
Ini momen bahagia. Seharusnya tetap menjadi momen bahagia hingga acara ini berakhir. Namun kehadiran Jordan dan Elena telah merusak suasana hati Eric dan Isabel.
Well, sebenarnya bukan masalah jika yang datang hanya Jordan. Tapi wanita dengan wajah sengal di belakang Jordan sangat mengganggu penglihatan.
"Ayolah ! Apa aku tidak di terima disini ?" Jordan membuat ekspresi sedih karena tidak ada yang menjawabnya sejak tadi. Kedua orang di hadapannya hanya berdiri mematung dengan tatapan tajam kepadanya. Lebih tepatnya kepada wanita di belakangnya.
"Untuk apa kau bawa dia kemari ?" Tanya Eric dingin.
Jordan mengerutkan bibir lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia memasukkan tangannya ke saku celana. Rasanya tidak perlu berbasa basi lagi. "Ada yang ingin kami sampaikan pada kalian." Jordan menatap datar pada Eric lalu pada Isabel. "Tapi sebelumnya, aku ingin mengucapkan selamat untuk kalian." Jordan tersenyum hangat.
"Bisa kita bicara di tempat yang lebih...privat ?" Tanya Jordan hati-hati. Tentu dia tidak ingin perbincangan mereka di dengar semabarang orang. Apalagi disini banyak orang asing yang ikut bergabung. Sebenarnya Jordan sedikit khawatir, karena dengan adanya orang-orang tidak dikenal seperti itu bisa membahayakan keselamatan Isabel. Ya....meskipun Jordan bisa melihat beberapa pria bertubuh kekar yang berusaha membaur dengan orang-orang disini yang dia yakini itu adalah bodyguard Isabel.
Tanpa berkata apa-apa, Eric menggandeng tangan Isabel dan berjalan menuju ke ruang kerjanya. Jordan paham. Lalu dia menoleh pada Elena, memberi kode untuk mengikuti mereka. Elena memutar bola matanya. Dia sejak tadi menahan diri untuk tidak mengamuk. Apalagi saat melihat cincin cantik di jari Isabel--yang harganya sudah pasti sangat mahal--dan tulisan di atas panggung. Itu membuat hatinya mendidih. Harusnya dia yang mendapatkan semua itu dari Eric.
Mereka berempat duduk di sofa. Elena melihat sekeliling. Dia merindukan tempat ini. Dia merindukan semua kenangan di tempat ini. Bertahun-tahun tinggal di safe house, membuat tempat ini mengukirkan kenangan indah tersendiri untuknya. Meskipun tempat ini sudah sangat jauh berubah sejak terakhir kali dia tinggal disini.
"Cepat katakan apa yang ingin kalian katakan dan segera suruh wanita itu pergi dari sini." Kata Eric langsung. Dia tidak ingin Elena berlama-lama berada di tempatnya. Karena itu hanya membuatnya semakin muak melihat wajah licik wanita itu.
Sebelum mulai berbicara, Jordan berdehem. Dia menarik nafas dalam lalu melihat ke arah Isabel yang juga menatapnya tanpa ekspresi. "Aku tahu kau kecewa padaku, Princess...."
"Aku tidak suka kau memanggil calon istriku dengan sebutan itu." Potong Eric dengan nada tegas.
Jordan menggerakkan kepalanya tanda mengerti, "Maaf." Katanya. Lalu dia kembali menatap Isabel serius. "Aku tahu kau kecewa padaku. Aku minta maaf. Dan kurasa Eric sudah menjelaskannya padamu. Jadi....maukah kau memaafkanku ? Isabel ?" Jordan tidak ingin basa basi. Dia langsung ke inti pembicaraannya. Dan dia sangat berharap Isabel mau memaafkan tindakannya. Dia memang merasa bersalah, tapi dia tidak menyesal melakukannya. Karena menurutnya, apa yang dia lakukan adalah untuk kebaikan bersama, terutama Eric dan Isabel.
Untuk beberapa saat, Isabel hanya diam. Lalu dia menghela nafas berat, seolah mengeluarkan beban dalam hatinya. "Ya. Aku kecewa padamu." Akunya dengan jujur. Isabel menjilat bibirnya, setelah itu dia terlihat menelan ludah. Terlihat sekali jika dia benar-benar kecewa. "Aku sudah menganggapmu seperti kakakku sendiri, Jordan. Tapi aku tidak menyangka kau tega melakukan hal itu padaku." Isabel kembali menjeda ucapannya. Dia merasakan Eric mengeratkan genggaman tangannya. Isabel memejamkan mata sejenak, dia tidak ingin hubungannya dengan Jordan menjadi buruk. Karena jujur saja, dia merasa nyaman dengan kehadiran Jordan. Dia tidak ingin kehilangan perhatian Jordan. Dia menyayangi Jordan seperti dia menyayangi kakaknya sendiri.
