
Isabel ?
Tenggorokan Eric terasa kering karena mulutnya yang setengah terbuka tanpa sadar. Dia berdiri di balik pintu mobil, menatap gadis yang diam-diam sudah mencuri hatinya sambil mengangkat ponsel yang layarnya retak seperti orang bodoh.
Sementara itu Jordan sudah sampai di tempat Isabel berdiri memeluk Grey beberapa meter dari mobilnya.
"Sepertinya Grey sangat nerindukanmu, Princess." Ujar Jordan sebelum memeluk Isabel yang tersenyum cerah padanya.
"I miss you too, Jordan." Ucap Isabel membalas pelukan Jordan dengan Grey yang masih berada dalam dekapannya.
"Apa kabarmu, Princess ?" Tanya Jordan.
"Aku baik, hanya sedikit sibuk mengejar ketertinggalanku. Bagaimana kabarmu ? Apa yang kau lakukan disini ?" Cecar Isabel. Heran saja Jordan berada di RCT. "Kau membeli apartemen disini ?" Tanyanya lagi.
Jordan tertawa kecil, mengusap ujung hidungnya. "Apartemen disini harganya terlalu tinggi untukku, Princess." Kata Jordan. "Sedikit urusan bisnis." Tambahnya.
Senyum bahagia tak lepas dari wajah Isabel. "Oya ? Apa kau akan sering kesini ?" Tanyanya antusias. Dia berharap bisa bertemu lagi dengan Jordan disini lain waktu. Karena tidak mungkin dia bisa datang ke Willow Spring dalam waktu dekat ini. Mike mengharamkan tempat itu untuknya.
Raut wajah Jordan menunjukkan kekecewaan yang sebenarnya, "Pekerjaanku sudah selesai. Aku akan kembali ke Amytville."
Giliran Isabel yang menunjukkan raut kecewa. "Sayang sekali." Katanya.
"Jangan bersedih, Princess."Jordan mengusap puncak kepala Isabel.
Isabel mengerucutkan bibirnya sambil menatap sedih pada Jordan. Namun itu tidak bertahan lama. Karena sesaat kemudian pandangannya beralih pada seseorang yang berjalan mendekat ke arah mereka dengan senyum kaku.
Lagi-lagi Isabel membenci jantungnya terlalu cepat memompa darah ke seluruh nadinya hingga membuat tubuhnya terasa lemas. Rasanya sungguh sesak hingga dia hampir tidak bisa bernafas.
Apalagi saat pria itu sudah berhenti di samping Jordan tanpa mengalihkan tatapan mereka yang saling mengunci.
Kalau bisa, Isabel ingin membungkus jantungnya dengan kain kedap suara agar hentakannya tidak sampai terdengar oleh orang lain.
"Hai." Sapa Eric dengan canggung.
"H-hai." Balas Isabel tak kalah canggung.
Jordan menahan senyum geli melihat ekspresi kedua orang itu. Sungguh menggelikan ! Seperti dua abg yang malu-malu kucing.
Menapakkan kaki maju satu langkah, Eric memberi pelukan pada Isabel.
Salah ! Harusnya Eric tidak melakukannya. Lihat saja, jantungnya hampir saja melompat saat merasakan tangan kecil Isabel berada di punggungnya, membalas pelukan yang dia berikan.
Ulu hatinya berdesir hingga menimbulkan rasa nyeri. Lalu dia melepaskan pelukan itu agar dia tidak hilang kendali.
"Bagaimana dengan lenganmu ?" Tanya Isabel sambil menunjuk lengan kanan Eric dengan matanya.
"Sudah sembuh." Jawabnya singkat.
Isabel menggigit bibirnya, susah payah menelan saliva untuk menetralkan hentakan jantungnya yang berlebihan. Dia tidak berani menatap wajah Eric yang entah kenapa saat ini terlihat sangat...tampan.
"Ehem !" Deheman Jordan membuat dua orang itu bergerak salah tingkah. Eric menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil mengarahkan pandangannya pada sepatu kulit berwarna hitam miliknya. Sedang Isabel mengusap-usap bulu lembut Grey dengan gerakan cepat.
"Apa kau tidak merindukan gadis cantik ini, Brother ?" Tanya Jordan pada Eric yang sukses membuat adik angkatnya itu melotot kesal.
