100 Days

100 Days
2 Day (Menentukan Pilihan)



"Tre. Udah deh kita pergi yuk. Gak lihat apa SPG itu tadi. Ihh sombong banget. Kalau aku jadi sultan dadakan, aku beli ni mobil. Duitnya aku sebar di mukanya. Sebel banget tau gak." bisik Shita menggandeng tanganku dengan kesal.


...****************...


Aku terkagum saat melihat mobil yang di pajang di atas panggung. Mobil yang terlihat sangat mewah dan keren. Aku mendekati mobil itu. Sempat Shita menarik tanganku untuk menghalangiku pergi ke sana.


"Mas-mas ini mobil merek apa?!" tanyaku melambai ke arah SPG lelaki itu.


Cukup lama aku di acuhkan. Aku hanya berdiri sendiri seperti orang dungu di depan mobil mewah itu.


"Mas." panggilku sekali lagi.


Tapi tetap aku di acuhkan oleh para SPG itu. Shita dengan malunya menarik tanganku untuk pergi dari tempat itu. Hingga seseorang lelaki yang duduk di meja yang tak jauh dari tempatku berdiri, menghampiri kami.


"Selamat siang Kak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya lelaki itu dengan sopan.


"Anu ini mobil merek apa. Harganya berapa?" tanyaku.


"Oh ini punya Mitsubishi Outlander. Pajero Sport keluaran terbaru Kak. Harganya murah kok kak. Cuman 750 Jutaan aja." jelas lelaki itu.


"Gile 750 Juta! CUMAN?!" sergah Shita terkejut.


"Tre, kita pergi sekarang aja yuk, plisss!! Gua udah malu banget ini." desak Shita merusaha membujukku.


"Bisa buat keliling Indonesia gak Kak?" tanyaku mengabaikan rengekan Shita.


"Bisa Kak bisa. Ya walau gak bisa terbang. Tapi mobil ini sudah tahan cuaca dan dari segala medan Kak. Seperti jalan berkrikil dan berAir." Tmtimpal lelaki itu.


"Ya udah. Aku mau beli mobil ini aja! Yang warna putih, kaya ini!" sergahku dengan semangat kepada lelaki itu.


"Aduh Tre." gumam Shita berusaha menutupi mukanya.


Terlihat beberapa orang memperhatikan kami. Dan juga kedua SPG itu, terlihat berbisik membicarakan kami. Shita yang sudah terlihat sangat malu. Mencoba bersembunyi di belakangku.


"Jadi mau pakai kartu kerdit apa kak?" tanya lelaki itu dengan ramahnya.


"Beli kontan boleh gak? Aku gak mau ribet pakai kartu kredit. Aku baca ada chasback 10%." tanyaku menunjuk sebuah papan iklan di depan area.


"Oh baik kalau gitu. Pasti Kak pasti. Memang ada promo chasback dari perusahaan kami. Mari kak ikut saya." tutur lelaki itu dengan sopan.


Lelaki itu meminta kami mengikutinya ke meja tempat duduknya tadi.


Setelah perbincangan yang cukup menarik perhatian beberapa orang di sana. Aku membayar kontan mobil keluaran terbaru itu. Saat itu juga, aku meminang mobil sport berwarna putih itu.


Shita terdiam terpaku melihat apa yang aku lakukan. Setelah aku mendapatkan kunci mobilku. Aku menarik tangan Shita untuk melihat betapa bagusnya mobil itu.


"Gimana Ta? Kerenkan?! Mobil ini aku namaiii....Emm namai siapa Ta?!" tanyaku.


"Edan!!" celetuk Shita terpaku memandang mobil di hadapannya.


"Aku sudah putuskan. Aku, Shita, dan Edan, akan keliling Indonesia!!" sergahku menyita perhatian banyak orang.


"Tre!! Lo jawab dengar jujur! Lo dapat duit dari mana?! Lo menang lotre?! Jadi simpanan Om Om??? Mlihara tuyul?! Jin??!!" sergah Shita tak percaya.


"Ha haha hahaha!! Ya ampun Ta, kamu tu lucu banget." sahutku terbahak mendengar ucapan Shita.


"Ta kamu lupa ya. Papa ku kan pengusaha ekspor-impor. Jangan lupa juga Mama ku juga kaya. Lebih kayaan Papa sih." jelasku.


"Tapi Tre, kan." sahutnya.


"Udahlah, Ta. Kita belanja yuk. Kita harus stok kebutuhan untuk keliling Indonesia." ucapku menarik tangan Shita.


Shita terlihat syok dengan apa yang aku lakukan hari ini. Aku mengambil banyak barang yang kiranya aku perlukan. Dari kebutuhan kamping, peralatan emergency, dan lainnya.


"Tre, seriusan ini?!" celoteh Shita yang tak berhenti bertanya kepadaku.


Setelah selesai berbelanja. Aku memesan seorang driver taksi online untuk mengantarkan semua barang belanjaan kami ke rumah. Sedangkan aku dan Shita, mampir ke sebuah pegadaian dan menjual motor tuaku dengan harga yang murah.


"Tre, Ya Allah, Tre. Lo kesambet apa Sih?! Itu murah banget, Tre." protes Shita.


Aku tak perduli dengan ocehan Shita yang tak henti itu. Sesampainya kami di rumah. Aku menurunkan semua barang-barang yang kami beli. Kami membereskan semua barang yang ingin kami bawa itu ke dalam rumah.


"Tre, ini taroh mana?" tanya Shita.


"Taroh situ aja, Ta," titahku.


Shita yang masih terlihat sangat syok. Sepanjang berjalanan, makin di buat syok dengan apa yang dia lihat. Shita berjalan ke arah ranjang kamarku. Dia meraih sebuah selembaran yang berserakan di atas ranjangku. Dia ternyalang saat membaca laporan lap milikku.


"Tre! Apa ini, Tre?!" tanya Shita dengan begitu terkejutnya.


"Ta, kamu mau kan. Temanni aku keliling Indonesia. Untuk yang terakhir kalinya dalam hidupku. Aku mau wujudkan keinginanku. Aku ingin keliling Indonesia." ucapku memegang tangan Shita.


Shita merangkulku dengan erat. Dia menangis seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia terus mendesakku bahwa ini sebuah lelucon. Dia menangis meraung di hadapanku.


"Tre, gak! Lo bohong! Lo apa-apaan sih! Dasar tukang halu! Ni semua cuman lelucon kan?! Tre, bilang ini semua bohong. Iya kan, Tre?!" hardik Shita tak percaya dengan semua yang dia baca.


"Aku ingin seperti itu. Semua lelucon. Semua bohong. Tapi aku gak bisa lari, Ta. Semua ini nyata, ini bukan halu." sahutku.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang Tre. Lo, lo harus oprasi. Lo harus sembuh, Tre." seru Shita.


"Percuma, Ta. Percuma. Oprasi pun tak ada harapan untuk sembuh. Lagian, aku gak punya siapa-siapa selain kamu. Kamu tau kan Papa sama Mama ku udah gak perduli denganku lagi." jelasku.


"Ya ampun Tre..." ucap Shita kembali hanyut dalam tangisnya.


Aku menjelaskan semuanya yang aku alami selama ini kepada Shita. Tentang orang tuaku yang seakan tak perduli lagi padakun. Tentang hidupku, yang tinggal 100 hari lagi.


...****************...