100 Days

100 Days
Letting You Go



~Isabel~


"Sepertinya kau sudah tidak membutuhkanku lagi. Kurasa sejak dua bulan lalu kau juga sudah bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan sekarang kau jarang datang ke tempak praktikku." Finn memberiku jus jeruk yang baru saja dia tuang ke dalam gelas. Lalu dia duduk di kursi kebesarannya.


"Aku menemukan obatku, Finn. Kau tahu sendiri, seberapa keras aku mencoba melupakannya, aku tidak pernah bisa. Bersamanya, aku merasa hidup lagi," balasku.


Finn mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku mengerti. Berarti sekarang tugasku sudah selesai." Finn mengerutkan alis sambil melipat bibir seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu dia melihat padaku. "Kurasa peranku untukmu tidak seberapa. Satu tahun usahaku harus ditumbangkan oleh kedatangan seseorang selama satu minggu," katanya.


Aku tertawa. Memang, sejak kedatangan Eric hidupku jauh lebih bahagia. Aku merasa jiwaku utuh kembali. Aku tidak bisa menyangkal, kalau memang jiwa kami terhubung begitu kuat. Tapi Finn bukanlah orang yang tidak berperan banyak dalam hidupku. Selama satu tahun, dia berhasil membuatku mencoba melanjutkan hidup. Dia berhasil membawaku bangkit dari keterpurukan. Finn mempunyai peran yang cukup penting dalam hidupku.


"Tidak, Finn. Kau memegang peran sangat penting dalam hidupku selama ini. Tanpa dirimu, aku hanya akan menjadi mayat hidup yang dipelihara oleh keluargaku. Kau tahu persis bagaimana hancurnya aku saat itu. Tapi kau dengan sabar mengulurkan tanganmu padaku disaat aku berada di titik terendah dalam hidupku. Terima kasih saja tidak akan cukup, Finn." Aku tulus mengucapkannya.


Dia tersenyum. "Itu semua adalah hasil dari usahamu sendiri, Isabel. Aku hanya memancing keinginan untuk bangkit dalam dirimu. Dan kau memakan umpanku," katanya.


"Aku akan tetap berterima kasih padamu, Finn."


Finn menghela nafas. Dia menarik sebuah map yang ada di sisi kanan mejanya. "Aku harus memberitahumu sesuatu." Dia menatapku serius. "Disini tertulis semua perkembangan kondisi psikologismu. Dari awal kau pindah kemari hingga saat ini. Aku mencatatnya dengan detail. Karena sekarang kondisimu sudah sangat baik, kau tidak membutuhkan konseling lagi. Dan itu artinya, aku akan segera mengirimkan ini pada orang tuamu."


Kupejamkan kedua mataku. Cepat atau lambat, saat seperti ini memang akan terjadi. Finn akan mengirimkan laporan itu pada orang tuaku. Itu artinya aku harus kembali kesana. Dan kembali kesana berarti aku harus berpisah dengan Eric. Dadaku terasa sesak lagi saat membayangkan aku harus berpisah dengan Eric. Kami memang sudah sering membahas ini. Suatu hari nanti kami akan berjalan di jalan masing-masing saat aku harus kembali kepada orang tuaku. Kami juga sudah merencanakan untuk tetap menjalani hidup dengan bahagia meski kami tidak lagi bersama. Setidaknya hubungan kami kali ini berakhir dengan baik-baik. Saling menerima, bahwa kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Tapi ... bisakah kami bersama untuk sebentar lagi?


"Kapan kau akan mengirimkannya?" tanyaku.


"Tiga hari lagi. Sekalian aku mengisi seminar di Rabella Foundation," jawabnya. Finn menatapku lekat. "Maafkan aku, Isabel. Tapi aku harus melakukannya. Ini adalah salah satu pertanggung jawabanku. Aku sudah berusaha mengulur waktu untuk kalian."


"It's okay. Aku mengerti." Aku tersenyum maklum. Finn sudah melakukan banyak hal untukku. Dia bahkan tidak mengadukanku pada orang tuaku kalau dua bulan ini aku kembali berhubungan dengan Eric. Dia sudah sangat membantu. "Tiga hari lagi aku akan kembali kesana bersamamu," lanjutku.


