100 Days

100 Days
Part 87



Rasa lapar Jordan seketika lenyap setelah mendapat kesimpulan bahwa mungkin saja kecelakaan Isabel berhubungan dengan persaingan bisnisnya dengan Startech.


Kemunculan Skytech yang menggulingkan pamor Startech membuat pemilik perusahaan itu meradang. Persaingan diantara mereka sudah terjadi sejak 8 tahun lalu. Dimana Skytech yang baru saja berdiri bisa membesut banyak perhatian dari para client Startech untuk berpaling.


Dengan gesit Eric kembali mencari keberadaan truk pengantar paket yang memuat mobil suv itu.


"Gunakan kamera lalu lintas di 7th Avenue. Jangkauan kamera itu lebih luas." Jordan menunjuk sebuah jalan dalam layar laptop.


Tanpa menjawab, Eric menuruti perkataan Jordan. Dia memutar rekaman kamera lalu lintas di 7th Avenue hari sebelumnya. Memperhatikan dengan seksama ratusan kendaraan yang melintas dari berbagai arah.


"That's it !" Seru Jordan. Dia menunjuk sebuah truk pengantar paket yang menuju ke barat kota.


Eric kembali mengejar kemana laju truk itu. Rupanya truk itu memasuki kawasan bekas pabrik televisi. Pabrik itu sudah tidak beroperasi lagi, maka tidak ada kamera yang terpasang disana. Akses paling dekat yang bisa menjangkau aktivitas di pabrik itu hanyalah kamera milik Hotel Paradise yang berjarak sekitar tiga puluh meter dengan pabrik


"Sial !" Umpat Eric. "Dari sini gambarnya tidak terlalu jelas." Geramnya saat berhasil meretas kamera hotel, tapi ternyata gambar yang ditangkap tidak terlalu jelas. Selain karena jarak yang cukup jauh juga karena pencahayaan lampu di pabrik tua itu yang minim.


"Ikuti saja dulu pergerakan mereka." Kata Jordan.


Dari rekaman itu terlihat truk masuk ke area pabrik yang terlihat sepi. Sesaat kemudian si pengemudi truk keluar, dia berjalan ke bagian belakang truk lantas menggedor badan container.


Pintu container dibuka dari dalam. Bagian bawah truk itu mengeluarkan dua plat memanjang hingga menyentuh tanah. Dan....surprise ! Mobil suv hitam yang dicari-cari bergerak mundur hingga keempat bannya menyentuh tanah.


"Bingo !" Seru Eric. Dia tersenyum puas. Sebaik-baik mereka berkelit, akhirnya ketemu juga.


Eric dan Jordan masih memperhatikan aktivitas mereka. Sejauh yang terlihat, ada tiga orang pria disana. Supir truk, supir suv dan satu orang lagi yang tadi membuka pintu container.


Ketiga orang itu hanya terlihat saling mengobrol sambil menghisap rokok selama hampir tiga puluh menit. Lalu sebuah mobil sedan berwarna hitam terlihat memasuki area pabrik. Mata Eric dan Jordan semakin awas meneliti pergerakan mereka.


Seseorang keluar dari sedan hitam itu. Seorang pria dengan setelan jas yang terlihat mahal turun dari mobil. Dia mendekat pada tiga pria disana. Mengobrol sebentar lantas merogoh sesuatu dari saku dalam jasnya. Dua buah amplop berwarna coklat yang kemungkinan berisi uang imbalan dia serahkan pada si supir truk dan si pembuka pintu container. Setelah itu mereka berjabat tangan.


Selesai dengan dua pria itu, si pria berjas beralih pada pria bertopi hitam si supir suv, sang eksekutor. Dia menepuk bahu supir suv lantas keduanya berjalan ke arah mobil sedan. Lalu mereka masuk ke dalam mobil sedan itu dan bergerak meninggalkan area pabrik dan dua pria disana yang tersenyum lebar sambil mengibas-ngibaskan amplop ditangan mereka.


"Mereka bergerak." Ucap Jordan.


Eric mengamati kemana arah perginya sedan itu. Dia kembali meretas kamera lalu lintas untuk memudahkan pencariannya.


