
Sebuah flashdisk berwarna putih berisi bukti rekaman video penyerangan terhadap Isabel sudah berpindah tangan kepada Mike. Semua sudah Eric siapkan sejak semalam. Dia membuktikan pada Mike jika hanya dalam waktu kurang dari 45 menit, dia sudah mengantongi identitas keempat pelaku utama penyerangan itu.
"Aku tidak menyangka kau bisa menyelesaikan tantanganku." Mike melipat kaki, menautkan jemarinya sambil tersenyum miring pada Eric yang duduk di depan meja kerjanya saat ini.
Eric mendengus muak. "Tantanganmu terlalu mudah untukku."
Mike tertawa. Dia tahu kemampuan Eric, karena dia juga pernah mendengar nama besarnya jauh sebelum pria itu dekat dengan Isabel. Tapi Mike merasa cukup menyenangkan bisa mempermainkan emosi pria yang kini menjadi kekasih adiknya itu.
"Bisa jadi itu hanya kebetulan." Mike menarik bibir kebawah. "Karena kelalaian pelakunya, mungkin ?!" Tambah Mike.
Eric memajukan tubuhnya, sedikit menyipitkan mata dengan tatapan tajam pada pria yang sedang menantangnya. "Aku bisa saja menghancurkan semua usahamu semudah aku membalikkan telapak tangan." Mike melirik sticker yang menempel pada sebuah kotak hitam kecil di sudut meja Mike. "Startech, hm ?!" Eric tersenyum miring. "They're nothing to me !" Desisnya.
Mike menatap datar pada Eric. Dia juga tahu Eric mempunyai kemampuan untuk melakukan hal itu. Tapi apa dia bersedia mengambil resiko kehilangan Isabel ?
"Mm....kopi ini nikmat sekali. Apalagi jika dinikmati selagi panas." Jordan mengernyit setelah menyesap kopi dalam cawan keramik putih bermotif daun. Atmosfer yang semakin terasa panas membuat Jordan harus segera menengahi mereka jika tidak ingin terjadi perang di ruangan ini.
Mike dan Eric segera menyudahi adu tatap mereka. Keduanya kembali pada posisi semula.
"Aku akan menyerahkan bukti ini pada polisi. Terima kasih atas bantuan kalian." Ucap Mike dengan nada ramah dibarengi sebuah senyuman.
"Ini adalah kerja keras Eric. Dia sangat bersemangat untuk mengungkap kasus ini." Balas Jordan.
"Tidak perlu berterima kasih atas apa yang kulakukan untuk calon istriku." Tambah Eric sedikit menyeringai pada Mike.
Mike membuang nafas kasar. Dia tidak suka Eric menyebut Isabel sebagai calon istrinya. "Whatever !" Gumamnya menahan geram.
"Kalau begitu, urusan kita disini sudah selesai." Kata Jordan. Akan lebih baik jika dia segera membawa Eric menjauh dari Mike, sebelum mereka merepotkannya dengan perkelahian konyol.
Jordan berdiri, diikuti Mike dan Eric.
"Kami permisi." Jordan mengulurkan tangan, bersalaman dengan Mike. Sementara Eric lebih memilih untuk langsung membalik badan dan melenggang meninggalkan ruang kerja Mike.
"Maaf. Dia....terkadang memang terlalu sensitif." Jordan berkata dengan perasaan tidak enak karena sikap Eric yang berlebihan. Walau bagaimanapun, ini adalah ruang kerja Mike dan tidak sepantasnya Eric pergi begitu saja.
Mike tersenyum mengerti. "Aku mengerti. Aku hanya sedikit 'bermain' saja dengannya." Kata Mike sambil tersenyum jahil.
Jordan tertawa kecil. Dia bersyukur jika ternyata Mike tidak memasukkan ucapan Eric tadi ke dalam hatinya.
"Terima kasih atas pengertianmu, Mr. Bennings." Ucap Jordan.
"Mike saja." Pinta Mike.
