100 Days

100 Days
Part 21



**Warning !!!


Bijaklah dalam memilih bacaan.


Part ini mengandung kata-kata vulgar.


Untuk yang dibawah umur skip aja ya.


Tapi perlu diingat, dewasa bukanlah tentang berapa umurnya, melainkan cara berpikirnya.


Happy reading** !


____________________________________


2 months ago


Semuanya berawal dari permainan konyol yang dilakukan oleh Aiden dan teman-temannya.


Aiden, Ethan, Jeff, Boyd, dan Rodney. Siapa sangka acara kumpul mereka akan berujung bencana bagi Aiden.


Sebenarnya bukan hal baru bagi mereka untuk berkumpul di sebuah club dan pulang dalam keadaan mabuk, kecuali Aiden. Semenjak berhubungan dengan Isabel, laki-laki itu  jarang mengikuti jejak teman-temannya yang selalu pulang dalam keadaan mabuk. Bahkan sering kali dia menjadi sopir untuk teman-temannya yang sudah kalah dengan alkohol.


Malam itu seperti malam-malam biasanya saat mereka berkumpul, mereka akan melakukan sebuah permainan. Hanya permainan konyol seperti yang banyak orang lakukan, menebak gender orang yang masuk ke club. Yang salah menebak harus menenggak satu gelas vodka dalam satu tarikan nafas, hingga salah satu dari mereka mabuk parah baru permainan itu berhenti.


Kelima orang itu sangat menikmati permainan konyol yang mereka buat. Hingga saat Boyd yang sudah jengah dengan seorang temannya yang selama dua tahun terakhir ini menjadi laki-laki suci, berniat menjahilinya. Siapa lagi kalau bukan Aiden. Teman-teman Aiden memang sudah tahu kalau selama berhubungan dengan Isabel, Aiden sama sekali tidak pernah membawa gadis itu ke ranjang. Parahnya lagi, Aiden benar-benar tidak pernah menyentuh gadis lain. Sangat berbeda dengan Aiden yang mereka kenal dulu.


Dari situlah ide kejahilan Boyd muncul. Diantara teman-temannya yang lain, Boyd memang yang paling jahil.


"Damn it...!" Teriakan kecewa Jeff yang lagi-lagi salah menebak dan mengundang gelak tawa teman-temannya.


"Dengan senang hati." Boyd menyodorkan gelas kesepuluh Jeff.


Jeff menerima gelas itu sambil terus mengumpat. Dengan kasar dia meneguk vodka hingga tandas. Matanya terpejam sambil meringis merasakan hantaman alkohol di tenggorokannya. Bisa dipastikan sebentar lagi dia akan kehilangan kesadaran, karena dia yang paling tidak kuat minum diantara yang lain.


"Menyerah, Jeff ?" Pertenyaan sarat ejekan dari Ethan saat melihat Jeff beberapa kali menggeleng kepalanya.


"F*ck you !" Umpat Jeff yang ditujukan untuk Ethan. "Lanjutkan !" Jeff tidak mau kalah.


"Well, satu putaran lagi dan kita lihat siapa yang akan tumbang." Rodney menyindir Jeff sambil memberi kode pada Boyd untuk menuang satu gelas vodka lagi.


"Your turn." Boyd menunjuk Aiden dengan botol vodka di tangannya.


Aiden menarik bibir kebawah dengan satu alis terangkat. Lima gelas yang sudah Aiden habiskan sama sekali belum mempengaruhi laki-laki itu.


"Girl." Tebak Aiden yakin.


"Well, let's see !" Ucap Boyd dengan seringai jahilnya. Dia berharap tebakan Aiden salah.


Kelima orang itu melihat ke arah yang sama. Hingga lima menit berlalu belum ada yang masuk dari pintu. Hal itu membuat teman-teman Aiden mengumpat karena penasaran.


Lalu saat pintu itu terbuka, wajah mereka langsung menunjukkan senyum penasaran.


"1, 2....oh, shit ! No way !" Umpatan dan gebrakan tangan Aiden baru saja menunjukkan kalau tebakannya salah. Dibarengi gelak tawa dari teman-temannya yang lain.


"Special for you, man." Boyd menyodorkan gelas pada Aiden. Kali ini sangat-sangat spesial.


Aiden mengambil gelas itu, mengangkatnya tinggi lalu dalam satu tarikan nafas dia menenggak cairan dalam gelas itu.


