
Seiring berjalannya waktu, perutku semakin membesar. Aku mulai menggunakan baju yang lebih longgar untuk menutupi kehamilanku. Aku juga harus meminimalisir kontak fisik secara langsung dengan Eric agar dia tidak curiga.
Eric pernah menatapku curiga saat aku memakai baju yang sedikit terbuka. Dia tidak mengira aku hamil. Tapi dia malah menghina suamiku. Dia bilang selama aku tinggal disini kebutuhan nutrisiku terjamin sehingga tubuhku semakin berisi. Tidak seperti saat awal Eric sadar dari koma. Eric bilang suamiku tidak cukup memberiku makan sehingga tubuhku kurus, padahal waktu itu aku semakin kurus karena terlalu banyak mengkhawatirkan Eric. Ditambah lagi aku yang harus bekerja menjadi asistennya untuk menyambung hidup, membuat suamiku semakin bernilai minus di mata Eric. Andai saja dia tahu kalau yang dia hina adalah dirinya sendiri.
Aku tidak marah, aku juga tidak tersinggung. Empat bulan bersama dengan Eric yang seperti ini membuatku semakin dewasa. Aku tidak lagi meratapi sikap dingin Eric. Apalagi kalau dia sampai menghina suamiku. Justru aku ingin tertawa melihatnya menghina diri sendiri.
Di usia kandunganku yang menginjak 7 bulan, perutku tidak tampak terlalu besar. Bahkan jika aku memakai pakaian yang longgar, aku tidak akan terlihat seperti wanita hamil. Aku sempat khawatir, takut kalau kondisi bayiku tidak baik. Tapi menurut hasil pemeriksaan dokter, bayiku baik-baik saja. Dia tumbuh dengan baik di dalam rahimku.
Selama hamil aku juga tidak mengalami banyak kendala. Aku tetap bisa menjalankan rutinitasku menyiapkan segala keperluan Eric. Aku sangat bersyukur Tuhan memberikanku kemudahan disaat aku membutuhkannya.
Hari ini adalah pertama kalinya Eric pergi ke Skytech. Aku sudah mencoba untuk melarangnya, mengingat kondisi Eric yang belum bisa dipaksakan untuk terlalu lelah. Aku tahu Eric. Jika dia sudah bekerja, dia akan memforsir dirinya terlalu keras.
Jangankan mendengarkan ucapanku, Eric bahkan sama sekali tidak mempedulikan keberadaanku sama sekali.
"Dokter belum memperbolehkanmu bekerja terlalu keras," kataku. Dari tiga bulan lalu sebenarnya Eric sudah mulai bekerja dari rumah. Hal itu tidak masalah karena aku masih bisa mengawasinya dan mengingatkannya jika dia bekerja terlalu keras.
Namun jika dia bekerja di kantor, aku tidak akan bisa mengawasinya. Ini akan sedikit menyusahkan.
Bukan jawaban yang kudapatkan dari Eric. Dia hanya melirik sekilas padaku sambil berlalu meninggalkan meja makan.
Aku hanya bisa menghela nafas. Lalu aku menelepon Jordan untuk memberitahunya bahwa Eric sedang dalam perjalanan ke Skytech. Aku juga harus mengingatkan Jordan untuk tidak meninggalkan jejakku sedikitpun disana.
Sementara Eric pergi, aku menghabiskan waktuku untuk merawat bunga-bunga yang ada di taman belakang. Sejak aku hamil, aku jadi suka dengan segala kegiatan yang berhubungan dengan merawat tanaman. Aku jadi banyak tahu tentang cara menanam dan merawat tanaman. Para maid mengajariku banyak hal tentang berkebun. Dan aku sangat menikmati saat-saat seperti ini.
Saat aku sedang sibuk menyiram bunga yang aku tanam sendiri dua minggu lalu, Chloe dan Aiden datang berkunjung.
"Bungamu sangat cantik, Isabel," kata Chloe sambil berjalan mendekat padaku.
Aku membalik badan lantas tersenyum menyambut kedatangan adik iparku itu.
"Aku banyak belajar dari mereka," kataku sambil menunjuk para maid yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Lalu perhatianku beralih pada baby Anna. Gadis kecil itu sekarang sudah semakin besar. Rambut pirangnya yang belum panjang berkibar diterpa angin. Begitu melihatku, baby Anna mengulurkan tangan mungilnya.
"Sebentar, Sayang. Aunty cuci tangan dulu." Aku bergegas mencuci tanganku lantas kembali untuk menggendong baby Anna.
"Sepertinya dia sangat menyayangimu," ujar Aiden.
"Hm. Jika ada Isabel, baby Anna bisa lupa padaku." Chloe terkekeh sambil menyerahkan baby Anna padaku.
"Kurasa baby Anna merasa mendapatkan teman dalam pelukanku," sahutku tepat saat bayi dalam kandunganku melakukan tendangan supernya.
Kami duduk di bangku dekat taman bunga dengan baby Anna yang sibuk memainkan ujung rambutku.
"Bagaimana calon keponakanku?" tanya Chloe seraya memberikan sepotong biskuit pada baby Anna.
"Dia sangat aktif. Dia juga sangat pengertian dengan tidak merepotkanku sama sekali."
"Sampai kapan kau akan menyembunyikannya dari Eric?"