"Well, terima kasih, Mike." Balas Jordan yang kemudian berbalik dan segera mengikuti langkah Eric yang sudah terlebih dulu meninggalkan ruangan.
Setelah dari kantor Mike, Eric dan Jordan segera ke Rumah Sakit. Karena hari ini Isabel sudah diperbolehkan pulang.
Tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun sepanjang perjalanan ke Rumah Sakit. Meskipun dalam mobil itu ada dua orang, tapi rasanya sangat sunyi.
"Hei ! Aku tahu kau masih marah padaku." Jordan menarik lengan Eric saat berada di lorong Rumah Sakit. "Aku punya alasan kenapa aku melakukannya." Kata Jordan yang merasa Eric mendiamkannya sejak pagi tadi.
Dari nafas Eric yang terlihat cepat, bisa dipastikan jika pria itu sedang diliputi amarah. Dia juga enggan menatap wajah Jordan saat mengajaknya bicara.
"Percayalah padaku. Ini semua kulakukan demi kebaikan kita bersama." Jordan masih berusaha menjelaskan
Tanpa di duga, Eric mendorong Jordan hingga membentur dinding. Lantas dia mengunci leher Jordan dengan lengannya
"Aku sama sekali tidak merasa ada kebaikan dalam hal ini." Desis Eric sambil terus menenkan leher Jordan. "Kupastikan kau akan menyesal telah melakukannya."
Eric sangat marah. Dia menahan tangannya di leher Jordan hingga wajah Jordan memerah menahan rasa tercekik. Mengabaikan beberapa orang mulai berbisik-bisik memperhatikan mereka, Eric semakin mengencangkan kunciannya.
Tidak ! Jordan tidak akan melawan. Dia membiarkan Eric melakukannya. Dia mengerti kenapa Eric sangat marah karena dia menghapus bagian akhir bukti rekaman video dimana wajah Elena ada disana.
Bukan tanpa alasan. Justru Jordan mempunyai alasan yang sangat kuat kenapa dia melakukannya.
"Wanita ular itu tidak akan pernah kulepaskan. Dia harus membayar apa yang telah dia lakukan pada Isabel." Setelah mengucapkan itu, Eric melepaskan kunciannya pada leher Jordan. Lalu dia meninggalkan Jordan yang terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang terasa nyeri.
Jordan masih berdiri di tempatnya, menatap punggung Eric yang kian menjauh.
"Aku tidak akan menyesal, Brother. Karena aku melakukannya untukmu. Untuk kebahagiaanmu bersama Isabel." Ucap Jordan lirih. Dia memilih untuk berbalik dan tidak jadi ikut menjemput Isabel. Saat Ini bukanlah waktu yang tepat untuk tetap bersama dengan Eric.
Persetan dengan Eric yang mengira dirinya masih mencintai Elena sehingga rela melakukan apapun untuk membebaskan wanita licik itu dari jerat hukum.
Eric masuk ke dalam ruang perawatan Isabel. Hari ini dialah yang akan menjemput Isabel atas permintaan kedua orang tua gadis itu.
"Hai !" Sapa Isabel saat melihat Eric datang dengan senyum indahnya. Tentu saja dia sangat senang karena Eric yang akan membawanya pulang.
Eric mendekat lantas memberikan ciuman di kening Isabel. "Kau sudah siap ?" Tanya Eric kemudian.
Isabel mengangguk. "Aku sudah menunggumu sejak setengah jam yang lalu." Katanya sambil menunjukkan tangannya yang sudah tidak tertancap jarum infus.
"Maafkan aku." Eric mengusap kepala Isabel. "Aku harus ke kantor kakakmu untuk memberikan bukti penyeranganmu."
"Kau sudah mendapatkannya ? Siapa mereka ? Siapa yang sengaja ingin mencelakaiku ?" Isabel mengernyit, menatap Eric dengan sangat penasaran.