"Wuuu...!!" Boyd mengangkat botol vodka bersamaan dengan Aiden yang menghentakkan gelasnya di meja. Boyd tertawa puas. Dia berhasil membuat Aiden masuk dalam kejahilannya.


Permainan berjalan hingga satu putaran, dan saat tiba giliran Jeff, tebakan pria malang itu salah lagi. Jeff yang sudah diambang batas kesadarannya benar-benar tidak bisa menghabiskan satu gelas lagi.


"Sudah kubilang, pria malang ini harusnya menyerah dari tadi." Ethan menoyor tubuh Jeff yang sudah mabuk parah.


"Bersikap baiklah padanya. Setidaknya dia masih hidup meskipun kita cekoki dengan alkohol." Rodney tertawa keras.


"Tunggu !" Boyd mengacungkan telunjuknya. Lalu tangannya merogoh saku celananya dan mengambil sebuah spidol. "Aku akan menambahkan kesan garang pada coverboy ini."


Dan mulailah Boyd melukis sebuah mahakarya di wajah bersih Jeff. Jeff memang yang paling memperhatikan penampilan. Jadi akan menjadi kepuasan tersendiri kalau bisa mengusik aset berharganya itu.


Jeff adalah seorang model, tidak heran kalau penampilan adalah hal pertama yang dia perhatikan. Dan pria itu lebih suka kesan bersih di wajahnya daripada macho.


Boyd melukis kumis dan jambang lebat di wajah itu. Bisa dipastikan esok pagi saat Jeff sadar, ribuan umpatan dan makian akan keluar dari mulutnya. Tidak perlu bertanya siapa pelakunya, karena biang semua kejahilan adalah Boyd.


"Saatnya menidurkan bayi besar." Aiden beranjak membantu Jeff berdiri.


"Ya, bawa bayi itu pulang. Kau memang pengasuh yang baik, Aiden." Tambah Ethan.


"Jangan lupa mengasuh 'adik kecilmu' setelahnya !" Seru Boyd dengan senyum jenakanya yang penuh arti.


"F*ck your *** !" Aiden mengacungkan jari tengahnya ke arah Boyd.


Tubuh berotot Jeff terasa lebih berat saat mabuk, tapi Aiden berhasil menyeret temannya itu ke dalam mobil.


Dalam perjalanan ke rumah Jeff, Aiden mulai merasakan ada yang aneh dengan dirinya. Aiden melepaskan jaket denim yang dia pakai. Rasa panas dalam tubuhnya belum berkurang meskipun saat ini dia hanya mengenakan kaos vneck putih yang ketat. Dia menurunkan suhu AC dalam mobilnya. Masa bodoh kalau pria mabuk di sebelahnya mati membeku.


"Boyd sialan !" Umpat Aiden.


Jantung yang berdebar tidak wajar, dan rasa panas yang menguar dari dalam tubuhnya, serta desakan kuat dalam dirinya yang membutuhkan pelampiasan sudah cukup memberikan jawaban pada Aiden.


"Bertahanlah, Aiden ! Sial...sial...sial !" Aiden memukul kemudinya. Bayangan Isabel selalu muncul di otaknya. Dia menginginkan Isabel. Tapi sayang, itu tidak akan mungkin karena Isabel berada di rumahnya.


Desakan dari dalam diri Aiden mulai menguasai akal sehatnya, namun dia tetap berusaha berpikir jernih. Paling tidak sampai dia kembali ke apartemennya.


Aiden menekan bel pintu rumah Jeff. Seorang gadis berambut hitam membukakan pintu untuk mereka.


"Oh, shit !" Gadis itu menutup mulut lalu memasang wajah lelah. Mahakarya Boyd di wajah saudara kembarnya sungguh menggelikan. "Guys, tidak bisakah kalian dewasa sedikit saja ?"


"Bisa membantuku ?" Pinta Aiden pada Lizzy. Memapah tubuh berat Jeff sambil menahan dorongan kuat dalam dirinya sungguh membuat Aiden lelah.


Lizzy segera membantu Aiden menyeret tubuh Jeff ke kamar yang sialnya berada di lantai dua.


"Malam yang panas, hm ?" Tanya Aiden saat melihat seorang pria tidur di ranjang Lizzy dari celah pintu kamar gadis itu.


Lizzy tidak menjawab. Dia hanya memutar mata malas dan terus melangkah ke kamar Jeff.


"Aku langsung pulang." Kata Aiden. Desakan dalam dirinya semakin kuat. Aiden tidak ingin berlama-lama di dekat seorang gadis.


"Hm. Terima kasih sudah membawa tukang mabuk ini pulang." Jawab Lizzy.


