100 Days

100 Days
Part 66



Eric mengetuk-ngetukkan kedua ujung telunjuknya untuk mengusir rasa gugup saat menunggu dengan harap-harap cemas keputusan si Nyonya Besar. Tapi senyum yang terukir di wajahnya tidak kunjung pudar. Dia tetap memberikan senyum terbaik seolah apapun keputusan Emma tidak begitu berpengaruh untuknya.


Setelah cukup lama menimbang-nimbang, Emma tersenyum lebar lalu menepuk punggung tangan Isabel untuk kesekian kalinya.


"Well, itu semua terserah pada putriku." Kata Emma tersenyum pada Isabel.


Isabel hampir tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Emma. Emma memberinya ijin ? Maksudnya, membiarkan Isabel memutuskan ? Wow !


Emma dan Eric menatap pada objek yang sama untuk menanti jawaban. Isabel memandang Emma dan Eric bergantian, dia sangat ingin pergi bersama Eric. Apalagi ibunya sudah memberi lampu hijau. Tapi bagaimana dengan dua pria di rumahnya nanti ?


Saat Isabel melihat ke arah Eric, dia bisa melihat Eric menaikkan alisnya meskipun samar. Sepertinya itu sebuah kode.


"Aku....aku harus bersiap dahulu." Kata Isabel sedikit ragu.


Terlihat raut kelegaan di wajah Eric. Mungkin dia senang bisa segera keluar dari kandang macan.


Senyum Emma juga semakin lebar hingga membuat kerutan halus diujung matanya terlihat.


Isabel berlari kecil menuju kamarnya untuk berisap. Dia meninggalkan ruang tamu sambil menggigit bibir menahan senyum bahagia.


Rasanya seperti mimpi. Dia dan Eric pergi berkencan ?


Oh, hei tunggu ! Kenapa Isabel merasa sebahagia ini untuk berkencan dengan Eric ?


Persetan dengan semua alasan yang membuatnya bahagia ! Tidak ingin membuang waktu lagi, Isabel segera mengacak lemari besar dalam kamarnya memilih baju mana yang akan dia kenakan.


Kencan seperti apa yang akan dia lakukan dengan Eric ? Apakah kencan romantis ? Eric sama sekali tidak terlihat romantis ! Jadi sepertinya tidak. Lihat saja pakaian yang dia kenakan. Dia hanya memakai kaos santai dan celana jins.


Dalam hati, Isabel tertawa sendiri. Orang seperti Eric tidak akan terpikirkan tentang hal romantis.


Jadi pilihannya jatuh pada celana jins biru dengan kaos rajut lengan panjang berwarna maroon. Mengimbangi gaya santai Eric. Semoga saja pria itu tidak protes. Atau mungkin dia akan bilang, 'aku menjatuhkan harga diriku hingga ke dasar dengan dandananmu yang seperti itu.'


Whatever ! Isabel sudah terbiasa dengan mulut tajam Eric. Coba saja kalau Eric berani protes, Isabel ingin lihat selera Eric itu seperti apa. Mungkin menghabiskan sedikit uang Eric untuk berbelanja bisa jadi opsi yang menarik. Isabel tertawa kecil membayangkan hal itu.


Ah, terlalu lama otak Isabel membayangkan hal-hal konyol yang belum tentu terjadi hingga dia lupa dengan wajahnya yang tak kalah kusut dengan rambutnya yang sejak pagi dia ikat asal-asalan.


"Apa aku harus memakai riasan ? Ah, sepertinya tidak perlu. Eric sudah pernah melihat penampilan terburukku. Bahkan dia pernah melihatku.......aarggh.....!!! Otak bodoh ! Kenapa selalu memunculkan memori memalukan seperti itu disaat yang tidak tepat ?!" Isabel menggeram kesal.


Kenapa acara 'berkencan' dengan Eric jadi seribet ini ? Isabel terduduk lesu di depan cermin besar yang menampakkan wajah galau ala abg yang baru pertama kali kencan.