Eric menarik bibir hingga membentuk garis lurus. Lalu dia duduk di sebelah Isabel yang duduk di tepi ranjang. Dia menghela nafas lalu menggenggam tangan Isabel. "Kau hanyalah korban bisnis, Sweetheart. Pesaing kakakmu bekerja sama dengan pembenciku." Terang Eric yang cukup bisa dipahami Isabel.
Isabel tersenyum lantas balas menggenggam tangan Eric. "Aku tahu resiko menjadi bagian dari orang-orang hebat." Katanya.
Eric menatap lekat iris biru Isabel. Dia bersyukur memiliki Isabel dalam hidupnya. Meskipun kadang manja dan kekanakan, tapi gadis itu juga bisa menjadi sosok yang sangat pengertian.
"Apa wajahmu masih sakit ?" Eric mengusap dahi dan pipi kanan Isabel yang lebam dengan hati-hati.
"Tidak." Isabel menggeleng. "Aku jauh lebih kuat dari yang kau kira." Katanya sambil menangkap tangan Eric yang membelai wajahnya. Dia mencium tangan Eric yang berada dalam genggamannya sambil memejamkan mata.
Satu tangan Eric yang bebas terangkat. Dia menangkup wajah Isabel sambil terus menatap lekat pada gadis itu.
"Aku tidak akan memaafkan diriku jika sampai terjadi sesuatu yang buruk padamu lagi. Aku sangat mencintaimu, Bells. I'll do my best to keep you safe." Eric menempelkan keningnya pada kening Isabel.
"Aku tahu. Aku juga sangat mencintaimu dengan segala resiko yang harus aku tanggung. Aku mencintaimu tanpa syarat." Balas Isabel.
Eric mengecup kilas bibir Isabel. "Aku harus segera mengantarmu pulang. Aku tidak ingin di umpankan pada piranha oleh calon mertuaku." Eric terkekeh lantas menjauhkan wajahnya.
Isabel tertegun. Calon mertua ? Apa sebegitu inginnya Eric untuk segera menikah ? Ah, bisa saja itu hanya kelakar Eric.
"Ayo." Eric berdiri, mengulurkan tangan pada Isabel yang masih duduk di tepi ranjang. Isabel menyambutnya, lantas dia duduk di kursi roda yang dibawakan Eric.
"Dimana Jordan ?" Tanya Isabel saat mereka sampai di lorong rumah sakit, menunggu pintu lift terbuka.
Sejenak cengkeraman Eric pada kursi roda Isabel menguat. "Dia....ada pekerjaan." Jawab Eric berusaha membuat suaranya tedengar biasa saja, padahal dia masih sangat marah pada Jordan.
"Pasti dia sangat sibuk karena kau harus mengurusku." Ucap Isabel dengan wajah murung. Benar kan, sakitnya yang tidak seberapa ini membuat orang-orang disekitarnya kerepotan.
Pintu lift terbuka. Eric mendorong kursi roda Isabel masuk ke dalam kotak besi itu. Dia memutarnya hingga menghadap ke pintu.
Eric membungkuk, menyejajarkan kepalanya dengan kepala Isabel. "Bagi kami, orang-orang yang menyayangimu, keselamatanmu adalah yang utama." Bisiknya di telinga Isabel.
Isabel menoleh, hingga berhadapan dengan wajah Eric yang juga memiringkan wajahnya.
"Terima kasih." Isabel tersenyum.
"Berterima kasihlah dengan memberikan seluruh hatimu untukku." Bisik Eric yang lantas mencium bibir gadis itu.
Katakanlah Eric serakah. Tapi dia memang ingin memiliki Isabel sepenuhnya. Dia tidak ingin Isabel membagi hatinya untuk orang lain. Karena Isabel hanyalah miliknya. Selamanya Isabel akan menjadi milik Eric.
"Oh, ehm ! I'm sorry !" Seorang wanita tua yang hendak masuk ke dalam lift terkejut melihat sepasang kekasih yang sedang berciuman saat pintu lift itu terbuka.
"Maaf, istriku sedang hamil dan mendadak ingin berciuman di dalam lift."