Tidak mempedulikan Eric yang sudah mengetatkan rahangnya, Jordan menjentikkan jari lantas berkata, "Maaf, Princess. Aku harus menelpon seseorang." Katanya yang lantas mencium kilas pipi Isabel sebelum membalik badan meninggalkan kedua orang canggung disana.
Eric terlihat ingin mengucapkan sesuatu untuk menahan Jordan, tapi Jordan hanya mengacungkan jempol kanannya keatas dengan satu tangannya masuk ke dalam saku celana tanpa menoleh lagi.
Jujur saja, Eric bingung mau bicara apa dengan Isabel. Entah kenapa dia jadi gugup seperti ini.
Keduanya saling melempar senyum canggung. Isabel menyelipkan rambutnya ke belakang telinga sambil melipat bibir, berusaha menetralkan perasaannya yang sulit dia pahami.
Eric berdehem, berusaha keras untuk tidak terlihat kikuk lalu buka suara, "Cukup lama, hm ?" Lama tidak bertemu maksud Eric. "Bagaimana kabarmu ?"
"Baik. Bagaimana denganmu ?" Tanya Isabel balik.
Eric mengangkat bahu, "Seperti yang kau lihat." Jawabnya sambil tersenyum. Dan senyum Eric membuat hati Isabel meleleh. Seketika ingatannya kembali pada mimpinya beberapa waktu lalu. Senyum itu....lalu ciuman itu.....
"Kau baik-baik saja ?" Tanya Eric yang melihat Isabel memandangnya tanpa berkedip, dengan bibir setengah terbuka. Dan itu menimbulkan reaksi aneh pada tubuh Eric. Dia tidak bisa membiarkan gadis itu menatapnya seperti tadi lebih lama lagi. Dan bibir itu....oh shit ! Bisa gila dia nanti !
Isabel mengerjap pelan lantas menelan ludah. Otaknya telah berhianat. Kenapa memunculkan memori mimpi itu disaat seperti ini ? Sungguh memalukan !
"T-tidak. Maksudku....aku baik-baik saja." Jawab isabel gugup.
Mereka kembali terjebak dalam situasi canggung. Eric beberapa kali mengumpati dirinya sendiri dalam hati yang hanya bisa diam tanpa sepatah katapun. Dia memang tidak menduga akan bertemu Isabel secepat ini.
Tunggu ! Secepat ini ? Ayolah, sudah satu bulan ini Eric merasakan waktu berjalan begitu lambat. Ini sudah terlalu lama untuknya.
"Ehem." Suara deheman seseorang membuat kedua orang itu menoleh. Itu tadi Taylor yang berdehem. "Maaf, Nona. Saya rasa Tuan Mike tidak akan suka melihat ini." Kata Taylor. Dia hanya menjalankan tugas untuk mengawasi Isabel sesuai perintah Mike.
"Tenang saja, T. Mereka bukan orang jahat." Kata Isabel.
"Tapi Nona...."
Isabel mengangkat tangannya, mengisyaratkan Taylor untuk diam. "Kakakku baru akan tiba setengah jam lagi." Katanya. Taylor mengangguk tanpa menjawab apapun. Lalu dia kembali ke tempatnya beberapa langkah di belakang Isabel. Meskipun dia merasa semua ini akan membawa bencana untuk dirinya.
"Bodyguard ?" Tanya Eric. Dia mengangkat sebelah alisnya sambil menahan tawa.
"Aku ?" Eric menunjuk dirinya sendiri. "Aku tidak tertawa." Sangkalnya.
"Kau memang menyebalkan !" Tentu saja Isabel tidak percaya. Jelas-jelas Eric menahan tawa, masih saja mengelak.
Eric tersenyum. Dia suka melihat ekspresi Isabel yang seperti itu. Sangat menggemaskan. Dan lihatlah apa yang dilakukan Eric selanjutnya ! Pria itu mengusap puncak kepala Isabel.
Hanya sepele, Jordan tadi juga melakukannya. Tapi saat Eric yang melakukan itu, kenapa rasanya berbeda ?
Tidak tahu apakah Eric sadar atau tidak saat melakukannya, tapi sentuhan tangan Eric di kulitnya, membuat Isabel merasa hatinya berdesir.
"Maaf." Eric yang seperti baru tersadar akan sesuatu, segera menurunkan tangannya.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Isabel, dia hanya tersenyum kaku sambil menggerakkan kepalanya sedikit.