Sungguh, Ini memalukan ! Bukan pertama kalinya Isabel kencan dengan seorang pria. Well, sebelumnya memang hanya Aiden yang berkencan dengannya. Tapi ini mengingatkannya dengan kencan pertamanya bersama Aiden, dimana dia masih malu-malu kucing. Dan beruntungnya dia, karena Aiden tidak pernah mempermasalahkan kencan pertama mereka yang berakhir dengan terlunta-lunta di emperan toko kue sambil menunggu hujan reda.


Hhh...Aiden. Bagaimana kabarnya sekarang ? Isabel memejamkan mata, rasa rindu itu menelusup masuk dalam relung hatinya. Ya, Isabel masih mencintai Aiden. Dia tidak bisa membohongi hatinya kalau nama Aiden masih bersemayam jauh di lubuk hatinya. Hanya saja, mungkin perasaan itu tidak sekuat dulu. Perlahan dia mulai bisa menerima keberadaan Chloe dalam hidup Aiden.


Kalau dipikir-pikir, aneh juga rasanya. Dia akan berkencan dengan kakak ipar mantan kekasihnya itu.


Apa tidak terdengar konyol ? Usia pernikahan Aiden saja baru dua bulan dan dia akan berkencan dengan kakak ipar mantannya itu ?


"Apa aku sudah gila ? Bagaimana bisa aku melakukan ini ?" Gumam Isabel yang masih mematut dirinya di depan cermin.


"Oh, sudah berapa lama ini ? Aku harus cepat." Katanya kemudian setelah sadar dia telah menghabiskan banyak waktu untuk melamun dari pada bersiap.


Dengan gerakan lincah Isabel memoles bibirnya dengan lip balm lalu menguncir rambutnya seperti ekor kuda. Tidak ada riasan lebih lagi.


Cukup rapi. Setelah itu dia menyambar clutch yang ada di samping kaca besar itu dan bergegas keluar kamar.


Melirik jam tangan berwarna krem yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, Isabel bergumam, "Oh, tidak ! Aku menghabiskan hampir setengah jam dan hanya menghasilkan tampilan seperti ini. Kerja bagus, Isabel. Setelah ini pasti Eric akan mentertawakanmu."


Langkah kaki Isabel melambat di ruang keluarga. Sayup-sayup dia mendengar suara tawa dari ruang tamu.


Hei, apa itu Eric dan Emma yang sedang tertawa disana ? Bagaimana bisa ? Bagaimana Eric bisa secepat itu akrab dengan Emma ?


Tidak salah lagi, itu memang mereka. Dan lihatlah pria itu ! Dia terlihat sangat santai menjelaskan sesuatu--yang entah apa itu--pada Emma dengan gesture seolah mereka adalah dua orang yang sudah kenal sangat lama.



Isabel berhenti di ambang penghubung antara ruang tamu dan ruang keluarga, menatap intens pria yang sedang duduk bersandar pada punggung sofa sambil terus berceloteh ria dengan ibunya.


Sisi lain dari Eric yang belum pernah dia lihat. Raut wajah tenang, ramah, dan bersahabat. Jauh dari kesan Eric yang menyebalkan dan bermulut tajam. Harus Isabel akui kalau Isabel....terpesona.


"Oh, kau sudah siap ?" Suara Emma membuyarkan segala fantasi indah yang baru saja membuatnya berdiri seperti orang bodoh diujung ruangan.


Semoga saja tidak ada yang menyadari ekspresi 'sangat menginginkannya' itu. Ya, beberapa waktu lalu Isabel merasa sangat menginginkan pria yang kini juga sedang menatapnya dengan intens. Dan sekarang Isabel menyesal telah berpikiran seperti itu. Terlalu cepat baginya. Dan terkesan terlalu 'murahan'. Dia menilai dirinya sendiri.


Secara refleks Isabel memperhatikan penampilannya dari sisi kanan dan kiri, sedikit menengok ke belakang. Tidak ada yang salah. Memangnya harus seperti apa ?


"Pria itu sudah menceritakan semuanya." Kata Emma setengah berbisik yang sebenarnya sia-sia, karena Eric masih bisa mendengarnya.


Isabel melotot tidak percaya. Eric mengatakan apa saja pada ibunya ? Gadis itu menelan saliva kuat-kuat. Dan sayangnya hal itu ditangkap oleh mata jeli Emma.