Isabel melongo. Kedua matanya membulat mendengar ucapan Eric. Apa-apaan dia ini ? Istri ? Hamil ? Ingin berciuman di dalam lift ? Hh.....Isabel menutup wajahnya dengan telapak tangan sementara Eric tersenyum manis dengan percaya dirinya.
"Oh, kau sedang hamil ?" Wanita tua itu tersenyum simpul sambil sedikit memiringkan kepala menatap Isabel yang masih menutup wajah. "Tidak perlu malu, Dear. Kau beruntung memiliki suami yang tampan dan romantis seperti ini." Wanita tua itu tertawa kecil lalu menepuk lengan Eric. "Kau mengingatkanku pada mendiang suamiku." Katanya kemudian.
"I'm sorry." Ucap Eric tidak enak karena membuat wanita itu mengingat suaminya yang sudah meninggal.
Wanita itu hanya tersenyum sambil mengibaskan tangan pertanda tidak ada yang perlu dimaafkan.
Pintu lift terbuka, mereka sudah sampai lobi. Eric mengangguk pada wanita tua disampingnya lantas mulai mendorong kursi roda Isabel keluar dari lift.
Lalu tiba-tiba wanita tua itu menarik pelan lengan Eric. "Semoga kalian cepat menikah." Katanya nyaris tanpa suara. Wanita itu tersenyum simpul sambil mengedipkan sebelah mata lantas berjalan meninggalkan Eric yang hanya bisa tersenyum bodoh karena ketahuan berbohong.
"Ada apa ?" Isabel mendongak saat Eric berhenti mendorong kursi rodanya.
"Kita baru saja bertemu dengan cenayang." Jawab Eric sambil mendorong kursi roda.
"Cenayang ?" Isabel mengernyit bingung. "Oh, hei apa-apaan tadi ?!" Isabel teringat ucapan konyol Eric di dalam lift.
"Apa ?" Eric pura-pura bodoh.
"Yang kau katakan pada wanita tua itu ! Aku sangat malu !"
"Yang mana ? Kau istriku ?" Tanya Eric sambil menyeringai jahil.
"Ya, dan....."
"Bukankah suatu saat kau akan menjadi istriku ?" Potong Eric.
"A-aku....."
"Ya, Bells. Suatu saat nanti kau akan menjadi istriku." Potong Eric lagi.
"Tapi aku...."
"Aku akan menunggumu."
"Eric, aku..."
"Sampai kau siap menjadi istriku. Kita akan menikah, lalu memiliki banyak anak yang lucu-lucu yang akan selalu membuat rumah berantakan dan kau akan menjerit untuk membuat mereka berhenti berlarian tapi mereka tidak mau mendengarkanmu dan akhirnya kau akan datang padaku dan mengadukan kelakuan anak-anak kita sambil merajuk dan menangis dalam pelukanku lalu aku akan menenangkanmu dengan menciummu dan....."
"Tapi aku tidak hamil !" Pekik Isabel yang mengundang perhatian beberapa orang yang kebetulan berada di sekitar mereka.
Mulut Eric masih terbuka karena ucapannya yang terpotong oleh pekikan Isabel.
"O-kay...." Ucap Eric menggantung sambil tersenyum pada orang-orang yang kebetulan memandang aneh pada dirinya dan Isabel.
Isabel baru tersadar ternyata suaranya cukup mengundang perhatian. Dia menutup wajahnya lagi dengan telapak tangan.
Double shit ! Ini sangat memalukan !
Begitu pandangan orang-orang sudah tidak berpusat pada mereka, Eric berjalan ke depan Isabel. Dia berjongkok di depan kursi roda gadis itu lalu menurunkan telapak tangan Isabel yang menutupi wajahnya.
"Hei," Eric tersenyum melihat wajah merah Isabel.
"Aku malu sekali." Rengek Isabel.