Aiden berjalan menuruni tangga dengan cepat. Langkahnya terhenti saat dia melihat seorang gadis pirang sedang tidur di kamar tamu yang pintunya tidak tertutup rapat.


"Isabel ?" Aiden mengernyit.


Otak Aiden semakin kacau. Mana mungkin Isabel berada di rumah Jeff.


Aiden menggeleng keras. "Tidak. Isabel tidak ada disini." Katanya sebelum melanjutkan langkah.


"Shit !" Umpat Aiden. Gejolak kuat dalam dirinya berbisik dan memaksa untuk masuk ke dalam kamar itu.


Hanya melihat rambut pirang saja otak Aiden sudah kacau. Dan desakan itu semakin kuat.


Dengan langkah pelan Aiden mendekati gadis berambut pirang yang terlelap di ranjang itu. Aiden berjongkok di sisi ranjang. Tangannya terulur untuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu. Ya, gadis itu adalah Chloe, teman Lizzy yang kebetulan menginap disana.


Chloe menggeliat pelan. Pengaruh obat sakit kepala yang di berikan Lizzy sangat kuat. Chloe bahkan tidak menyadari kalau saat ini seorang pria sudah naik diatas ranjangnya.


Tangan Aiden tidak berhenti membelai wajah Chloe. Mata birunya berkabut karena gairah, seiring bertambah kuatnya dorongan dalam diri Aiden untuk menyentuh gadis itu.


Chloe membuka mata pelan saat merasakan sentuhan hangat dan basah di bibirnya. Namun gadis itu tidak sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya. Dia mengira itu hanya mimpi.


Tanpa sadar Chloe membalas ciuman Aiden. Dan Aiden yang merasa mendapat ijin -meskipun tanpa sadar- terus menyalurkan hasratnya.


Aiden melepaskan ciuman sebentar  untuk melempar kaos yang melekat ditubuhnya. Lalu dia kembali ******* bibir Chloe dengan lembut.


Selagi bibirnya sibuk, tangan Aiden tak kalah sibuk juga. Tanpa Chloe sadari seluruh kancing piyamanya sudah terbuka. Aiden mulai bergerak turun menciumi garis rahang Chloe dan bermain sejenak di leher putih Chloe.


Perpaduan antara efek obat dan kenikmatan yang diberikan Aiden membuat Chloe semakin melayang. Sentuhan-sentuhan Aiden sungguh membuainya.


Suara desahan Chloe mulai terdengar saat Aiden menciumi dan sedikit menggigit leher jenjangnya. Dan pada saat itu Aiden menanggalkan seluruh kain penutup tubuh Chloe.


Puas bermain di leher hingga meninggalkan beberapa tanda disana, Aiden beralih pada dua gundukan sintal di hadapannya. Sementara bibir Aiden di sibukkan dengan dua keindahan itu, tangannya mulai bergerak menyentuh milik Chloe. Hingga desahan kenikmatan itu lolos dari bibir Chloe.


Setelah Chloe mendapatkan puncaknya yang pertama, Aiden melempar penutup terakhir tubuhnya. Aiden kembali memanjakan bibir Chloe untuk memberinya jeda. Memberikan sentuhan kenikmatan yang membuat Chloe merasa mimpinya semakin liar.


Tanpa melepaskan bibir Chloe, Aiden mulai menyatukan tubuh mereka. Sakit, itu yang pertama dirasakan Chloe. Dengan bantuan Aiden, rasa sakit itu perlahan berubah menjadi kenikmatan luar biasa. Gerakan konstan pelan dan lembut membuat ciuman Aiden tak mampu menahan desahan Chloe. Hingga Aiden semakin mempercepat gerakannya diiringi dengan desahan-desahan penuh kenikmatan yang lolos dari bibir mereka, sampai pada puncak kenikmatan keduanya yang datang bersamaan.


Aiden menjatuhkan tubuh penuh keringatnya diatas tubuh Chloe. Memberi tubuhnya waktu untuk beristirahat. Namun efek kejahilan Boyd belum habis dalam dirinya, yang membuat Aiden mengulangi apa yang mereka lakukan hingga tubuhnya benar-benar lelah.


***


Chloe mengerjapkan matanya pelan. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Entah berapa kali Aiden membantainya, yang jelas Chloe benar-benar mengira kalau semua itu hanyalah mimpi. Hingga saat dia melihat seorang pria tidur tengkurap dalam satu ranjang dengannya.