Dengan senyum hangat, Emma membelai wajah putrinya penuh sayang. "Kupikir dia pria yang baik." Goda Emma. "Harusnya kau berdandan lebih cantik, Sayang." Kerlingan mata Emma membuat Isabel kehilangan kata-kata.


Apa yang sudah dikatakan Eric hingga ibunya bisa seluluh itu ? Apa dia punya kemampuan baru untuk menghipnotis seseorang ?


Ah....Mungkin karena Eric berinisiatif menjelaskannya lebih dulu. Berbeda dengan Mike yang terlanjur melihat fakta tanpa penjelasan terlebih dulu.


Apapun yang dikatakan Eric pada Emma, yang jelas hal itu bisa diterima dengan baik oleh wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.


Bibir Isabel bergerak-gerak. Bingung dia mau bicara apa. Dari sorot matanya terpancar kelegaan dan ketakutan dalam waktu bersamaan. Lega karena Emma bisa menerima penjelasan Eric dengan baik. Takut karena kapan saja Emma bisa bercerita pada Jhon dan Mike tentang Eric. It's gonna be a big trouble !


"Butuh bantuan merias wajah ?" Tawar Emma dengan satu alisnya terangkat.


Secepat mungkin Isabel menggeleng. Akan aneh jika dia kembali ke atas hanya untuk berdandan. Dan jangan lupakan satu hal ! Itu bisa menjadi bahan bully untuk dirinya sendiri nanti.


"Tidak perlu, Mom." Tatapan Isabel beralih pada Eric yang tersenyum penuh kemenangan, lalu dia kembali menatap Emma, "Aku pergi dulu." Isabel mencium pipi Emma lalu berjalan ke arah Eric.


Eric berdiri, tersenyum hangat pada Isabel--yang terlihat jauh lebih menawan dari biasanya--lalu bertanya, "Sudah siap ?"


Isabel mengangguk dengan canggung. Sedikit menoleh pada Emma untuk memastikan apakah ekspresi wajah ibunya itu berubah. Dan ternyata senyum lebar masih menghiasi wajahnya.


"Saya akan mengantar putri Anda pulang sebelum waktunya habis, Mrs. Bennings." Ucap Eric pada Emma. Tidak lupa dengan senyumnya yang sangat meyakinkan.


"Santai saja, Mr. Michaels. Nikmati waktu kalian. Jangan terkejut jika dia sedikit.....kekanakan." Balas Emma, mengerling penuh arti.


Percakapan itu semakin membuat kening Isabel berkerut dengan mata melotot pada Eric seolah meminta penjelasan.


Eric membalas senyum itu tak kalah manis, mengabaikan gadis yang melotot di dekatnya. "Just call me Eric. Kami permisi, Mrs. Bennings. Nice to meet you." Pamit Eric.


Emma tersenyum semakin lebar, "Baiklah....Eric. Tolong jaga putriku dengan baik." Pesan Emma tanpa ragu.


Apa-apaan ini ?! Ada konspirasi apa diantara mereka berdua ?


Eric membuka tangannya, mempersilahkan Isabel berjalan lebih dulu. Tentu dia ingin bersikap sopan di depan ibu dari gadis yang dia ajak berkencan.


Emma tersenyum bahagia menatap kepergian putrinya dengan pria yang menampung putrinya selama ini. Permintaan maaf dan penjelasan Eric cukup masuk akal dan meyakinkan bagi Emma. Dia menilai jika Eric adalah pria yang baik. Sangat gentleman mengajak seorang gadis keluar dengan meminta ijin dari orang tuanya. Dan semua yang diucapkan Eric terdengar begitu tulus. Hati Emma pun luluh dibuatnya.


Emma mendesah lega. "Setidaknya kau tidak lagi mengejar seseorang yang sudah menjadi milik orang lain, Nak."


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Yak....yak....yak.....!!!


Sik asik yang mau ngedate !


Kira-kira apa aja ya yang di katakan bang Eric sama Emma ? Kok ampuh banget !


Apa Mike akan pulang sebelum mereka sampai di ambang pintu ? Oh, atau mungkin ayah Isabel yang pulang lebih dulu dan memergoki putrinya mau pergi kencan ?


Tinggalkan dulu like dan voment kalian untuk tahu jawabannya.


See you next part, Love.