100 Days

100 Days
2 Day (Sahabat Lama)



"Cita-citaku saat aku kecil. Adalah seorang Dokter." gumam Tresno dalam hati. "Tapi mustalih aku menjadi seorang dokter. Selain aku minim dengan ilmu. Hidupku juga sudah tak lama lagi."


Tresno temangu dalam lamunnya. Menatap sendu arloji usang itu. Dia tratapi dengan mendalam hidupnya itu.


"Keliling dunia?!" gumam Tresno dalam hati.


...----------------...


Pagi itu, aku bersiap pergi ke salah satu warnet yang ada di Desa ku. Dengan santai aku menunggagi sepeda motorku, menelusuri jalan pedesaan. Belum lama aku berjalan, aku terkejut melihat seseorang yang melintas di hadapanku.


Shita! Batinku.


Aku berputar arak, berbalik menghampiri Shita yang berjalan kaki di pinggir jalan. Dengan senang aku memanggil dan menghampiri dirinya.


"Shita! Shitaa!!" seruku memanggil Shita.


"Tresno." pekik Shita.


"Ta, kamu apa kabar, Ta?! Ta, aku kangen." tuturku memeluk Shita dengan kuat.


Shita terlihat begitu kurus dari terakhir kita bersama. Badan Shita yang terlihat hanya tulang dan begitu lesu.


"Baik Tre." jawab Shita.


Aku tak tau kenapa. Shita seolah tak ingin melihatku. Apa dia masih marah denganku?! Padahal bagiku, hanya dia yang ada dalam hidupku saat ini. Apa Shita sebenarnya juga ingin pergi dari hidupku?! Meninggalkanku sama seperti yang lainnya.


"Ta, kamu masih marah ya, Ta, sama aku? Aku minta maaf, Ta. Aku gak punya siapa-siapa lagi selain kamu." ucapku mencoba membujuk Shita.


"Enggak Tre! Aku yang harus minta maaf. Aku sebenarnya malu Tre, sama kamu. Gegara aku kamu jadi sial dalam hidupmu. Mungkin bener kata bapak. Aku emang pembawa sial." tutur Shita dengan sendu.


"Kamu ngomong apa tow Ta? Kamu ada masalah? Ada aku Ta, yuk, kamu ikut aku. Kita jalan-jalan bareng. Lama kita gak jalan-jalan bareng, Ta." ucapku.


Aku memaksa Shita untuk ikut bersamaku. Awalnya dia menolaknya. Terlihat jelas dia sangat canggung. Tapi sebagai seorang sahabat, aku punya kartu joker Shita. Yang bisa aku gunakan untuk mengancamnya.


Akhirnya Shita pun dengan terpaksa ilit bersamaku. Kita berboncengan menuju ke sebuah Mall. Kita berjalan berdua bercanda dan tertawa bersama seperti saat di Bekasi dulu. Benar bahagia hariku itu.


Kita mencoba banyak sekali permainan. Tak perduli itu mainan anak-anak atau dewasa. Kita juga mencicipi banyak jajanan di sana. Terasa dunia ini menjadi milikku.


"Tre!"


"Hemm."


"Duit Lo gak abis? Kita jajan banyak banget lho. Dari dulu kamu terus yang traktir aku." tanya Shita penasaran.


"Enggak kok. Kan gajiku masih ada. Tabungaku juga." jawabku acuh tak acuh.


"Ya tapi sayang Tre." ucap Shita.


"Iss, udahlah. Oh Ya Ta, kamu pengen gak keliling dunia?!" tanyaku sembari menikmati es cream di tanganku.


"Pengenlah Tre. Siapa juga yang gak mau. Pengen aku keliling Indonesia, kaya di tipi. Tapi apa lah, gajiku gak cukup untuk berfoya-foya." tuturnya.


"Emang berapa gajimu?!" tanyaku penasaran.


"Kamu mau gak keliling Indonesia sama aku?!" Tmtanyaku.


"Mau sih Tre. Tapi kalau cuman nge-Halu, gak usah ngajak-ngajak. Pusing aku." jawabnya.


"Ha ha ha. Serius tauk." ucapku.


"Demi apa Loh?!" serunya.


Kami tertawa bersama menikmati es cream yang kami beli. Tak sengaja, aku melihat sebuah pameran mobil. Seketika aku berfikir.


"Ta, keliling Indonesia bisa pakai mobil gak sih?" tanyaku.


"Bisalah. Nanti naik kapal untuk penyebrangannya." jelasnya.


Aku menarik tangan Shita untuk turun ke lantai 1. Hampir dia ingin terjatuh saat menginjak eskalator.


"Apa-apa'an sih, Tre! Hampir aja." sergahnya.


"Ta, kita beli mobil yuk. Buat keliling Indonesia." seruku penuh semangat.


"Duh Tre, malu Tre! Kalau Halu jangan se-real ini napa. Malu tauk di lihatin." ucap Shita sembari menutupi mukanya.


Aku melihat beberapa orang, yang tertawa kecil memperhatikan kami. Iya memang sih. Penampilan kita yang sederhana, pasti akan membuat semua orang tertawa jika mendengar ucapanku.


Aku tak mau ambil pusing, untuk hal yang tak penting itu. Yang jelas sekarang, aku dapat keliling Indonesia. Bahkan sama Shita, sahabatku.


"Ta, ini bagus deh. Coba lihat." ucapku melihat sebuah mobil kecil berwarna merah.


"Aduh Tre, udah yuk. Lo gak mau di lihatin banyak orang. Bahkan yang jual aja gak respon kamu. Malu aku." tutur Shita.


Aku tak menggubris apa yang Shita ucapkan. Aku terus mencoba melihat-lihat mobil yang di pamerkan di area itu.


"Permisi kaka, boleh kak lihat-lihat dulu. Ada discon dari kami, jika membeli dengan mengunakan kartu credit." Ucap seorang lelaki yang berlaku sebagai seorang SPG.


"Anu, Mas. Ini sama gak, ngendarainnya kaya mobil pickup?!" tanyaku.


"Aduh, Kak. Ya beda lah, mudahan ini. Tinggal gas rem." jawab lelaki itu dengan gemulai.


"Udah lah, Tre. Malu aku." rengek Shita yang membuntutiku di belakang.


"He he aku pernah ngendarain Mobil Pickup Mas di Pabrik. Udah punya simnya sih. Cuman aku belum pernah makai mobil bagus kaya gini." jelasku.


"Jadi kakanya mau beli enggak? Atau cuman mau lihat-lihat nih?!" celetuk SPG lelaki itu dengan judes.


Tak lama datang seorang SPG perempuan yang menggeret SPG lelaki itu menjauh dari kami. Cukup lama mereka berbicara, hingga memutuskan mengacuhkan kami. Mereka lebih memilih melayani pelanggan lain.


"Tre. Udah deh kita pergi yuk. Gak lihat apa SPG itu tadi. Ihh sombong banget. Kalau aku jadi sultan dadakan, aku beli ni mobil. Duitnya aku sebar di mukanya. Sebel banget tau gak." bisik Shita menggandeng tanganku dengan kesal.


...****************...