Tidak ada pilihan lagi. Waktuku bersama Eric tinggal tiga hari. Selama tiga hari itu aku ingin benar-benar menghabiskan waktuku bersamanya. Aku ingin perpisahan kami kali ini menjadi perpisahan yang manis.


Sepulang dari tempat praktik Finn, aku tidak kembali ke apartemenku. Tujuanku adalah apartemen Eric. Aku ingin saat-saat terakhirku bersamanya diisi dengan kenangan indah. Aku ingin mengenang perpisahan kami dengan hal yang menyenangkan.


"Bells?" Eric terkejut melihatku berdiri di depan pintu apartemennya. Aku tersenyum sekilas lalu memeluknya.


"Sepertinya kau sangat merindukanku." Eric terkekeh mendapat pelukan mendadak dariku. Aku tidak peduli dia menertawakanku. Yang ingin kulakukan sekarang hanyalah memeluknya. Aku ingin mengingat rasa ini dengan baik di otakku.


"Aku ingin menginap disini," kataku tanpa melepas pelukan.


Eric mendorong pelan bahuku supaya dia bisa melihat wajahku. Dia mengernyit, menatap kedua mataku bergantian. "Apa yang terjadi?" tanyanya.


"Aku akan sangat merindukanmu, Eric." Tanpa kuperjelas lagi, dia pasti sudah tahu apa maksudku.


"Masuklah." Dia memberi ruang padaku untuk masuk ke apartemennya.


"Jadi ... kapan?" tanyanya saat aku sudah duduk di sofa dan bersandar di dadanya. Aku tidak ingin melepaskannya. Biarlah nanti dia mengejekku dengan mengataiku seperti cicak yang terus menempel di dinding. Asalkan aku bisa mengukir kenangan terakhir ini dengan indah.


"Tiga hari lagi," jawabku. Dia menghela nafas. Kedua tangannya membingkai tubuhku semakin erat. Dia cium kepalaku lalu menempelkan dagunya disana.


"Cepat sekali, hah?" Dia mendengus, melontarkan kalimat itu dengan nada getir.


"Biarkan seperti ini. Aku tidak ingin jauh darimu," bisikku sambil menyamankan kepalaku di dadanya.


Aku ingin menangis. Tapi aku tidak ingin kenangan ini diisi dengan air mata. Aku ingin memiliki kenangan bahagia bersamanya. Mungkin dengan tidak melakukan apapun selama tiga hari kedepan selain berpelukan dengannya.


"Aku tidak tahu apa aku bisa menjalani hari-hariku tanpamu. Tapi aku akan berusaha. Meski kita tidak bisa bersama, bukan berarti kita harus hidup dalam keterpurukan seperti dulu. Setidaknya kita mengakhiri semua ini dengan kenangan indah." Eric terus menciumi kepalaku.


"Waktu kita tidak banyak. Biarkan aku menginap disini. Aku ingin menghabiskan sisa hariku disini bersamamu. Supaya aku bisa pulang membawa kenangan indah bersamamu, yang akan kuingat seumur hidupku."


"Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan, Bells."


Kulingkarkan tanganku di perutnya semakin erat. Selama beberapa menit hanya itu yang kami lakukan tanpa bicara apapun. Yang terdengar hanya deru halus nafas kami. Dan aku bisa merasakan detak jantungnya yang berirama sangat merdu di telingaku. Aku pasti akan sangat merindukannya. Lalu tiba-tiba Eric mendorongku pelan, melepas pelukannya padaku.


"Aku harus menunjukkanmu sesuatu," katanya dengan raut serius. "Kau mau ikut bersamaku?" tanyanya kemudian.


"Tunggu sebentar." Eric mengangkat telunjuknya padaku lantas dia bangkit. Dia berjalan ke kamar dan keluar dengan mengenakan jaket denim.


"Ayo, waktu kita tidak banyak," katanya sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku menyambutnya lalu berjalan mengikutinya.


Eric membawaku ke basement dan masuk ke mobilnya. "Kau siap untuk perjalanan jauh?" tanyanya. Aku mengangguk.