Beberapa saat mencari, sedan itu terlihat kembali masuk ke pusat kota. Eric terus mengikuti kemana laju mobil itu. Hingga akhirnya mobil itu berhenti di sebuah restauran bintang lima.


Senyum Eric mengembang karena di restauran itu dia akan mendapat akses yang lebih mudah.


Begitu mobil itu terparkir. Dua pria itu keluar. Keduanya tampak sangat akrab berbincang di depan mobil.


"Kau mengenal pria itu ?" Tanya Jordan, menunjuk pria berjas abu-abu. Kini wajah pria itu tampak jelas dengan kamera dari restauran. Pria berusia sekitar 40-50 tahunan dengan setelan jas mahal.


"Tidak. Aku tidak kenal pria itu." Jawab Eric dengan mata terus mengamati gerak gerik mereka. "Siapa pria bertopi itu ?" Gumam Eric. Sepertinya pria itu sengaja menurunkan bagian depan topi untuk menutupi wajahnya.


Beberapa saat kemudian dua pria itu berjalan meninggalkan area parkir. Mereka menuju pintu masuk restauran. Namun, ketika sampai di depan pintu restauran, langkah mereka terhenti. Keduanya menoleh ke arah belakang lalu tersenyum lebar.


"Ivanov." Gumam Jordan dengan rahang mengeras. Ivanov adalah hacker asal Rusia. Sebenarnya dia adalah hacker yang hebat, hanya saja keahliannya dia sia-siakan hanya untuk merecoki Eric dan Jordan. Kebencian karena merasa tersaingi.


"Licik ! Berani sekali dia melibatkan Isabel dalam urusan kita." Eric geram. Eric berjanji tidak akan melepaskan pria itu begitu saja.


Setelah saling berpelukan, Ivanov dan dua pria lainnya segera masuk ke dalam restauran. Meskipun sudah mulai terbaca apa motif penyerangan Isabel, tapi rasanya masih ada yang mengganjal dalam benak Eric dan Jordan. Identitas pria berjas dan pria bertopi. Siapa mereka ?


Eric dan Jordan memutuskan untuk terus mengamati ketiga pria itu. Sampai akhirnya ketiga pria itu masuk ke dalam ruang VIP restauran.


"Sial ! Ruangan itu tidak dilengkapi cctv." Eric memukul meja di hadapannya.


"Percepat saja rekamannya sampai mereka selesai." Saran Jordan.


Eric melakukan apa yang disarankan Jordan. Dia mempercepat rekaman itu. Hingga 30 menit kemudian, ketiga pria itu belum juga keluar.


"Hei, " Suara Jordan mengagetkan Eric yang tengah fokus mempercepat rekaman. "Apa menurutmu Mike mengenal pria berjas itu ? Kudengar dia memiliki beberapa saingan bisnis yang sangat membencinya." Jordan memgatakannya dengan sedikit cibiran seolah Eric adalah salah satu orang yang membencinya.


Eric berdecih, malas menanggapi. "Akan kukirim rekaman ini padanya." Eric berhenti mengamati ketiga pria itu lantas mengirimkan gambar wajah si pria berjas kepada Mike.


Tidak butuh waktu lama untuk mendapat tanggapan Mike. Kakak kandung Isabel itu langsung menelpon Eric begitu menerima gambar wajah itu.


"Dale Krueger." Ucap Mike saat Eric mengangkat teleponnya. "Pria itu benama Dale Krueger. Apa dia orangnya ?" Tanya Mike dengan nada geram.


"Cek emailmu." Eric mengirim satu lagi gambar yang menunjukkan ketiga pria tadi.


"Keparat !" Terdengar suara Mike mengumpat di seberang sana. "Aku pernah menolak kerjasama dengannya karena dia adalah orang licik. Tidak kuduga dia akan bertindak selicik ini." Geram Mike.


Sudah jelas sekarang. Musuh Mike bekerja sama dengan musuh Eric menyerang orang yang mereka sayangi. Benar yang dikatakan Mike, Dale benar-benar licik. Sama liciknya dengan Ivanov.


"Kau benar. Mereka sungguh licik." Eric menanggapi dengan suara datar tapi sarat kemarahan.


"Mereka ?" Mike bingung dengan kalimat ambigu Eric.


"Pria Rusia itu adalah hacker. Dia...parasit." Jawab Eric.


