100 Days

100 Days
S2. Hope



Satu hal yang tidak pernah kubayangkan akan terjadi dalam hidupku. Aku duduk di depan ruang operasi dengan separuh jiwaku yang lumpuh.


Mataku tidak sempat kering. Buliran air itu mengalir dengan sendirinya membasahi wajahku. Aku sudah tidak peduli dengan penampilanku. Aku membiarkan tubuhku merosot ke lantai karena sendi-sendi di kakiku yang tidak mampu lagi menopang tubuhku.


"Please, save him, take my life, not him," ucapku lirih nyaris tanpa suara, karena aku sudah lelah menjerit. Aku menutup wajah dengan telapak tangan dan membenamkan wajah diatas lututku.


Seluruh tubuhku kehilangan tenaga. Aku menangis tanpa suara. Sudah hampir tiga jam suamiku berada di dalam ruangan itu, dan aku tidak tahu apakah dia baik-baik saja.


Derap langkah cepat beberapa pasang kaki terdengar nyaring di koridor. Mungkin karena posisiku yang duduk di lantai, jadi suara hentakan sepatu itu terasa seperti mengguncang tubuhku.


Saat aku berpaling pada suara itu, aku melihat Mike, Jordan dan Aiden berlari ke arahku.


Sekuat tenaga aku mencoba bangkit, namun aku tidak sanggup. Tubuhku terlalu lemah untuk sekedar berdiri menyambut mereka.


"Bells! Are you okay?" Mike mengangkat tubuhku lalu mendekapku erat dan menciumi kepalaku berkali-kali.


Aku meraung dalam dekapannya. Tanganku melingkar erat di punggung tegap kakakku.


"He's dying ... he's dying because of me," aduku pada Mike.


"Harusnya aku mendengarkanmu. Harusnya aku mendengarkanmu." Aku terus meraung dalam pelukan kakakku.


Tentu ini semua karena diriku. Andai saja aku tidak memaksa untuk bulan madu. Andai aku mendengarkan ucapan Mike, semua ini tidak akan terjadi.


"Nothing happens without a reason, Bells. Don't blame your self," bisik Mike sambil menciumi kepalaku. Usapan tangannya di punggungku membuatku merasa lebih baik.


Mike menuntunku untuk duduk di kursi tunggu. Lalu dia melepaskan jas yang membalut tubuhnya untuk dipakaikan padaku. Setelah itu dia menarik tubuhku lagi dalam pelukannya.


Di depan pintu ruang operasi, aku melihat Jordan mondar-mandir dengan wajah pias. Aku tahu, dia pun merasakan kekhawatiran yang sama denganku. Aku ingin sekali memeluknya, namun aku tidak punya cukup tenaga untuk melakukan itu.


Di sisi lain aku melihat Aiden sedang menelepon seseorang. Kurasa itu Chloe. Pasti Chloe saat ini juga sedang sangat khawatir.


Kami masih dilanda kecemasan yang sama selama hampir satu jam. Hingga pintu ruang operasi itu terbuka. Seseorang keluar dari sana. Seorang perawat.


Akupun segera berdiri dengan bantuan kakakku dan berjalan mendekat pada perawat itu bersama Jordan dan Aiden.


"Maaf, apa ada keluarga kandung Mr. Michaels disini?" Perawat itu bertanya pada kami.


"Tidak," jawab Jordan sedikit kecewa.


"Kami butuh darah lagi," ucap perawat itu.


Jordan berdecak lalu mengangkat kedua tangannya ke udara.


"Yang benar saja! Apa Rumah Sakit sebesar ini tidak memiliki persediaan darah yang cukup?!" Jordan menendang pintu ruang operasi dengan emosi yang meluap, membuat perawat itu sedikit takut.


"Jordan, tenanglah! Jangan menambah rumit situasi!" Aiden berusaha menenangkan Jordan.


"Maaf, Sir. Golongan darah Mr. Michael cukup langka. Kami bisa meminta dari Bank Darah Nasional, tapi itu akan memakan waktu karena harus melewati beberapa prosedur. Sementara operasi Mr. Michaels harus terus berjalan."


"Apa golongan darahnya?" Aku mendongak saat Mike bertanya pada perawat itu.


"A dengan rhesus negatif."


