua mempelai karena tempat itu cukup jauh dan tersembunyi.
Isabel menggigit ujung kukunya sambil mengetuk-ngetukkan high heels ke lantai karena gugup. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana saat berhadapan dengan Aiden nanti. Sudah 10 menit berlalu, tapi Jordan belum juga kembali. Sempat terbesit dalam benak Isabel, mungkin Eric tidak mengizinkan Aiden menemuinya.
"Mungkin sebaiknya aku pergi dari sini," gumam Isabel. Ini sudah hampir lima belas menit. Sepertinya Jordan tidak berhasil membawa Aiden kepadanya. Isabel mengembuskan napas lelah. Dia menyerah. Semuanya sudah berakhir. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan di sini.
Isabel tersenyum pahit. Sungguh konyol dia memaksa datang ke pesta ini. Kehadirannya sangat tidak diharapkan di sini. Mata biru Isabel berair, siap menumpahkan kekecewaan yang mendera hatinya. Dia harus pergi sekarang. Kakinya bersiap melangkah saat sebuah suara yang sangat dikenalnya memanggil.
"Isabel."
Isabel membalikkan badan. Jantung Isabel berdetak sangat cepat saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya saat ini. Seorang pria dengan tuxedo putih berdiri dengan gagah di hadapannya. Pria yang dulu dia mimpikan akan menyambut tangannya di altar. Pria yang sangat dia rindukan.
"Aiden." Suara Isabel hampir tidak terdengar. Bibirnya bergetar saat menyebut nama itu. Kedua matanya terpaku melihat Aiden yang masih berdiri di tempatnya dengan tatapan penuh kerinduan.
Aiden tidak menyangka bahwa Isabel akan datang. Dia pikir Isabel membencinya, tidak ingin melihatnya lagi. Perlahan senyum kaku tercetak di wajah Aiden. Pria itu berjalan mendekat pada Isabel.
Bibir Isabel bergerak-gerak. Ada yang ingin dia sampaikan, tapi dia tidak tahu harus mulai dari mana. Tiba-tiba semua kata yang sudah dia rangkai sebelum sampai di sana menghilang. Pikirannya kosong.
"I'm sorry." Aiden berucap lirih penuh permohonan. Kedua matanya memerah, tatapannya begitu dalam, menyiratkan luka yang sangat besar dalam hatinya.
Isabel menggigit bibir, dia menundukkan kepalanya saat air mata itu tak mampu lagi dia bendung. Dengan cepat gadis itu mengusap ujung matanya yang basah. Lalu dia mengangkat wajah dan berusaha tersenyum.
Isabel mengambil napas lalu mengulurkan tangan kanannya. "Selamat atas pernikahanmu," ucapnya dengan suara bergetar dan memaksakan senyum, menahan air mata yang bersiap meluncur lagi.
Aiden menatap uluran tangan Isabel dalam diam. Dia tahu Isabel menahan perih yang sama dengan dirinya. Dan pasti tidak mudah bagi gadis itu untuk bisa sampai di sini.
Tangan Isabel masih menggantung di udara. Aiden tak kunjung membalas uluran tangannya. Tangan Isabel mengepal lemah. Dia berpikir Aiden tidak ingin membalasnya.
Gadis itu menunduk lagi sambil menurunkan tangannya. Namun, tiba-tiba tubuhnya menegang saat dia kembali merasakan pelukan hangat yang sangat dia rindukan. Aiden mendekapnya erat. Tidak ada kata yang terucap dari bibir laki-laki itu. Dia mendekap Isabel seolah takut akan kehilangan lagi.
Isabel memejamkan mata. Air mata itu meluncur turun dengan deras melalui ujung matanya. Dengan ragu tangannya bergerak membalas pelukan Aiden. Mereka berpelukan dalam diam. Seolah hati dan pikiran mereka yang berbicara.
Tak dapat dipungkiri, mereka merindukan satu sama lain. Biarlah kali ini mereka egois. Setelah hari ini mereka tidak akan bisa merasakannya lagi. Setelah hari ini mereka akan memulai sesuatu yang baru dalam hidup mereka masing-masing.
Dari kejauhan dua pasang mata sedang memerhatikan dua orang yang saling berpelukan erat.
"Cukup. Ini tidak bisa dibiarkan," desis Eric yang merasa geram melihat Aiden dan Isabel berpelukan seperti itu.
"Beri mereka waktu," tukas Jordan.
Eric memicing pada Jordan, rahangnya mengeras. Dia tidak setuju. Meninggalkan adiknya untuk berpelukan dengan gadis lain? Eric tidak bisa membiarkan hal itu.
"Aku tidak bisa membiarkan adikku sendirian di sana." Eric menunjuk Chloe yang terlihat sedang berbincang bersama beberapa tamu.
Jordan tersenyum miring lalu menghadapkan wajahnya pada Eric. "Mereka sudah resmi menikah, Eric. Sebenarnya apa yang kau takutkan? Kau takut Chloe sendirian di sana atau kau takut ada pria lain yang memeluk gadis itu?" Jordan menunjuk Isabel dengan matanya.
Eric memalingkan wajah lalu mendengkus kasar. Senyum sinis tercetak di wajahnya. "Apa maksudmu?"
"Ayolah, Eric. Kau tahu apa maksudku."
"Berhenti bicara omong kosong dan bawa gadis itu pergi dari sini!" Eric menatap tajam pada Jordan.
Jordan mengibas tangannya di depan wajah sambil tersenyum miring. "Aku pasti membawanya pergi, setelah dia menyelesaikan urusannya."
Rahang Eric kembali mengeras. Jordan baru mengenal gadis itu beberapa hari dan dia lebih memihak pada gadis itu dibandingkan dirinya yang sudah seperti saudara. "Bawa dia pergi atau aku yang akan menyeretnya keluar!" desis Eric.
Jordan memutar mata malas. Eric benar-benar keras kepala. Akhirnya Jordan mengalah. Dia berjalan mendekat pada Aiden dan Isabel yang masih berpelukan.
"Ehem." Jordan berdehem, membuat kedua orang itu melepaskan pelukan dan menoleh ke arah yang sama. Isabel segera mengusap pipinya yang basah.
"Tamu yang baru datang ingin mengucapkan selamat kepada mempelai pria." Jordan mengusir Aiden secara halus.
Aiden menatap lekat Isabel. "Terima kasih," katanya.
Dia bersyukur Isabel mau memaafkannya. Dia berharap Isabel segera menemukan kebahagiaannya sendiri. Kebahagiaan yang tidak bisa dia berikan.
Isabel tersenyum tipis. Hatinya serasa tercabik, tapi ada perasaan lega yang perlahan mengisi relung hatinya.
Isabel menatap nanar punggung Aiden yang kian menjauh. Sesekali Aiden menoleh, seakan berat untuk meninggalkan Isabel di sana. Meninggalkan gadis yang gagal menahan air matanya agar tidak tumpah.
Jordan mendekati Isabel, menarik kepala gadis itu dan memeluknya. Isakan Isabel tertahan dalam dekapan Jordan. Dengan lembut Jordan mengelus kepala Isabel, berusaha menyalurkan kekuatan untuk gadis rapuh itu.
"Menangislah. Lepaskan semua beban dalam hatimu," bisik Jordan.
Dari kejauhan Eric menatap tidak suka pada pemandangan itu. Adiknya sudah resmi menikah dengan Aiden. Harusnya dia merasa tenang sekarang. Tapi entah kenapa masih ada yang mengganjal dalam hati Eric. Eric menggeleng keras, mengusir pikiran-pikiran tidak penting yang memenuhi otaknya.
***
tbc.