"Aku memaafkanmu." Ucap Isabel saat membuka mata. Meskipun awalnya berat, tapi memaafkan bisa membuat hati menjadi ringan. Perasaan yang tadinya mengganjal seolah lenyap begitu saja ketika dia tulus untuk memaafkan.
Bagi Jordan, kata maaf dari Isabel itu seperti oase di tengah padang pasir. Dia menghembuskan nafas lega. Kini dia bisa tersenyum lebar tanpa ada beban yang mengganjal lagi di hatinya. Kata maaf dari Isabel sangat berarti untuknya.
"Terima kasih, Prin....eh Isabel. Aku sangat senang mendengarnya." Katanya sambil tersenyum lebar. "Sebenarnya aku ingin memelukmu, tapi....sepertinya ada yang berubah posesif sekarang." Jordan terkekeh dengan candaannya sendiri.
Eric mendelik tajam pada Jordan. Meski dia masih merasa kesal, tapi dia tetap tidak bisa membohongi diri sendiri jika dia tidak ingin kehilangan saudara seperti Jordan. Terlalu banyak yang telah dilakukan Jordan untuknya. Pasti sangat tidak adil jika hanya karena satu kesalahan Eric memutuskan hubungan persaudaraan dengannya.
"Lalu....apa yang dia inginkan disini ?" Tanya Eric. Dia menatap dingin pada Elena.
Jujur saja, Eric dan Isabel sama sekali tidak menyukai kehadiran Elena disana. Wanita itu memasang wajah sengal sejak datang. Sangat terlihat jika dia terpaksa datang ke tempat itu.
Jordan mengulurkan tangannya pada Elena. Dia menggenggam tangan wanita itu sambil menatapnya dalam, seolah mata Jordan mengatakan sesuatu yang membuat Elena tunduk.
Ekspresi jengah sangat terlihat di wajah Elena. Dia mendengus panjang sambil setengah memutar mata. Dia berdehem lantas memperbaiki posisi duduknya. Meskipun enggan, dia mengarahkan pandangannya pada Eric.
"Aku....." Elena melirik Jordan seolah meminta bantuan. Jordan tersenyum hangat sambil mengeratkan genggaman tangannya seolah berkata 'kau bisa melakukannya'.
"Aku juga ingin meminta maaf." Elena menjeda ucapannya. Dia melirik Isabel sebentar lalu kembali menatap Eric. "Padamu. Untuk semua hal buruk yang pernah kulakukan....padamu. Pada kalian." Ralat Elena sambil melihat ke arah Isabel sebentar.
Samar terlihat kerutan di kening Eric. Tapi dengan cepat dia menetralkan ekspresinya.
Genggaman tangan Jordan kembali menguat. Membuat Elena bergerak gelisah dalam duduknya. Lalu dia kembali berbicara. "Aku menyesal telah melakukan banyak hal buruk. Aku tahu kau sangat membenciku, Eric. Aku janji tidak akan mengganggu hidupmu lagi asalkan kau mau memaafkanku. Aku ingin memulai semuanya dari awal, sebagai....sahabat." Tatapan Elena terlihat penuh permohonan.
Untuk sesaat, Eric sempat terenyuh melihat tatapan Elena. Buru-buru dia membuang pandangan. Dia tidak ingin tertipu. Elena itu licik. Meminta maaf ? Kata-kata itu tidak mengalir dalam darah Elena.
"Aku tidak akan mengganggu kalian lagi." Elena beralih menatap Isabel yang memasang wajah datar. "Dan aku akan berhenti mengejarmu." Elena kembali menatap Eric.
Baik Eric maupun Isabel tidak ada yang menanggapi. Keduanya hanya saling pandang, tanpa mengucapkan apapun. Bukan karena apa-apa. Hanya saja...apa ucapan Elena bisa dipercaya ? Bagaimana kalau ini hanya akal liciknya saja untuk kembali membuat masalah ?
Elena berdecak. Lalu dia menatap kesal pada Jordan. "Sudah kubilang, kan ! Mereka tidak akan mempercayaiku !" Gerutunya menahan kesal dan malu karena telah menjatuhkan harga diri dengan meminta maaf.
Jordan mengusap lembut punggung tangan Elena. Dia mengedipkan mata, meminta Elena untuk tenang. Lalu dia mengalihkan pandangan pada Eric dan Isabel.
"Elena hanya ingin memperbaiki hubungan dengan kalian. Dia sudah menyesali perbuatannya. Beri dia satu kesempatan." Bujuk Jordan.
Belum ada tanda-tanda hati Eric akan luluh. Wajahnya masih sekeras tadi. Dia menghempaskan punggungnya ke sofa sambil mendengus sinis. "Apa seekor ular bisa merasa menyesal ?!"