"Ambil darahku! Golongan darahku sama dengannya."


Syukurlah! Aku tidak tahu apa golongan darah Mike selama ini, tapi aku bersyukur saat dia mengatakan kalau golongan darahnya sama dengan Eric.


"Silahkan ikut saya!"


Perawat itu berjalan lebih dulu meninggalkan kami.


Mike menangkup wajahku. Dia menatapku lekat-lekat. "He will survive," katanya padaku sebelum melepas wajahku dan bergegas mengikuti perawat tadi.


Jordan menggantikan Mike untuk memelukku. Aku, Jordan dan Aiden duduk di kursi tunggu. Aku tidak berhenti merapalkan doa supaya suamiku bisa bertahan seperti yang diucapkan Mike. Aku tidak sanggup membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.


Namun belum sampai Mike selesai melakukan pengambilan darah, pintu ruang operasi kembali terbuka. Kami pun bergegas mendekat pada orang pertama yang keluar dari sana.


Itu Dr. Francis. Kenapa dia keluar? Bukankah seharusnya dia melakukan tindakan operasi pada Eric? Apa yang dia lakukan disini?


"Bagaimana kondisi adikku, Dokter?" tanya Jordan.


Aku ingin menanyakan hal yang sama, tapi bibirku tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Bahkan tubuhku hanya mampu berdiri sambil bersandar pada tubuh Jordan.


Dokter Francis melepas kaca mata lalu mengurut pangkal matanya dengan jari. Firasatku mengatakan Dokter Francis tidak membawa kabar baik. Tubuhku mulai gemetar, jantungku rasanya semakin sulit berdetak.


"Kami telah berusaha melakukan semampu kami, tapi Tuhan berkehendak lain. Maaf, Mrs. Michaels."


Aku mengerjapkan mataku yang terasa berat saat Dokter Francis menatapku dengan tatapan menyesal.


Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Sampai saat Jordan melepaskan tubuhku lalu menyergap dan mencengkeram kerah Dokter Francis.


Jika saja Aiden tidak menangkap tubuhku, aku yakin aku sudah terjatuh ke lantai. Lalu Aiden membimbingku untuk duduk di kursi tunggu.


"Apa yang kau katakan, hah?! Adikku tidak mungkin mati! Masuk ke dalam dan lakukan apapun untuk menyelamatkan adikku!"


Nafasku semakin tersengal. Aku memegangi dadaku yang semakin terasa sesak. Sungguh rasanya sakit sekali. Kulihat Aiden berusaha menarik tubuh Jordan supaya menjauh dari Dokter Francis.


Dan akhirnya aku tidak mampu lagi menahan sesak dalam dadaku. Aku menjerit sekuat tenaga. Aku terus memanggil nama Eric. Aku mau dia mendengar suaraku agar dia terbangun.


Aiden berlari memelukku dan membenamkan kepalaku ke dadanya. Aku berontak, memukul, menendang apapun yang mampu kugapai. Aku tidak mau Eric mati. Aku mau Eric kembali.


"Aku disini, Bells. Kita akan melalui ini bersama-sama." Aiden semakin kuat menahan tubuhku yang meronta. Dia mengunci pergerakanku dalam pelukannya hingga rasanya tulangku tidak dapat kugerakkan lagi.


Aku bisa mendengar bisikan Aiden. Tapi bukan suara Aiden yang ingin kudengar. Aku ingin Eric. Aku ingin Eric yang memelukku.


"Lakukan apa saja, Dokter! Lakukan apa saja untuk menyelamatkan adikku!" Kulihat tubuh Jordan pun luruh ke lantai. Kedua tangannya menjambak rambut dengan frustasi. Kedua matanya merah dan basah.


Saat aku merasa kesadaranku mulai diambang batas, aku mendengar seorang perawat yang keluar dari ruang operasi dengan terburu-buru mengatakan sesuatu pada Dokter Francis.


"Dokter, dia kembali!" serunya pada Dokter Franscis.


"It's a miracle!" Dokter Francis berseru penuh syukur lantas berlari masuk ke ruang operasi dan menutup rapat pintu itu kembali.


Tangisku seketika berhenti. Aku menatap Aiden, berharap dia mengatakan kalau aku tidak salah dengar. Eric kembali. Dia mendengarku. Suamiku kembali untukku.


