100 Days

100 Days
Part 16



Kucing abu-abu itu berlari menuju tuannya dan menggosok-gosokkan kepala di kaki sang tuan.


"Apa dia menyakitimu, Sobat?" Eric membungkuk lalu menggendong kucing itu dengan sebelah tangannya.


"Sejak kapan kau disitu?" Manik biru itu memicing pada Eric yang berjalan menuju sofa.


"Sejak kau berencana mencabuti rambutku hingga botak," jawab santai Eric yang sudah duduk di sofa dengan kucing gendut yang bergerak-gerak mencari kenyamanan di pangkuan tuannya.


Dalam hati Isabel menggerutu. Pasti pria gila itu mendengar apa yang diucapkannya tentang Aiden. Bukan apa-apa, Isabel hanya tidak ingin terlihat lemah di hadapan Eric yang mana hanya akan menjadi celah bagi Eric untuk menyerangnya secara emosional.


"Berterima kasihlah pada adikku. Jika bukan karena dia mungkin yang ada di pangkuanmu tadi bukanlah kucing, melainkan singa kelaparan." Penekanan kata 'singa kelaparan' ditujukan untuk menyindir Isabel.


"Oh, ya namanya Grey, bukan Kitty. Dia jantan," lanjut Eric sambil mengelus bulu halus peliharaannya.


Isabel berdecih, memutar mata malas mendengar ucapan Eric.


"Berterima kasih pada orang yang sudah mengambil kekasihku? No, thanks!" tegasnya.


Helaan napas kasar terdengar dari hidung Eric. Sangat jelas terlihat kalau pria itu sedang menahan kesabarannya.


"Duduklah," pintanya baik-baik.


"Tidak!" Gadis itu memalingkan wajah dengan tangan terlipat di depan dada.


"Okay, berdirilah sampai kakimu pegal." Eric menurunkan Grey lalu mengambil paperbag di ujung sofa.


"Makanlah! Aku tidak ingin kau mati disini karena kelaparan." Eric menaruh paperbag itu diatas meja.


Tidak dipungkiri saat ini Isabel memang lapar. Terakhir dia makan adalah kemarin siang. Melihat ada makanan di hadapannya membuat gadis itu menelan ludah. Dia mulai bergerak gelisah, antara menerima makanan itu atau bersikukuh pada egonya.


Eric mengangkat alis, dia tahu Isabel saat ini kelaparan. Dia terlihat menahan senyum saat melihat manik biru Isabel berkali-kali melirik paperbag itu.


"Kalau kau tidak mau, aku akan memakannya sendiri." Tangan Eric bergerak hendak meraih paperbag.


Tawa Eric pun meledak saat tangannya belum sampai menyentuh paper bag itu, tapi Isabel terlebih dulu menyerobotnya.


"Akan kumakan," katanya.


"Jangan sungkan," balas Eric masih dengan sisa tawa mengejeknya.


Isabel masih berdiri dengan memegang paperbag, tapi dia belum juga membukanya. Bibirnya bergerak-gerak seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Apa? Kurang banyak?" Kening Eric berkerut.


"Bukan." Manik Isabel bergerak ke sana-kemari. Kakinya mulai bergerak membuat sebuah irama konstan. Ada satu hal yang dia butuhkan saat ini.


Okay, tanggalkan egomu, Isabel. Biarkan pria gila itu menang kali ini. Kau bisa membalasnya nanti.


"Cepat katakan, aku masih punya banyak pekerjaan."


"Aku ... aku ... butuh toilet," cicit Isabel sambil menggigit bibir.


Sebenarnya dia malu mengatakannya, tapi dia benar-benar butuh itu.


"Astaga!" Eric menutupi wajahnya dengan telapak tangan. "Ikut aku."


Eric mengayun langkahnya ke arah satu-satunya ruangan yang belum Isabel lihat. Tangan Eric meraih gagang pintu dan pintu itu dengan mudahnya terbuka.


Bagaimana bisa?


Semalam Isabel berusaha membuka pintu itu sekuat tenaga tapi tidak juga berhasil. Dan sekarang, Eric bahkan tidak menggunakan tenaganya sama sekali.


Saat masuk ke dalam kamar itu Isabel kembali dibuat takjub. Berbeda dengan ruangan di luar. Ruangan ini berdinding kaca dengan vertical blind sebagai satu-satunya penghalang dengan pemandangan di luar. Ranjang king size berwarna putih bersih. Disini juga ada walk in closet yang di dominasi warna putih. Sebuah sofa panjang berwarna putih menghadap ke luar dimana si pemilik bisa duduk bersantai menikmati pemandangan taman bermain anak-anak. What a wonderful view!


"Disana." Eric menunjuk ke sebelah kiri. Suaranya mengalihkan perhatian Isabel yang sedang mengagumi kamar itu.


Eric menelengkan kepala kearah pintu geser kaca buram di sebelah kanannya. Tanpa menunggu lagi, Isabel masuk ke sana. "Jangan mengintip!" katanya sebelum menggeser pintu itu.


"No, thanks," jawab Eric dengan wajah malas.


Kamar mandi itu tidak begitu luas. Hanya ada wastafel dengan kaca besar di bagian depan, serta kotak obat di dinding sebelah kiri. Disebelahnya lagi ada rak berisi beberapa jubah mandi yang tergantung dengan rapi. Baru di bagian belakang terdapat bathtub dan shower yang bersebelahan dengan penghalang kaca buram. Closet ada di bagian paling ujung, dimana dindingnya di design menjadi rak yang diisi dengan beberapa buku.