Mendengar kata 'hacker', sudah bisa membuat Mike mengerti apa hubungan pria Rusia itu dengan Eric.


"Dengan kata lain.....Musuhku dan musuhmu adalah 'teman'." Celetuk Mike yang mengundang tawa sarkas Eric.


"Tapi.....siapa pria yang memakai topi itu ? Apa dia si pengemudi suv ?" Tanya Mike.


"Ya. Dan sepertinya dia orang terlatih. Kau tidak akan percaya jika melihat aksinya membuat suv itu seolah menghilang."


"Kau tahu siapa dia ?"


"Tidak. Aku tidak bisa mendapatkan gambar wajahnya secara jelas. Sejak keluar dari mobil, dia tidak melepas topinya sama sekali. Bahkan masuk ke restauran berbintang saja dia masih memakainya. Kurasa dia sengaja menyembunyikan wajah." Kata Eric. Pria bertopi itu pandai menyembunyikan identitas. Siapa sebenarnya dia ?


"Aku akan membagi informasi ini pada polisi." Kata Mike kemudian.


"Baiklah." Mike mengalah. "Jangan terlalu lama atau polisi tidak akan memerlukan bukti-bukti darimu lagi." Sindir Mike.


"Kau meremehkanku ?" Eric tersenyum miring.


"Aku tidak meremehkanmu. Aku hanya butuh bukti dari apa yang di bangga-banggakan adikku."


Eric menggeram tertahan. Mike meremehkan kemampuannya. Pastilah itu sangat melukai harga diri seorang Eric Michaels. "Satu jam. Aku akan mendapatkan semua informasi itu." Eric terprovokasi. Dia harus tahu wajah pria bertopi itu. Begitu mendapat visual yang jelas, dia akan mengetahui siapa pria itu dengan mudah. Tidak sulit bagi Eric untuk mendapatkan informasi tentang seseorang hanya dengan visual wajah.


"Can't wait to see that." Mike tersenyum miring. Ini adalah balasan untuk Eric yang mengacuhkan ucapan terima kasihnya tadi pagi.


Tanpa menjawab ucapan Mike, Eric mematikan sambungan teleponnya. Jordan yang dari tadi mendengarkan kini tertawa lantang hingga matanya berair.


Eric mudah sekali di provokasi. Apalagi jika itu menyangkut harga dirinya. Tapi justru itu adalah kelemahan Eric bagi mereka yang mengenalnya. Dulu memang Eric mempunyai anger management yang payah. Dia mudah sekali tersulut emosi. Baru setelah berpisah dari Elena, Eric perlahan mulai bisa mengendalikan emosinya yang suka meledak-ledak.


"Tertawalah sepuasmu, Keparat ! Karena setelah ini kau tidak akan bisa tertawa lagi." Ancam Eric yang sama sekali tidak bisa membuat Jordan berhenti tertawa.


"Kurasa hubungan kalian semakin baik." Kata Jordan setelah bisa meredam tawanya.


Eric sudah kembali berkutat dengan laptopnya. Dia tidak punya waktu meladeni ejekan Jordan karena dia harus segera mengetahui identitas si eksekutor itu.


Kembali ke layar, ketiga orang itu berada dalam ruang VIP restauran hingga hampir dua jam lamanya. Entah apa yang mereka lakukan. Mungkin saja restauran semewah itu menyediakan pelayanan plus-plus. Mengingat tiga waiters yang tadi masuk membawa makanan dan minuman kepada mereka berada dalam ruangan itu cukup lama. Terlalu lama malahan. Satu jam mereka di dalam, dua orang waiters keluar. Menyisakan seorang teman mereka di dalam bersama tiga orang pria. Mungkin mereka bermain foursome. Who cares !


Eric hanya fokus mempercepat rekaman hingga mereka keluar. Setelah hampir dua jam, akhirnya pintu ruangan itu terbuka.


"Mereka keluar !" Seru Eric, Jordan yang tadi duduk agak jauh lantas mendekat, ikut memperhatikan layar.


Dale dan Ivanov keluar terlebih dulu. Selang beberapa detik eksekutor itu juga keluar--tanpa mengenakan topi. Namun sayangnya, baru sebagian tubuh pria itu keluar, dia berbalik lagi, kembali masuk ke dalam ruangan. Hanya beberpa detik, lantas pria itu keluar lagi.