Dia mengendarai mobil itu dengan kecepatan diatas rata-rata. Jalan yang kami lalui adalah jalan menuju bandara. Aku tidak tahu kemana Eric akan membawaku, karena sejak keluar dari basement, dia fokus mengemudi dan tidak berbicara apapun denganku.


Benar saja, tempat yang dituju Eric adalah bandara. Dia memesan dua tiket ke Malibu. Ya, Malibu. Tempat dimana kami pernah menghabiskan waktu dengan penuh cinta dan tempat dimana kenangan buruk itu bermula.


"Malibu?" Aku mengernyit saat dia menerima dua tiket dari petugas.


"Itulah kenapa aku mengebut, kita harus mengejar jadwal penerbangan tercepat. Sebenarnya aku ingin mengajakmu kesana dengan mengendarai mobil. Tapi waktu kita tidak akan cukup. Butuh hampir 24 jam untuk sampai disana."


"Kenapa kau mengajakku kesana? Aku ... masih sedikit ngeri mengingat tempat itu," kataku jujur.


"Kau akan tahu nanti," jawabnya.


Setelah itu aku tidak bertanya apapun lagi. Aku mengikuti apapun yang dia katakan. Kami naik pesawat ke Malibu lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan taksi. Lelah? Tentu saja. Tapi aku tetap mengikuti kemana Eric membawaku.


Di dalam taksi itu aku tertidur. Aku tidak tahu berapa lama perjalanan yang kami tempuh. Eric membangunkanku saat kami sudah sampai di tempat tujuan.


"Bangunlah, kita sudah sampai," katanya. Mataku menyipit, menyesuaikan cahaya yang masuk ke mataku. Masih dengan kesadaran yang belum terkumpul penuh, aku menyambut tangan Eric yang terulur untuk membantuku turun dari taksi.


Saat kujejakkan kakiku ke tanah untuk pertama kali, yang kurasakan adalah permukaan tanah yang melesak saat kuinjak. Aku menunduk untuk melihatnya. Pasir? Lalu suara deburan ombak merangsek masuk ke telingaku. Aku berpaling cepat ke belakang. Pantai?


Aku berpaling sebentar pada taksi yang meninggalkan kami disana lalu aku mengarahkan pandanganku lagi ke arah barat. Dimana matahari mulai tenggelam.


"Kau suka?" tanyanya.


"Ini cantik sekali," gumamku sambil melangkah maju ke bibir pantai.


"Ayo, kita tidak punya banyak waktu," kata Eric dari belakangku.


Aku berpaling padanya. Aku bingung. Kemana lagi dia akan membawaku? Bukankah untuk menikmati sunset disini? Tapi dia terus menarik tanganku menjauh dari bibir pantai. Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang di kanan dan kirinya adalah tumbuhan semak. Sekitar seratus meter dari pantai, kami berhenti. Tepatnya di depan sebuah rumah kayu dengan gaya modern yang begitu indah. Rumah ini tidak terlalu besar, tapi terkesan elegan dengan design ukiran kayu yang cantik. Di halaman rumah bagian kanan aku bisa melihat ayunan yang terbuat dari anyaman rotan. Lalu di depannya ada kotak api unggun yang di kelilingi bangku-bangku rotan. Bagian teras rumah itu cukup luas. Mungkin karena tidak ada perabotan apapun yang diletakkan disana. Lampu-lampu berwarna kuning di sekeliling rumah tampak sudah dinyalakan. Membuat suasana rumah itu terlihat damai.


"Kau suka?"


Aku menoleh pada Eric yang berdiri di sampingku sambil memasukkan tangannya di saku celana dan tatapan mengarah pada rumah itu.


"Rumah yang sangat bagus," jawabku.


"Aku ingin menepati janjiku padamu, Bells. Membuat rumah kayu di tepi pantai." Dia memutar tubuh ke arahku. Kedua mata kelabunya menyorot dalam padaku.


Mataku terasa panas. Ini tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Dia masih mengingatnya? Aku bahkan tidak berani untuk sekedar memimpikannya. Aku menghambur ke pelukannya dan terisak. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku tidak bisa menjabarkan apa yang kurasakan saat ini. Aku hanya ingin menangis di pelukannya.


*


*


*


*


*


tbc.


See you at the edge of season 2!