Manik biru itu memutar malas. "Just a minute!" serunya.


Begitu dia keluar dari kamar mandi, dia tidak menemukan Eric di kamar itu. Pandangan Isabel jatuh pada pintu kamar yang tertutup. Saat itu juga dia berlari ke arah pintu dan berusaha membukanya.


"Eric, Buka pintunya!" teriak Isabel saat pintu itu tak kunjung terbuka.


Eric benar-benar meninggalkannya di dalam kamar. Gadis itu kebingungan, karena makanan yang di berikan Eric juga ada di luar. Dia bisa mati kelaparan kalau pintu itu tidak kunjung terbuka.


"Shit!" umpat Isabel. "Hei, Eric, buka pintunya!" Isabel menggedor-gedor pintu sekuat tenaga.


"Pria gila sialan! Buka pintunya!" Isabel menendang pintu itu karena kesal.


"Mencariku?"


Isabel memutar tubuhnya dengan cepat hingga mendapati Eric berjalan keluar dari walk in closet dengan setelan rapi. Wajah datarnya sungguh menyebalkan.


"Kenapa tidak menjawab kalau kau masih disini?!" Isabel melangkah dengan kesal ke arah Eric. Tangannya mengepal, sudah gatal untuk mencakar wajah menyebalkan itu.


Sementara Eric hanya tersenyum miring berjalan melewati Isabel yang sudah menggebu-gebu ingin mencakarnya.


"Aku sudah berjanji pada adikku untuk bersikap baik padamu, jadi bersikap baiklah," ucap Eric.


Eric membuka pintu dan memberi ruang untuk Isabel agar bisa lewat. Anehnya, Eric membuka pintu itu dengan sangat mudah, seperti pintu yang tidak terkunci. Dan itu semakin membuat manik biru Isabel melotot.


Ekspresi itu bisa dibaca dengan mudah oleh Eric, yang membuat pria dengan balutan jas berwarna biru tua itu menyeringai.


"Hanya aku yang bisa membukanya," kata Eric seolah tahu pertanyaan yang ada dalam pikiran Isabel. "Masih ingin di dalam?" tanyanya sambil tersenyum mengejek.


Meskipun masih merasa kesal, Isabel memilih untuk keluar daripada terjebak dalam kamar itu tanpa makanan.


Isabel menghempaskan tubuhnya di sofa sambil membuka paperbag berisi makanan dari Eric. Peliharaan dalam perutnya sudah protes minta diberi makan.


"Masakan jepang?" gumamnya.


Seketika sebuah senyum mengembang di wajah Isabel. Tanpa peduli dengan keberadaan Eric, dia menyantapnya dengan lahap. Memang dasar dianya yang sudah kelaparan juga.


Tanpa sadar Eric tersenyum melihat Isabel makan begitu lahap. Rasanya seperti melihat Chloe.


Eric menggeleng dengan cepat. "Apa yang kau pikirkan, Eric? Dia ini ancaman untuk pernikahan adikmu," batin Eric.


"Paperbag disana milikmu." Eric menunjuk meja di sudut ruangan, hingga Isabel menghentikan kunyahannya dan melihat ke arah yang ditunjuk Eric. "Bersihkan dirimu! Kau bau," lanjutnya sambil berjalan ke arah pintu.


Kalimat terakhir Eric membuat Isabel geram. Bagaimana tidak, dia mengurung Isabel sejak kemarin tanpa makan dan tanpa mandi. Jadi, salah siapa kalau begini?


"Tunggu!" seru Isabel.


Eric menoleh.


"Bagaimana aku bisa membersihkan diri kalau aku tidak bisa masuk ke kamarmu?"


Eric memutar mata malas. "Jaga pintu itu tetap terbuka," kata Eric sambil menunjuk pintu kamar dengan matanya.


Benar saja, pintu itu diganjal dengan kotak sepatu. Sekalinya tertutup, hanya yang punya rumah yang bisa membukanya.


"Satu lagi." Eric yang sudah memegang gagang pintu membalikkan badan. "Paperbag dan makanan yang kau makan itu semuanya dari Chloe. Jangan berpikir aku akan sebaik adikku. Karena aku bukan pria baik, tapi pria gila." Eric meninggalkan Isabel dengan tatapan tajam.


Begitu tahu makanan itu dari Chloe, saat itu juga nafsu makan Isabel menghilang. Untung saja sebagian besar makanan itu sudah berpindah ke perutnya.


Gadis itu meninggalkan sisa makanannya begitu saja. Dia beralih ke paperbag yang ditunjuk Eric tadi. Isabel mengeluarkan isinya. Terdapat beberapa helai pakaian dan peralatan mandi. Disana juga ada pakaian dalam. Semuanya masih baru. Tapi sayang itu semua dari Chloe, yang mana membuat Isabel semakin membenci gadis itu, jadi dia membuang isi paperbag itu ke lantai.


"Dia pikir aku akan membiarkannya merebut Aiden dengan memberikanku barang-barang ini? Lihat saja, aku akan mencari cara untuk kabur dari sini. Aku tidak akan menyerah," ucapnya sambil menggertakkan gigi.


***


tbc.


See you next part, love !