"GOT IT !" Eric berseru puas. Eksekutor itu keluar sambil mengangkat tangan untuk memakai kembali topinya. Tapi Eric berhasil menangkap wajah pria itu sesaat sebelum wajahnya tertutup topi lagi.


"Zoom !" Kata Jordan.


Eric memperbesar wajah pria itu hingga cukup jelas untuk dikenali.


Jordan mengerutkan keningnya. Mencoba mengingat-ingat wajah siapa yang dia lihat saat ini. Begitu pula Eric. Dia berusaha mengenali pria itu dengan mengandalkan ingatannya.


"Aku tidak mengenalnya." Jordan menggeleng. Wajah itu benar-benar asing baginya.


Tapi tidak bagi Eric. Eric merasa pernah melihat pria itu. Tapi siapa ? Dimana ?


"Aku yakin pernah melihat pria itu." Kata Eric sambil menopang dagu dengan ibu jari dan keempat jari lainnya yang terlipat.


"Kau mengenalnya ?" Tanya Jordan.


Eric masih berusaha menggali ingatannya kembali. Dia sangat yakin pernah bertemu dengan pria itu.


Beberapa saat kemudian Eric mengangkat wajah. Dia ingat. Dia tahu dimana pernah melihat pria itu, bahkan berbicara dengannya.


"Focus." Kata Eric. Dia menatap penuh arti pada Jordan. "Namanya Jim."


Ya, pria itu adalah Jim. Orang yang bekerja di arena tembak dimana Eric pernah bertemu dengan Elena dan hampir menembak kepala wanita itu.


Untuk apa Jim melakukan semua ini ? Balas dendam karena Eric pernah membuat keributan di tempatnya bekerja ? Mungkin setelah kejadian itu dirinya di pecat, lalu mendendam pada Eric. Atau.....


"Kita saksikan pertunjukan ini sampai selesai." Kata Eric ambigu. Dia kembali menekuri layar laptopnya bahkan hingga beberapa menit setelah Jim meninggalkan tempat itu.


"Cerdik sekali." Gumam Eric sambil mengeratkan giginya. Wajahnya sudah mengeras dengan tatapan tajam yang terus mengarah pada layar laptop.


Jordan yang melihat gelagat amarah Eric pun ikut memfokuskan pandangan pada layar laptop. Jordan mendengus kasar lalu mengusap wajahnya. Dia tahu hal ini akan terjadi. Kini dia paham kenapa semua rencana mereka terlihat begitu sempurna hingga hampir tidak terdeteksi.


Tidak ada kebetulan dalam kasus ini. Tidak ada hal mujur yang terjadi. Karena semua direncanakan dengan sangat baik. Dan rencana busuk seperti itu akan semakin sempurna jika ada campur tangan seseorang yang sangat memahami lawannya. Seseorang yang mengenal dengan sangat baik siapa musuhnya.


Seorang wanita keluar dari dalam ruang VIP sepuluh menit setelah Jim meninggalkan tempat itu.


Wanita dengan blezer pink berjalan dengan anggun keluar dari ruang VIP sambil mengurai rambut coklatnya yang tadi di cepol dan dijepit dengan jepit motif bunga teratai yang khusus dipakai oleh para waiter.


Wajah wanita itu tertangkap dengan sangat jelas oleh kamera cctv. Wanita itu tersenyum anggun. Senyum khas ELENA.


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Hahahha.....Jawabannya benar semua ya. Bisnis dan wanita jika dikombinasikan akan menghasilkan hubungan yang sangat kuat. Bisa jadi sangat menguntungkan atau malah sangat merugikan. Tergantung di pihak mana mereka berdiri.


Kita lihat di part selanjutnya, apa yang akan Eric dan Jordan lakukan dengan hasil penemuan mereka. Biarkan polisi ambil alih atau......main hakim sendiri.


Yang jelas Eric sudah bisa membuktikan pada Mike kalau dirinya tidak bisa dianggap remeh.


Sekian dulu deh, part ini cukup panjang. 2000 kata lebih loh. Sebenernya pengen tak kasih visual Elena yang pake blezer pink itu, tapi ntar malah lama reviewnya. Jadi mending gag usah lah.


See you next part, Love.