Pertanyaan Aiden membuatku terdiam. Aku juga tidak tahu sampai kapan aku akan menyimpan semua ini. Mungkin sampai aku melahirkan. Entahlah, tidak lama lagi Eric pasti akan mengetahuinya.
"Sudah terlalu lama kau menyembunyikan fakta, Isabel. Kau harus mulai memancing ingatan Eric supaya dia segera mengingatmu, mengingat semua tentang kalian."
Aku menunduk, memperhatikan wajah lucu baby Anna yang sedang memakan biskuit. Aku masih takut untuk jujur pada Eric. Aku takut Eric tidak bisa menerima kenyataan yang sebenarnya.
"Aiden benar, Isabel. Semakin lama kau jujur, akan semakin sulit bagi Eric untuk menerima kebenaran."
Aku menghela nafas, menatap pedih pada Aiden dan Chloe. Mereka benar, aku harus mulai mencari waktu yang tepat untuk jujur pada Eric. Setidaknya, sedikit demi sedikit aku harus aktif memancing ingatan Eric.
"Aku akan berusaha." Ya, aku akan berusaha lebih keras. Aku akan menunjukkan pada Eric tentang kenangan-kenangan yang pernah kami lewati bersama.
Baiklah, aku akan mencobanya nanti setelah Eric pulang dari Skytech. Mungkin bisa dimulai dengan ... gitar. Aku masih ingat betul saat Eric melamarku setelah menyanyikan lagu Ed Sheeran. Dan lamaran keduanya pun dia lakukan setelah menyanyikan lagu 3 Doors Down. Kurasa gitar bisa sedikit menggali ingatan Eric.
Sebelum Eric kembali dari Skytech, aku sudah menyiapkan gitar yang akan kuletakkan di balkon kamar Eric, karena biasanya Eric akan menghabiskan senja di balkon. Aku akan berpura-pura lupa menyimpan gitar itu kembali setelah membersihkannya. Lalu aku akan menunggu reaksinya dari taman. Karena disana aku bisa melihat balkon Eric dengan bebas sambil berpura-pura menyiram bunga. Sempurna, bukan?!
Waktu terus bergulir, namun aku tidak juga mendengar deru mobil Eric memasuki halaman rumah. Aku mulai khawatir. Apa mungkin terjadi sesuatu pada Eric? Tapi yang paling aku takutkan adalah Eric tidak pulang karena mencari informasi tentang Elena.
Tuhan ...! Dosakah aku jika aku cemburu pada orang yang telah meninggal? Harus kuakui kalau sampai saat ini aku masih merasa sakit jika mengingat Eric yang belum bisa lepas dari Elena. Tapi apa yang bisa kulakukan?
Hingga senja telah berganti malam pun Eric belum kembali. Aku cemas. Lalu kuputuskan untuk menelepon Jordan.
"Dia sudah meninggalkan Skytech sejak empat jam yang lalu, Princess." Itulah jawaban yang kudapat saat aku menanyakan keberadaan Eric pada Jordan.
"Aku akan coba mencari keberadaan Eric. Kau tidak perlu khawatir, Princess. Jangan terlalu banyak pikiran. Aku yakin Eric baik-baik saja."
Tepat saat aku mau menjawab Jordan, aku mendengar deru mobil Eric yang meraung memasuki halaman.
"Tidak perlu, Jordan. Eric sudah kembali," kataku setelah memastikan bahwa suara mobil itu benar milik Eric.
"Baiklah. Kabari aku jika terjadi sesuatu. Hati-hati disana, Princess. Dan jaga kesehatanmu, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada keponakanku."
Aku tersenyum, Jordan tidak pernah berubah. Dia selalu perhatian padaku. "I will. Terima kasih, Jordan."
Setelah aku mengakhiri penggilanku pada Jordan, aku bergegas ke depan untuk menyambut Eric. Aku melihat Eric tampak begitu lelah. Aku tidak tahu dari mana saja dia, dan aku penasaran. Tapi aku akan sebisa mungkin menahan rasa penasaranku. Aku tidak akan bertanya apapun padanya kemana saja dia empat jam ini meski aku ingin.
"Kau baru pulang?" sapaku begitu Eric melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Kau bisa melihatnya, kan?"
Aku mendesah pelan. Seperti biasa, Eric selalu memuntahkan kata-kata yang tajam dari mulutnya.
"Biar kubawakan jasmu." Aku mengulurkan tangan ketika Eric melepaskan jasnya sambil berjalan menuju ke kamarnya.
Eric berhenti melangkah. Dia membalik badan dan memicingkan mata tidak suka padaku.
"Apa sebegitu inginnya kau bersamaku?"
Aku tertegun mendengar
pertanyaan Eric. Tiba-tiba saja bibirku kaku.
"A-aku ...."
"Berhenti bersikap seolah kau adalah istriku! Kau harus ingat bahwa kau hanyalah asistenku, bukan istriku!"
Ucapan Eric sangat menusuk hatiku. Kali ini Eric benar-benar menyakitiku. Aku memejamkan mata untuk menahan segala kesakitan yang merongrong jiwaku. Eric sangat keterlaluan.
Kedua mataku terasa panas saat Eric berpaling dan meninggalkanku yang berdiri mematung dengan luka menganga dalam dadaku. Aku menatap getir punggung Eric.
"Aku adalah istrimu, Eric," gumamku lirih bersamaan dengan air mataku yang kembali menetes.
*
*
*
*
*
tbc.
Kasih tissue dong buat Isbael!
See you next part, Love.