"Orang bisa berubah. Jika tidak diberi kesempatan, kita tidak akan tahu apa dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Setiap orang pernah membuat kesalahan. Dan setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya." Ucap Jordan.
Eric menatap tajam pada Elena. Eric tahu wanita itu sedang mati-matian menahan diri. "Kesempatan kedua hanya pantas diberikan pada mereka yang tulus meminta maaf. Bukan pada orang yang hanya berpura-pura menyesal."
Rahang Elena semakin mengetat. Deru nafasnya juga semakin jelas terdengar. Tapi Jordan masih bisa menahannya untuk tetap terkontrol.
"Elena akan menyerahkan diri pada polisi." Tukas Jordan.
Ketiga pasang mata disana sontak mengarahkan pandangan pada orang yang sama. Termasuk Elena. Dia belum sepakat tentang ini. Elena terlihat ingin protes, tapi dia terpaksa menelan kembali kata-katanya. Dia mengatupkan bibir rapat-rapat sambil mengeratkan gigi. Lalu dia membuang pandangan ke arah lain dengan geram. Menyerahkan diri ? Penjara bukan tempat untuk bersantai. Elena tidak ingin mendekam disana lagi.
"Apa kau serius ?" Isabel menegakkan tubuhnya. Dia memastikan jika telinganya tidak salah mendengar ucapan Jordan.
Jordan mengangguk pasti. "Aku sendiri yang akan mendampinginya ke kentor polisi." Ucap Jordan meyakinkan.
"Kau pikir aku percaya ?" Eric tersenyum miring, merasa ini semua sudah sangat keterlaluan. Dia sama sekali tidak percaya Elena sanggup melakukan hal itu.
Jordan menatap yakin pada Eric. "Kalian bisa memastikannya sendiri. Besok. Jam 10 pagi. Kita bertemu di kantor polisi."
"Jor..." Ucapan Elena terpotong saat Jordan memberi isyarat padanya dengan telunjuk untuk diam. Elena membuang nafas kasar lalu menghempaskan punggung di sofa.
Eric tersenyum miring melihat reaksi Elena. "Kau lihat ?!" Eric menunjuk Elena dengan dagunya. "Mana ada orang yang berniat tulus dan menyesali kesalahannya bereaksi seperti itu ? Apa kau yang memaksanya melakukan itu ?" Cibir Eric.
Jordan tersenyum tipis. "Aku yakin jauh di lubuk hatinya dia sudah menyesali perbuatannya."
Mulut Eric sudah terbuka untuk membalas ucapan Jordan, tapi urung saat tangan Isabel menyentuh lengannya. Dia menoleh pada Isabel dan mendapati calon istrinya tersenyum hangat. "Tidak ada salahnya memberi kesempatan pada seseorang untuk memperbaiki kesalahan." Ucap Isabel pada Eric.
Kedua mata Eric terpejam rapat. Kenapa Isabel begitu bodoh disaat seperti ini ? Apa dia tidak melihat wajah Elena yang sama sekali tidak menunjukkan penyesalan ?
"Setiap orang pernah membuat kesalahan. Aku, kau, kita semua pernah membuat kesalahan." Isabel tersenyum sambil mengusap lembut lengan Eric. "Kita akan memaafkan Elena." Ucap Isabel lagi.
Eric menatap heran pada Isabel. Mudah sekali dia memaafkan. Padahal Elena sudah sangat jahat padanya. Eric menggeleng kepalanya, tidak habis pikir, apa yang ada di otak Isabel ?!
"Hanya satu kesempatan." Isabel menatap dalam pada Eric. "Jika dia tidak bisa membuktikan penyesalannya...." Isabel mengalihkan pandangan pada Elena. "Hancurkan dia hingga dia tidak berani lagi mengangkat wajah di depan semua orang." Ucap Isabel penuh penekanan sambil menatap tajam pada wanita yang sedang duduk dengan wajah merah padam di sebelah Jordan.
Kali ini Eric tersenyum lebar. Dia suka kalimat terakhir Isabel. Dia suka gaya Isabel melontarkan kata-katanya. Pedas dan mengintimidasi.
"Baiklah." Eric mengendurkan urat di wajahnya. Dia menatap Jordan dan Elena bergantian. "Karena ini permintaan calon istriku....aku akan memberimu satu kesempatan." Eric menatap Elena dengan wajah serius. Elena balas menatapnya. "Besok. Jam 10 pagi. Aku tunggu kalian di kantor polisi." Ucapnya tegas.
*
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Tuh kan akhirnya harus nyerah juga. Semoga diberi kesabaran dan kekuatan ya Saodah !
Ada kejutan di part selanjutnya. Udah....gag usah terlalu dipikirin, ntar gag bisa tidur loh. Ditungguin aja sambil leyeh-leyeh manja.
See you next part, Love.