"Dia kembali, Bells." Aiden memelukku lagi. Tangisku pecah. Ada perasaan lega yang perlahan mengisi hatiku dengan harapan baru. Aku berharap kali ini Eric akan bertahan.


Jordan bangkit, dia berjalan ke arahku dan memelukku erat. Aku bisa merasakan ketakutan yang begitu besar dalam diri Jordan. Sama seperti diriku.


"Aku tidak akan memaafkannya jika dia tidak kembali," ucap Jordan lirih.


Kami bertiga lagi-lagi harus menunggu dalam keadaan harap-harap cemas. Beberapa kali Aiden harus menjauh untuk mengangkat telepon dari Chloe.


Adik iparku itu pasti juga sangat mengkhawatirkan Eric. Aku bisa mendengar suara tangisnya dari ponsel Aiden.


"Kembalilah, Eric. Aku sangat mencintaimu," gumamku lirih.


Beberapa saat kemudian Mike datang. Dia sudah selesai melakukan pengambilan darah. Dan dia kembali dengan membawa sebuah paper bag di tangannya.


"Bukankah harusnya kau beristirahat dulu?" tanya Jordan saat Mike duduk di sebelahku.


"Aku tidak mungkin membiarkan adikku menyiksa dirinya seperti ini," jawab Mike. Lalu dia membuka paper bag dan mengeluarkan sebuah kotak makanan dari sana.


"Makanlah!" Mike mengarahkan satu sendok bubur ke mulutku.


Disaat seperti ini, aku mana bisa makan? Di dalam sana suamiku sedang berjuang diantara hidup dan mati, aku tidak akan sanggup menelan makanan itu.


"Makanlah!" ulang Mike. Aku masih menutup mulut rapat-rapat.


Mike menghela nafas, dia menatapku dengan penuh kasih sayang lalu dia membelai rambutku.


"Jangan membuat kami semakin sedih dengan melihatmu seperti ini. Mengkhawatirkan satu orang masih lebih baik daripada mengkhawatirkan dua orang. Sekarang buka mulutmu! Makanlah walau hanya sedikit," Mike kembali mengangkat sendok ke depan mulutku.


Aku pun membuka mulut sedikit, menerima suapan Mike. Untuk mengunyah bubur saja rasanya sangat sulit, apalagi untuk menelannya?


Setelah tiga suapan, aku menyerah. Aku tidak sanggup lagi membuka mulutku. Mike menyodorkan botol air mineral padaku untuk kuminum.


"Gadis pintar!" Mike mengacak rambutku, seperti yang biasa dia lakukan setelah selesai menyuapiku saat aku sakit. Aku selalu tahu, dibalik sikap kerasnya padaku, Mike sangat menyayangiku.


Operasi Eric sudah berjalan selama hampir 6 jam. Tapi belum ada tanda-tanda lampu indikator diatas pintu ruang operasi berubah menjadi hijau.


Patah di tiga tulang rusuk yang melukai paru-paru serta cidera di kepala membuat suamiku harus berjuang melawan maut. Dokter Bratt, dokter pendamping Dokter Francis sudah menjelaskan padaku bahwa pendarahan di kepala Eric cukup parah. Dan kemungkinan operasi itu berhasil hanya 20%. Namun, sekecil apapun harapan yang ada, aku akan mencobanya. Bagiku, 20% sudah cukup besar untuk merajut harapan. Aku harus membawa Eric kembali ke pelukanku.


Dan jika Rumah Sakit ini tidak bisa menyelamatkan Eric, aku akan membawanya kembali ke Brownsville. Aku akan mencari dokter terbaik disana. Bila perlu, aku akan mencari dokter terbaik di dunia untuk menyelamatkan suamiku.


Dan jika semua itu juga tidak berhasil ... menjual jiwaku pada iblis pun akan kulakukan demi Eric.


*


*


*


*


*


tbc.


I'm back!


Akhirnya bisa up lagi. Nggak enak banget rasanya harus istirahat total sementara di kepalaku ada Isabel yang meraung-raung menangisi Eric dan Briana yang nangis-nangis sambil menciumi kaki mamanya.


Makasih untuk yang setia menunggu.


I love you all.


See you next part, Love.