Mereka diam lagi. Keduanya memandang kebawah seolah sepatu adalah benda yang sangat indah untuk dipandang berlama-lama.
"Isabel," Ucap Eric lirih. Dia ingin sekali mengatakan kalau dia sangat merindukan gadis itu, tapi setan gengsi masih terlalu kuat dalam dirinya.
Isabel mengangkat wajah, kedua alisnya terangkat sebentar sebagai bentuk rasa terkejut. "Wow !" Ucapnya kemudian.
Eric mengernyit, kenapa Isabel berucap 'wow' ?
Lalu sebuah senyum terukir di wajah gadis itu. "Ini pertama kalinya kau menyebut namaku." Katanya dengan malu-malu. Dan entah kenapa saat mendengar namanya keluar dari bibir Eric, rasanya seperti menemukan oase di tengah gurun pasir. Dia suka mendengar Eric menyebut namanya. Menyejukkan hati.
Dan, ya. Eric baru menyadari hal itu. Selama ini dia tidak pernah melafalkan nama Isabel dengan bibirnya. Ini adalah yang pertama kali untuknya.
Dalam hati, Eric merutuki kebodohannya. Apa yang dia lakukan selama ini hingga tak pernah menyebut nama gadis itu dengan mulutnya ?
"Benarkah ? Aku....tidak...."
"Aku tahu. Dulu kau sangat membenciku, makanya kau anti menyebut namaku." Potong Isabel sambil mengusap bulu lembut Grey yang terlihat nyaman dalam dekapannya.
Eric membasahi bibirnya lalu tersenyum. "Dan kau masih membenciku sampai sekarang." Sarkasnya.
"Hei, aku membencimu hanya saat kau bersikap menyebalkan !" Balas Isabel tidak terima.
"Benarkah ?" Eric menaikkan sebelah alisnya. "Apa aku masih menyebalkan setelah sebulan kita tidak bertemu ?" Tanya Eric kemudian dengan senyum jahil.
Kedua bola mata Isabel bergerak liar ke sembarang arah asal bukan ke wajah Eric. Meskipun wajah itu menunjukkan senyum jahil yang menyebalkan, tapi itu tetap terlihat sangat manis dimata Isabel. Ugh....pasti ada yang tidak beres dengan mata Isabel.
"Apa aku masih menyebalkan ?" Desak Eric lagi.
Dan sekarang mau tidak mau Isabel balas menatap mata Eric. "Kau......" Ucapan Isabel menggantung. Otaknya tidak bisa berpikir, bahkan dia lupa dengan apa yang ingin dia ucapkan tadi. Dia merasa terhipnotis oleh tatapan dalam Eric.
"I miss you, Isabel." Ucap Eric setelah beberapa saat mereka terdiam sambil terus masuk ke dalam tatapan memabukkan itu. Dia mengucapkan kalimat itu tanpa mengalihkan tatapannya.
Seperti tersihir oleh ucapan Eric, Isabel pun terus menatap lekat kedua mata Eric sambil berkata, "Yeah, me too. I miss you, Eric."
Tidak ada lagi kalimat yang terdengar. Hanya tatapan mereka yang terus berbicara. Ya, tatapan itu seolah menyuarakan kerinduan yang selama ini mereka rasakan.
Hampir saja Eric kehilangan kendali untuk tidak mencium gadis di depannya itu, andai saja debuman keras pintu mobil yang tertutup tidak mengalihkan perhatian mereka.
"ISABEL !!!" terdengar teriakan lantang yang begitu familiar di telinga kedua orang itu.
"Oh, shit ! Not again !" Keluh Eric dengan suara lemah. Dia mengusap wajah sambil memejamkan matanya saat melihat Mike berjalan mendekat ke arah mereka dengan aura membunuh.
Reaksi hampir sama ditunjukkan oleh Isabel. Harusnya Mike baru akan tiba sekitar lima belas menit lagi. Tapi kenapa dia muncul sekarang ?
Isabel menelan ludah kasar. Raut wajahnya sudah seperti seseorang yang tertangkap basah sedang mencuri. Mencuri kesempatan untuk melepas rindu.
*
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Nah.....ketahuan lagi !
Duh bener-bener deh, kapan mereka punya waktu untuk berdua saja tanpa ada yang mengganggu. Lagi asyik kangen-kangenan, eh....satpol pp dateng !
Happy reading !
See you next part, Love.