Eric menggenggam kedua tangan Isabel. "Don't be shy. Kau akan menjadi bagian dari hidupku. Kau akan mengisi hari-hariku. Menjadi ibu dari anak-anakku. Kau akan selalu menjadi orang terakhir yang kulihat sebelum tidur dan orang pertama yang kulihat saat aku terbangun. Kau akan menjadi teman hidupku hingga nanti Tuhan mengambil nyawaku. I love you more and more everyday. I want you to be my wife. Suatu hari nanti, saat kau siap menjadi istriku." Eric mengakhiri kalimat panjang lebarnya dengan mencium punggung tangan Isabel.
Isabel tersenyum, tapi sudut matanya menetesakan cairan bening. Dia menelan ludah. Apakah ini berarti Eric melamarnya ?
Isabel tertawa hambar lalu menghapus air matanya. "Aku sangat terharu. Terima kasih sudah bersedia menungguku. Suatu hari nanti aku akan mengatakan 'Yes, I do' padamu."
Untuk saat ini memang Isabel belum siap untuk menikah. Tapi suatu saat nanti, dia ingin mengabdikan dirinya pada Eric. Menjadikan Eric suaminya hingga akhir hayat.
"God damn it !" Eric menggeram, menundukkan kepalanya.
"Ada apa ?"
Eric mengangkat wajah, "Aku ingin menciummu." Ucap Eric dengan wajah kesal.
Isabel tertawa terbahak-bahak. "Pervert !"
*****
"Aku muak melihat mereka." Seorang wanita berdecih, memutar mata lalu membuang pandangan ke arah pria yang berdiri disampingnya.
"Menjauhlah dari mereka. Atau aku akan membongkar semua kebusukanmu." Kata si pria.
Wanita itu tersenyum sinis sambil memilin ujung rambutnya. "Apa kau yakin ? Aku masih memegang kartu As mu."
Pria itu mengeratkan giginya. "Kau pikir Eric bodoh ? Dia sudah tahu apa yang kau lakukan pada kekasihnya."
Wajah wanita itu berubah datar. Lalu dia menatap tajam pada pria disampingnya.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah menghapus jejakmu."
Bukannya senang, wanita itu malah semakin tersulut amarah. "Apa yang kau inginkan ?"
"Jauhi mereka. Jangan mengganggu hidup mereka lagi. Karena kau tidak tahu siapa musuh yang kau hadapi kali ini, Elena."
Dada Elena bergemuruh, tapi dia menjaga nafasnya agar tetap terlihat anggun. Dia menggerakkan bibirnya, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi. Dia hanya menatap tajam pada Jordan sambil menggertakkan giginya lalu berbalik dan meninggalkan Jordan tanpa sepatah katapun.
"Aku akan melakukan apapun untuk keluargaku, Elena. Tidak akan kubiarkan kau menghancurkan kebahagiaan mereka." Gumam Jordan. Jordan berharap setelah ini Elena akan menghentikan obsesinya terhadap Eric. Dia melakukan ini bukan karena dia masih mencintai wanita itu, tapi dia mlakukan ini karena dia masih menganggap Elena seorang teman. Setidaknya dulu Elena pernah menjadi sahabat sekaligus orang yang dia cintai--meskipun sepihak--dan pernah sangat berjasa pada dirinya dan Eric.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
gimana tuh rasanya bohong tapi ketauan ?! hahhahaa......mukanya bang eric keliatan halu banget kali, makanya langsung ketauan kalo dia bohong.
lah itu tadi bang Eric ngelamarnya pake nyicil yak. kalo mau ngelamar ya ngelamar aja keles. jadi nyicil juga kan jawabannya.
eh, masih inget gag obrolan Eric sama Jordan waktu di Amytville ? dia pernah bilang ke Jordan buat ngelupain seseorang karena orang itu nggak pantes dicintai. orang itu ya si Elena ini. Jadi dulu tuh Jordan suka sama Elena, tapi Eric keburu nembak duluan lalu di terima. Jadinya Jordan ngalah deh. biasa kan yak, abang ngalah sama adeknya.
jangan lupa dukung cerita ini terus, biar akunya makin semangat nulis.
See you next part, Love.