"Siapa kau ?!" Teriak Chloe. Gadis itu melihat kondisi tubuhnya di bawah selimut. Kedua matanya membulat saat mendapati tubuhnya tidak terbalut sehelai benang pun. Tak pelak air matanya jatuh. Apa yang dia kira mimpi ternyata benar-benar terjadi. Dan parahnya, dia menikmatinya.


Chloe melirik pria disampingnya yang sama sekali tidak terusik dengan teriakannya. Perlahan dia turun dari ranjang dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.


Air matanya terus mengalir hingga dia berada dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dibawah shower.


"Bodoh ! Dimana otakmu ? Membedakan mana mimpi dan kenyataan saja tidak bisa. Kau bahkan menikmati sentuhan dari orang asing. Kau menjijikkan, Chloe !"


Chloe terus bergumam dalam tangisnya dibawah guyuran air.


Chloe menghembuskan nafas berat. Semuanya sudah terjadi. Tidak ada gunanya meratapi. Berharap saja Chloe tidak akan bertemu dengan pria itu lagi agar kejadian memalukan ini tidak perlu diingat.


Chloe keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Langkahnya terhenti saat melihat seorang pria duduk di tepi ranjang sedang menatapnya. Well, Aiden sudah memakai semua pakaiannya. Dia terbangun saat mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Dan dia baru sadar apa yang dia lakukan semalam.


Aiden bangkit dari duduknya. Dari wajahnya dia terlihat sangat menyesal. Ini bukan sekedar tentang melakukan sex dengan gadis yang tidak dia kenal, melainkan sebuah penghianatan kepada kekasihnya. "Aku minta maaf. Aku tidak...."


"Pergi !" Chloe tidak ingin membahasnya. Percuma ! Gurat kekecewaan dan kemarahan terlihat dari wajah segar yang baru selesai mandi itu.


"Aku benar-benar tidak bermaksud melecehkanmu." Aiden mencoba memberi penjelasan.


"Aku bilang pergi !" Chloe memalingkan wajahnya. Sungguh, melihat wajah Aiden hanya membuatnya jijik pada dirinya sendiri yang begitu bodoh hingga terlihat seperti j*lang.


Tidak ingin berdebat lagi, Aiden memilih untuk keluar. Beruntung penghuni rumah yang lain belum ada yang bangun. Jadi dia tidak perlu mendapat cecaran pertanyaan dari mereka.


Aiden menutup pintu kamar tempat mereka beradegan panas semalam. Rasa bersalah membuat langkah Aiden terhenti. Dia berbalik. Saat di depan pintu, Aiden bisa mendengar isakan tangis Chloe. Ingin dia masuk dan kembali meminta maaf. Namun pengusiran tadi sudah menunjukkan kalau Chloe tidak ingin melihatnya lagi.


Meskipun ragu, Aiden melangkah meninggalkan rumah itu. Rasa bersalah dan penyesalan sangat mengganggunya.


Rasa bersalah dan menyesal karena meniduri gadis yang tidak dia kenal. Dari suara isakan tangisnya, gadis itu pasti sangat terluka. Apalagi dia masih perawan sebelum Aiden menjamahnya.


Lalu rasa bersalah pada Isabel karena telah menghianati kekasihnya itu. Bukan hal mudah memang menahan diri selama dua tahun ini. Ditambah lagi obat perangsang yang diberikan Boyd, membuat gairahnya semakin menjadi.


"Sialan !" Aiden tidak berhenti merutuki dirinya sendiri. Bukan sifat Aiden untuk menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dia buat. Dalam prinsipnya, setiap tindakan pasti ada konsekuensinya dan setiap kesalahan pasti ada cara memperbaikinya.


*


*


*


*


*


tbc.


Jadi begini yak ceritanya kenapa si Chloe bisa tekdung anaknya Aiden. Meskipun keduanya dalam pengaruh obat (beda jenis obat) tapi sp*rma dan sel telur itu sudah terlanjur bertemu.


Dan yups....pertemuan Chloe dan Aiden di toko kue itu adalah yang pertama setelah malam panas mereka. Dan saat itu Chloe sudah tau kalau dirinya tekdung, makanya dia ketakutan banget. Apalagi dia juga baru mengetahui fakta bahwa ayah dari janin dalam rahimnya adalah kekasih Isabel.


Oya, tolong kalau ketemu si Boyd, lempar aja dia ke laut merah. Kasian tuh si laki suci. Jadi berabe kan hidupnya.


Well.... semoga suka ya dears...!!


See you next part, love.